
Betria putri syarita
Magister of Physics Education, Department of Physics, Faculty of Mathematics and Sciences, Uninersitas Negeri Padang
Pembukaan
Lingkungan dapat dijadikan sebagai tonggak untuk mencapai kehidupan yang baik. Lingkungan memiliki banyak definisi, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menjelaskan bahwa lingkungan hidup adalah semua hal yang berkaitan dengan makhluk hidup dan benda mati, manusia dan sikapnya terhadap alam, serta kesejahteraan manusia terhadap manusia lain. Pendidikan lingkungan dapat dijadikan sebagai salah satu solusi untuk mengintegrasikan lingkungan ke dalam kurikulum sebagai mata pelajaran, segala hal yang berhubungan dengan lingkungan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik, sikap peduli peserta didik dan keterampilan peserta didik (Tim MKU PLH, 2014). Pendidikan berwawasan lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam berbagai lembaga pendidikan baik jenjang pendidikan SD,SMP maupun SMA.
Pendidikan lingkungan hidup dapat dijadikan sebagai kunci kesuksesan seorang guru dalam mengelola lingkungan sekitar untuk mengasilkan sarana dan prasarana sehingga timbul keinginan peserta didik1 untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Pendidikan lingkungan hidup didefinisikan sebagai suatu proses untuk meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekitar sehingga aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik dapat memecahkan masalah-masalah yang diosebabkan oleh lingkungan (Daryanto, 2013).
Latar belakang
Sekolah dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengintegrasikan pendidikan lingkungan di dalam kelas. Pendidikan lingkungan sangat mempengaruhi sikap peserta didik dalam proses pembelajaran. Untuk mewujudkan hal tersebut, guru dituntut agar memiliki keterammpilan mengajar (Desnita, 2017). Manusia membutuhkan pendidikan agar agar menjadi individu yang cerdas, berakhlak baik, mandiri serta berguna bagi masyarakat dan bangsa. Sesuai dengan UU Nomor 20 tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembnagkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, ktreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter dapat menghasilkan pendidikan yang berwawasan lingkungan.
Pendidikan lingkungan hidup bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada peserta didik supaya peduli terhadap lingkungan, memanfaatkan apa yang ada dilingkungan dengan semaksimal mungkin, serta menumbuhkan karakter dan sikap kepada peserta didik supaya peduli terhadap lingkingan, memanfaatkan apa yang ada dilingkungan dengan semaksimal mungkin, serta menumbuhkan karakter dan sikap yang baik terhadap lingkungan hidup (Daryanto, 2013). Pendidikan lingkungan hidup diberikan kepada peserta didik mulai dari usia dini agar peserta didik mendapat ilmu dan pengalaman langsung tentang lingkungan hidup yang dapat membentuk sikap peduli terhadap lingkungan-lingkungan (Surahkusuma, 2009). Sekolah dapat dijadikan sebagai wadah untuk mengenalkan peserta didik terhadap lingkungan sehingga sikap peduli peserta didik semakin meningkat terhadap lingkungan dan peserta didik memiliki kesadaran untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan sekitarnya sehingga terwujudnya lingkungan yang ersih dan kehidupan yang seimbang (Wahyuningtyas, 2013).
Temuan Lapangan (Data Survey)
Penelitian juga menggunakan metode survei. Survei dapat dilakukan dapat untuk berbagai penelitian yang bertujuan deskriptif, eksplanatif, dan eksploratif (Morrison, 2015)Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan konteks lokal dan lingkungan dalam pembelajaran mampu meningkatkan keterlibatan siswa (Ahmed et al., 2025). Siswa menjadi lebih aktif, kritis, dan memiliki kesadaran lingkungan yang lebih baik. Guru menyatakan bahwa mereka tertarik mengintegrasikan kearifan lokal, tetapi terkendala oleh kurangnya sumber belajar dan panduan praktis (Nawawi et al., 2025). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya terdapat kebutuhan sekaligus peluang untuk mengembangkan pembelajaran fisika yang lebih kontekstual, berbasis lingkungan, dan memanfaatkan kearifan lokal.
Sintesis Kajian Literatur
Pendidikan lingkungan hidup didefinisikan sebagai suatu proses untuk meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekitar sehingga aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik dapat memecahkan masalah-masalah yang diosebabkan oleh lingkungan (Daryanto, 2013).
Sekolah dapat dijadikan sebagai wadah untuk mengenalkan peserta didik terhadap lingkungan sehingga sikap peduli peserta didik semakin meningkat terhadap lingkungan dan peserta didik memiliki kesadaran untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan sekitarnya sehingga terwujudnya lingkungan yang ersih dan kehidupan yang seimbang (Wahyuningtyas, 2013).
beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan dan kearifan lokal dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah (Arfida et al., 2024). Siswa terdorong untuk mengamati, menganalisis, dan mengaitkan konsep fisika dengan permasalahan nyata di lingkungannya. Hal ini juga berkontribusi pada terbentuknya sikap peduli lingkungan yang lebih kuat.
Jika dikaitkan dengan temuan sebelumnya, Suastra et al. (2017)semakin memperkuat bahwa pembelajaran fisika berbasis lingkungan dan kearifan lokal bukan hanya relevan, tetapi juga strategis dalam menjawab tantangan pembelajaran modern. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga membentuk karakter siswa yang lebih peduli terhadap lingkungan dan mampu berpikir secara kritis terhadap permasalahan di sekitarnya.
Berdasarkan refleksi diatas di harapkan melalui mata pelajaran di sekolah guru mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup kedalam pembelajaran, dikarena tujuan pendidikan lingkungan hidupa dapat memberikan kesadaran, pengetahuan, sikap dan partisipasi terhadap peserta didik akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan.
Analisis Peluang dan Tantangan
Integrasi kearifan lokal dalam bahan ajar fisika diharapkan dapat memudahkan peserta idik dalam memahami konsep-konsep pelajaran fisika. Selain itu juga menekankan bahwa untuk mengintegrasikan kearifan lokal dan meningkatkan pemahaman serta penerimaan peserta didik terhadap pembelajaan fisika. Pemahaman konsep peserta didik diharapkan dapat meningkatkan melalui bahan ajar berbasis pemahaman lokal.
Namun, di balik peluang tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah keterbatasan kompetensi guru dalam mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal. Tidak semua guru memiliki pengalaman atau referensi yang cukup untuk mengaitkan konsep fisika dengan konteks lokal secara tepat. Dengan demikian, meskipun peluangnya besar, diperlukan dukungan yang sistematis, baik dari guru, sekolah, maupun kebijakan pendidikan, agar integrasi pembelajaran fisika berbasis lingkungan dan kearifan lokal dapat diimplementasikan secara optimal.
Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan seperti, survei, praktek lapangan. Kegiatam pembelajaran yang disebut out-bout, yang pada dasarnya merupakam proses pembelajaran dengan alam.
Penutup
Karakter peduli lingkungan tumbuh dalam diri peserta didik dengan mengintegrasikan nilai-nilai peduli lingkungan dalam pembelajaran fisika serta terintegrasi dengan nilai-nilai kearifan lokal setempat. Melalui kegiatan ini, peserta didik menjadi bertambah pengetahuannya terkait cara menjaga lingkungan dan lebih cinta, peduli terhadap lingkungan. Oleh karena itu peserta didik sangat positif diantaranya saling tolong menolong dan kerja sama yang baik.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Literasi Lingkungan Dalam Pembelajaran Fisika yakni ibu Prof. Dr. Desnita, M.Si. dan Bapak Dr. Fuja Novitra, S.Pd., M.Pd. yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan artikel ilmiah populer ini.
Biodata Penulis
Nama: Betria Putri Syarita
Instansi: Magister of Physics Education, Department of Physics, Faculty of Mathematics and Sciences, Uninersitas Negeri Padang
Email: [email protected]
Referensi
Daryanto, Agung Suprihatin. (2013). Konsep Pengantar Pendidikan Lingkungan Hidup.Yogyakarta: Gava Media.
Desnita., Susanti, D. (2017). Science Process Skills-Based Integrated Instructional Materials to Improve Student Competence Physics Education Prepares Learning Plans on Teaching Skills Lectures. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Fisika (JPPPF). Vol. 3 No. 1, Hal. 35-42.
Surakusumah, Wahyu. 2009. Konsep Pendidikan Lingkungan di Sekolah: Model Uji Coba Sekolah Berwawasan Lingkungan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Tim MKU PLH. 2014. Pendidikan Lingkungan Hidup. Semarang: PUSBANG MKU/MKDK Universitas Negeri Semarang.
Sukmarani, Dhuta, dkk. (2017). Integrasi Pendidikan Berbasis Lingkungan Melalui Mata Pelajaran IPA Sebagai Upaya Menanamkan Kesdaran Lingkungan Siswa Sekolah Dasar. E D U K A S I Jurnal Penelitian & Artikel Pendidikan. Vol. 9, No. 1, , Hal. 1-6.
Wahyunintyas, D., Harsastro, P., & Supratiwi. (2013). Evaluasi Program Adiwiyata di SMAN 11 Semarang. Jurnal Ilmu Pemerintahan.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Akpan, I. Et Al. (2003). Strategies For Promoting Pro Environmental Behaviour Among University Of Waterloo Students. Skripsi. Universitas Waterloo Aksan, Hermawan. (2014). Seri Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Bandung: Nuansa Cendekia. Asrizal, A. Amran, A. Ananda, F. Festiyed, R. Sumarmin. (2018). The Development Of Integrated
Rifki, Ahmad Wildan.(2017). Hubungan Kegiatan Ekstrakurikuler Pecinta Alam Dengan Sikap Peduli Lingkungan Siswa di SMK Negeri 2 Bojonegoro. Kajian Moral dan Kewarganegaraan. Vol. 5, No. 1, Hal. 426 – 440. Science Instructional Materials To Improve Students’ Digital Literacy In Scientific Approach. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia. Vol.7, No.4, Hal. 442-450.