Diny Sukmawati, Zainur Wijayanto
[email protected]; [email protected]
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar; Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
ABSTRAK
Peran strategi Niteni, Nirokke, Nambahi dalam meningkatkan keaktifan siswa di Sekolah Dasar, sebagai respons terhadap tantangan rendahnya partisipasi siswa di era pembelajaran abad ke-21. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana penerapan Tri N, yang meliputi Niteni (mengamati dan memahami), Nirokke (meniru atau mencontoh), dan Nambahi (mengembangkan atau berinovasi), dapat memicu partisipasi aktif siswa, baik secara kognitif maupun fisik.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan observasi terbatas di dua sekolah dasar di Yogyakarta. Data dikumpulkan melalui analisis literatur terkait ajaran Ki Hadjar Dewantara, wawancara informal dengan guru dan siswa, serta observasi kelas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi konsep Tri N memiliki dampak positif signifikan terhadap partisipasi dan inisiatif siswa. Tahap Niteni terbukti meningkatkan fokus siswa dalam menangkap informasi baru, memicu pertanyaan klarifikasi, dan kemampuan mengidentifikasi argumen utama dalam diskusi. Tahap Nirokke mendorong peningkatan keaktifan fisik dan kognitif, terlihat dari siswa yang mampu mencontoh langkah-langkah pengerjaan tugas, seperti dalam mata pelajaran Matematika, yang kemudian membantu pemahaman mandiri. Sementara itu, tahap Nambahi merepresentasikan indikator tertinggi keaktifan siswa, memfasilitasi kemampuan mereka untuk berkreasi, berpikir kritis, mengembangkan gagasan baru, memodifikasi tugas, bahkan membuat produk karya atau alat bantu pembelajaran.
Kata kunci;Tri N, Ki Hajar Dewantara, Keaktifan Siswa
ABSTRAK
The role of the Niteni, Nirokke, Nambahi strategy in increasing student activeness in Elementary Schools, as a response to the challenge of low student participation in the 21st century learning era. Many teachers still face difficulties in motivating students due to less innovative and teacher-centered learning methods, as well as materials that are considered less relevant. The Tri N concept, which is rooted in the philosophy of Ki Hadjar Dewantara, is believed to be an effective solution to create student-centered learning. The purpose of this study is to analyze how the implementation of Tri N, which includes Niteni (observing and understanding), Nirokke (imitating or copying), and Nambahi (developing or innovating), can trigger active student participation, both cognitively and physically. This study uses a descriptive qualitative method with a literature study approach and limited observation in two elementary schools in Yogyakarta. Data were collected through literature analysis related to the teachings of Ki Hadjar Dewantara, informal interviews with teachers and students, and classroom observations. The results showed that the implementation of the Tri N concept had a significant positive impact on student participation and initiative. The Niteni stage was proven to increase student focus in capturing new information, triggering clarifying questions, and the ability to identify main arguments in discussions. The Nirokke stage encourages increased physical and cognitive activity, as seen from students who are able to imitate the steps of completing assignments, such as in Mathematics, which then helps independent understanding. Meanwhile, the Nambahi stage represents the highest indicator of student activity, facilitating their ability to be creative, think critically, develop new ideas, modify assignments, and even create work products or learning aids.
Keywords; Tri N, Ki Hajar Dewantara, Student Activity
PENDAHULUAN
Pendidikan memegang peranan penting dalam menghasilkan manusia yang berkualitas. Di tingkat Sekolah Dasar (SD), pembelajaran menjadi fondasi utama bagi pengembangan potensi peserta didik secara holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan salah satu hal penting dalam keberhasilan pembelajaran.siswa yang aktif akan cenderung lebih termotivasi, mudah dalam memahami materi, berani bertanya dan mengemukakan pendapatnya,serta ikut terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran. Keaktifan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan hasil belajar, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreatif dan kolaboratif dengan siswa yang lainnya. Dalam kontek pembelajaran dikelas, keaktifan siswa dapat dilihat dari kontribusi mereka dalam berdiskusi, tanya jawab kegiatan membaca,menulis, dan menyimak, serta penggunaan bahasa dalam berbicara.
Pada jenjang sekolah dasar di era abad ke 21 karakter dan pola pikir belajar anak yang masih membutuhkan bimbingan dari guru dalam hal ini peran guru sangatlah penting. Namun banyak guru yang tidak mengikuri perkembangan zaman yang menyebabkan siswa jadi bosan dan jenuh sehigga tidak aktif dan antusias dalam belajara dikelas. Terkadang, guru merasa kesulitan melibatkan seluruh siswa dalam pembelajaran. Siswa mungkin merasa kurang terlibat jika metode pembelajaran tidak sesuai dengan gaya belajar mereka atau jika materi yang disampaikan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, pada era yang sudah berbeda seorang guru hanyalah sebagai fasilitator, motivator, dan inovator yang menciptakan pengalaman yang menarik dan bermakna. Pada proses ini yang menjadi tantangan seorang guru dalam bagaimana memotivasi siswa agar aktif dalam pembelajaran dengan kurikulum merdeka yang padat dan keberagaman karakteriktik dari siswa. Rendahnya keaktifan siswa diduga karena beberapa faktor, salah satunya penggunaan metode pembelajaran yang kurang berivasi dan cenderung berpusat pada guru, materi yang dianggap sulit atau kurang relevan dengan kehidupan siswa, serta kurangnya stimulasi yang mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran. . Konsep tri N(niteni,nirokke,nambhi) diyakini dapat mejadi cara yang efektif bagi guru untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Konsep tri N berasal dari filosofi jawa yang mengembangkan potensi anak dengan mendorong meraka untuk niteni memperhatikan, nirokke menirukan dan nambahi berinovasi sesuai dengan gaya belajarnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran guru dalam menerapkan pendekatan tri N sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan siswa di kelas. Konsep tri N(niteni,nirokke,nambhi) dapat mejadi cara yang efektif bagi guru untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Mengimplementasikan konsep tri N di sekolah dasar untuk meningkatkan keaktifan siswa.
KAJIAN TEORI
A. KEAKTIFAN SISWA
Keaktifan berasal dari kata aktif yang artinya giat bekerja, giat berusaha, mampu bereaksi dan berinteraksi, sedangkan arti kata keaktifan adalah kesibukan atau kegiatan. Keaktifan belajar siswa merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Sriyono, aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas–tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerja sama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Keaktifan siswa terdapat dalam 4 bentuk;
1. Keaktifan fisik
Keaktifan siswa yang melibatkan partisipasi siswa secara langsung dalam kegiatan pelanjaran mengajak untuk melakukan percobaan langsung. Melakukan aktivitas visik menulis atau menggambar agar siswa bisa menungkan ide dan gagasan menurutnya. Berinteraksi dengan kelompok melakukan presentasi atau kegiatan fisik dalam pembelajaran.
2. Keaktifan mental
Keaktifan siswa yang melibatkan kemampuan kognitif siswa berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kemampuan siswa dalam menganalisis informasi saat proses pembelajaran dengan berpikir kritis. Siswa memecahkan masalah dengan mengidentifikasi dan strategi yang sesuai dengan kemampunanya untuk menguraikan nformasi menjadi bagian-bagian kecil yang kemudian digabungkan menjadi bentuk pemahaman baru.
3. Kekatifan sosial
Keaktifan sosial yang melibatkan pada interaksi siswa dengan orang lain dalam pembelajaran. Kemampuan siswa saat berdiskusi dalam bertukar ide dengan teman dan partisipasi siswa dengan teman sebayanya. Siswa mampu berkontribusi dan berintekasi dengan temannya secara efektif dalam memahami dan merespon apa yang di sampaikan guru.
4. Keaktifa emosional
Keaktifan emosional yang melibatkan perasaan dan sikap siswa terhadap pembelajaran di kelas. Pada saat belajar ada minat dan motivasi internal siswa untuk belajar sehingga ada rasa ingin tahu untuk siswa mengeksplor dan memahami hal-hal baru maka dari itu, perlu keterbuaakn siswa dalam menerima ide dari pemahaman temanya yang berbeda-beda.
Manfaat keaktifan siswa dalam pembelajaran untuk menentukan keberhasilan proses pembelajaran yang tidak hanya menerima informasi dari guru atau temen tetapi juga memproses, menganlisis, dan mengintegrasikan pengetahuan. Dengan begitu siswa akan meningkatkan pemahaman konsep dalam memecahkan masalah yang mampu menciptakan siswa yang lebih cerdas secara akademis serta individu yang lebih percaya diri dan kreatif.
B. KONSEP TRI N(NITENI,NIROKKE,NAMBHI)
Tri N terdiri atas niteni, nirokke, dan nambahi, menyatakan bahwa niteni untuk mempelajari segala sesuatu bisa ditempuh dengan cara ”mengenali dan mengingat”. Nirokke yang mengartikan bahwa segala sesuatu yang dipelajari perlu ditiru, dan nambahi yang mengartikan mengembangkan pelajaran yang sudah di dapat. Dari Tri N ini menjelaskan bahwa pada tahap pembelajaran memiliki prosesnya, dari memperhatikan dan mengembangkan sesuai dengan kemampuan dan pemahaman yang sudah didapat dari pembelajaran yang mendalam untuk berkreasi. Niteni yang artinya memperhatikan, mengenali dengan indra penglihatan yang dimana seseorang fokus pada pembelajaran dikelas. Nirokke yang artinya mencontoh atau menirukan, setelah memperhatikan atau mengenali maka mencoba mempraktekkan apa yang sudah dipelajari meniru apa yang dijelaskan guru. Nambahi yang artinya mengembangkan atau berkreasi, pada tahap ini merupakan puncak dari ajaran Tri N yang mana seseorang tidak hanya belajar saja namun juga perlu meniru dan mengembangkan untuk menciptakan sesuatu pembelajaran yang baru atau solusi yang tepat.
Dari konsep Tri N terdapat relevansi dalam pembelajaran di sekolah dasar. Niteni menjadi dasar dari sebuah pembelajaran yang masuk dalam tahap memperhatikan dengan cermat untuk memahami materi dan konsep pembelajaran. Mendorong pembelajaran untuk menjadi aktif dan menyenangkan. Contohnya saat guru menjelaskan rumus matematika siswa niteni penjelasan dan langkah-langkah yang diberikan. Nirokke atau Meniru membantu menuangkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran apakah sudah sama dengan niteni yang mereka lihat yang mampu melatih dan mengasah kemampuan kognitif dan motorik siswa. Contohnya saat niteni rumus, kemudian siswa mencoba nirokke dengan menjawab soal-soal matematika dengan rumus yang sama. Nambahi mengajak siswa untuk berinovasi mengembangkan sesuai dengan pemahamannya untuk mengatasi masalah baru yang berbeda. Contohnya setelah lancar menjawab pertanyaan dengan rumus yang diberikan lalu mencoba nambahi dengan tingkat soal yang berbeda dan cara pengerjaan yang berbeda.
C. PERAN GURU DALAM PENGAJARAN
1. NITENI
Dalam niteni guru bertindak sebagai fasilitator yang mampu membantu siswa untukmengarahkan pengamatan mengidentifikasi dan memahami informasi pada gambar atau fenomena yang jelas. Guru mengajak siswa untuk merasakan dan memahami dari gambar atau fenomena yang dilihat. Melibatkan pengembangan kemampuan berpikir kritis, dan menganalisis makna dari gambar atau fenomena.
2. NIROKKE
Dalam nirokke guru berperan sebagai model yang baik dalam menunjukkan keterampilan atau perilaku yang baik. Selain itu juga guru memberikan contoh nyata atau simulasi yang lain untuk bisa ditiru siswa.
3. NAMBAHI
Dalam nambahi guru memberikan motivasi siswa agar mampu melebihi yang ditiru dan menghasilkan ide baru atau prespektif yang berbeda. Guru secara perlahan mengurangi ketergantungan siswa pada bimbingan langsung dan memotivasi siswa untuk mencari informasi sendiri.
METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan observasi terbatas di dua sekolah dasar di Yogyakarta. Data dikumpulkan melalui analisis literatur terkait ajaran Ki Hadjar Dewantara dan wawancara informal dengan guru serta siswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan observasi, wawancara, dan analisis dokumen, ditemukan bahwa penerapan konsep Niteni, Nirokke, Nambahi memiliki dampak positif terhadap partisipasi dan inisiatif siswa dalam proses pembelajaran. Niteni menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa dengan tahapan “Niteni” menunjukkan peningkatan fokus dan kemampuan menangkap informasi baru. Mereka lebih aktif mengajukan pertanyaan klarifikasi dan mencatat poin-poin penting. Dalam kegiatan diskusi, siswa lebih mampu mengidentifikasi argumen utama dan memberikan tanggapan yang relevan setelah mengamati presentasi teman atau penjelasan guru. Nirokke menunjukkan peningkatan keaktifan fisik dan kognitif siswa. Pada mata pelajaran Matematika, siswa yang mencontoh rumus dan langkah-langkah untuk mengerjaan tugas yang diberikan guru. Nirokke terbukti menunjukkan meningkatkan keaktifan secara fisik ataupun kognitif siswa. Pada mata pelajaran Matematika siswa yang mencontoh mengikuti langkah-langkah pengerjaan tugas yang dicontohkan guru agar memahami dan mampu mengerjakan tugas secara mandiri. Nambahi merepresentasikan indikator tertinggi dari keaktifan siswa, menggambarkan kemampuan mereka untuk berkreasi dan berpikir secara kritis. Di dalam nambahi mampu mengembangkan gagasan gagasan baru, memodifikasi tugas yang diberikan atau membuat sebuah produk karya. Dalam pembelajaran matematika siswa berpikir kritis dari rumus yang digunakan agar menjadi sebuah produk atau alat bantu agar bisa digunakan untuk siswa lainnya.
Konsep Niteni,Nirokke,Nambahi terbukti sangat relevan dan efektif dalam pembelajaran abad 21 di sekolah dasar. Peningkatan keaktifan siswa melalui implementasi Niteni, Nirokke,Nambahi terdapat dalam beberapa perspektif.
1. Pengembangan keterampilan abad ke 21
Implementasi Niteni, Nirokke,Nambahi termasuk dalam melatih keterampilan esensial sisawa pada saat niteni siswa harus berpikir kritis, nirokke menirukan dengan cara berkolaborasi dengan teman di kelasnya, dan nambahi berkreasi dengan cara dan ide sendiri sehingga tercipta sesuatu yang baru. Dari rumus yang diberikan oleh guru kemudian ditirukan agar lebih memahami dengan kreativitas di kembangkan menjadi sebuah rumus baru dengan alat bantu namun tidak merubah esensial dari bentuk awal rumusnya.
2. Fasilitas pembelajaran diferensiasi
Niteni, Nirokke,Nambahi memudahkan guru untuk pembelajaran yang berdiferensiasi. Didalam kelas yang memiliki tingkat pemahaman berbeda-beda dapat menemukan tantangan pada setiap tahap pembelajaran. Siswa mungkin saat awal pembelajaran dengan niteni yang sedikit mengalami kesulitan dan nirokke dengan apa yang sudah di lihatnya, namun saat nambahi siswa jadi lebih mengeksplor dan memahami dari rumus yang diberikan guru.
3. Peningkatan motivasi dari luar
Siswa akan termotivasi jiak diberikan kebebasan untuk mengembangakan ide mereka sendiri, membuat merasa merasa di berikan semanagat oleh gurunya. Dengan begitu mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan menumbuhkan rasa percaya diri.
KESIMPULAN
Tri N Ki Hajar Dewantara sangat relevan dan efekttif dalam pembelajaran abada ke 21 dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar dengan cara dan pemahamannya. Guru sebagai jembatan atau pembimbing untuk membantu mengembangkan potensi pada siswa dengan harapan dapat meningkatkan kreativitas anak, serta membantu mereka memahami materi pembelajaran dengan melalui proses mengamati, menirukan, mengembangakan membuat setiap pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mudah untuk diingat oleh siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Ana Fitrotun Nisa, Zuhdan Kun Prasetyo,Intiningsih . (2019 ). TRI N (NITENI NIROKKE NAMBAHI) DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS SISWA SEKOLAH DASAR . jurnal PGMI .
Nur Rokhanah, Asri Widowati, Eko Hari Susanto. (2021). Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Strudent Team Achievement Divisions (STAD) . Jurnal Ilmu Pendidikan .
PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN PADA SISWA SEKOLAH DASAR . (2020). Dea Kiki Yestiani & Nabila Zahwa . Jurnal Pendidikan Dasar, 41-47.