
Penulis: Arinta Gustinantari Astridia Santosa
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
MOJOKERTO, JurnakPost.com, Januari 2026 – Di bawah sejuknya lereng Gunung Penanggungan, halaman SDN 1 Sukosari mendadak berubah menjadi galeri seni alam. Sebanyak 20 siswa kelas 4 hingga 6 tampak antusias mengikuti pelatihan Ecoprint, sebuah teknik cetak motif kain menggunakan bahan alami yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya dalam program Pemberdayaan Masyarakat.
Program ini bertujuan untuk mengenalkan seni kreatif yang ramah lingkungan sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini bagi generasi muda di Desa Sukosari.
Mengubah Daun Menjadi Karya Seni
Ecoprint merupakan teknik mentransfer pola dan warna asli tumbuhan ke atas kain tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya. Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini, mahasiswa mengajak para siswa memanfaatkan biodiversitas lokal yang melimpah di desa mereka.
Daun pepaya, daun jambu, hingga daun mangga yang biasanya hanya dianggap sebagai guguran sampah organik, disulap menjadi “kanvas hidup”. Setiap cetakan menghasilkan pola yang unik dan tidak pernah sama, mencerminkan keberagaman alam sekitar.
“Di desa ini, potensi alam sangat melimpah. Melalui ecoprint, kami ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa daun yang jatuh bukanlah sampah, melainkan aset yang bisa diolah menjadi karya bernilai seni dan ekonomi,” ujar salah satu mahasiswa tim pemberdayaan.
Proses Kreatif dan Semangat Gotong Royong
Proses pembuatan diawali dengan merangkai daun di atas kain putih sesuai kreativitas masing-masing siswa. Setelah pola terbentuk, kain dilapisi plastik dan mulai ditumbuk menggunakan palu kayu hingga pigmen warna alami daun meresap ke dalam serat kain. Tahap akhir dilakukan dengan merendam kain dalam larutan tawas untuk mengunci warna agar tidak luntur.
Kegiatan ini tidak hanya mengasah kreativitas individu, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong khas pedesaan saat para siswa saling membantu dalam proses penumbukan dan penataan pola.



