Oleh: Novi Rahayu Maghfiroh
JurnalPost.com – Pendidikan ialah topik yang sangat hangat untuk dibicarakan di negeri ini. Pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan pokok dan harus terpenuhi bagi setiap individu. Namun, problematika pendidikan di Indonesia masih saja menjadi momok baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri.
Sumber daya manusia menjadi faktor utama dalan penentu keberhasilan pendidikan bangsa Indonesia. Sumber daya manusia yang berkualitas akan ditunjang dengan hadirnya sistem pendidikan yang bagus, merata, terstruktur dan terorganisir. Salah satu, gerbang utama untuk mewujudkan bangsa yang berkemajuan ialah melalui pendidikan. Karena ilmu pengetahuan akan membawa perubahan dalam setiap zamannya dan memberikan dampak positif yang sangat besar bagi kehidupan manusia.
Perkembangan ilmu pengetahuan, menghadirkan teknologi yang terbilang sangat pesat dalam peradaban manusia. Lahirnya teknologi ini terdapat manfaat sekaligus tantangan baru menjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tercatat dalam sejarah di abad ke-21 merupakan zaman yang sangat berkontribusi dalam memberikan keunikan dan keunggulan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia pada masa itu.
Namun, Seiring perkembangan zaman kualitas dan kebutuhan manusia terbilang kompleks. Keinginan adanya kuantitas harus beriringan dengan kualitas menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi arus perkembangan zaman ialah keharusan dalam memahami perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi). Ilmu pengetahuan merupakan suatu bekal dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas di dunia pendidikan.
Manusia yang sadar pentingnya ilmu pengetahuan akan mengaktuliasasikan dan menanamkan long life education (belajar sepanjang hayat). Pendidikan yang dienyam anak bangsa harus senantiasa mengedeankan lingkungan yang kritis, kreatif dan inovatif dalam menghasilkan gagasan baru.
Ilmu pengetahuan dan perguruan tinggi memiliki hungan yang sangat erat. Perguruan tinggi merupakan tempat ilmu pengetahuan dikembangkan, diajarkan dan disebarkan. Perguruan tinggi bukan hanya tempat mahasiswa saja, tetapi mencakup para ilmuwan, peneliti dan akademisi dalam penelitian ilmiyah, pengembangan konsep baru dalam sebuah teori. Oleh karena itu, Pendidikan diperguruan tinggi dikenal dengan budaya berfikir dengan cara critical thinking (berfikir kritis). Hal tersebut pastinya sudah tidak asing lagi di dunia pendidikan, mengingat berfikir kritis merupakan suatu hal yang urgent dan menjadi perhatian di dalam isu pendidikan.
Keterampilan berpikir kritis senantiasa tertuang dalam UU No 20 Tahun 203 yang menyatakan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”.
Memiliki pola pikir kritis dikalangan perguruan tinggi merupakan sebuah potensi yang harus dikembangkan, dibiasakan dalam proses pembelajaran. Berpikir kritis ialah cara kerja yang terorganisasikan yang berperan dalam proses pengambilan keputusan untuk menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi. Berpikir kritis disini mencakup adanya cara fikir yang mendalam dan mengakar dengan menganalisis, menginterpretasikan data-data yang ada, mengambil keputusan dengan cermat dan mengevaluasinya. Keterampilan berpikir kritis sangat dibutuhkan dikalangan perguruan tinggi, karena hal itulah yang menjadi pembeda antara mahasiswa dengan siswa biasa. Salah satu cara dalam meningkatkan pola pikir kritis menggunakan pendekatan interdisipliner. Pendekatan ini merupakan disiplin ilmu dengan mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai sudut pandang.
Pendekatan Interdisipliner dalam memecahkan suatu masalah yang menggunakan satu ilmu atau lebih dengan menggunakan sudut pandang yang luas harus terbentuk dalam lingkungan perguruan tinggi terutama mahasiswa. Interdisipliner lahir pada abad ke -20 yang merupakan tanda perkembangan ilmu pengetahuan. Pembaharuan tersebut meliputi pendidikan, penelitian terapan, dan kegiatan yang kompleks pada masa itu. Adanya kondisi yang kompleks interdisipliner lahir menjadi jawaban atas permasalahan yang beragam, meneliti adanya disiplin ilmu, memecahkan masalah dan bertujuan untuk mencapai kesempurnaan ilmu pengetahuan baik dalam ranah skala terbatas sampai jangkauan yang luas. Berfikir kritis melalui pendekatan interdisipliner melibatkan adanya kemampuan untuk menyusun argument yang kuat berdasarkan bukti yang valid yang diperoleh dari berbagai disiplin ilmu.
Pendekatan interdisipliner merupakan suatu interaktif dari satu ilmu ataupun lebih displin ilmu. Bermula dari sistem penelitian yang memunculkan integritas konsep, metode dan analisis. Pendekatan ini memecahkan suatu masalah menggunakan beberapa sudut pandang yang ada. Sudut pandang yang dimaksud ialah ilmu yang serumpun, relevan dan bersifat secara terpadu.
Ilmu yang relevan akan menjadi solusi dalam memecahkan suatu masalah tersebut. sebagai alternative rumpun ilmu berpikir dalam pendekatan Interdisipliner adalah Ilmu-Ilmu Kealaman (IIK), Ilmu-Ilmu Sosial (IIS), dan Ilmu-Ilmu Budaya (IIB). Alternatif rumpun ilmu tersebut menjadi komponen yang terjalin antara satu sama lain dan menghasilkan perpaduan untuk memecahkan suatu masalah yang ada.
Karakteristik dari pendekatan Iterdispliner sendiri ialah perpaduan antara ilmu satu dengan yang lain dan mencakup rumpun ilmu yang serupa. Pendekatan Interdisipliner dapat meningkatkan pola pikir yang kritis. Melihat ilmu dengan beberapa sudut pandang akan lebih membuka cakrawala ilmu pengetahuan. Meningkatkan keterampilan berfikir yang kritis dengan pendekatan interdisipliner merupakan salah satu cara yang solutif dan efektif terlebih dilingkungan perguruan tinggi. Pendekatan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu yang berada dengan tujuan untuk memecahkan masalah yang kompleks.
Mahasiswa selalu dikenal dengan pusat perubahan disegala sektor. Pada pendekatan ini mahasiswa akan belajar untuk berpikir secara holistik dan terintegrasi. Mereka akan melihat masalah dengan beragam sudut pandang dan menggunakan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu untuk menemukan solusi terbaik. Selain itu, pendekatan ini dapat mengembangkan kemampuan kolaborasi antara komunikasi dan ilmu pengetahuan, secara tidak langsung sangat bermanfaat dalam dunia pekerjaan. Disiplin ilmu akan belajar mengenai kerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.
Meningkatkan pendekatan interdisipliner dikalangan peguruan tinggi akan membantu kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi lebih baik. Dalam lingkup berfikir kritis memecahkan masalah menggunakan analisis yang mendalam dan melakukan evaluasi terhadap solusi yang telah dihasilkan. Dengan demikian, berfikir krirtis melalui pendekatan interdisipliner dapat menumbuhkan pola fikir yang kreatif, analitis, dan terbuka terhadap berbagai sudut pandang. Selain itu, membantu dalam mempersiapkan manusia untuk menghadapi tantangan-tantangan yang beragam di masa yang akan datang.
Penulis : Novi Rahayu Maghfiroh. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar.



