• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

PEMBERDAYAAN PETERNAKAN LELE KARANGDIENG, PAKAN ORGANIK SEHAT, USAHA LEBIH EKONOMIS

Editor Nadia
18 Juli 2025
in Artikel

Moch Rizal Rivky, Nizar Nabil Alifi Wildan, Nessa Aida Salwa, Fika Anjani

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Email: [email protected]
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Email: [email protected]
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Email: [email protected]
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Email: [email protected]

Abstract
This community service activity aimed to empower catfish farmers in Karangdieng Village through the innovation of healthy and economical alternative feed. One of the main challenges faced by local farmers is the high operational cost, especially from factory-made feed, which dominates over 60% of the total production cost. This program introduced a practical solution by utilizing organic local ingredients, such as rice bran, tofu waste, azolla, snails, and maggot, to formulate a nutrient-rich and cost-effective mixed feed. The method used involved socialization, training, and mentoring for farmers. The result showed that this initiative was well received, improved production efficiency, and opened up opportunities for sustainable aquaculture practices in the village.

Keywords: catfish farming, local feed, organic materials, community empowerment, sustainability

1. PENDAHULUAN
Budidaya ikan lele merupakan salah satu kegiatan ekonomi masyarakat yang memiliki prospek menjanjikan, terutama di wilayah pedesaan. Ikan lele dikenal sebagai komoditas air tawar yang memiliki tingkat adaptasi tinggi, laju pertumbuhan cepat, serta permintaan pasar yang cenderung stabil sepanjang tahun. Kombinasi karakteristik tersebut menjadikan usaha budidaya lele sebagai pilihan yang rasional, terutama bagi petani kecil dan pelaku usaha mikro yang ingin meningkatkan pendapatan rumah tangga.

Namun demikian, dalam praktiknya, peternak lele sering menghadapi kendala biaya produksi yang tinggi, khususnya dalam hal penyediaan pakan. Pakan komersial atau pakan pabrikan menyumbang lebih dari 60% dari total biaya operasional dalam budidaya ikan lele. Harga pakan konsentrat di pasaran relatif mahal dan penggunaannya dalam jumlah besar menyebabkan margin keuntungan peternak menjadi sangat terbatas. Jika tidak dikelola secara efisien, kondisi ini dapat mengancam keberlangsungan usaha dan menurunkan minat masyarakat untuk melanjutkan budidaya ikan.

Sementara itu, di sisi lain, potensi sumber daya lokal yang melimpah di lingkungan sekitar peternak sering belum dimanfaatkan secara optimal. Bahan-bahan seperti dedak halus, ampas tahu, azolla, bekicot, maggot, dan limbah organik lainnya tersedia secara mudah dan murah. Padahal, bahan-bahan tersebut memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik dan dapat digunakan sebagai bahan baku pakan alternatif, baik secara tunggal maupun campuran. Selain dapat menurunkan biaya produksi, pemanfaatan bahan-bahan lokal ini juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah organik yang selama ini belum tertangani dengan baik.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN), Sub Kelompok 5 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melaksanakan program pemberdayaan peternak lele di Desa Karangdieng. Program ini dirancang untuk mengenalkan dan menerapkan inovasi pakan campuran berbasis bahan organik lokal yang sehat, ekonomis, dan ramah lingkungan. Sasaran utama kegiatan ini adalah para peternak kecil yang selama ini masih bergantung penuh pada pakan pabrikan.

Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan alternatif solusi terhadap tingginya biaya pakan melalui pelatihan pembuatan pakan campuran, serta memberikan pemahaman tentang pentingnya efisiensi produksi dan keberlanjutan lingkungan dalam usaha budidaya. Dengan pendampingan yang tepat, diharapkan peternak dapat menyusun formula pakan yang sesuai dengan kebutuhan, memanfaatkan bahan lokal, serta menerapkan teknik pemberian pakan yang efisien dan higienis.

Kegiatan ini memiliki relevansi tinggi terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat Desa Karangdieng yang mayoritas hidup dari sektor pertanian dan perikanan. Inovasi pakan berbasis lokal dapat mendorong kemandirian petani, mengurangi ketergantungan terhadap produk luar, serta membuka peluang terciptanya sistem produksi berbasis potensi desa. Oleh karena itu, penguatan kapasitas peternak melalui transfer pengetahuan dan teknologi sederhana menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

2. KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Pakan merupakan komponen utama dalam kegiatan budidaya ikan, karena secara langsung memengaruhi laju pertumbuhan, efisiensi produksi, serta keberhasilan budidaya secara keseluruhan. Menurut Afrianto dan Liviawaty (2005), keberhasilan dalam budidaya ikan lele sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. Kebutuhan pakan yang tinggi membuat pembudidaya menghadapi tantangan besar dalam hal pengeluaran biaya produksi, karena harga pakan komersial di pasaran terus mengalami kenaikan.

Dalam konteks efisiensi usaha, berbagai penelitian telah menekankan pentingnya penggunaan pakan alternatif berbasis bahan lokal. Hasil penelitian oleh Sari dan Widyastuti (2018) menunjukkan bahwa substitusi sebagian pakan komersial dengan bahan organik seperti dedak padi, ampas tahu, dan azolla tidak hanya menurunkan biaya pakan, tetapi juga tetap mampu mendukung pertumbuhan ikan secara optimal. Pemanfaatan limbah organik sebagai bahan pakan dinilai efektif karena kandungan nutrisinya cukup memadai, dan secara ekonomis lebih terjangkau.

Azolla, misalnya, merupakan tanaman air yang mudah dibudidayakan dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, mencapai 20–30%. Azolla juga mengandung antioksidan alami yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan. Demikian pula dengan maggot (larva Black Soldier Fly), yang berdasarkan penelitian Nasution et al. (2020), memiliki kandungan protein hewani lebih dari 40%, dan dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan dalam formulasi pakan.

Di sisi lain, pendekatan fermentasi dengan memanfaatkan mikroorganisme lokal (MOL) telah terbukti meningkatkan nilai cerna bahan pakan serta memperbaiki kualitas air kolam. Proses fermentasi dapat menurunkan kadar serat kasar dan meningkatkan kandungan protein kasar, sehingga bahan-bahan seperti ampas tahu dan dedak dapat dimanfaatkan secara lebih optimal (Wahyuni & Supriyadi, 2019).

Penggunaan pakan campuran berbasis bahan lokal tidak hanya menjadi strategi efisiensi biaya, tetapi juga mendukung konsep keberlanjutan (sustainability). Dengan memanfaatkan limbah dan bahan yang tersedia di sekitar lingkungan, pembudidaya dapat mengurangi ketergantungan pada produk industri serta berperan dalam pengelolaan lingkungan berbasis ekonomi sirkular.

Berdasarkan teori dan temuan-temuan empiris tersebut, kegiatan pengabdian ini disusun dengan dasar bahwa inovasi pakan berbasis lokal memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing budidaya lele. Maka dari itu, hipotesis dalam kegiatan ini adalah:

“Penggunaan pakan campuran berbasis bahan organik lokal berpengaruh terhadap efisiensi biaya produksi dan tetap mampu mendukung pertumbuhan ikan lele secara optimal.”

Hipotesis ini menjadi landasan dalam merancang kegiatan pelatihan dan evaluasi di lapangan, guna melihat sejauh mana inovasi pakan campuran dapat diterima dan diterapkan oleh peternak secara berkelanjutan.

3. METODE

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Tahun 2025, yang dilaksanakan oleh Sub Kelompok 5 di Desa Karangdieng, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kegiatan dilaksanakan selama dua bulan, dengan fokus pada pemberdayaan peternak ikan lele melalui inovasi pakan campuran berbasis bahan organik lokal.

Rancangan kegiatan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif, dengan melibatkan peternak sebagai subjek utama sekaligus penerima manfaat. Pendekatan ini bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari sosialisasi, pelatihan, hingga implementasi di kolam budidaya masing-masing.

Ruang lingkup kegiatan meliputi identifikasi masalah lapangan, penyusunan formula pakan campuran, pelatihan pembuatan pakan, demonstrasi cara pemberian pakan, hingga observasi terhadap hasil budidaya. Objek kegiatan adalah peternak ikan lele skala kecil dan menengah yang berada di wilayah Desa Karangdieng.

Bahan utama yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi pelet konsentrat, dedak halus, ampas tahu, azolla kering, dan kulit singkong fermentasi. Bahan-bahan tersebut dipilih karena mudah ditemukan secara lokal, memiliki kandungan nutrisi yang memadai, serta murah secara biaya produksi.

Alat utama yang digunakan antara lain ember pencampur, timbangan digital, alat pengaduk, karung plastik, wadah fermentasi, serta perangkat untuk dokumentasi lapangan. Seluruh proses pembuatan pakan dilakukan dengan alat sederhana yang mudah ditiru oleh masyarakat.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di lapangan, wawancara singkat dengan peternak, dan dokumentasi kegiatan. Observasi digunakan untuk mengetahui respons ikan terhadap pakan campuran, efektivitas pemberian pakan, serta kesiapan peternak dalam mengadopsi teknologi ini. Wawancara dilakukan secara informal untuk menggali pengalaman dan pendapat peternak.

Definisi operasional variabel dalam kegiatan ini terdiri dari:

  • Efisiensi biaya pakan: diukur melalui perbandingan biaya pakan sebelum dan sesudah menggunakan pakan campuran.
  • Pertumbuhan ikan: diamati secara kualitatif dari respons makan dan ukuran tubuh selama proses budidaya berlangsung.
  • Tingkat adopsi: dilihat dari kesiapan dan kemauan peternak menerapkan pakan campuran secara mandiri setelah pelatihan.

Teknik analisis yang digunakan bersifat deskriptif kualitatif, yaitu dengan menjelaskan hasil kegiatan berdasarkan pengamatan di lapangan, perbandingan kondisi sebelum dan sesudah kegiatan, serta tanggapan masyarakat terhadap program yang dilaksanakan.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Karangdieng menghasilkan beberapa temuan yang relevan dengan tujuan program, yaitu memberikan alternatif pakan yang sehat dan ekonomis bagi peternak lele. Program ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi, pelatihan teknis, demonstrasi pembuatan pakan, hingga pendampingan praktik di lapangan.

4.1 Respons Peternak terhadap Program

Sebagian besar peternak memberikan respons positif terhadap program yang dilaksanakan. Hal ini ditunjukkan dari tingkat kehadiran peserta pada kegiatan pelatihan serta keterlibatan aktif dalam praktik pencampuran pakan. Peternak menyatakan bahwa formulasi pakan campuran mudah dibuat, bahan-bahannya mudah didapat di sekitar desa, dan proses pencampurannya tidak memerlukan alat yang rumit.

4.2 Efisiensi Biaya Pakan

Sebelum kegiatan dilaksanakan, sebagian besar peternak hanya menggunakan pakan komersial dengan kisaran harga Rp300.000–400.000 per sak (30 kg), yang habis dalam waktu kurang dari 3 minggu. Setelah menggunakan pakan campuran, biaya pembelian pakan berkurang hingga 35–40% karena sebagian besar bahan diperoleh dari limbah lokal seperti ampas tahu, dedak, dan azolla yang dibudidayakan sendiri.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa meskipun persentase penggunaan pelet komersial diturunkan hingga 30% dalam campuran, ikan tetap menunjukkan respons makan yang baik, dan tidak ada penurunan signifikan dalam pertumbuhan. Hal ini sejalan dengan temuan Sari dan Widyastuti (2018), yang menyatakan bahwa substitusi sebagian pakan komersial dengan bahan organik lokal tidak menurunkan performa pertumbuhan ikan, selama kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.

4.3 Penerapan Teknik Fermentasi

Peternak juga diperkenalkan dengan teknik fermentasi bahan pakan menggunakan MOL (Mikroorganisme Lokal) untuk meningkatkan kandungan gizi dan daya cerna. Teknik ini dinilai membantu mengurangi bau pada bahan organik dan memperpanjang masa simpan. Peternak yang mencoba fermentasi menyatakan bahwa ikan lebih aktif menyambar pakan hasil fermentasi dibandingkan pakan mentah yang belum difermentasi.

4.4 Dampak Lingkungan dan Kemandirian

Selain aspek teknis dan ekonomi, kegiatan ini juga berdampak pada aspek lingkungan dan kemandirian. Dengan memanfaatkan limbah organik sebagai bahan pakan, volume limbah domestik yang dibuang ke lingkungan berkurang. Beberapa peternak juga mulai mencoba membudidayakan azolla secara mandiri di kolam kecil sebagai sumber protein nabati, yang menunjukkan adanya perubahan perilaku ke arah lebih mandiri dan berkelanjutan.

4.5 Interpretasi dan Keterkaitan Teoritis

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna mampu memberikan dampak langsung dalam menurunkan biaya produksi. Hal ini sejalan dengan prinsip budidaya berkelanjutan yang menekankan pada efisiensi sumber daya dan pemanfaatan potensi lokal (Nasution et al., 2020). Strategi ini tidak hanya relevan secara teknis dan ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan, karena melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses transformasi produksi.

5. KESIMPULAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Sub Kelompok 5 KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Desa Karangdieng berhasil memberikan kontribusi nyata dalam mengatasi permasalahan klasik yang dihadapi oleh peternak lele, yaitu tingginya biaya pakan. Sebagaimana diketahui, pakan menyumbang lebih dari separuh total biaya produksi, dan menjadi kendala utama dalam keberlanjutan usaha budidaya ikan lele, khususnya di kalangan peternak kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan modal.

Melalui pendekatan partisipatif dan edukatif, tim pelaksana memberikan pelatihan serta pendampingan teknis dalam meracik pakan campuran berbasis bahan organik lokal seperti dedak halus, ampas tahu, azolla, serta fermentasi kulit singkong. Formulasi pakan campuran ini terbukti mampu menekan biaya pakan hingga 35–40% dan tetap mendukung pertumbuhan ikan secara optimal. Respons ikan terhadap pakan campuran menunjukkan hasil yang positif, tanpa adanya penurunan signifikan dalam produktivitas.

Selain berdampak pada efisiensi biaya, kegiatan ini juga memberikan efek positif terhadap aspek lingkungan dan sosial. Pemanfaatan bahan organik lokal membantu mengurangi limbah rumah tangga dan pertanian yang sebelumnya tidak termanfaatkan. Di sisi lain, peningkatan keterampilan dan kemandirian peternak dalam mengelola pakan membuka peluang bagi terbentuknya sistem budidaya yang lebih mandiri, hemat biaya, serta berbasis pada potensi lokal.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar peternak mampu memahami dan mengadopsi inovasi pakan campuran secara mandiri. Bahkan, beberapa peserta mulai mengembangkan budidaya azolla sendiri sebagai bahan baku pakan tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya bersifat intervensi sesaat, melainkan berpotensi menciptakan perubahan perilaku jangka panjang yang mendukung keberlanjutan usaha budidaya ikan.

Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan dampak nyata yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memberdayakan masyarakat secara sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, pendekatan serupa sangat layak direplikasi di desa-desa lain yang memiliki karakteristik serupa dan potensi sumber daya lokal yang memadai.

REFERENSI
Afrianto, E., & Liviawaty, E. (2005). Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Handajani, S. (2022). Teknologi Budidaya Ikan Lele. Yogyakarta: Pustaka Ikan.

Nasution, A., Widodo, T., & Hakim, L. (2020). Pemanfaatan maggot (Hermetia illucens) sebagai pengganti tepung ikan dalam formulasi pakan lele. Jurnal Akuakultur Tropis, 5(2), 34–41.

Sari, D. M., & Widyastuti, A. (2018). Pengaruh penggunaan dedak dan azolla dalam pakan terhadap pertumbuhan lele dumbo. Jurnal Perikanan Air Tawar, 9(1), 15–21.

Suryaningrum, E. (2020). Penerapan probiotik dan fermentasi dalam pakan ikan air tawar. Jurnal Inovasi Perikanan, 7(1), 12–18.

Wahyuni, N., & Supriyadi, H. (2019). Fermentasi ampas tahu untuk meningkatkan kualitas pakan ikan lele. Jurnal Teknologi Peternakan dan Perikanan, 4(3), 45–50.

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.