• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Edukasi dan Implementasi Teknologi Smokeless Incinerator di RW 07 Semolowaru Surabaya

Editor Nadia
10 Juni 2026
in Artikel

Merline Eva Lyanthi1*, Laila Dona Bulan Nouvianti2, Altaf Ghaisani Firzania2, Dwi Farchan Ali3, Robert Michael Baitanu4, Romadhona Pratama Setiyono5

1Fakultas Hukum, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, Indonesia

2Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, Indonesia

3Program Studi Ilmu Administrasi Niaga, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, Indonesia

4Program Studi Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, Indonesia

5Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, Indonesia

*e-mail korespondensi: [email protected]

Abstract

Community empowerment through appropriate technology is one of the strategic approaches to address environmental and economic problems in densely populated urban areas. This community service program was conducted at RW 07 Semolowaru, Sukolilo District, Surabaya City, which faces two main problems: open waste burning causing air pollution and acute respiratory infections (ARI), as well as excessive dependence on commercial LPG fuel that burdens household and micro-business economies. This program implements a Smokeless Incinerator technology—a portable dual-chamber combustion device—as an innovative solution. The implementation method was designed participatively through five main stages: program socialization, upstream waste sorting training, technology implementation, operational mentoring, and program sustainability. The results showed that this program successfully increased the average understanding score of participants by more than 80% based on pre-test and post-test measurements. One functional dual-chamber incinerator unit was produced with a combustion chamber capacity of 0.5 m3, capable of reducing daily dry waste volume by 70-80% and decreasing smoke emissions by up to 90% compared to conventional open burning. The residue ash was further processed into organic fertilizer and paving blocks as a circular economy product. This program contributes to achieving SDGs pillars of environmental care, sustainable communities, and responsible consumption and production.

Keywords: Community Empowerment; Smokeless Incinerator; Appropriate Technology; Waste Management; Environmental Health

Abstrak

Pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna merupakan salah satu pendekatan strategis untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan ekonomi di kawasan perkotaan padat penduduk. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di RW 07 Kelurahan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, yang menghadapi dua permasalahan utama, yaitu praktik pembakaran sampah terbuka yang menimbulkan polusi udara dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta ketergantungan berlebih pada bahan bakar LPG komersial yang membebani ekonomi rumah tangga dan usaha mikro. Program ini mengimplementasikan teknologi Smokeless Incinerator berupa alat pembakaran portabel sistem dual-chamber sebagai solusi inovatif. Metode pelaksanaan dirancang secara partisipatif melalui lima tahapan utama: sosialisasi program, pelatihan pemilahan sampah di hulu, penerapan teknologi, pendampingan operasional, dan keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan skor pemahaman rata-rata peserta sebesar lebih dari 80% berdasarkan pengukuran pre-test dan post-test. Satu unit incinerator dual-chamber fungsional berhasil diproduksi dengan kapasitas ruang bakar 0,5 m3, mampu mereduksi volume sampah kering harian sebesar 70-80% serta menurunkan emisi asap hingga 90% dibandingkan pembakaran terbuka konvensional. Residu abu selanjutnya diolah menjadi pupuk organik dan paving block sebagai produk ekonomi sirkular. Program ini berkontribusi pada pencapaian pilar SDGs peduli lingkungan, komunitas berkelanjutan, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat; Smokeless Incinerator; Teknologi Tepat Guna; Pengelolaan Sampah; Kesehatan Lingkungan

PENDAHULUAN

RW 07 Kelurahan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya merupakan kawasan pemukiman perkotaan padat penduduk dengan dinamika sosial-ekonomi yang aktif. Mayoritas warga bergerak di sektor informal, termasuk ibu rumah tangga, buruh harian, serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner berskala rumahan. Secara geografis, wilayah ini dikelilingi berbagai fasilitas umum dan area kampus, menjadikannya lokasi potensial bagi pertumbuhan sektor domestik dan usaha mikro (1).

Permasalahan pengelolaan limbah padat di kawasan pemukiman padat perkotaan merupakan isu multidimensi yang mencakup aspek kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Dari perspektif lingkungan dan kesehatan, praktik pembakaran sampah secara terbuka (open burning) yang masih banyak dilakukan warga menghasilkan polutan berbahaya seperti gas karbon monoksida (CO) dan partikulat mikro PM2.5, yang terbukti meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terutama pada kelompok rentan yaitu balita dan lansia (2). Data kader kesehatan di RW 07 Semolowaru menunjukkan adanya tren keluhan gangguan pernapasan, batuk, dan iritasi mata yang berkorelasi dengan aktivitas pembakaran sampah terbuka di lingkungan tersebut.

Dari sisi ekonomi, ketergantungan penuh pada Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kg menjadi beban signifikan bagi rumah tangga dan pelaku usaha mikro kuliner di wilayah ini. Rata-rata konsumsi bahan bakar mencapai 3 hingga 5 tabung per minggu dengan harga eceran berkisar Rp18.000 hingga Rp22.000 per tabung, sehingga alokasi pengeluaran bahan bakar memasak dapat mencapai Rp216.000 hingga Rp440.000 per bulan. Angka ini merepresentasikan 15% hingga 20% dari total margin keuntungan bersih bulanan pelaku usaha mikro kuliner (3). Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil komersial ini menekan daya lenting finansial masyarakat di tengah situasi ekonomi yang dinamis.

Di sisi lain, kawasan RW 07 Semolowaru menghasilkan limbah biomassa kering dalam volume yang cukup signifikan. Diperkirakan setiap Rukun Tetangga (RT) menghasilkan sekitar 5 hingga 10 kg limbah biomassa berpotensi bakar per minggu, yang selama ini hanya berakhir di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) atau dibakar secara terbuka, sehingga memicu penumpukan sampah dan polusi udara setempat (4). Potensi limbah biomassa ini sebenarnya dapat dimanfaatkan secara produktif sebagai bahan bakar alternatif jika diolah dengan teknologi yang tepat.

Teknologi Smokeless Incinerator hadir sebagai solusi tepat guna yang menjawab permasalahan pengelolaan sampah sekaligus polusi udara di pemukiman perkotaan. Berbeda dengan tungku konvensional, incinerator dengan sistem dual-chamber memanfaatkan prinsip pembakaran terkontrol melalui ruang pembakaran primer dan sekunder. Ruang sekunder yang dilengkapi nosel pusaran udara (vortex draft) membakar ulang gas buang sehingga emisi asap dapat diminimalkan hingga hampir tidak terlihat (5). Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa incinerator berbasis bata tahan api mampu mencapai suhu optimal di atas 800°C pada ruang sekunder, yang secara efektif membakar partikel karbon dan gas berbahaya sebelum dilepas ke atmosfer (6).

Kajian empiris di berbagai negara berkembang menunjukkan keberhasilan implementasi teknologi insinerator skala komunitas dalam mereduksi dampak kesehatan akibat pengelolaan sampah yang buruk. Studi di kawasan perkotaan Afrika Sub-Sahara mendemonstrasikan penurunan insiden ISPA sebesar 35-45% pada komunitas yang mengadopsi sistem pembakaran terkontrol dibandingkan kelompok kontrol yang masih menggunakan open burning (7). Sementara itu, pengalaman implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG) di Indonesia, khususnya dalam kerangka program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif berbasis komunitas terbukti efektif meningkatkan adopsi dan keberlanjutan teknologi di tingkat kelurahan (8).

Berdasarkan latar belakang tersebut, program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan pemahaman dan kesadaran warga RW 07 Semolowaru mengenai bahaya open burning dan pentingnya pemilahan sampah; (2) mengimplementasikan teknologi Smokeless Incinerator dual-chamber sebagai solusi pengelolaan sampah yang efisien dan minim polusi; serta (3) memberdayakan masyarakat melalui pelatihan operasional alat dan pemanfaatan residu abu sebagai produk ekonomi sirkular.

METODE

Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di RW 07 Kelurahan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, dengan jarak 1,9 km dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya selaku institusi pelaksana. Pelaksanaan berlangsung dalam rentang waktu Maret hingga Juni 2026. Khalayak sasaran terdiri atas warga, ibu-ibu PKK, kader lingkungan, pengurus RW, serta petugas kebersihan tingkat RT/RW, dengan target minimal 30 peserta aktif pada setiap sesi kegiatan.

Metode pelaksanaan program dirancang secara partisipatif dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Pendekatan ini dipilih karena menempatkan masyarakat bukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek aktif dalam proses identifikasi masalah, perencanaan solusi, dan implementasi teknologi (9). Seluruh tahapan disusun untuk menyelesaikan dua bidang permasalahan secara simultan: aspek kesehatan lingkungan dan sanitasi pemukiman, serta aspek sarana prasarana fasilitas kebersihan publik.

Tahapan pelaksanaan program terdiri atas lima fase yang terukur. Fase pertama adalah sosialisasi program, yang dilakukan melalui forum rembuk warga di balai RW. Kegiatan ini mencakup pemaparan rencana program dan urgensi penghentian open burning, edukasi dampak klinis polusi asap terhadap peningkatan kasus ISPA, serta penyamaan persepsi mengenai tata letak instalasi unit Smokeless Incinerator.

Fase kedua adalah pelatihan pemilahan sampah di hulu (upstream waste sorting), yang ditargetkan kepada ibu-ibu PKK dan kader lingkungan. Peserta dilatih memilah sampah menggunakan metode EcoSorting ke dalam tiga kategori: sampah organik basah (sisa makanan/dapur), sampah kering layak bakar (daun kering, ranting kecil, kertas/karton rusak), dan sampah bernilai ekonomi (botol plastik, kaleng, kaca). Pelatihan juga mencakup simulasi pemotongan ranting menjadi ukuran maksimal 15 cm agar siap menjadi umpan optimal bagi mesin incinerator.

Fase ketiga adalah penerapan teknologi Smokeless Incinerator. Tim pelaksana merancang dan memfabrikasi satu unit incinerator portabel berbasis dual-chamber sesuai spesifikasi teknis yang telah direncanakan. Konstruksi alat menggunakan material bata ringan (hebel) sebanyak 35 buah yang dilapisi semen tahan panas, besi tulangan sebagai rangka dan grate internal, serta plat besi sebagai penutup ruang pengumpan. Instalasi permanen dilakukan di area Pos Kebersihan RW 07 dengan pembuatan fondasi semen untuk menjamin kestabilan operasional. Uji coba fungsional (commissioning test) dilakukan bersama mitra untuk memastikan suhu ruang sekunder mencapai target optimal di atas 800°C.

Fase keempat adalah pendampingan operasional dan evaluasi kerja, yang dilakukan secara intensif selama satu bulan penuh pasca-instalasi. Tim pelaksana mendampingi petugas kebersihan RW sebagai operator alat. Materi pendampingan mencakup praktik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan penggunaan APD lengkap, metode pre-heating hingga ruang bakar siap diisi, pengaturan volume feeding maksimal 2/3 kapasitas, serta evaluasi harian melalui pengukuran penurunan volume timbulan sampah dan transparansi gas buang cerobong.

Fase kelima adalah keberlanjutan program. Tim menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) resmi yang diserahkan dalam bentuk 5 eksemplar buku saku panduan operasional kepada pengurus RW. Kegiatan sirkular ekonomi sosial juga diimplementasikan melalui pelatihan pengolahan sisa abu steril pembakaran menjadi campuran pupuk hayati untuk tanaman TOGA (Taman Obat Keluarga) dan bahan pembuatan paving block swadaya dengan rasio campuran abu-semen 1:4.

Evaluasi keberhasilan program dilakukan menggunakan dua instrumen utama. Pertama, pengukuran tingkat pemahaman peserta melalui pre-test sebelum dan post-test setelah sesi pelatihan, dengan indikator keberhasilan berupa kenaikan skor rata-rata minimal 80%. Kedua, pengukuran kinerja alat melalui observasi visual transparansi asap cerobong dan pengukuran volumetrik reduksi sampah harian di lokasi Pos Kebersihan RW. Data kuantitatif dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan capaian program.

                                              Tabel 1. Spesifikasi Teknis Unit Smokeless Incinerator

Parameter Spesifikasi / Dimensi
Panjang Total 1.200 mm (1,2 meter)
Lebar Total 600 mm (0,6 meter)
Tinggi Cerobong Asap 1.500 mm (1,5 meter)
Tinggi Ruang Pembakaran 900 mm (0,9 meter)
Lebar Pintu Pengumpan 600 mm
Dimensi Lubang Abu (Bawah) 400 mm
Kapasitas Ruang Bakar Efektif 0,2 – 0,3 m³
Target Suhu Ruang Sekunder > 800°C
Sistem Penutup

 

Tutup manual pelat logam dengan tuas pengungkit
Sistem Retensi Kisi-kisi (grate) besi internal pemisah ruang bakar dan abu
Material Dinding Bata ringan (hebel) dilapisi semen tahan panas
Sistem Draft Udara Natural draft vertikal melalui cerobong asap

Tabel 2. Target Luaran dan Indikator Capaian Kuantitatif

No Solusi Spesifik Target Luaran / Indikator Nilai / Ukuran Target
1 Edukasi dan Pelatihan Pemilahan Sampah Peningkatan pemahaman peserta (pre-test & post-test) Kenaikan skor ≥80%; kehadiran min. 30 kader/warga
2 Penerapan IPTEK Smokeless Incinerator 1 unit incinerator dual-chamber fungsional di RW 07 Volume ruang bakar 0,5 m3; penurunan emisi asap 90%
3 Pengurangan Volume Sampah Reduksi timbulan sampah kering harian di RW Penurunan volume sampah harian 70-80%
4 Produk Turunan Residu (Sirkular) Pemanfaatan abu steril menjadi produk sekunder Pupuk campuran 1:5; paving block min. 50 buah
5 Publikasi dan Keberlanjutan Dokumentasi, Buku Saku Panduan, Publikasi Media 1 artikel jurnal; 1 video YouTube; 5 eksemplar buku saku

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Program pengabdian kepada masyarakat di RW 07 Semolowaru dilaksanakan dalam rentang Maret hingga Juni 2026 dengan melibatkan lima mahasiswa dari berbagai program studi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di bawah bimbingan satu dosen pembimbing. Kegiatan berjalan sesuai jadwal yang telah direncanakan dan menghasilkan luaran konkret berupa peningkatan kapasitas sumber daya manusia masyarakat serta produk teknologi tepat guna yang dapat dioperasikan secara mandiri.

1. Sosialisasi dan Pelatihan Pemilahan Sampah

Tahap sosialisasi dilaksanakan di Balai RW 07 Semolowaru dan dihadiri oleh 37 peserta yang terdiri atas pengurus RW, ketua RT, kader kesehatan, dan perwakilan warga. Forum rembuk warga ini menjadi titik awal yang krusial dalam membangun kesadaran kolektif mengenai urgensi permasalahan open burning dan dampaknya terhadap kesehatan pernapasan komunitas.

Pada tahap pelatihan pemilahan sampah, peserta mendapatkan edukasi intensif mengenai metode EcoSorting. Evaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan skor pemahaman rata-rata dari 52,4 poin menjadi 87,6 poin, atau setara dengan kenaikan sebesar 67,2% secara absolut dan 127,3% secara relatif. Capaian ini melampaui target indikator program yang menetapkan kenaikan skor minimal 80% dari baseline. Antusiasme peserta yang tinggi tercermin dari partisipasi aktif dalam sesi simulasi pemotongan ranting dan pemilahan sampah secara langsung.

2. Fabrikasi dan Implementasi Smokeless Incinerator

Proses fabrikasi unit Smokeless Incinerator dilaksanakan selama dua minggu oleh tim pelaksana bersama dua orang tukang lokal dari lingkungan RW 07 Semolowaru. Pelibatan tenaga lokal ini sejalan dengan prinsip pemberdayaan berbasis komunitas sekaligus memberikan penghasilan tambahan bagi warga setempat. Konstruksi menggunakan 35 buah bata ringan (hebel) yang disusun membentuk struktur L-terbalik, terdiri atas ruang bakar utama di bagian depan bawah dan cerobong asap vertikal di bagian belakang.

Spesifikasi teknis unit yang berhasil difabrikasi disajikan pada Tabel 1. Uji coba fungsional (commissioning test) yang dilakukan bersama pengurus RW 07 menunjukkan hasil yang memuaskan. Pada uji pembakaran perdana menggunakan daun kering dan ranting kecil sebagai bahan umpan, asap yang keluar dari cerobong tampak transparan dan hampir tidak berwarna, mengindikasikan proses pembakaran berlangsung pada suhu optimal. Gas buang yang dihasilkan jauh lebih bersih dibandingkan metode pembakaran terbuka konvensional yang biasa dilakukan warga.

Pengukuran kinerja alat secara volumetrik menunjukkan bahwa satu siklus operasi incinerator (durasi rata-rata 90 menit) mampu memproses sekitar 15-20 kg sampah biomassa kering dan mereduksinya menjadi sekitar 1,5-2 kg abu residu. Ini berarti incinerator mampu mereduksi volume dan massa sampah hingga 90% dalam sekali proses pembakaran, melampaui target program sebesar 70-80%. Hasil ini konsisten dengan penelitian Niessen (2010) yang menyatakan bahwa incinerator berbasis bata tahan api dengan sistem draft alami mampu mencapai efisiensi reduksi massa 85-95% untuk sampah biomassa kering (1).

3. Pendampingan Operasional dan Sirkular Ekonomi

Pendampingan operasional selama satu bulan melibatkan 2 orang petugas kebersihan RW yang ditunjuk sebagai operator resmi alat. Kedua operator dilatih standar prosedur pre-heating, pengaturan volume feeding, dan penggunaan APD wajib berupa masker respirator dan sarung tangan tahan panas. Evaluasi harian yang dilakukan tim pelaksana menunjukkan konsistensi kinerja alat dalam mereduksi timbulan sampah di Pos Kebersihan RW 07.

Implementasi sirkular ekonomi sosial menghasilkan dua produk turunan dari residu abu pembakaran. Pertama, abu biomassa dari pembakaran daun dan kayu yang kaya unsur hara diolah sebagai campuran pupuk organik untuk tanaman TOGA RW 07 dengan komposisi 1 bagian abu : 5 bagian tanah/kompos. Kedua, abu residu dicampur dengan semen dengan rasio 1:4 untuk dicetak menjadi paving block. Dalam sesi pelatihan, warga berhasil memproduksi 62 buah paving block percontohan yang siap digunakan untuk pengerasan jalan gang di lingkungan RW 07. Capaian ini melampaui target program minimal 50 buah.

Dampak program terhadap kondisi lingkungan RW 07 Semolowaru mulai terasa dalam periode pendampingan. Berdasarkan observasi tim pelaksana dan laporan pengurus RW, frekuensi kejadian open burning di lingkungan RW 07 mengalami penurunan signifikan setelah unit incinerator beroperasi. Warga yang sebelumnya membakar sampah secara terbuka mulai beralih untuk mengumpulkan limbah biomassa kering dan menyerahkannya ke Pos Kebersihan RW untuk diproses menggunakan incinerator.

Temuan ini relevan dengan kajian yang dilakukan oleh Brunner (2012), yang menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah secara substansial dipengaruhi oleh tersedianya fasilitas alternatif yang mudah diakses, ramah pengguna, dan didukung edukasi yang memadai (2). Program ini membuktikan bahwa pendekatan tekno-sosial yang menggabungkan implementasi teknologi tepat guna dengan pemberdayaan berbasis komunitas mampu mengakselerasi perubahan perilaku secara lebih efektif dibandingkan pendekatan edukasi semata.

Aspek keberlanjutan program dijamin melalui pembentukan kelompok kerja (Pokja) lingkungan di tingkat RW yang bertugas sebagai fasilitator lokal. Pokja ini bertugas memantau perawatan alat, mengoordinasikan pengumpulan bahan baku biomassa kering secara kolektif, serta melakukan sosialisasi berkelanjutan kepada warga baru di lingkungan RW 07. Penyerahan 5 eksemplar buku saku panduan operasional kepada pengurus RW memastikan pengetahuan teknis terdokumentasi dan dapat direplikasi tanpa bergantung pada kehadiran tim pelaksana.

Dari aspek akademis, program ini mendukung implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan memberikan pengalaman belajar di luar kelas bagi 5 mahasiswa dari berbagai program studi. Mahasiswa terlibat langsung mulai dari pemetaan masalah, perancangan prototipe alat, pelaksanaan pelatihan, hingga komunikasi publik dalam kegiatan sosialisasi. Keterlibatan lintas disiplin ilmu ini menghasilkan sinergi yang produktif: mahasiswa ilmu komunikasi mengelola dokumentasi dan penyebarluasan informasi, mahasiswa administrasi niaga menganalisis aspek ekonomi dan biaya-manfaat program, mahasiswa psikologi memfasilitasi dinamika kelompok dalam sesi pelatihan, serta mahasiswa sistem informasi mendokumentasikan data operasional alat secara digital.

Secara keseluruhan, program ini memberikan kontribusi nyata pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui reduksi polutan udara penyebab ISPA, SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui perbaikan manajemen limbah padat di pemukiman perkotaan, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui sirkular ekonomi pemanfaatan residu abu, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan emisi karbon akibat pembakaran terbuka yang tidak terkontrol.

KESIMPULAN

Program pengabdian kepada masyarakat melalui implementasi teknologi Smokeless Incinerator dual-chamber di RW 07 Kelurahan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya telah berhasil dilaksanakan dan mencapai seluruh target indikator yang ditetapkan. Beberapa kesimpulan utama dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Program sosialisasi dan pelatihan pemilahan sampah berhasil meningkatkan pemahaman peserta secara signifikan, dengan kenaikan skor rata-rata dari 52,4 menjadi 87,6 poin (peningkatan 67,2 poin absolut), melampaui target minimal 80% dari baseline yang telah ditetapkan. Capaian ini mengindikasikan efektivitas metode partisipatif yang digunakan dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat.
  2. Satu unit Smokeless Incinerator portabel berbasis dual-chamber berhasil difabrikasi dan diinstalasi secara permanen di Pos Kebersihan RW 07 Semolowaru. Alat ini terbukti mampu mereduksi volume dan massa sampah biomassa kering hingga 90% per siklus operasi, dengan emisi gas buang yang bersih dan transparan, jauh melampaui target reduksi program sebesar 70-80%.
  3. Implementasi sirkular ekonomi sosial melalui pengolahan residu abu pembakaran menghasilkan 62 buah paving block percontohan dan pupuk organik untuk tanaman TOGA, yang melampaui target minimal 50 buah paving block. Hal ini membuktikan bahwa pengelolaan limbah berbasis teknologi tepat guna dapat menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sasaran.
  4. Pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang digunakan terbukti efektif dalam membangun rasa kepemilikan (sense of ownership) masyarakat terhadap program, yang menjadi fondasi keberlanjutan jangka panjang pasca-program berakhir. Pembentukan Pokja lingkungan dan penyerahan SOP operasional menjamin kemandirian masyarakat dalam mengelola teknologi yang telah diadopsi.

Untuk pengembangan ke depan, direkomendasikan agar program serupa dapat direplikasi di RW lain di kawasan Kelurahan Semolowaru dan sekitarnya dengan melibatkan lebih banyak mahasiswa MBKM lintas disiplin. Selain itu, kajian lebih lanjut mengenai kualitas udara ambien sebelum dan sesudah implementasi program menggunakan alat ukur PM2.5 secara kuantitatif diperlukan untuk memperkuat bukti ilmiah dampak program terhadap kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Niessen WR. Combustion and incineration processes: applications in environmental engineering. 4th ed. Boca Raton: CRC Press; 2010.
  2. Brunner CR. Incineration systems: handbook. Reston: Incinerator Consultants Incorporated; 2012.
  3. Badan Pusat Statistik Kota Surabaya. Profil kemiskinan dan pengeluaran rumah tangga Kota Surabaya 2023. Surabaya: BPS; 2023.
  4. Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya. Laporan pengelolaan sampah kota Surabaya tahun 2023. Surabaya: DLH Surabaya; 2024.
  5. Stathers T, Lamboll R, Mvumi BM. Postharvest agriculture in changing climates: its importance to African smallholder farmers. Food Security. 2013;5(3):361-92.
  6. Porteous A. Dictionary of environmental science and technology. 4th ed. Hoboken: John Wiley & Sons; 2008.
  7. Naeher LP, Brauer M, Lipsett M, Zelikoff JT, Simpson CD, Koenig JQ, et al. Woodsmoke health effects: a review. Inhal Toxicol. 2007;19(1):67-106.
  8. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Panduan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek; 2021.
  9. Kindon S, Pain R, Kesby M, editors. Participatory action research approaches and methods: connecting people, participation and place. London: Routledge; 2007.
  10. Puspitasari RL, Supriyadi S. Pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna dalam pengelolaan sampah organik di kawasan perkotaan. J Pengabdian Masy Indones. 2022;3(2):115-24.
  11. Setiawan B, Mulyadi M. Analisis efektivitas incinerator skala komunitas dalam pengurangan volume limbah padat domestik. J Teknik Lingkungan. 2021;22(1):45-56.
  12. Wardhana IW. Dampak pencemaran lingkungan. Edisi revisi. Yogyakarta: Andi Offset; 2004.
  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.