Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Remaja dan Dunia Belajar yang sering Terabaikan

Remaja dan Dunia Belajar yang sering Terabaikan

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
21 November 2025, 20.13 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Remaja
Oleh : Dellyna Andieni Nur’Alma JurnalPost.com - Setiap hari, ribuan remaja memasuki kelas dengan membawa persoalan yang tidak selalu terlihat. Mereka belajar, berinteraksi, berdiskusi, tetapi juga memikirkan hal lain yang tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran. Masa remaja adalah masa ketika seseorang mulai memahami dirinya secara lebih dalam. Namun pendidikan sering kali belum memberi ruang yang memadai untuk proses ini. Di sekolah, perhatian biasanya tertuju pada capaian akademik. Padahal remaja tengah membangun cara pandang terhadap dirinya, memahami emosi, menyusun nilai hidup, serta mempelajari cara membuat keputusan moral. Semua proses ini saling terkait dan berpengaruh besar terhadap cara mereka belajar. Artikel ini mencoba melihat lebih dekat pengalaman remaja dari sudut psikologi pendidikan. Selain pengalaman keseharian, artikel ini juga mengambil gambaran yang umum dijelaskan Jean Piaget mengenai bagaimana remaja mulai berpikir lebih abstrak dan kritis.

Cara Remaja Melihat Diri Sendiri

Perkembangan konsep diri menjadi salah satu hal penting pada masa remaja. Konsep diri terbentuk dari bagaimana seseorang menilai kemampuan, kelebihan, dan kekurangan dirinya. Cara siswa menerima komentar guru, tanggapan teman sebaya, dan pengalaman belajar akan memengaruhi cara mereka melihat diri mereka sendiri. Seorang remaja yang sering diberi kesempatan mencoba hal baru cenderung membangun kepercayaan diri yang baik. Sebaliknya, siswa yang lebih sering menerima kritik keras dapat memandang dirinya kurang mampu. Gambaran ini memengaruhi motivasi dan keberanian untuk berpartisipasi di kelas. Guru memegang peran penting dalam proses pembentukan konsep diri. Umpan balik yang menekankan proses dapat membuat siswa merasa dihargai. Sementara itu, penilaian yang hanya terfokus pada kesalahan dapat membuat siswa ragu mencoba.

Emosi yang Berubah Cepat

Perubahan emosi menjadi bagian dari proses tumbuh kembang remaja. Mereka bisa terlihat ceria pada satu saat, lalu tampak khawatir atau marah beberapa jam kemudian. Hal ini kerap membuat orang dewasa menganggap remaja tidak stabil. Padahal perubahan ini merupakan bagian normal dari perkembangan psikologis. Emosi berpengaruh langsung terhadap proses belajar. Siswa yang sedang cemas sulit berkonsentrasi. Siswa yang merasa diterima lebih mudah bekerja sama. Siswa yang sedang gembira cenderung lebih berani mengemukakan pendapat. Sekolah dapat berperan menciptakan lingkungan yang membantu remaja mengenali dan mengelola emosi mereka. Ruang konseling yang mudah diakses, suasana kelas yang tidak mudah menghakimi, serta komunikasi yang hangat antara guru dan siswa menjadi faktor penting dalam membantu perkembangan mereka.

Bagaimana Cara Remaja Berpikir Menurut Jean Piaget

Cara berpikir remaja mengalami perubahan signifikan. Penjelasan populer dari Jean Piaget menunjukkan bahwa remaja mulai mampu memahami hal yang lebih abstrak. Mereka tidak hanya menerima penjelasan sebagaimana adanya. Mereka ingin memahami alasan dan prinsip yang mendasarinya. Kemampuan ini membuat remaja sering bertanya dan kadang terlihat suka berdebat. Bagi sebagian orang dewasa, hal ini bisa dianggap sebagai perlawanan. Namun, pada kenyataannya remaja sedang berlatih berpikir kritis. Mereka ingin memastikan bahwa suatu aturan punya alasan yang jelas. Kemampuan berpikir yang lebih mendalam ini dapat mendukung proses belajar jika diberikan ruang yang tepat. Remaja bisa terlibat dalam diskusi kelas, kegiatan proyek, atau analisis peristiwa. Saat diberi kesempatan seperti ini, mereka tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga belajar mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Lingkungan kelas yang memberi ruang dialog memungkinkan remaja menyalurkan pertanyaan dan rasa ingin tahu mereka. Ketika guru menjawab pertanyaan dengan terbuka, remaja merasa dihargai dan lebih bersemangat belajar.

Nilai Hidup yang Mulai Diolah

Remaja mulai memikirkan apa yang mereka anggap penting. Mereka membentuk nilai hidup dari pengalaman keluarga, pergaulan, media sosial, dan materi pelajaran. Nilai hidup bukan lagi sesuatu yang diterima begitu saja. Nilai tersebut dipertimbangkan dan diuji melalui pengalaman. Sekolah dapat mendukung pembentukan nilai dengan memberi kesempatan bagi remaja untuk belajar melalui kegiatan nyata. Kegiatan bakti sosial, kerja kelompok, dan organisasi siswa membantu mereka memahami arti empati, kerja sama, dan tanggung jawab. Nilai seperti ini lebih mudah tertanam ketika dipraktikkan, bukan hanya diajarkan lewat ceramah.

Membentuk Kemampuan Menilai Benar dan Salah

Kemampuan moral remaja berkembang seiring meningkatnya kemampuan berpikir mereka. Remaja mulai menilai keputusan berdasarkan alasan dan dampaknya terhadap orang lain. Anak yang sebelumnya mengikuti aturan karena takut dihukum kini mulai memeriksa apakah aturan tersebut adil dan masuk akal. Lingkungan sekolah dapat mendukung perkembangan moral dengan memberi ruang diskusi. Ketika siswa diajak melihat suatu masalah dari berbagai sudut, mereka belajar memahami tanggung jawab moral. Pendekatan seperti ini memperkuat kemampuan mereka mengambil keputusan secara dewasa.

Sikap yang Dibangun dari Pengalaman

Sikap terhadap belajar merupakan hasil dari pengalaman yang dialami siswa. Jika pengalaman belajar mereka menyenangkan, sikap yang terbentuk biasanya positif. Mereka akan lebih berani bertanya dan mencoba. Sebaliknya, pengalaman yang membuat siswa merasa rendah diri dapat menumbuhkan sikap pasif. Untuk mengembangkan sikap positif, guru dapat membuat kegiatan yang memberi pengalaman berhasil bagi siswa. Perasaan berhasil akan membuat siswa lebih percaya diri dan memiliki sikap yang lebih baik terhadap belajar.

Setiap Remaja Memiliki Perjalanannya Sendiri

Perkembangan remaja tidak seragam. Ada yang matang lebih cepat dalam mengelola emosi. Ada yang sangat percaya diri. Ada pula yang masih mencari keberanian untuk berbicara. Perbedaan ini membuat pendekatan yang sama pada semua siswa tidak selalu efektif. Guru dan orang tua perlu memahami bahwa remaja membutuhkan pendampingan yang sesuai kebutuhan masing-masing. Empati dan komunikasi terbuka membuat perkembangan mereka lebih terarah.

Peran Keluarga dan Sekolah

Keluarga dan sekolah menjadi dua lingkungan terdekat bagi remaja. Keduanya berpengaruh besar terhadap cara mereka tumbuh dan belajar. Ketika hubungan antara kedua lingkungan ini terjalin baik, remaja mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan. Keluarga dapat memberikan rasa aman dan contoh sikap sehari-hari. Sekolah menyediakan ruang untuk belajar bersosialisasi, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menguji nilai hidup. Kombinasi keduanya dapat menjadi dasar yang kuat untuk perkembangan remaja.

Memandang Remaja Secara Lebih Utuh

Remaja berada di fase ketika identitas diri, emosi, nilai, dan cara berpikir mereka sedang berkembang. Mereka membutuhkan bimbingan yang sabar dan ruang pembelajaran yang lebih luas. Pendidikan bukan semata-mata tentang pencapaian akademik, tetapi tentang bagaimana membantu remaja tumbuh menjadi pribadi yang matang. Dengan memahami proses psikologis yang mereka alami, sekolah dan keluarga dapat memberikan dukungan yang lebih tepat. Remaja dapat tumbuh sebagai individu yang percaya diri, kritis, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membantu mereka menjadi manusia yang utuh.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/remaja-dan-dunia-belajar-yang-sering-terabaikan/88266/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.06 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Pilihan Editor

  1. 1 Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel
  2. 2

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  3. 3

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

  4. 4

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  5. 5

    Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.