Penulis: Nur Fitriyani (Mahasiswi UIN Gusdur Pekalongan)
JurnalPost.com – Toleransi merupakan sebuah sikap saling menghormati, menghargai, dan menerima perbedaan pendapat, keyakinan, maupun perbedaan lainnya yang ada didalam kehidupan manusia. Toleransi juga dapat diartikan sebagai suatu sikap yang tidak memaksakan kehendak orang lain. Perbedaan itu pasti ada dalam kehidupan manusia. Namun, karena perbedaan inilah kita bisa belajar untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya. Dalam menghadapi sebuah perbedaan tentu komunikasi juga ikut berperan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Dengan terjalinnya komunikasi atau interaksi yang baik ini dapat mengurangi kesalahpahaman yang terjadi dalam masyarakat. Komunikasi yang baik juga dapat mempererat hubungan persaudaraan antar sesama.
Sebuah Desa yang dapat dijadikan contoh dalam penerapan moderasi beragama yaitu Desa Linggoasri yang terletak di Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Desa Linggoasri adalah desa yang mempunyai aneka ragam agama. Di desa Linggoasri terdapat 5 agama yaitu agama Islam, Hindu, Budha, Kristen dan Katolik. Inilah yang menjadikan masyarakat di desa Linggoasri bisa hidup dengan rukun dan harmonis. Masyarakat Desa Linggoasri dari zaman dahulu sudah menerapkan moderasi beragama. Walaupun berbeda agama, masyarakat Desa Linggoasri bisa hidup berdampingan dan bisa saling mengahargai satu sama lain. Dari desa Linggoasri kita bisa belajar bahwa toleransi antar umat beragama itu sangat penting dalam kehidupan manusia.
Di Desa Linggoasri terdapat berbagai macam tradisi keagamaan. Salah satunya yaitu dalam perayaan hari Nyepi yang menjadi hari raya bagi umat Hindu. Pada saat hari raya nyepi suasananya harus hening dan tidak boleh ada suara, hal ini disebabkan agar umat hindu dapat melakukan perenungan diri dengan khidmat. Dalam hal ini masyarakat Linggoasri saling toleransi pada saat memperingati hari raya Nyepi yaitu dengan tidak menghidupkan lampu, tidak menyalakan lilin, tidak menyalakan korek api, tidak menyalakan senter dan lain sebagainya atau bisa disebut dengan “Amati Geni”. Pada saat hari Nyepi masjid-masjid yang ada di desa Linggoasri juga ikut bertoleransi dengan mengumandangkan adzan lewat toa masjid yang ada didalam ruangan sehingga tidak menimbulkan suara yang keluar dari speaker masjid. Apabila ada warga yang beragama muslim di tempat tinggalnya yang mayoritasnya beragama Hindu mereka akan berpindah tempat terlebih dahulu atau mengungsi dulu di rumah saudaranya.

Pada saat hari raya Nyepi masyarakat hindu tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah karena agar umat hindu lebih khusyuk dalam melaksanakan hari raya nyepi. Tradisi Nyepi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Umat Hindu juga melaksanakan puasa sehari semalam dengan tidak makan dan tidak minum. Hari Raya Nyepi ini dilaksanakan dirumah masing-masing umat Hindu sedangkan upacara hari raya Nyepi dilaksanakan di pura Kalingga. Dalam hal ini seluruh masyarakat di desa Linggoasri ikut bertoleransi dalam perayaan-perayaan yang ada di setiap masing-masing agama. Masyarakat juga ikut menghormati dan membantu setiap ada acara atau kegiatan yang diadakan di desa Linggoasri.

Maka dari itu moderasi beragama sangat penting bagi kehidupan manusia dalam memahami setiap perbedaan yang ada baik perbedaan agama, pendapat, budaya, sudut pandang, bahasa, dan lain sebagainya. Untuk memahami setiap perbedaan yang ada di masyarakat, pendekatan sosiologi mempunyai peran yang penting dalam menyelesaikan setiap masalah serta konflik yang terjadi di masyarakat. Sosiologi komunikasi dapat membantu dalam memahami akar dari permasalahan konflik di masyarakat melalui pola komunikasi dan dinamika sosial. Dengan memahami interaksi dan komunikasi antarindividu serta kelompok dapat menjadi sebuah solusi yang efektif untuk meredakan konflik tersebut.



