Alya Nazwa Wabikhurun’in, Alfi Kamalia Wahyu, Aisyah Galuh Herlina , Dziyaau Qorri Alfaaizati
Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Universitas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya
Abstrak
Kemampuan sosial merupakan salah satu aspek perkembangan krusial pada anak usia dini menjadi fondasi interaksi mereka di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan menganalisis strategi menciptaan lingkungan bermain dan belajar dalam mendukung kemampuan sosial anak di TK Bina Nurani Surabaya. Menggunakan peridekatan kualitatif deskriptif, datadikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru dan kepala sekolah, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TK Bina Nurani Surabaya menerapkan integrasi lingkungan fisik (penataan sentra bermain kelompok) dan lingkungan non-fisik (penerapan aturan sosial, pembiasaan berbagi, dan resolusi konflik terbimbing). Melalui modifikasi lingkungan belajar yang kolaboratif, anak menunjukkan peningkatan signifikan dalam aspek kerja sama, empati, dan kemampuan komunikasi interpersonal. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya konsistensi stimulasi lingkungan dan keterlibatan orang tua dalam menyelaraskan lingkungan sosial anak do rumah.
Kata Kunci: Lingkungan Bermain, Belajar, Kemampuan Sosial, Anak Usia Dini
Abstract
Social skills are a key part of early childhood development and form the foundation for how children will interact with others in the future. This study aims to describe and analyze the strategies for creating a play and learning environment that support children’s social skills at TK Bina Nurani Surabaya. Using a descriptive qualitative approach, data was collected through participatory observation, in-depth interviews with teachers and school principals, and documentation. The research results show that TK Bina Nurani Surabaya applies both physical environment integration (arranging group play centers) and non-physical environment integration (implementing social rules, practicing sharing, and guided conflict resolution). By changing the learning environment to be more collaborative, children show a big improvement in teamwork, empathy, and their ability to communicate with others. This study suggests the importance of consistent environmental stimulation and parental involvement in aligning the child’s social environment at home.
Keywords: Play Environment, Learning, Social Skills, Early Childhood.
PENDAHULUAN
Masa usia dini (golden age) merupakan periode kritis di mana seluruh aspek perkembangan anak, termasuk aspek sosial-emosional, berkembang dengan sangat pesat. Pada masa ini, anak mulai memperluas lingkungan sosialnya dari yang awalnya hanya berpusat pada keluarga (mikrosistem) menuju lingkungan sekolah (mesosistem). Kemampuan sosial seperti berbagi, bekerja sama, mengantre, dan berempati tidak terjadi secara instan, melainkan memerlukan stimulasi yang terencana.
Sekolah, khususnya taman kanak-kanak (TK), memegang peran sentral dalam memfasilitasi perkembangan ini melalui penyediaan lingkungan bermain dan belajar. Bermain bagi anak usia dini bukan sekedar aktifitas rekreatif, melainkan sarana utama mereka dalam mengeksplorasi peran sosial dan memahami aturan kelompok.
Namun, fenomena dilapangan sering kali menunjukkan bahwa lingkungan belajar di TK masih cenderung berfokus pada kemampuan kognitif-akademik (seperti calistung) dan kurang memperhatikan penataan ruang serta iklim kelas yang mendukung interaksi sosial yang sehat. Berdasarkan pengamatan awal di TK Bina Nurani Surabaya, terdapat keberagaman latar belakang sosial anak yang memicu dinamika perilaku, seperti egosentrisme yang tinggi, kesulitan berbagi alat permainan, hingga kecenderungan menarik diri dari kelompok. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana TK Bina Nurani Surabaya menciptakan lingkungan bermain dan belajar yang mampu mengoptimalkan kemampuan sosial anak usia dini.
METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk mendapatkan gambaran riil mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian dilaksanakan di TK Bina Nurani Surabaya pada semester genap tahun ajaran 2025/2026.
Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, 3 orang guru kelas, dan anak didik kelompok B yang berjumlah 20 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui:
- Observasi: Mengamati interaksi sosial anak selama jam belajar di dalam kelas maupun jam bermain bebas di luar kelas.
- Wawancara: Melakukan tanya jawab mendalam dengan guru dan kepala sekolah terkait perencanaan, hambatan, dan evaluasi penataan lingkungan belajar.
- Dokumentasi: Mengumpulkan foto penataan ruang kelas, RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian), dan catatan anekdot perkembangan sosial anak.
Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahapan: reduksi data, penyajian data (display data), dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Strategi Penataan Lingkungan Fisik (Indoor dan Outdoor)
TK Bina Nurani Surabaya menerapkan konsep lingkungan yang “mengundang interaksi”. Guru memodifikasi ruang kelas dari model klasikal berderet menjadi model kelompok/sentra. Di dalam ruang kelas (indoor), meja dan kursi diatur secara melingkar atau berhadapan untuk mendorong komunikasi antar anak. Penyediaan media pembelajaran seperti balok besar, papan pasak, dan mainan peran sengaja diletakkan dalam satu wadah besar (shared resources), sehingga anak terstimulasi untuk saling meminta izin dan bergantian menggunakannya.
Sementara itu, pada area luar (outdoor), lingkungan dilengkapi dengan sarana permainan yang membutuhkan kerja sama tim, seperti jungkat-jungkit, ayunan ganda, dan area pasir bersama. Lingkungan ini dirancang untuk mereduksi perilaku individualistis dan memicu anak melakukan permainan asosiatif dan kooperatif.
Pengkondisian Lingkungan Non-Fisik (Psikososial)
Selain fisik, iklim psikologis kelas yang diciptakan oleh guru terbukti efektif membentuk kemampuan sosial anak. Guru di TK Bina Nurani Surabaya bertindak sebagai fasilitator dan mediator, bukan otoritas tunggal. Beberapa program pembiasaan yang diterapkan antara lain:
- Penyusunan Aturan Bersama: Di awal semester, guru mengajak anak menyepakati aturan kelas (misal: merapikan mainan bersama, berbicara dengan suara lembut). Hal ini melatih tanggung jawab sosial anak.
- Metode Circle Time: Setiap pagi sebelum belajar, anak-anak duduk melingkar untuk menceritakan perasaan atau pengalaman mereka. Kegiatan ini efektif melatih kemampuan mendengarkan orang lain dan menumbuhkan empati.
- Resolusi Konflik Terbimbing: Saat terjadi perebutan mainan, guru tidak langsung menghukum, melainkan membimbing anak untuk mengomunikasikan perasaan mereka (“Aku tidak suka kalau mainanku direbut, tolong gantian ya”).
Dampak Terhadap Kemampuan Sosial Anak
Melalui integrasi lingkungan fisik dan non-fisik yang suportif, perkembangan sosial anak kelompok B di TK Bina Nurani Surabaya menunjukkan perubahan positif yang signifikan. Berdasarkan catatan anekdot dan lembar observasi, didapatkan data perkembangan sebagai berikut:
Tabel 1. Peningkatan Aspek Sosial Anak Usia Dini
| No | Aspek Kemampuan Sosial | Sebelum Stimulasi Lingkungan | Setelah Stimulasi Lingkungan |
| 1 | Kerja Sama (Teamwork) | 40% (Mulai Berkembang) | 85% (Berkembang Sangat Baik) |
| 2 | Perilaku Prososial | 35%(Mulai Berkembang) | 80%(Berkembang Sangat Baik) |
| 3 | Pengendalian Diri | 50%(Mulai Berkembang) | 90%(Berkembang Sangat Baik) |
Anak terbukti mampu menyelesaikan tugas kelompok (seperti menyusun menara balok) dengan pembagian tugas yang adil tanpa banyak pertengkaran. Muncul kesadaran spontan untuk meminjamkan krayon kepada teman yang membutuhkan tanpa perlu perintah dari guru, serta menunjukkan kemampuan mengantre yang lebih baik saat mencuci tangan atau menunggu giliran bermain.
SIMPULAN
Menciptakan lingkungan bermain dan belajar yang mendukung kemampuan sosial anak usia dini di TK Bina Nurani Surabaya dilakukan melalui dua jalur utama: penataan lingkungan fisik yang kolaboratif dan pengelolaan lingkungan psikososial yang humanis. Modifikasi ruang kelas menjadi ruang sentra/kelompok terbukti mereduksi egoisme anak dan meningkatkan frekuensi komunikasi interpersonal. Sementara itu, bimbingan emosi dari guru membantu anak menginternalisasi nilai-nilai sosial secara sukarela. Keberhasilan ini menegaskan bahwa lingkungan belajar bukan sekadar tempat anak diam dan mendengarkan, melainkan sebuah “kurikulum tersembunyi” yang secara aktif membentuk karakter dan kecerdasan sosial anak.
Referensi :
Aini, N., & Mutmainah, M. (2022). Manajemen penataan lingkungan belajar indoor dan outdoor dalam meningkatkan kecerdasan sosial anak usia dini. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(4), 3125–3136. https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i4.2144
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press.
Fadlillah, M. (2014). Desain pembelajaran PAUD: Memahami konsep, prinsip, dan aplikasi pembelajaran pada anak usia dini. Ar-Ruzz Media.
Hadi, M., Hadady, H., & Arilaha, M. A. (2024). Pengaruh literasi keuangan dan akses pembiayaan terhadap kinerja keuangan UMKM di Kota Ternate: Peran digitalisasi keuangan sebagai moderator. Jurnal Mirai Management, 9(1), 33–42. https://doi.org/10.37531/mirai.v9i1.6543
Kurniawati, E., & Wahyuni, S. (2023). Manajemen sarana prasarana dalam menciptakan lingkungan ramah anak di taman kanak-kanak kota Surabaya. Jurnal Manajemen Pendidikan, 11(2), 145–154.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Nurlaili, N. (2019). Pengaruh lingkungan bermain terhadap interaksi sosial anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha, 7(2), 112–121. https://doi.org/10.23887/paud.v7i2.21980
Pratama, A. R., & Lestari, P. (2025). Strategi kepala sekolah dalam mengelola iklim psikososial kelas untuk menumbuhkan empati peserta didik. Jurnal Mirai Management, 10(2), 201–214. https://doi.org/10.37531/mirai.v10i2.7712
Sujiono, Y. N. (2013). Konsep dasar pendidikan anak usia dini. PT Indeks.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.