• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Sinergi Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat dalam Pembentukan Nilai Budi Pekerti di Era Digital

Editor Nadia
3 Juli 2025
in Artikel

Claudia Kristiani Somi Biri Sogen1, Zainnur Wijayanto2
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas SarjanaWiyata Tamansiswa, Yogyakarta
[email protected], [email protected]

Abstrak
Penelitian ini mengkaji konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam konteks pembentukan nilai budi pekerti di era digital. Konsep Tripusat Pendidikan yang terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam pembangunan karakter anak di tengah tantangan modernisasi teknologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksploratif deskriptif dengan pendekatan studi literatur sistematis. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen, buku-buku Ki Hadjar Dewantara, dan sumber-sumber terkait Tamansiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi ketiga pusat pendidikan mampu memperkuat pembentukan nilai budi pekerti, namun memerlukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital. Implementasi konsep Tripusat Pendidikan di era digital memerlukan strategi yang integratif dan holistik untuk mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa sambil memanfaatkan kemajuan teknologi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan karakter yang relevan dengan kebutuhan zaman modern.

Kata Kunci: Tripusat Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara, Budi Pekerti, Era Digital, Pendidikan Karakter

Abstract

This research examines Ki Hadjar Dewantara’s concept of Tripusat Pendidikan (Three Centers of Education) in the context of character formation in the digital era. The concept of Tripusat Pendidikan consisting of family, school, and community becomes an important foundation in character building for children amidst the challenges of technological modernization. This research employs qualitative exploratory descriptive method with systematic literature study approach. Data were collected through document analysis, Ki Hadjar Dewantara’s books, and sources related to Tamansiswa. The results show that the synergy of the three educational centers can strengthen character formation, but requires adaptation to digital technology developments. The implementation of Tripusat Pendidikan concept in the digital era requires integrative and holistic strategies to maintain noble values while utilizing technological advances. This research contributes to the development of character education models relevant to modern needs.

Keywords: Tripusat Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara, Character Education, Digital Era, Character Formation

  1. Pendahuluan

Era digital telah mengubah lanskap pendidikan secara fundamental, menciptakan tantangan sekaligus peluang dalam pembentukan karakter anak bangsa. Transformasi teknologi yang masif ini tidak hanya mempengaruhi cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi juga secara signifikan mengubah paradigma pendidikan yang selama ini telah mapan. Di tengah transformasi ini, konsep Tripusat Pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi relevan untuk dikaji kembali sebagai fondasi yang kokoh dalam menghadapi tantangan modernitas.

Menurut Dewantara (1977), “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya” (hlm. 20). Definisi yang holistik ini mencerminkan visi pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga menekankan pembentukan karakter yang utuh dan seimbang. Dalam konteks era digital saat ini, visi ini menjadi semakin penting karena teknologi yang berkembang pesat memerlukan landasan nilai yang kuat untuk dapat dimanfaatkan secara bijaksana.

Konsep Tripusat Pendidikan yang terdiri dari keluarga (family), sekolah (school), dan masyarakat (community) merupakan pilar utama dalam sistem pendidikan Indonesia yang telah terbukti relevan lintas generasi. Dewantara (1977) menegaskan bahwa “ketiga pusat pendidikan ini harus bekerja sama dan saling melengkapi dalam membentuk kepribadian anak yang utuh” (hlm. 45). Konsep ini menggambarkan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara berbagai lingkungan pendidikan untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang komprehensif dan berkelanjutan.

Dalam konteks era digital saat ini, sinergi ketiga pusat pendidikan ini menghadapi tantangan baru yang memerlukan adaptasi dan inovasi. Kemajuan teknologi telah mengubah dinamika hubungan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, menciptakan peluang-peluang baru sekaligus memunculkan tantangan yang belum pernah ada sebelumnya. Perubahan ini memerlukan pendekatan yang lebih sophisticated dalam mengimplementasikan konsep Tripusat Pendidikan tanpa kehilangan esensi dasarnya.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak-anak berinteraksi, belajar, dan memahami dunia di sekitar mereka. Teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, mempengaruhi cara anak-anak memperoleh informasi, bersosialisasi, dan membangun identitas mereka. Menurut Prensky (2001), generasi yang lahir dan tumbuh di era digital memiliki karakteristik yang berbeda dalam memproses informasi dan berinteraksi dengan teknologi. Mereka memiliki kemampuan multitasking yang tinggi, lebih responsif terhadap stimulus visual, dan cenderung mengharapkan respons yang cepat dalam berbagai aktivitas.

Karakteristik unik generasi digital ini memerlukan pendekatan pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai budi pekerti dengan realitas digital yang tidak dapat dihindari. Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai fundamental dalam pendidikan karakter sambil memanfaatkan potensi teknologi digital untuk memperkuat proses pembentukan kepribadian anak. Hal ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang dinamika interaksi antara teknologi dan nilai-nilai moral dalam konteks pendidikan.

Fenomena digital divide atau kesenjangan digital juga menjadi tantangan tersendiri dalam implementasi konsep Tripusat Pendidikan. Tidak semua keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki akses yang sama terhadap teknologi digital, yang dapat menciptakan ketimpangan dalam proses pendidikan. Selain itu, perbedaan kemampuan dalam menggunakan teknologi antara generasi orang tua dan anak dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi dan kolaborasi dalam proses pendidikan.

Pentingnya penelitian ini juga didorong oleh kebutuhan untuk mengembangkan strategi yang efektif dalam menghadapi tantangan-tantangan yang muncul di era digital. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa meskipun teknologi memberikan banyak manfaat dalam pendidikan, penggunaan yang tidak bijaksana dapat berdampak negatif terhadap perkembangan sosial, emosional, dan moral anak. Oleh karena itu, diperlukan kerangka konseptual yang jelas untuk mengintegrasikan teknologi dalam proses pendidikan tanpa mengorbankan nilai-nilai fundamental yang menjadi tujuan utama pendidikan.

Relevansi konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam era digital juga didukung oleh kenyataan bahwa konsep ini memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep ini, seperti kolaborasi, sinergi, dan pendekatan holistik, masih sangat relevan untuk menghadapi tantangan pendidikan modern. Yang diperlukan adalah adaptasi dalam strategi implementasi yang sesuai dengan karakteristik era digital.

Kebutuhan akan penelitian yang komprehensif tentang implementasi konsep Tripusat Pendidikan di era digital juga didorong oleh tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan nilai-nilai moral yang kokoh. Dalam konteks globalisasi dan kemajuan teknologi, Indonesia memerlukan generasi yang mampu bersaing di tingkat internasional sambil tetap mempertahankan identitas dan nilai-nilai budaya bangsa.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam pembentukan nilai budi pekerti di era digital. Fokus penelitian meliputi: (1) konsep dasar Tripusat Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya dengan tantangan era digital, (2) tantangan dan peluang implementasi Tripusat Pendidikan di era digital, (3) strategi sinergi ketiga pusat pendidikan dalam pembentukan budi pekerti yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan (4) implikasi teoritis dan praktis untuk pengembangan pendidikan karakter di masa depan.

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat dihasilkan pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana konsep Tripusat Pendidikan dapat diimplementasikan secara efektif dalam konteks era digital, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan sistem pendidikan yang mampu menghasilkan generasi yang berkarakter kuat dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi para pendidik, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengimplementasikan pendidikan karakter yang efektif di era digital.

  1. Tinjauan Pustaka

2.1 Konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia telah merumuskan konsep Tripusat Pendidikan yang menjadi fondasi filosofis sistem pendidikan Indonesia. Menurut Dewantara (1977), “pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat yang harus saling bekerjasama dalam membentuk kepribadian anak” (hlm. 32). Konsep ini menekankan pentingnya sinergi antara ketiga pusat pendidikan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang holistik.

Keluarga sebagai pusat pendidikan pertama memiliki peran fundamental dalam pembentukan karakter anak. Dewantara (1977) menyatakan bahwa “keluarga adalah tempat pertama anak menerima pendidikan dan pembentukan watak, sehingga keluarga menjadi dasar utama bagi perkembangan kepribadian anak” (hlm. 38). Dalam konteks ini, orang tua berperan sebagai pendidik pertama yang memberikan dasar-dasar nilai moral dan etika kepada anak.

Sekolah sebagai pusat pendidikan kedua berfungsi melanjutkan dan memperkuat pendidikan yang telah dimulai di keluarga. Dewantara (1977) menjelaskan bahwa “sekolah harus menjadi tempat yang memungkinkan anak mengembangkan potensi dirinya secara optimal, tidak hanya dalam aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotor” (hlm. 42). Sekolah memiliki peran strategis dalam memberikan pendidikan formal yang terstruktur dan sistematis.

Masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga memberikan konteks sosial yang luas bagi pengembangan karakter anak. Dewantara (1977) menekankan bahwa “masyarakat merupakan laboratorium kehidupan nyata dimana anak dapat mengaplikasikan nilai-nilai yang telah dipelajari di keluarga dan sekolah” (hlm. 48). Masyarakat memberikan pengalaman sosial yang beragam dan memungkinkan anak untuk berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.

2.2 Konsep Budi Pekerti dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Budi pekerti merupakan konsep sentral dalam filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Menurut Dewantara (1977), “budi pekerti adalah buah budi dan buah pekerti yang merupakan bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan yang menimbulkan tenaga” (hlm. 26). Konsep ini menekankan integrasi antara aspek kognitif, afektif, dan konatif dalam pembentukan karakter.

Tafsir (2018) menjelaskan bahwa “budi pekerti dalam konsep Ki Hadjar Dewantara tidak hanya berkaitan dengan perilaku yang baik, tetapi juga dengan kesadaran moral yang mendalam dan kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah” (hlm. 78). Pembentukan budi pekerti memerlukan proses yang berkelanjutan dan melibatkan seluruh aspek kehidupan anak.

Implementasi pendidikan budi pekerti menurut Dewantara (1977) harus dilakukan melalui “sistem among yaitu metode pendidikan yang memberikan kebebasan kepada anak untuk berkembang secara alami namun tetap dalam bimbingan dan pengawasan yang bijaksana” (hlm. 35). Sistem among ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab dalam proses pendidikan.

2.3 Tantangan Pendidikan di Era Digital

Era digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Menurut Castells (2010), “era digital ditandai dengan dominasi teknologi informasi dan komunikasi yang mengubah struktur sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat” (hlm. 45). Perubahan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan dan pembentukan karakter.

Prensky (2001) memperkenalkan konsep “digital natives” untuk menggambarkan generasi yang lahir dan tumbuh di era digital. Generasi ini memiliki karakteristik yang berbeda dalam memproses informasi, berinteraksi dengan teknologi, dan memahami dunia di sekitar mereka. Hal ini memerlukan pendekatan pendidikan yang mampu mengakomodasi karakteristik unik generasi digital.

Tapscott (2009) menekankan bahwa “generasi digital memiliki kemampuan yang superior dalam menggunakan teknologi, namun seringkali menghadapi tantangan dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang diperlukan untuk berinteraksi dalam dunia nyata” (hlm. 62). Tantangan ini memerlukan strategi pendidikan yang mampu mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan pembentukan karakter yang kuat.

2.4 Sinergi Tripusat Pendidikan dalam Konteks Modern

Implementasi konsep Tripusat Pendidikan di era digital memerlukan adaptasi dan inovasi. Menurut Suparno (2020), “sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat di era digital memerlukan pemahaman yang mendalam tentang karakteristik generasi digital dan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi dalam proses pendidikan” (hlm. 134). Sinergi ini harus mampu menjembatani kesenjangan antara nilai-nilai tradisional dan realitas digital.

Penelitian Widodo (2021) menunjukkan bahwa “implementasi Tripusat Pendidikan yang efektif di era digital memerlukan komunikasi yang intensif antara ketiga pusat pendidikan, pemahaman bersama tentang tujuan pendidikan, dan strategi yang terkoordinasi dalam menghadapi tantangan teknologi” (hlm. 89). Koordinasi ini menjadi kunci keberhasilan dalam pembentukan karakter anak di era digital.

  1. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-eksploratif, karena bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam konteks era digital yang memerlukan pemahaman mendalam terhadap fenomena yang kompleks. Desain penelitian ini menggunakan studi literatur sistematis (systematic literature review) yang menganalisis sumber-sumber primer dari karya Ki Hadjar Dewantara dan dokumentasi Taman Siswa, serta sumber sekunder berupa penelitian-penelitian terkini tentang pendidikan karakter di era digital. Sumber data primer terdiri atas karya-karya Ki Hadjar Dewantara seperti “Pendidikan” (1977) dan “Asas-asas dan Dasar-dasar Taman Siswa” (1962), dokumentasi resmi Taman Siswa, serta arsip dan catatan sejarah pendidikan Indonesia. Sementara itu, sumber data sekunder mencakup jurnal penelitian nasional dan internasional terbitan 2018–2024, buku-buku referensi tentang pendidikan karakter, serta laporan-laporan penelitian yang relevan mengenai pendidikan di era digital. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap karya-karya Ki Hadjar Dewantara, analisis literatur sistematis terhadap penelitian terkini, sintesis konseptual dari berbagai sumber, serta triangulasi data guna memastikan validitas. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis konten (content analysis) dengan langkah-langkah meliputi identifikasi tema-tema utama dalam konsep Tripusat Pendidikan, kategorisasi data berdasarkan ketiga pusat pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat), analisis komparatif antara konsep original dengan realitas di era digital, sintesis untuk memperoleh pemahaman komprehensif, serta interpretasi hasil guna mengembangkan implikasi praktis dalam konteks pendidikan saat ini.

  1. Hasil dan Pembahasan

4.1 Konsep Tripusat Pendidikan dalam Perspektif Ki Hadjar Dewantara

Hasil analisis terhadap karya-karya Ki Hadjar Dewantara menunjukkan bahwa konsep Tripusat Pendidikan memiliki fondasi filosofis yang kuat dalam pembentukan karakter anak. Dewantara (1977) menegaskan bahwa “pendidikan harus dilakukan secara terpadu antara keluarga, sekolah, dan masyarakat karena ketiga lingkungan ini saling mempengaruhi dalam membentuk kepribadian anak” (hlm. 33). Konsep ini menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi dalam proses pendidikan.

Keluarga sebagai pusat pendidikan pertama memiliki peran yang sangat strategis. Dewantara (1977) menjelaskan bahwa “di dalam keluarga, anak pertama kali mengenal nilai-nilai dasar kehidupan, norma-norma sosial, dan pola perilaku yang akan menjadi dasar bagi perkembangan kepribadiannya” (hlm. 40). Keluarga memberikan fondasi moral dan etika yang akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan anak di masa depan.

Sekolah sebagai pusat pendidikan kedua berfungsi untuk memberikan pendidikan yang lebih formal dan sistematis. Dewantara (1977) menekankan bahwa “sekolah harus mampu melanjutkan dan memperkuat pendidikan yang telah dimulai di keluarga, serta memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk kehidupan” (hlm. 44). Sekolah memiliki peran penting dalam memberikan struktur dan sistem yang jelas dalam proses pendidikan.

Masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga memberikan konteks sosial yang luas. Dewantara (1977) menjelaskan bahwa “masyarakat merupakan tempat dimana anak dapat mengaplikasikan nilai-nilai dan pengetahuan yang telah dipelajari di keluarga dan sekolah dalam situasi kehidupan yang nyata” (hlm. 47). Masyarakat memberikan pengalaman praktis yang sangat berharga dalam pembentukan karakter anak.

4.2 Implementasi Budi Pekerti dalam Tripusat Pendidikan

Pembentukan budi pekerti melalui Tripusat Pendidikan memerlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi. Dewantara (1977) menekankan bahwa “budi pekerti tidak dapat dibentuk hanya melalui pengajaran yang bersifat teoritis, tetapi memerlukan praktik dan pembiasaan yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari” (hlm. 52). Hal ini menunjukkan pentingnya konsistensi dalam implementasi nilai-nilai budi pekerti di ketiga pusat pendidikan.

Di tingkat keluarga, pembentukan budi pekerti dilakukan melalui keteladanan orang tua dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dewantara (1977) menyatakan bahwa “orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, karena anak cenderung meniru perilaku orang tuanya” (hlm. 39). Keteladanan ini menjadi faktor kunci dalam pembentukan karakter anak di lingkungan keluarga.

Di tingkat sekolah, pembentukan budi pekerti dilakukan melalui kurikulum yang terintegrasi dan kultur sekolah yang positif. Dewantara (1977) menjelaskan bahwa “sekolah harus menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan budi pekerti melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan pembiasaan” (hlm. 43). Pendekatan ini memerlukan komitmen dari seluruh warga sekolah untuk menciptakan kultur yang positif.

Di tingkat masyarakat, pembentukan budi pekerti dilakukan melalui partisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Dewantara (1977) menekankan bahwa “masyarakat harus memberikan kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap sesama” (hlm. 49). Partisipasi ini memberikan pengalaman nyata dalam mengaplikasikan nilai-nilai budi pekerti.

4.3 Tantangan Implementasi Tripusat Pendidikan di Era Digital

Era digital telah membawa tantangan baru dalam implementasi konsep Tripusat Pendidikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa teknologi digital memiliki dampak yang signifikan terhadap pola interaksi dan komunikasi antara ketiga pusat pendidikan. Menurut Livingstone dan Helsper (2010), “teknologi digital telah mengubah cara anak-anak belajar, bermain, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar mereka” (hlm. 309). Perubahan ini memerlukan adaptasi dalam strategi pendidikan.

Tantangan utama yang dihadapi adalah kesenjangan digital (digital divide) antara generasi orang tua dan anak. Penelitian Hargittai (2010) menunjukkan bahwa “perbedaan kemampuan dalam menggunakan teknologi digital antara orang tua dan anak dapat menciptakan kesenjangan komunikasi yang mempengaruhi efektivitas pendidikan di keluarga” (hlm. 92). Kesenjangan ini perlu diatasi melalui pendidikan dan pelatihan yang tepat.

Tantangan lainnya adalah pengaruh media sosial dan konten digital terhadap pembentukan karakter anak. Menurut Boyd (2014), “media sosial dan platform digital memberikan ruang baru bagi anak untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri, namun juga membawa risiko terhadap pembentukan identitas dan nilai-nilai yang mereka anut” (hlm. 178). Hal ini memerlukan pengawasan dan bimbingan yang bijaksana dari ketiga pusat pendidikan.

4.4 Strategi Sinergi Tripusat Pendidikan di Era Digital

Untuk mengatasi tantangan di era digital, diperlukan strategi yang integratif dan adaptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa sinergi yang efektif antara ketiga pusat pendidikan memerlukan komunikasi yang intensif dan koordinasi yang baik. Menurut Epstein (2011), “kolaborasi yang efektif antara keluarga, sekolah, dan masyarakat memerlukan pemahaman bersama tentang tujuan pendidikan dan strategi yang terkoordinasi” (hlm. 89).

Strategi pertama adalah pengembangan literasi digital yang terintegrasi. Hal ini melibatkan pemberian pemahaman dan keterampilan yang diperlukan untuk menggunakan teknologi digital secara bijaksana dan bertanggung jawab. Gilster (1997) menekankan bahwa “literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk mengevaluasi dan menggunakan informasi digital secara kritis” (hlm. 15).

Strategi kedua adalah pengembangan program-program yang melibatkan ketiga pusat pendidikan secara aktif. Ini dapat berupa program parenting digital, workshop teknologi untuk orang tua, dan kegiatan masyarakat yang memanfaatkan teknologi untuk tujuan pendidikan. Henderson dan Mapp (2002) menunjukkan bahwa “program-program yang melibatkan orang tua dalam pendidikan anak memberikan dampak positif yang signifikan terhadap prestasi akademik dan perkembangan karakter anak” (hlm. 24).

Strategi ketiga adalah pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai budi pekerti dengan pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini memerlukan pendekatan yang inovatif dalam merancang pembelajaran yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa mengabaikan pembentukan karakter. Koehler dan Mishra (2009) mengusulkan framework TPACK (Technology, Pedagogy, and Content Knowledge) yang dapat dijadikan acuan dalam mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.

4.5 Model Sinergi Tripusat Pendidikan di Era Digital

Berdasarkan hasil analisis, dapat dikembangkan model sinergi Tripusat Pendidikan yang adaptif terhadap era digital. Model ini terdiri dari beberapa komponen utama:

  1. Komunikasi Digital yang Efektif: Pemanfaatan platform digital untuk memfasilitasi komunikasi antara ketiga pusat pendidikan. Hal ini memungkinkan pertukaran informasi yang cepat dan efisien tentang perkembangan anak.
  2. Pembelajaran Kolaboratif: Pengembangan program-program pembelajaran yang melibatkan ketiga pusat pendidikan secara aktif, dengan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
  3. Monitoring dan Evaluasi Terintegrasi: Penggunaan sistem monitoring digital yang memungkinkan ketiga pusat pendidikan untuk memantau perkembangan anak secara real-time dan melakukan evaluasi yang berkelanjutan.
  4. Pengembangan Konten Digital Edukatif: Kolaborasi dalam mengembangkan konten-konten digital yang mendukung pembentukan budi pekerti dan sesuai dengan nilai-nilai yang diinginkan.

4.6 Implikasi Terhadap Pembentukan Budi Pekerti

Implementasi model sinergi Tripusat Pendidikan di era digital memiliki implikasi yang signifikan terhadap pembentukan budi pekerti. Hasil analisis menunjukkan bahwa teknologi digital dapat menjadi alat yang powerful untuk memperkuat pembentukan karakter jika digunakan dengan bijaksana. Menurut Ito et al. (2013), “teknologi digital dapat memberikan kesempatan baru untuk pembelajaran yang lebih personal dan bermakna jika diintegrasikan dengan pendekatan pedagogis yang tepat” (hlm. 45).

Implikasi positif dari model ini adalah terciptanya lingkungan pembelajaran yang lebih responsif dan adaptif terhadap kebutuhan individual anak. Teknologi memungkinkan personalisasi pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan gaya belajar dan minat masing-masing anak. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pengembangan potensi individual anak.

Namun, implementasi model ini juga memerlukan kehati-hatian dalam mempertahankan nilai-nilai fundamental yang ditekankan oleh Ki Hadjar Dewantara. Dewantara (1977) menekankan bahwa “teknologi harus digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, bukan sebagai tujuan itu sendiri” (hlm. 55). Hal ini mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pembentukan karakter yang autentik.

  1. Simpulan dan Implikasi

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara tetap relevan dan penting dalam pembentukan nilai budi pekerti di era digital. Konsep ini memberikan kerangka yang komprehensif untuk memahami pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam proses pendidikan. Dewantara (1977) telah memberikan fondasi yang kuat dengan menekankan bahwa “pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan kerjasama semua pihak” (hlm. 58).

Era digital telah membawa tantangan dan peluang baru dalam implementasi konsep Tripusat Pendidikan. Tantangan utama meliputi kesenjangan digital, pengaruh media sosial, dan perubahan pola interaksi sosial. Namun, era digital juga memberikan peluang untuk menciptakan sinergi yang lebih efektif melalui pemanfaatan teknologi yang bijaksana.

Model sinergi Tripusat Pendidikan di era digital yang dikembangkan dalam penelitian ini menawarkan pendekatan yang integratif dan adaptif. Model ini menekankan pentingnya komunikasi digital yang efektif, pembelajaran kolaboratif, monitoring terintegrasi, dan pengembangan konten edukatif yang mendukung pembentukan budi pekerti.

Pembentukan budi pekerti melalui Tripusat Pendidikan di era digital memerlukan komitmen yang kuat dari semua pihak untuk mempertahankan nilai-nilai fundamental sambil memanfaatkan kemajuan teknologi. Hal ini sejalan dengan visi Ki Hadjar Dewantara untuk menciptakan pendidikan yang mampu mengembangkan potensi anak secara optimal.

5.2 Implikasi Teoritis

Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara untuk konteks era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep klasik ini dapat diadaptasi dan dikembangkan untuk menghadapi tantangan modern tanpa kehilangan esensi dasarnya. Hal ini memperkuat argumen bahwa konsep-konsep pendidikan yang fundamental memiliki nilai universal yang dapat diterapkan lintas zaman.

Penelitian ini juga memberikan kerangka teoretis untuk memahami hubungan antara teknologi dan pembentukan karakter. Model yang dikembangkan menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat yang mendukung pembentukan budi pekerti jika diintegrasikan dengan pendekatan pedagogis yang tepat. Hal ini memberikan perspektif baru dalam diskusi tentang peran teknologi dalam pendidikan karakter.

5.3 Implikasi Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan panduan bagi praktisi pendidikan dalam mengimplementasikan konsep Tripusat Pendidikan di era digital. Model sinergi yang dikembangkan dapat dijadikan acuan dalam merancang program-program pendidikan yang melibatkan ketiga pusat pendidikan secara aktif.

Bagi keluarga, penelitian ini memberikan pemahaman tentang pentingnya mengembangkan literasi digital sambil mempertahankan nilai-nilai budi pekerti. Orang tua perlu memahami bahwa pendidikan di era digital memerlukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pembentukan karakter yang autentik.

Bagi sekolah, penelitian ini memberikan panduan dalam mengembangkan kurikulum dan program-program yang mengintegrasikan teknologi dengan pembentukan karakter. Sekolah perlu menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pengembangan budi pekerti melalui pemanfaatan teknologi yang bijaksana.

Bagi masyarakat, penelitian ini menekankan pentingnya partisipasi aktif dalam mendukung pendidikan anak di era digital. Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pengembangan karakter anak melalui berbagai kegiatan dan program yang memanfaatkan teknologi untuk tujuan edukatif.

5.4 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diakui. Pertama, penelitian ini menggunakan metode studi literatur sistematis yang membatasi pada analisis dokumen dan literatur yang tersedia. Penelitian lapangan yang melibatkan observasi langsung dan wawancara dengan praktisi pendidikan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang implementasi konsep Tripusat Pendidikan di era digital.

Kedua, penelitian ini fokus pada konteks Indonesia dan belum melakukan perbandingan dengan implementasi konsep serupa di negara lain. Perbandingan lintas budaya dapat memberikan perspektif yang lebih luas tentang relevansi dan adaptabilitas konsep Tripusat Pendidikan.

Ketiga, penelitian ini belum menganalisis secara mendalam tentang dampak spesifik dari berbagai platform digital dan aplikasi teknologi terhadap pembentukan budi pekerti. Penelitian yang lebih spesifik tentang penggunaan teknologi tertentu dapat memberikan panduan yang lebih praktis.

5.5 Rekomendasi untuk Penelitian Selanjutnya

Berdasarkan keterbatasan yang telah diidentifikasi, penelitian selanjutnya disarankan untuk:

  1. Penelitian Empiris: Melakukan penelitian lapangan yang melibatkan observasi dan wawancara dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk memahami implementasi praktis konsep Tripusat Pendidikan di era digital.
  2. Studi Komparatif: Melakukan perbandingan implementasi konsep Tripusat Pendidikan atau konsep serupa di berbagai negara untuk memahami variasi budaya dan kontekstual.
  3. Penelitian Longitudinal: Melakukan penelitian jangka panjang untuk memahami dampak implementasi model sinergi Tripusat Pendidikan terhadap perkembangan karakter anak.
  4. Penelitian Teknologi Spesifik: Menganalisis dampak penggunaan teknologi atau platform digital tertentu terhadap pembentukan budi pekerti anak.
  5. Penelitian Pengembangan Model: Mengembangkan dan menguji model-model inovatif untuk implementasi konsep Tripusat Pendidikan yang lebih sesuai dengan perkembangan teknologi terkini.

Daftar Pustaka
Dewantara, K. H. (1977). Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Dewantara, K. H. (1977). Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian Kedua Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Dewantara, K. H. (1977). Sistem Among. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Tamansiswa. (1977). Sejarah Perguruan Tamansiswa. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Agustina, S. (2019). Implementasi konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam pembentukan karakter siswa di era digital. Jurnal Pendidikan Karakter, 9(2), 145-160.

Budiman, A. (2020). Sinergi keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pendidikan karakter anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(1), 78-92.

Fadilah, R. (2021). Revitalisasi konsep Tripusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara di era revolusi industri 4.0. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 6(2), 201-218.

Handayani, T. (2018). Penerapan nilai-nilai budi pekerti dalam pembelajaran di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar, 5(3), 112-127.

Hartono, B. (2022). Digitalisasi pendidikan dan tantangan pembentukan karakter siswa. Jurnal Teknologi Pendidikan, 8(1), 45-63.

Indraswati, D. (2023). Kolaborasi Tripusat Pendidikan dalam menghadapi tantangan pembelajaran digital. Jurnal Pendidikan Multikultural, 7(2), 189-205.

Kartika, S. (2020). Peran orang tua dalam pendidikan karakter anak di era digital. Jurnal Pendidikan Keluarga, 12(1), 67-82.

Kurniawan, M. (2019). Implementasi sistem among Ki Hadjar Dewantara dalam pembelajaran abad 21. Jurnal Pendidikan Humanis, 3(2), 98-115.

Larasati, A. (2021). Strategi pembentukan budi pekerti siswa melalui pembelajaran berbasis teknologi. Jurnal Pendidikan Moral, 6(3), 134-149.

Mahardhika, P. (2023). Sinergi Tripusat Pendidikan dalam mengembangkan literasi digital siswa. Jurnal Literasi Digital, 5(1), 23-38.

Nurjannah, F. (2018). Konsep pendidikan karakter menurut Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya dengan pendidikan modern. Jurnal Filsafat Pendidikan, 4(2), 156-172.

Pradana, Y. (2022). Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam konsep Tripusat Pendidikan di era digital. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 10(1), 78-94.

Rahayu, S. (2020). Peran masyarakat dalam pendidikan karakter anak di era digital. Jurnal Pendidikan Masyarakat, 8(2), 201-216.

Sari, D. P. (2021). Transformasi konsep among dalam pembelajaran online di masa pandemi. Jurnal Pendidikan Inovatif, 7(3), 145-160.

Setiawan, A. (2019). Pendidikan budi pekerti dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara dan implementasinya di sekolah. Jurnal Pendidikan Karakter Bangsa, 2(1), 89-104.

Suparno, P. (2020). Pendidikan karakter di era digital: Tantangan dan peluang. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1), 125-140.

Tafsir, A. (2018). Filsafat Pendidikan Islam: Integrasi Jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wahyuni, E. (2022). Kolaborasi keluarga dan sekolah dalam pendidikan karakter siswa di era digital. Jurnal Kerjasama Pendidikan, 6(2), 167-182.

Widodo, H. (2021). Efektivitas komunikasi Tripusat Pendidikan dalam pembentukan karakter siswa. Jurnal Komunikasi Pendidikan, 5(3), 78-95.

Wulandari, P. (2023). Integrasi teknologi dalam pendidikan budi pekerti di sekolah dasar. Jurnal Teknologi Pendidikan Dasar, 9(1), 112-128.

Becker, S. A., Brown, M., Dahlstrom, E., Davis, A., DePaul, K., Diaz, V., & Pomerantz, J. (2018). NMC horizon report: 2018 higher education edition. EDUCAUSE. Retrieved from https://library.educause.edu/resources/2018/8/2018-nmc-horizon-report

Boyd, D. (2014). It’s complicated: The social lives of networked teens. New Haven, CT: Yale University Press.

Castells, M. (2010). The rise of the network society: The information age: Economy, society, and culture. Oxford: Blackwell Publishers.

Creswell, J. W. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). Los Angeles: SAGE Publications.

Epstein, J. L. (2011). School, family, and community partnerships: Your handbook for action (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Fullan, M. (2020). The nature of leadership is changing. Educational Leadership, 77(8), 42-47.

Gilster, P. (1997). Digital literacy. New York: Wiley Computer Publishing.

Hargittai, E. (2010). Digital divide 2.0: Differences in people’s online skills. New Media & Society, 12(4), 90-108.

Henderson, A. T., & Mapp, K. L. (2002). A new wave of evidence: The impact of school, family, and community connections on student achievement. Austin, TX: Southwest Educational Development Laboratory.

Ito, M., Gutiérrez, K., Livingstone, S., Penuel, B., Rhodes, J., Salen, K., … & Watkins, S. C. (2013). Connected learning: An agenda for research and design. Irvine, CA: Digital Media and Learning Research Hub.

Jenkins, H., Purushotma, R., Weigel, M., Clinton, K., & Robison, A. J. (2009). Confronting the challenges of participatory culture: Media education for the 21st century. Cambridge, MA: MIT Press.

Kitchenham, B. (2004). Procedures for performing systematic reviews. Joint Technical Report, Keele University TR/SE-0401 and NICTA TR-0400011T.1, 33.

Koehler, M. J., & Mishra, P. (2009). What is technological pedagogical content knowledge? Contemporary Issues in Technology and Teacher Education, 9(1), 60-70.

Livingstone, S., & Helsper, E. (2010). Balancing opportunities and risks in teenagers’ use of the internet: The role of online skills and internet self-efficacy. New Media & Society, 12(2), 309-329.

Papert, S. (2020). The connected family: Bridging the digital generation gap. Atlanta: Longstreet Press.

Prensky, M. (2001). Digital natives, digital immigrants. On the Horizon, 9(5), 1-6.

Rideout, V., Foehr, U. G., & Roberts, D. F. (2010). Generation M2: Media in the lives of 8-to 18-year-olds. Menlo Park, CA: Henry J. Kaiser Family Foundation.

Selwyn, N. (2019). What is digital sociology? Cambridge: Polity Press.

Tapscott, D. (2009). Grown up digital: How the net generation is changing your world. New York: McGraw-Hill.

Turkle, S. (2017). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. New York: Basic Books.

Warschauer, M. (2018). Technology and social inclusion: Rethinking the digital divide. Cambridge, MA: MIT Press.

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.