• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

OTORITARIANISME DAN PENGENDALIAN MASYARAKAT DALAM NOVEL THE MEMORY POLICE KARYA OGAWA YOKO

Editor Nadia
29 Juni 2025
in Artikel

1. Pendahuluan

Otoritarianisme merupakan salah satu kenangan yang tidak ingin untuk diingat suatu bangsa. Otoritarianisme membuat kesengsaraan serta terbatasnya kebebasan berekspresi bagi seseorang maupun masyarakat. Penjajahan merupakan salah satu bentuk upaya membentuk kondisi yang otoriter dan menjadikan suatu bangsa memiliki kuasa dan lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa yang ia jajah serta membuat kesenjangan sosial dan ketidakadilan dalam masyarakat.

Banyak bentuk perjuangan yang digunakan dengan tujuan melawan kekuasaan yang menyimpang itu. Salah satunya dengan bentuk sindiran yang umum dituangkan dalam karya sastra. Hal ini menjadi bentuk perlawanan tanpa senjata dan bagi para penguasa otoriter menjadi sebuah ancaman besar. Karya sastra dapat membentuk pemikiran dan ideologi sebagai senjata psikis dan mendorong suatu golongan untuk memperjuangkan hak nya. Karya sastra secara tersirat maupun tersurat menampilkan berbagai kerugian yang ditimbulkan oleh otoritarianisme dan pengendalian yang mengekang.

Salah satu karya novel yang menggambarkan keadaan tersebut adalah novel yang berjudul The Memory Police 『密やかな 結 晶』. Dengan latar sebuah pulau yang dikendalikan oleh pemerintahan yang otoriter dan mengekang menjadikan otoritarianisme

dan pengendalian masyarakat sebagai tema penting dalam novel ini melalui pengalaman para tokoh baik dari “Aku” dan keluarga sebagai tokoh sentral hingga seluruh masyarakat pulau tak bernama dimana harus patuh terhadap kekuasaan Polisi Kenangan yang sebenarnya bukan penduduk asli pulau tersebut (penjajah). Ogawa Yoko menghadirkan pengingat masyarakat akan penguasaan yang absolut dan bersifat negatif dengan cara yang tidak biasa dengan menyangkutkannya dengan situasi fantasi dan fiksi dengan pulau tanpa nama dan penghilangan hal di dunia atas perintah dan aturan Polisi Kenangan. Dengan bentuk kritik Fiksi Distopia (penggambaran dunia atau masyarakat yang kehidupannya luar biasa buruk akibat kekurangan, penindasan, atau teror, dan masyarakat manusia dicirikan oleh kesengsaraan manusiawi, seperti kesengsaraan, penindasan, penyakit, kepadatan penduduk, kerusakan lingkungan, atau perang), novel ini menggambarkan bagaimana buruknya kekuasaan yang berlebihan dengan berbagai bentuk demi kekuasaan. Pembaca dapat berusaha menangkap pesan dari novel ini terutama kondisi nyata Jepang pada tahun 1990-an yaitu usaha otoritarisasi kekuasaan dalam politik Jepang.

Esai ini akan mengurai penggambaran kondisi, dampak, dan usaha otoritarisasi dengan teori sastra demi memberikan pemahaman bagi pembaca sehingga pembaca dapat memahami kondisi masyarakat terjajah dan dikendalikan otoriter yang tergambar dalam novel The Memory Police.

2. Pembahasan

The Memory Police , terjemahan novel Yoko Ogawa tahun 2019 yang pertama kali ditulis 25 tahun sebelumnya, telah menarik perhatian baru pada sebuah buku yang, mungkin mengejutkan, dianggap berbicara khususnya pada zaman abad ke-21 kita. Versi

Stephen Snyder dari Hisoyaka na kesshō karya Ogawa tahun 1994 adalah finalis Penghargaan Buku Nasional untuk Sastra Terjemahan.

Kisah dalam novel ini memang relevan dengan kecemasan masa kini atas masyarakat yang penuh pengawasan, manipulasi media, dan otoritarianisme. Namun, saat menulisnya, Ogawa merasa bahwa ia memberi penghormatan kepada The Diary of a Young Girl karya Anne Frank , yang meninggalkan kesan kuat padanya saat ia membacanya saat remaja. Satu hal yang diajarkan buku itu kepadanya adalah bahwa ia telah diberi kebebasan untuk mengungkapkan dengan kata-kata apa yang ia rasakan di dalam hatinya.

Pada dekade 1990-an (masa novel ini diterbitkan pada 1994), dominasi Partai Demokratik Liberal 「自由民主党」(Jiyū- Minshutō) (LDP) di Jepang mengalami guncangan besar akibat krisis ekonomi dan sejumlah skandal politik. Puncaknya terjadi pada pemilu 1993, ketika LDP kehilangan mayoritasnya di parlemen untuk pertama kalinya sejak 1955 dan dipaksa keluar dari pemerintahan. Namun, pada 1994, LDP kembali berkuasa bersama Partai Sosialis Jepang, dan meskipun jabatan perdana menteri dipegang oleh Tomiichi Murayama dari JSP (Japan Socialist Party), LDP tetap memegang pengaruh besar dalam pemerintahan.

Menjelang akhir 1990-an, LDP berhasil mengkonsolidasikan kembali kekuasaannya, terutama di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Ryutaro Hashimoto. Meski menghadapi tantangan, LDP tetap menjadi kekuatan politik utama. Keberhasilan LDP bertahan dan kembali mendominasi politik Jepang selama dekade ini banyak dipengaruhi oleh kelemahan oposisi, fragmentasi politik, serta kemampuannya menjalin koalisi strategis yang menjaga stabilitas kekuasaan.

Hal ini membuat demokrasi di Jepang seakan tidak berjalan dengan baik dikarenakan adanya otoritarianisme dari LDP yang berkuasa lebih dari 50 tahun. Walaupun sebenarnya di Jepang otoritarianisme pemerintahan tidak terlalu terjadi secara pengertian klasik, namun bentuk penguasaan satu kelompok dapat menjadi dasaran penyebutan otoritarianisme secara tidak langsung.

Sejarah tetap mencatat Jepang sebagai negara penjajah yang pernah mengendalikan berbagai wilayah saat Perang Dunia II. Meskipun buku ini belum ada pada saat penjajahan, namun sampai kapanpun ingatan akan hal itu akan terus teringat oleh masyarakat Jepang termasuk di tahun 1990-an.

Dalam teori sastra postkolonial (salah satu kritik sastra yang mengkaji atau menyelidiki karya sastra tentang tanda-tanda atau pengaruh kolonial) yang dikembangkan oleh pemikir seperti salah satunya Antonio Gramsci, maka Polisi Kenangan menjadi bentuk hegemoni (kekuasaan yang dicapai melalui suatu kombinasi paksaan dan kerelaan antara kolonial dengan bangsa jajahannya). Novel ini menggambarkan beberapa bentuk pemaksaan, pengendalian, invasi, dan usaha penghapusan hal yang dianggap mengancap kekuasaan rezim.

Dimulai dari fakta bahwa Polisi Kenangan merupakan pihak luar pulau yang suatu hari datang ke pulau dan secara singkat mengontrol masyarakat. Sama seperti halnya para kolonial di zaman dahulu. Berikut salah satu kutipan novel:

“Para penduduk pulau akan resah begitu sesuatu hilang.” (The Memory Police, 1994, Hal: 8)

Kutipan ini menunjukkan bagaimana para Polisi Kenangan dengan penduduk asli pulau memiliki perbedaan sikap. Polisi Kenangan malah bertugas untuk menghilangkan gagasan yang tidak dibutuhkan lagi. Hal tersebut menunjukkan bahwa Polisi Kenangan bukanlah penduduk asli pulau dan mereka datang ke pulau itu dengan pemikiran yang berbeda lalu memaksakannya kepada penduduk aslu pulau itu.

Selanjutnya, tindakan menghapus benda-benda dan gagasan yang ada di dunia nyata pulau itu menjadi bentuk alegoris dari “penghapusan budaya” yang lazim dalam kolonialisme. Berikut adalah kutipan novel yang terkain masalah ini;

“Parfum dihilangkan di musim gugur pada tahun aku dan ayahmu menikah.” (The Memory Police, 1994, Hal: 10)

Beragam barang dan gagasan dihilangkan oleh Polisi Kenangan. Walaupun terlihat sepele, namun Polisi Kenangan menganggap bahwa barang dan gagasan itu tidak berguna dan hanya akan mengganggu kekuasaan mereka saja. Pada akhirnya mereka menghilangkannya seperti penjajah yang berusaha menghilangkan hal- hal yang berhubungan dengan nasionalisme.

Sehubungan dengan hal itu, dari sederetan penghilangan tersebut menciptakan masalah baru yang diharapkan oleh Polisi Kenangan sebagai pemerintahan yang otoriter yaitu hilangnya sejarah dan jati diri penduduk pulau. Hal ini mencerminkan praktik kolonial yang berupaya mengikis identitas budaya masyarakat terjajah agar tunduk pada kekuasaan dominan. Ditunjukkan pada kutipan berikut:

“Suami pengasuhku, yang dulunya adalah montir kapal, beralih profesi menjadi petugas keamanan di gudang.”

(The Memory Police, 1994, Hal: 14)

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa banyak pihak yang kehilangan identitas serta jati diri mereka. Hal itu membuat mereka akhinya mengubah identitas mereka yang seharusnya bukan seperti itu.

Polisi kenangan melakukan berbagai strategi yang cukup keras dan cenderung memaksa demi tercapainya tujuan dan ideologi yang sesuai dengan mereka. Dibuktikan oleh kutipan berikutnya:

“Metode-metode yang digunakan oleh Polisi Kenangan semakin brutal.” (The Memory Police, 1994, Hal: 72)

“Kadang-kadang, Polisi Kenangan muncul di tengah malam, mengepung satu blok penuh dengan truk-truk mereka, dan menggeledah semua rumah tampak terkecuali.”

(The Memory Police, 1994, Hal: 105)

“Namun, itulah terakhir kalinya kami melihat ibu dalam keadaan hidup. Jasanya dikembalikan kepada kami seminggu kemudian, beserta sehelai sertifikat kematian.”

(The Memory Police, 1994, Hal: 39)

Beberapa kutipan ini menunjukkan bagaimana pemaksaan yang dilakukan oleh polisi Kenangan dengan cara kekerasan, mulai dari penggeledahan, penangkapan, hingga yang paling buruk adalah berakhir dengan kematian.

Di samping itu, terdapat juga melalui normalisasi dan internalisasi aturan. Warga dalam novel tidak memberontak terhadap penghilangan yang terjadi, bahkan menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Ini berkaitan dengan konsep hegemoni dalam teori postkolonial, yaitu ketika kekuasaan dominan tidak hanya mengontrol dari luar, tetapi juga membentuk kesadaran dan cara berpikir masyarakat. Berikut kutipan yang menunjukkan hal ini:

“Tercengang dan diam, seolah-olah mereka sedang menghadiri upacara khidmat, mereka sama sekali tidak berusaha menyapu percikan yang menghujani mereka.”

(The Memory Police, 1994, Hal: 193)

Terlihat bagaimana pemikiran dan ideologi yang dibangun oleh Polisi Kenangan telah melekat kepada pemikiran hampir seluruh penduduk pulau. Bahkan hingga mereka tidak mengetahui lagi bahwa mereka telah dikendalikan agar tidak melawan pada setiap tindakan polisi kenangan.

Secara jelas tergambarkan dari seluruh kutipan di atas bahwa Polisi Kenangan melakukan berbagai bentuk otoritarianisme baik secara paksaan maupun secara ideologi. Namun, tujuan mereka datang ke pulau itu dan menghilangkan berbagai benda dan gagasan yang ada di dunia nyata selain menjaga kekuasaan mereka masih abu-abu dalam novel ini.

3. Penutup
The Memory Police 『密やかな結晶』karya Ogawa Yoko merupakan bentuk sindiran dan Fiksi Distopia kuat tentang bagaimana otoritarianisme pada dunia nyata walaupun di Jepang sendiri tidak menunjukkan otoritarianisme secara pengertian klasik, namun dalam rangka mengingatkan bagaimana ia bekerja melalui pengendalian masyarakat secara paksaan maupun ideologi. Lewat representasi Polisi Kenangan sebagai aparat yang memaksa, Ogawa menyampaikan kritik tajam terhadap rezim yang membungkam kebebasan berpikir dan hak individu untuk mengingat.

4. Daftar Pustaka
Authors, G. L. (2020). Yoko Ogawa (1962-) Biography. Dilansir dari Gale: https://www.gale.com/intl/databases-explored/literature/yoko-ogawa

Bodhi, M. (2025, Februari 20). What is Dystopian Fiction? Definition and Characteristics. Dilansir dari studiobinder: https://www.studiobinder.com/blog/what-is-dystopian-fiction- definition-characteristics/

Fadloli, F. R. (2023). Sastra dan Kajian Poskolonial. From balaibahasakalteng.kemdikbud.go.id: https://balaibahasakalteng.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2024/01/Sastra-dan-Kajian-Poskolonial_Farhan-Rusli-Fadloli.pdf

goodreads. (2025). Yoko Ogawa. Dilansir darigoodreads: https://www.goodreads.com/author/show/42775.Y_ko_Ogawa

nippon.com. (2020, Maret 27). Writer Ogawa Yōko’s Stories of Memory and Loss. Dilansir dari nippon.com:  https://www.nippon.com/en/people/bg900133/writer-ogawa- yoko%E2%80%99s-stories-of-memory-and-loss.html

Yamaguchi, J. (2021, September 22). LDP dominance still cripples Japanese democracy. Dilansir dari EASTASIAFORUM: https://eastasiaforum.org/2021/09/22/ldp-dominance-still- cripples-japanese-democracy/

Oleh: Muhammad Fitrah Ramadhani
Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Andalas

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.