• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Penghapusan Identitas Psikis Tokoh “Aku” dalam The Memory Police karya Yoko Ogawa: Tinjauan Psikoanalisis Freud

Editor Nadia
30 Juni 2025
in Artikel

Oleh: Karin
Nim : 2310753007
Nihon Sanbun B

1. Pendahuluan
Teori Psikoanalisis Sigmund Freud dan Relevansinya terhadap Sastra
Teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud bukan hanya merupakan landasan penting dalam dunia psikologi, tetapi juga menjadi salah satu pendekatan yang relevan dalam kritik sastra. Freud memandang manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh dorongan bawah sadar, konflik batin, dan ketegangan antara hasrat pribadi dan tuntutan sosial.
Struktur kepribadian dalam teori Freud terbagi atas tiga komponen utama:

a. Id – komponen terdalam dan paling primitif dalam kepribadian. Id adalah pusat dari hasrat, naluri, keinginan, dan kebutuhan dasar manusia. Id bekerja secara tidak sadar dan mengikuti prinsip kesenangan (pleasure principle).

b. Ego– bagian dari jiwa yang rasional dan sadar, yang berfungsi sebagai penengah antara id dan realitas. Ego beroperasi berdasarkan prinsip kenyataan (reality principle), berusaha memenuhi kebutuhan id secara realistis.

c. Superego– bagian moral dalam kepribadian manusia. Superego merupakan internalisasi nilai-nilai sosial, norma, dan suara hati yang diperoleh dari orang tua dan lingkungan sejak kecil. Superego menilai tindakan individu dan menghasilkan rasa bersalah atau malu ketika seseorang menyimpang dari norma.
Ketiga komponen ini bekerja dalam ketegangan yang konstan. Dalam konteks sastra, analisis psikoanalitik membantu membuka lapisan-lapisan terdalam dari konflik batin tokoh dan bagaimana mereka mencoba bertahan di tengah kekacauan sosial.

2. Tema
Penghapusan Identitas dan Jiwa Manusia dalam Rezim Represif
Novel The Memory Police menyuguhkan realitas distopia, di mana masyarakat hidup dalam kondisi pelupaan kolektif yang dikontrol oleh kekuasaan otoriter. Objek-objek dunia nyata, mulai dari burung, bunga, hingga konsep waktu dan tubuh, satu per satu dihapus dari eksistensi. Tidak hanya fisiknya yang hilang, tetapi juga memori dan maknanya dalam benak masyarakat.
Dalam dunia seperti ini, eksistensi manusia direduksi menjadi ketaatan tanpa memori. Namun, narator—yang hanya dikenal sebagai “aku”—masih menyimpan sisa-sisa memori dan perasaan. Ia adalah seorang penulis, dan dalam dirinya masih hidup dorongan untuk mengingat, merasakan, dan mencintai. Dalam suasana penuh teror dan represi, batin tokoh “aku” menjadi medan pertempuran antara kekuatan bawah sadar, adaptasi sosial, dan norma yang telah terdistorsi. Di sinilah relevansi pendekatan psikoanalisis Freud menjadi sangat penting.
tokoh “aku” relevan untuk dianalisis melalui pendekatan Freud. Sebab ia mengalami tekanan psikis yang dalam, bukan hanya karena ancaman dari luar, tapi juga karena konflik antara keinginannya untuk tetap menjadi manusia dan tuntutan masyarakat untuk menjadi “kosong”.

3. Analisis Psikis Tokoh “Aku”
(a) Id: Dorongan untuk Mengingat dan Mempertahankan Kemanusiaan
Meski hidup di tengah masyarakat yang tunduk dan melupakan, tokoh “aku” masih menyimpan ingatan samar terhadap hal-hal yang telah “dihapus”. Hal ini menunjukkan bahwa id-nya tetap hidup, menolak tunduk sepenuhnya pada sistem represif yang menuntut pelupaan total.
kutipan :

“Aku masih bisa mendengar kicau mereka di benakku, meskipun orang lain tampaknya sudah tidak lagi ingat bahwa burung pernah ada.”

Kutipan ini menegaskan bahwa id tokoh “aku” masih mempertahankan suara, bentuk, dan keindahan burung—sebuah simbol dari memori, kebebasan, dan rasa. Ini adalah bentuk resistensi batin terhadap sistem. Dalam teori Freud, id adalah pusat dari emosi dan hasrat terdalam manusia yang sulit dikontrol, dan dalam konteks ini, id tokoh “aku” menolak dilenyapkan.

Selain itu, keberaniannya menyembunyikan editor R yang tidak bisa melupakan, merupakan perwujudan dari dorongan protektif, afeksi, dan keterikatan personal. Ini adalah perlawanan paling dasar: tidak rasional, tetapi sangat manusiawi.

(b) Ego: Rasionalisasi dan Adaptasi terhadap Lingkungan
Ego tokoh “aku” tampak dalam upayanya menjalani hidup dengan “normal” meskipun dalam kondisi abnormal. Ia sadar bahwa dunia di sekitarnya telah berubah drastis. Orang-orang kehilangan ingatan, benda-benda hilang begitu saja, dan polisi memori bisa menangkap siapa pun yang dianggap membangkang. Namun ia tetap menjaga diri, tidak melakukan perlawanan terbuka.

kutipan:
“Aku terus menulis, walaupun sebagian besar dari yang kutulis tidak lagi masuk akal. Tapi jika aku berhenti, aku merasa seluruh tubuhku akan menghilang bersama benda- benda yang telah lenyap.”

Dalam kutipan ini, ego tokoh “aku” berperan penting. Ia menyalurkan dorongan id (hasrat untuk bertahan dan mengingat) ke dalam bentuk yang dapat diterima secara sosial: menulis. Tulisan menjadi cara untuk menjaga jiwanya tetap utuh, meskipun isi tulisannya sendiri telah kehilangan makna dalam masyarakat yang melupakan.

Menulis juga merupakan bentuk sublimasi , yaitu mekanisme pertahanan ego yang mengubah dorongan primitif menjadi ekspresi yang kreatif dan produktif. Ini mencerminkan cara tokoh “aku” menyelamatkan dirinya dari kehampaan dengan mempertahankan ekspresi personal, walau tidak lagi dimengerti oleh masyarakat.

(c) Superego: Suara Hati yang Terluka oleh Norma Represif
Superego tokoh “aku” dibentuk oleh masyarakat yang represif. Dalam masyarakat normal, superego membantu individu menjadi pribadi bermoral. Tapi dalam konteks The Memory Police, superego menjadi alat internalisasi norma yang tidak manusiawi. Ia merasa bersalah karena masih bisa mengingat, seolah-olah mengingat adalah bentuk penyimpangan moral. Ketika ia merenung

kutipan:
“Mungkin aku yang salah karena terus mengingat. Mungkin aku yang rusak.” Kutipan ini menunjukkan bahwa superego tokoh “aku” telah berubah fungsi.
Alih-alih menjadi penjaga moral universal, ia menjadi alat represi batin. Tokoh “aku” merasa rusak bukan karena ia jahat, tetapi karena ia masih memiliki kemampuan yang manusiawi: mengingat dan merasakan. Ini adalah hasil internalisasi norma totalitarian.
Rasa bersalah ini tidak datang dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Inilah bukti bahwa kekuasaan bukan hanya mencengkeram tubuh, tapi juga menyerang struktur psikis terdalam manusia.

Kehancuran Identitas Psikis
Ketegangan Abadi antara Id, Ego, dan Superego

Freud menyatakan bahwa kesehatan mental muncul dari keseimbangan antara id, ego, dan superego. Namun dalam novel ini, ketiga aspek itu saling bertentangan. Id masih bertahan, ego kewalahan menyesuaikan diri, dan superego menghukum dengan rasa bersalah.

Ketika benda-benda dan bahkan tubuh manusia menghilang, identitas tokoh “aku” pun ikut terkikis. Ia kehilangan bukan hanya kenangan masa lalu, tetapi juga makna dari keberadaan dirinya. Pada tahap ini, yang hilang bukan sekadar benda konkret, melainkan unsur eksistensial: pengalaman, bahasa, dan emosi. Dunia luar telah kehilangan makna, dan batin tokoh “aku” turut larut dalam kehampaan.

Dalam babak akhir novel, tubuhnya sendiri mulai menghilang bukan dalam arti harfiah, tetapi sebagai metafora kehancuran total psikis dan eksistensial. Superego yang terlalu dominan telah menekan ego dan memperlemah id, menciptakan kehampaan batin dan keterasingan mutlak. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan represif tidak hanya menghapus kenangan, tetapi juga menghancurkan kapasitas manusia untuk menjadi diri sendiri. Identitas psikis tokoh “aku” perlahan lenyap, seiring tubuhnya menjadi transparan terhadap dunia yang tidak lagi mengenal makna.

4. Penutup:
Eksistensi Psikis sebagai Bentuk Perlawanan dalam Dunia yang Melupakan Melalui analisis psikoanalisis Freud, kita dapat memahami kompleksitas batin tokoh “aku” dalam The Memory Police. Ia bukan pejuang revolusioner, bukan pula tokoh heroik yang membakar dunia. Ia hanya seorang perempuan biasa yang mencoba bertahan hidup— dengan mengingat, mencinta, dan menulis. Namun justru dalam tindakan-tindakan kecil inilah kita melihat perlawanan paling sunyi dan mendalam terhadap kekuasaan yang ingin menghapus kemanusiaan.
Id-nya menolak dilenyapkan. Ego-nya mencoba mempertahankan keseimbangan. Superego-nya terluka, namun tetap hadir sebagai pengingat akan konflik moral yang tidak pernah selesai. Tokoh “aku” adalah lambang dari manusia yang tidak menyerah pada pelupaan total, dan esai ini menunjukkan bahwa perjuangan terbesar manusia dalam sistem represif adalah mempertahankan jiwanya sendiri.

Daftar Pustaka
Freud, Sigmund. The Ego and the Id. Standard Edition, Hogarth Press, 1923.
Freud, Sigmund. Civilization and Its Discontents. Translated by James Strachey, W.W. Norton & Company, 1961.
Ogawa, Yoko. The Memory Police. Translated by Stephen Snyder, Pantheon Books, 2019.
Tyson, Lois. Critical Theory Today: A User-Friendly Guide. Routledge, 2006.
Barry, Peter. Beginning Theory: An Introduction to Literary and Cultural Theory. Manchester University Press, 2002.

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.