
PENULIS: AMANDA PRISCILIA & FIFIAN EKA SURYADI
JurnalPost.com – Setiap tahun, belanja negara Indonesia terus meningkat. Angkanya makin fantastis, proyek makin banyak, dan janji perbaikan layanan publik terdengar di mana-mana. Namun pertanyaan yang sering muncul di masyarakat tetap sama: “Uangnya besar, tapi manfaatnya terasa nggak sih?”
Sebagai mahasiswa akuntansi, terutama yang terbiasa melihat angka dan mempertanyakan efektivitasnya, pertanyaan ini terasa sangat relevan. Karena dalam akuntansi sektor publik, ukuran keberhasilan itu bukan Cuma besar kecilnya anggaran, tetapi seberapa jauh anggaran itu memberi dampak nyata.
Belanja Besar Tidak Selalu Sama Dengan Manfaat Besar
Dalam teori akuntansi sektor publik, belanja negara harus didasarkan pada value for money: ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
Masalahnya, ukuran “efektivitas” seringkali jauh lebih kompleks daripada sekadar laporan realisasi
anggaran.
Contohnya, ketika pemerintah mengeluarkan anggaran besar untuk pembangunan infrastruktur,
pertanyaannya bukan “proyeknya selesai atau tidak,” tetapi:
• Apakah jalan itu benar-benar mengurangi kemacetan?
• Apakah jembatannya meningkatkan akses ekonomi?
• Apakah sekolah baru benar-benar menaikkan kualitas pendidikan?
Sayangnya, banyak program yang sukses secara administrasi tetapi gagal dalam fungsi pelayanan publik. Laporan keuangan terlihat rapi, tetapi dampaknya tidak terasa.
Transparansi Masih Jadi Tantangan Besar
Di era digital, transparansi seharusnya lebih mudah. Tetapi faktanya, akses publik terhadap detail penggunaan anggaran masih cukup terbatas.
Rakyat hanya melihat headline: total belanja naik, defisit turun, atau realisasi 95%.
Padahal dalam akuntansi sektor publik, kita diajarkan bahwa angka tanpa konteks bisa menyesatkan. Ada tiga hal yang masih sering jadi masalah:
1. laporan yang terlalu teknis sehingga sulit dipahami publik,
2. minimnya evaluasi jangka panjang,
3. pengukuran kinerja yang hanya fokus pada output, bukan outcome.
Akhirnya, publik merasa uang negara “habis begitu saja” tanpa melihat hasil yang nyata.
Pengawasan: Bukan Sekadar Menemukan Salah, Tapi Menilai Manfaat
Audit publik sering dipahami sebagai upaya mencari kesalahan penggunaan anggaran. Padahal audit sektor publik, terutama audit kinerja yang mempunyai tujuan lebih luas: menilai apakah anggaran digunakan untuk mencapai tujuan yang seharusnya.
Tetapi persoalannya, audit kinerja ini tidak semudah memeriksa angka. Dibutuhkan:
• Indikator kinerja yang jelas,
• Target yang terukur,
• Dan data yang konsisten.
Jika alat ukurnya tidak kuat, sulit untuk menilai apakah anggaran benar-benar bermanfaat.
Sebagai Mahasiswa, Kita Punya Peran
Meskipun bukan auditor BPK atau ekonom senior, mahasiswa akuntansi justru punya perspektif yang segar dan kritis.
Kita belajar teori penganggaran, akuntabilitas, evaluasi kinerja, dan akuntansi pemerintahan. Semua itu memberi kita kemampuan untuk melihat masalah anggaran dengan cara yang lebih rasional, bukan emosional.
Karena itu, wajar jika muncul pertanyaan sederhana namun penting:
“Dengan belanja negara sebesar ini, kenapa masyarakat belum merasakan peningkatan signifikan dalam layanan publik?”
Pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme, tetapi dorongan agar transparansi, evaluasi, dan akuntabilitas terus diperkuat.
Pada Akhirnya, Anggaran Adalah Cerita Tentang Prioritas
Belanja negara akan terus naik, tetapi seharusnya manfaatnya ikut naik. Dan sebagai bagian dari masyarakat, kita punya hak, bahkan kewajiban, untuk mengkritisi bagaimana uang publik digunakan.
Dari perspektif akuntansi, anggaran bukan hanya dokumen. Ia adalah gambaran bagaimana negara merencanakan masa depan warganya.
Jika manfaatnya belum terasa, artinya ada yang perlu diperbaiki. Dan suara kritis dari mahasiswa adalah bagian penting dari perbaikan itu.
PENULIS: AMANDA PRISCILIA & FIFIAN EKA SURYADI