Stefany Angelia Putri 1, Adi Faturahman2, Marsya Dwi Vivian3, Vina Amelia4, Fahmi Hamaduddin5
1Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Stefany Angelia Putri)
[email protected]
2Psikologi, Universitass 17 Agustus 1945 Surabaya (Adi Faturahman)
[email protected]
3Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Marsya Dwi Vivian)
[email protected]
4Hukum, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Vina Amelia)
[email protected]
5Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Fahmi Hamaduddin)
[email protected]
ABSTRAK
Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pendekatan ekonomi lokal yang berbasis pada sumber daya alam setempat. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat dan konsumsi herbal alami, TOGA memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah, salah satunya dalam bentuk minuman instan berbasis rempah. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini dilaksanakan di Desa Ngembeh, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dengan tujuan untuk menganalisis potensi pemanfaatan TOGA di lingkungan masyarakat, meningkatkan kapasitas warga dalam mengolah tanaman herbal menjadi produk minuman instan yang praktis dan sehat, serta mendorong pengembangan inovasi produk berbasis kearifan lokal yang memiliki nilai ekonomi dan relevansi dengan kebutuhan masyarakat modern. Fokus kegiatan diarahkan pada pelatihan pembuatan minuman instan berbahan dasar jahe, temulawak, dan kunyit melalui pendekatan partisipatif. Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat desa yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Meskipun hasil akhir kegiatan masih dalam proses, respons awal dari masyarakat menunjukkan tingkat antusiasme dan ketertarikan yang tinggi terhadap potensi pemanfaatan TOGA sebagai produk olahan yang bernilai guna dan jual.
Kata kunci: TOGA, minuman instan, pemberdayaan masyarakat, rempah tradisional, Desa Ngembeh.
PENDAHULUAN
Tanaman obat keluarga (TOGA) merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia yang berperan penting dalam pengobatan tradisional dan pengembangan produk herbal. Namun, pemanfaatannya oleh masyarakat pedesaan masih terbatas pada konsumsi pribadi dan belum optimal sebagai sumber ekonomi. Desa Ngembeh, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto merupakan wilayah yang memiliki potensi TOGA yang cukup melimpah, namun belum dimanfaatkan secara maksimal.
Permasalahan utama yang dihadapi adalah minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengolah tanaman TOGA menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Oleh karena itu, perlu adanya intervensi dalam bentuk pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan potensi lokal tersebut. Kegiatan KKN ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan warga dalam mengolah TOGA menjadi minuman instan yang praktis, sehat, dan bernilai jual.
KAJIAN LITERATUR
TOGA merupakan sekumpulan tanaman yang dibudidayakan di pekarangan rumah dan berfungsi sebagai obat tradisional. Tanaman ini mencakup jenis-jenis herbal seperti jahe, kunyit, temulawak, kencur, dan lain sebagainya. Menurut Kementerian Kesehatan (2018), TOGA tidak hanya bermanfaat untuk pengobatan keluarga, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi komoditas ekonomi melalui olahan produk herbal.
Minuman instan berbahan dasar rempah kini semakin digemari karena kepraktisannya dan manfaat kesehatannya. Jahe, kunyit, dan temulawak dikenal memiliki sifat antiinflamasi, antioksidan, serta dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Hariana, 2013). Pembuatan minuman instan dari bahan-bahan ini memerlukan teknik pengeringan, penggilingan, dan pengemasan yang tepat agar tetap higienis dan praktis digunakan.
Pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan produk lokal dapat meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan warga. Suharto (2005) menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah proses meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki. Pelatihan dan sosialisasi menjadi metode yang efektif dalam menumbuhkan kesadaran serta keterampilan masyarakat untuk berwirausaha berbasis potensi lokal (Yunita dkk., 2024).
METODE
Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif. Pendekatan partisipatif ini menekankan keterlibatan aktif masyarakat (terutama ibu rumah tangga) dari awal hingga akhir program, yang dimana bukan hanya sebagai objek penerima manfaat, tetapi juga sebagai subjek atau pelaku utama dalam kegiatan. Sementara pendekatan edukatif sendiri difokuskan untuk memberikan pemahaman, pengnetahuan, dan keteramplan baru kepada masyarakat, yang tujuannya adalah mengedukasi warga bukan hanya memberi bantuan instan. Dan ada beberapa tahapan dalam pelaksaan kegiatan ini, antara lain :
1. Identifikasi Potensi TOGA dan Kebutuhan Masyarakat, hal ini merujuk pada observasi lapangan dan wawancara dengan warga dan perangkat desa dilakukan untuk mengetahui jenis TOGA yang dominan serta kesiapan masyarakat.
2. Sosialisasi dan Edukasi, penyampaian materi tentang manfaat TOGA, potensi ekonomi produk herbal, serta pentingnya inovasi produk berbasis rempah tradisional.
3. Pelatihan Pembuatan Minuman Instan, mencakup demonstrasi teknis dilakukan mengenai proses pengolahan bahan (pembersihan, pemotongan, pengeringan, penghalusan, pengemasan) jahe, kunyit, dan temulawak menjadi serbuk minuman instan.
4. Diskusi dan Tindak Lanjut, menyerap masukan warga, mengevaluasi respon peserta, serta membangun rencana pengembangan produk secara mandiri oleh masyarakat.
Ruang Lingkup dan Objek Penelitian
Ruang lingkup kegiatan ini meliputi:
Wilayah: Desa Ngembeh, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.
Objek penelitian: Tanaman TOGA lokal yaitu temulawak, jahe, dan kunyit, serta proses produksinya menjadi minuman instan.
Subjek penelitian: Kelompok ibu rumah tangga dan pemuda desa yang menjadi peserta pemberdayaan.
Bahan dan Alat
1. Bahan utama:
Rimpang temulawak segar
Rimpang jahe segar
Rimpang kunyit segar
Gula semut atau gula pasir
Air bersih
2. Alat utama:
Pisau stainless (untuk pengirisan)
Talenan
Wajan atau penggorengan (untuk menyangrai)
Kompor gas dan tabung LPG
Panci stainless (untuk perebusan)
Blender (untuk pelumatan rimpang)
Oven atau alat pengering (untuk pengeringan)
Ayakan atau saringan
Timbangan digital
Kemasan produk (standing pouch, plastik sealer)
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di rumah produksi warga mitra dan balai desa Ngembeh yang digunakan sebagai tempat pelatihan dan praktik.
Pengumpulan Data
1. Observasi: Mengamati proses produksi dan keterlibatan peserta.
2. Wawancara: Dengan warga, peserta pelatihan, dan tokoh desa.
3. Dokumentasi: Foto, video, dan catatan lapangan selama kegiatan berlangsung.
Cara Pembuatan Minuman Herbal Instan Temulawak dan Jahe :
Bahan-bahan :
Temulawak segar: ½ kg
Jahe segar: ½ kg
Gula pasir: 500 g
Air secukupnya
Langkah-langkah :
1. Persiapan Bahan
Siapkan semua bahan yang dibutuhkan. Pastikan temulawak dan jahe dalam keadaan segar dan tidak busuk.
2. Pencucian Bahan
Cuci bersih temulawak dan jahe di bawah air mengalir untuk menghilangkan tanah dan kotoran yang menempel. Bila perlu, gunakan sikat lembut.
3. Pemotongan
Potong temulawak dan jahe menjadi irisan kecil atau tipis agar lebih mudah diblender dan sari-nya mudah keluar.
4. Pelumatan/Penghalusan
Masukkan potongan temulawak dan jahe ke dalam blender secara terpisah. Tambahkan sedikit air (sekitar 100–150 ml) untuk mempermudah proses blender, lalu haluskan hingga menjadi bubur kental.
5. Penyaringan dan Pemisahan Ampas
Saring hasil blender menggunakan kain saring atau saringan halus untuk memisahkan sari dari ampasnya. Peras hingga sari benar-benar keluar.
6. Pengendapan Getah (Opsional, tapi penting)
Diamkan hasil perasan sari temulawak dan jahe masing-masing selama ±2 jam. Langkah ini bertujuan untuk membuang getah yang dapat menyebabkan rasa pahit atau tidak nyaman di tenggorokan.
7. Perebusan
Panaskan wajan di atas api kecil. Masukkan sari temulawak dan jahe ke dalam wajan yang berbeda.
8. Penambahan Gula
Tambahkan masing-masing 500 g gula pasir dan/atau gula merah ke dalam wajan. Aduk perlahan hingga larut.
9. Pengadukan Hingga Mengental
Aduk campuran secara terus-menerus selama perebusan hingga cairan mulai mengental dan berubah tekstur menjadi lebih kental seperti pasta.
10. Pengeringan Menjadi Serbuk
Lanjutkan mengaduk di atas api kecil hingga air benar-benar menguap dan adonan mengering secara bertahap menjadi bentuk serbuk atau granul.
11. Pendinginan
Setelah menjadi serbuk dan teksturnya kering, angkat dan diamkan hingga dingin pada suhu ruang.
12. Pengemasan
Masukkan serbuk instan ke dalam wadah atau kemasan kedap udara (seperti standing pouch). Simpan di tempat sejuk dan kering.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Meskipun belum menghasilkan produk yang siap dijual secara komersial, kegiatan dan sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang potensi TOGA dan peluang pengolahannya menjadi produk minuman instan, meningkatkan minat dan keterlibatan ibu-ibu rumah tangga dalam pelatihan dan diskusi wirausaha herbal, dan mengidentifikasi sumber bahan baku yang tersedia di lingkungan rumah warga secara berlimpah.
Selain itu ada beberapa tantangan utama yang masih dihadapi seperti belum tersedianya alat produksi sederhana seperti mesin pengering dan pengemas, kurangnya pengetahuan tentang pengawetan alami dan standar keamanan pangan, dan belum adanya branding atau kemasan produk untuk uji pasar. Tetapi, hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif-partisipatif mampu membangun pondasi awal kesadaran masyarakat untuk mengolah dan mengembangkan TOGA secara produktif.
KESIMPULAN
Program ini menunjukkan bahwa pemanfaatan TOGA sebagai bahan baku minuman instan tradisional memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan desa. Melalui pendekatan sosialisasi dan pelatihan, masyarakat Desa Ngembeh mulai memahami pentingnya pengolahan TOGA sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi lokal dan peningkatan kesehatan.
Dan adanya beberapa saran mengenai perlunya program lanjutan dalam bentuk pelatihan intensif, dukungan alat sederhana dan pendampingan branding dan pemasaran berbasis TOGA, juga model pemberdayaan ini direplikasi pada desa lain yang memiliki potensi TOGA serupa.
DAFTAR PUSTAKA
Hariana, A. (2013). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman Pemanfaatan TOGA dan Akupresur untuk Kesehatan Keluarga. Jakarta: Kemenkes.
Suharto, E. (2005). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama.
Yunita, L., Wiasty, N.M., Dewi, N.T., & Ariani, F. (2024). “Pendampingan Pencantuman Informasi Nilai Gizi pada Packaging Madu Trigona Peternak Lebah dalam Meningkatkan Penjualan.” Jurnal Abdimas, 4(2), 355–364.
Wahyuni, S. (2020). “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Herbal di Daerah Pedesaan.” Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(1), 20–28.