JurnalPost.com – Dalam dunia pendidikan tentu kita sudah tidak asing lagi dengan kata kurikulum. kurikulum menurut wikipedia adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.
Sebagai warga negara indonesia yang menjunjung tinggi nilai /adat ketimuran tentu sedari kecil kita di ajarkan bertatakrama atau cara berbudi pekerti yang baik, namun lambat laun mulai luntur hal ini dikarenakan saat kita sudah mulai memasuki dunia sekolah maka tanggung jawab bukan hanya di orang tuakita saja tetapi juga di sekolah , saat kita sudah memasuki dunia sekolah waktu kita lebih banyak dihabiskan disekolah oleh karena itu ada istilah sebutan orang tua ke-dua bagi guru-guru , lalu apa yang akan terjadi jika budi pekerti yang lambat laun mulai luntur ? kita bisa melihat berita akhir-akhir ini di bengkulu ada kasus siswa yang mengetapel mata gurunya hingga buta, hal ini membuktikan adanya kesenjangan hubungan antara guru dan murid dan juga membuktikan penanaman atau pembentukan nilai budi pekerti yang selama ini di ajarkan tidak membuahkan hasil.
Menurut Rahmawati dalam jurnalnya Ada tiga asumsi yang menyebabkan gagalnya pendidikan budi pekerti ke dalam sikap dan perilaku siswa. Pertama,adanya anggapan bahwa persoalan pendidikan budi pekerti adalah persoalan klasik yang penanganannya adalah sudah menjadi tanggung jawab guru agama dan guru PPKn. Kedua, rendahnya pengetahuan dan kemampuan guru dalam mengembangkan dan mengintergrasikan aspek-aspek pendidikan budi pekerti ke dalam setiap mata pelajaran yang di ajarkan. Ketiga,proses pembuatan mata pelajaran yang berorientasi pada akhlak dan moralitas serta pendidikan agama cenderung bersifat transfer of knowledge dan kurang diberikan dalam bentuk latihan-latihan pengalaman untuk menjadi corak kehidupan sehari-hari. Menurut Paul Suparno, dkk ada beberapa metode yang dapat ditawarkan atau di gunakan untuk pendidikan budi pekerti ini, antara lain sebagai berikut:
Metode demokratis
Metode Demokratis menekankan pencarian secara bebas dan penghayatan nilai-nilai hidup dengan langsung melibatkan anak untuk menemukan nilai-nilai tersebut dalam pendampingan dan pengarahan guru
Metode pencarian bersama
Metode ini menekankan pada pencarian bersama yang melibatkan siswa dan guru, Pencarian bersama lebih berorientasi pada diskusi atas soal-soal yang aktual dalam masyarakat.
Metode siswa aktif
Guru memberikan pokok bahasan dan anak dalam kelompok mencari dan mengembangkan proses selanjutnya, anak membuat pengamatan, pembahasan analisis sampai pada proses penyimpulan atas kegiatan mereka
Metode keteladanan
Gunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mental dan meiliki akhlak yang baik dan benar.
sumber:
Yetri, Rijal Firdaos, “Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Di Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung”At-Tadzkiyyah Jurnal Pendidikan Islam,Vol, 8, Edisi II, (2007), h. 268
Paul Suparno, dkk. Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Suatu Tinjauan Umum. (Yogyakarta:Kanisius, 202). h.45
Supandi hery.2023. Ortu murid yang ketapel guru jadi tersangka. Detik news. https://news.detik.com/berita/d-6861956/ortu-murid-yang-katapel-mata-guru-di-bengkulu-jadi-tersangka
Rahmawati. 2023. NILAI –NILAI BUDI PEKERTI PERSPEKTIF KI HADJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA TERHADAP KURIKULUM MERDEKA. UIN RADEN INTAN LAMPUNG. http://repository.radenintan.ac.id/30328/
Nadea diva
Universitas negeri Surabaya



