
Penulis Fakhri Prawira Sudjana, S.H.
Fungsionaris DPP Partai Golkar & Pengurus DPN Relawan GERAK 08 Bidang Pemenangan Prabowo Presiden
Mengapa Isu Pangan dan Air Bersih?
Presiden Joko Widodo menargetkan Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045. Sarana dan prasarana telah dipersiapkan untuk menuju kesana. Tetapi pada Februari 2024 mendatang Indonesia akan menggelar pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Oleh karenanya pemimpin mendatang sedianya memiliki etos kerja berkelanjutan. Saat ini telah mengerucut pada tiga nama bakal capres. Anda sudah tahu siapa saja nama-nama mereka. Salah satunya Prabowo Subianto. Selain paling memiliki oriantasi kuat melanjutkan visi pembangunan yang telah dirintis Presiden Joko Widodo, menariknya Prabowo Subianto secara serius mengangkat dua isu keresahan global: ketersedian pangan dan air bersih. Prabowo menempatkan Swasembada pangan pada urutan pertama dan swasembada air pada urutan enam poin pada 17 program proritas Prabowo sebagai calon presiden. Lalu seberapa strategiskah sebenarnya kedua isu ini sehingga dianggap begitu penting?
Potensi Krisis Air
Pada suatu hari penulis membaca sebuah buku pelajaran anak kelas dua Sekolah Dasar. Dalam buku itu diterangkan bahwa permukaan bumi merupakan 71 persen air. Namun hanya 2,5 persen saja yang merupakan air tawar. Sedangkan yang dapat diminum hanya 1 persen. Pengetahuan sederhana ini menyentak kesadaran saya, bahwa betapa pentingnya ketersedian air di masa depan. Anda dapat membayangkan jika kebutuhan perorang saja rata-rata dua liter air perhari, lalu berapa liter air dibutuhkan dengan populas 8 milyar manusia saat ini. Dan untuk seekor sapi ternak dibutuhkan sekitar 25 liter sampai 40 liter air bersih untuk kebutuhannya minum. Lalu berapa liter air dibutuhkan untuk minum seluruh sapi di dunia. Belum lagi kebutuhan air bersih untuk ternak lainnya. Belum lagi kebutuhan air untuk sektor pertanian sebagai sumber produksi pangan yang membutuhkan 70% pasokan air bumi. Belum lagi kebutuhan air industri, dan seterusnya. Sementara volume air tidak bertambah atau berkurang.
Direktur Jenderal Organisasi Pangan Dunia (FAO) Qu Dongyu pada pembukaan “Rome Water Dialogue” (04/10) mengatakan, “Kita harus berhenti meremehkan air.” (Anadolu Ajansi). Sehingga pada hakikatnya manusia di masa mendatang sesungguhnya tidak saja berlomba dengan manusia lainnya, tetapi juga harus bersaing mendapatkan ketersediaan air bersih dengan hewan (ternak) untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari sini dapat disimpulkan Prabowo berusaha mengurai berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini dan dunia dengan menangani potensi krisis nyata yang bakal dihadapi sebagaimana digambarkan PBB di masa dekat dan mendatang. Menempatkan ketersediaan pangan dan air bersih memadai untuk masyarakat, pertanian, dan industri sebagai komuditas stategis untuk mencegah kemungkinan terburuk.
Krisis Akibat Perubahan Iklim
Saat ini ancaman krisis pangan telah menghantui banyak negara. Organisasi Pangan Dunia (FAO) memprediksi pada 2050 dunia akan menghadapi potensi bencana kelaparan akibat menurunnya hasil panen dan gagal panen sebagai konsekuensi dari perubahan iklim. Stok pangan dunia adalah hal yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Sebab itu krisis pangan merupakan ancaman paling nyata yang bakal dihadapi negara di belahan dunia manapun. Besarnya prediksi angka populasi manusia dunia kian memperparah potensi krisis yang bakal melanda penduduk bumi. Sehingga bukan saja isu ketersedian pangan, tetapi kebutuhan air bersih, bahan bakar dan tempat tinggal juga harus terpenuhi. Maka menjadi terang dan jelaslah jika program ketahanan pangan dan ketahanan air yang diusung Prabowo merupakan isu utama yang harus ditangani Indonesia. Di sinilah tampak bahwa Prabowo hadir sebagai capres yang berkomitmen melanjutkan pembangunan, tetapi secara bersamaan juga membawa solusi yang menjadi keresahan masyarakat global.
Berbasis riset dan penelitian pengembangan teknologi air pada prodi hidran di Universitas Pertahanan binaan Kemenhan, Prabowo mencoba menberkan kontribusi nyata terhadap masalah ketersedian air bersih di daerah minim ketersedian air di Indonesia. Merancang terciptanya teknologi ketahanan air berkelanjutan memadai diharapkan menjadi jawaban terhadap potensi ancaman krisis air bersih nasional dan dunia. Seperti kata Abraham Maslow seorang psikolog terkemuka dalam “Hierarchy of needs” bahwa kebutuhan (tubuh) makanan dan air merupakan hal paling dasar manusia. Menjamin ketersedian pupuk, benih dan pestisida dengan mendistribusikannya secara langsung kepada petani merupakan tawaran Prabowo dalam mewujudkan program swasembada pangan. Merintis sistem pertanian berkelanjutan, ramah lingkungan dan modern seperti sukses dilakukan Belanda merupakan harapan penulis diterapkan di Indonesia jika Prabowo terpilih.
Perbaikan gizi bagi anak dan ibu hamil untuk mencegah stunting dan menciptakan generasi Indonesia yang semakin berkualitas di masa mendatang sangat pentng. Jika penerapan program makan gratis serupa di sejumlah negara seperti di India, dan negara bagian Amerika Serikat, London (Inggris), Brasil, Estonia, Finlandia, serta di beberapa negara Afrika telah sukses memberikan dampak positif memperbaiki gizi anak dan meningkatkan hasil pembelajaran menjadi bagian dari program Prabowo, maka cita-cita menciptakan swasembada pangan nasional sebagai program proritas pertama, serta fokus pada pengembangan teknologi air, merupakan daya tarik dan tawaran konkrit Prabowo Subianto kepada konstituen pemilu nanti memilih dirinya sebagai Presiden 2024. Semoga!



