Oleh: Novita Nur Anisa, Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Teknologi Yogyakarta
JurnalPost.com – Pandemi COVID-19 dari Wuhan, China memberikan dampak di berbagai belahan dunia salah satunya negara-negara yang menjadi bagian dari Blue Banana yakni Inggris, Belanda, Perancis, dan Jerman. Di inggris kasus COVID-19 terjadi pada Januari akhir 2020 dengan angka kematian tertinggi kedua di Eropa, dikarenakan terdapat sekitar 26.079 orang meninggal setelah terbukti positif terinfeksi virus corona (Sunyoto, 2020) Di Belanda kasus COVID-19 mencapai 16.000 yang menjadikan kurang mampunya penanganan yang maksimal dari Belanda. Di Jerman kasus COVID-19 mencapai jumlah 139.897 jiwa, kematian dengan presentasi yang kecil sebesar 4.294 jiwa. Dan untuk Perancis lebih dari 4,6 juta kasus penularan dan 95.495 kematian akibat COVID di Prancis (Anggraini & Saptatia, 2021) dari data diatas tentunya disetiap negara Blue Banana memberikan kebijakan terhadap masyarakatnya dengan cara lock down, dalam artian dilarangnya Masyarakat untuk melakukan aktivitas diluar rumah, mulai dari sekolah hingga bekerja. Apabila tidak diberlakukan seperti itu dampak yang dialami oleh negara Blue Banana akan semakin meningkat.
Namun dengan adanya pembatasan tersebut, akan mempengaruhi aktivitas mereka dari aspek sosial, ekonomi, dan politik. Seperti aktivitas yang padat di Pelabuhan Rotterdam Belanda yang menjadi salah satu bagian dari Blue Banana. Dikarenakan Pelabuhan Rotterdam Belanda merupakan salah satu pleabuhan terbesar di Eropa dan sebagai akses pasar internasional. Alasan Rotterdam sebagai Pelabuhan terbesar dan Pelabuhan container dikarenakan, pertama sebagai Main Lines atau jalur utama Pelabuhan Rotterdam yang berada di kawasan pelayaran terpadat dunia yang dapat dilewati oleh kapal-kapal besar dan berat dari mana saja dikarenakan dermaganya yang cukup dalam dibandingkan dermaga lainnya. Kedua, sebagai jalur tambahan yakni terdapat pelayaran Sungai yang bisa menambah daya muat Pelabuhan dan menjadikan jantung utama pelayaran Eropa yang mempengaruhi perekonomian dari Sungai Maas dan Rjin. Selain laut dan sungai, juga terdapat jalur kereta api yakni Betuweroute yang dapat menghubungkan secara langsung Pelabuhan Rotterdam dengan negara Blue Banana lainnya seperi Jerman. Aktivitas yang dilakukan di Rotterdam sebagai transit material transit dan mensupply material curah antara negara Blue Banana dan Luar Negeri yang diangkut dengan kapal, tongkang Sungai, kereta api.
Implikasi dan Peran Negara Blue Banana: Belanda, Jerman, Inggris, Prancis Terhadap Pelabuhan Rotterdam Ketika COVID-19

Aktivitas tersebut seketika direnggut dengan hadirnya COVID-19 dari Wuhan, China. Menjadi negara-negara Blue Banana diberhentikan sementara yang akan berpengaruh pada perekonomian negara mereka. Dimasing-masing negara Blue Banana menerapkan kebijakan untuk dapat diimplementasikan dengan tujuan pengurangan dampak korban pandemi. Untuk Belanda sendiri sebagai negara yang memiliki Pelabuhan Rotterdam terbesar, Belanda menerapkan sistem keketatan walaupun masih terdapat aktivitas dikawasan Pelabuhan namun harus menaati peraturan yang telah diberlakukan seperti adanya peninjauan intensif antara manajemen kapal dan otoritas Kesehatan dan apabila yang terdeteksi terkena virus harus melakukan isolasi karantina (Gebuis, 2023).
Belanda melakukan Upaya dengan menerapkan sistem karantina secara cerdas atau Intelligent lockdown dalam artian ada pembatasan sementara untuk dapat melindungi aspek sosial dan ekonomi, namun penyebaran wabah Covid-19 sangat cepat di Belanda. Untuk Jerman sendiri menutup perbatasannya dengan Perancis. Perancis melakukan Upaya lock down nasional namun sekolah dan pabrik tetap buka tetapi terdapat penjagaan yang ketat (bbcnewsindonesia, 2021). Dengan kebijakan-kebijkakan yang telah diberlakukan negara Blue Banana diharapkan mampu memperbaiki keadaan untuk bisa Kembali normal dan melakukan aktivitas Kembali. Seta bagaimana caranya para importir dan eksportis memperkirakan tarif angkutan dan harga pengiriman yang menjadi naik kembali diturunkan.



