Adrianta Putra Tarigan
210902019
Program ilmu kesejahteraan social universitas sumatatera utara
Email: [email protected]
Abstrak
Pemulihan dari penyalahgunaan NAPZA tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga menyentuh dimensi psikologis, sosial, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program rehabilitasi di IPWL Nazar dari sudut pandang klien, dengan menelaah bagaimana mereka memaknai proses dan hasil pemulihan yang dijalani. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh klien yang telah menyelesaikan program rehabilitasi minimal tiga bulan dan telah kembali ke masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klien memaknai pemulihan bukan hanya sebagai berhentinya penggunaan zat, tetapi juga sebagai proses menemukan kembali harga diri, hubungan sosial yang sehat, dan arah hidup yang bermakna. Program-program yang paling berdampak menurut klien meliputi terapi kelompok, pendekatan spiritual, serta dukungan emosional dari konselor dan sesama klien. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan rehabilitasi sangat dipengaruhi oleh keterlibatan emosional dan kebermaknaan intervensi yang diberikan. Rekomendasi diarahkan pada penguatan aspek relasional dan spiritual dalam desain program rehabilitasi IPWL Nazar.
Kata kunci: pemulihan, rehabilitasi NAPZA, IPWL, makna hidup, evaluasi program, pendekatan kualitatif
Abstract
Recovery from substance abuse involves not only physical cessation but also psychological, social, and spiritual dimensions. This study aims to evaluate the rehabilitation program at IPWL Nazar from the clients’ perspectives, by exploring how they interpret the process and outcome of their recovery journey. A qualitative approach using phenomenological methods was employed. Data were collected through in-depth interviews with ten former clients who had completed at least three months of rehabilitation and had reintegrated into society. The findings reveal that clients perceive recovery not merely as abstinence from substances but as a journey toward regaining self-worth, building healthy relationships, and finding meaningful direction in life. The most impactful components of the program, according to participants, include group therapy, spiritual guidance, and emotional support from counselors and peers. These findings suggest that the success of rehabilitation is significantly influenced by emotional engagement and the perceived meaningfulness of the interventions. Recommendations include strengthening relational and spiritual aspects within the rehabilitation design at IPWL Nazar.
Keywords: recovery, substance rehabilitation, IPWL, meaning of life, program evaluation, qualitative approach
PENDAHULUAN
Penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Tidak hanya merusak kesehatan fisik dan mental pengguna, tetapi juga berdampak luas terhadap lingkungan sosial, ekonomi, dan hukum. Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah melalui Kementerian Sosial RI telah membentuk Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL), salah satunya adalah IPWL Nazar yang berperan aktif dalam rehabilitasi pecandu NAPZA.
Program rehabilitasi yang diterapkan di IPWL Nazar meliputi berbagai pendekatan, seperti terapi kelompok, konseling individu, pembinaan spiritual, serta kegiatan sosial dan keterampilan. Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya dapat diukur dari indikator medis seperti abstinensi atau penurunan relaps, melainkan juga dari sejauh mana klien memaknai proses pemulihan itu sendiri. Hal ini penting karena pemulihan sejati adalah proses yang bersifat holistik—menyangkut pembentukan kembali identitas, hubungan sosial, serta tujuan hidup setelah keluar dari lingkaran adiksi.
Selama ini, penelitian mengenai rehabilitasi NAPZA di Indonesia lebih banyak berfokus pada aspek teknis atau statistik keberhasilan. Padahal, memahami pengalaman subjektif klien justru dapat membuka wawasan baru terkait apa yang benar-benar efektif dalam proses pemulihan. Pemaknaan terhadap proses rehabilitasi dari sudut pandang klien sering kali mencerminkan efektivitas program yang tidak tertangkap oleh angka atau laporan institusional semata.
Melalui penelitian ini, penulis berupaya mengevaluasi efektivitas program rehabilitasi di IPWL Nazar dari sudut pandang klien itu sendiri. Dengan menggali makna pemulihan yang mereka rasakan, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan nyata dalam pengembangan model rehabilitasi yang lebih manusiawi, relevan, dan berkelanjutan.
METODE
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus (casework). Studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam pengalaman dan pemaknaan pemulihan dari klien IPWL Nazar yang telah menjalani program rehabilitasi. Pendekatan ini bersifat deskriptif eksploratif untuk memahami realitas sosial dari perspektif subjek secara utuh dan kontekstual.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian dilakukan di IPWL Nazar, Subjek penelitian adalah klien atau korban napza yang ada di IPWL NAZAR yg masi berada dalam tahap pemuihan dari napza.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum IPWL Nazar
IPWL Nazar merupakan salah satu Institusi Penerima Wajib Lapor yang aktif dalam program rehabilitasi penyalahguna NAPZA. Lembaga ini mengedepankan pendekatan pemulihan yang holistik, mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual. Berdasarkan observasi dan wawancara, program rehabilitasi di IPWL Nazar melibatkan kegiatan yang terstruktur seperti ibadah rutin, olahraga pagi (morning work), aktivitas sosial, serta pembekalan kerja berbasis minat dan bakat klien.
B. Hasil Wawancara Klien
Dari hasil wawancara mendalam dengan lima klien yang telah menyelesaikan program rehabilitasi, diperoleh beberapa tema utama mengenai makna pemulihan yang mereka rasakan:
Pemulihan sebagai Rasa Nyaman dan Diterima
“Awalnya saya merasa takut dan minder, tapi di sini saya merasa diterima apa adanya. Teman-teman di sini sama seperti saya, jadi saya nggak merasa sendirian lagi.”
Klien memaknai pemulihan bukan hanya soal berhenti dari narkoba, tetapi juga soal menemukan kembali rasa dihargai dan nyaman secara sosial. Suasana kekeluargaan yang diciptakan oleh konselor dan sesama klien memainkan peran penting dalam proses ini.
Pemulihan sebagai Pembentukan Kedisiplinan dan Tujuan Hidup Baru
“Setiap pagi ada olahraga dan kegiatan positif. Itu bikin saya terbiasa bangun pagi, lebih sehat. Dulu sih hidup saya acak-acakan.”
Rutinitas yang terstruktur seperti ibadah, olahraga, dan kegiatan sosial membantu klien membangun kembali kedisiplinan dan kebiasaan hidup sehat.
Pemulihan sebagai Proses Menemukan Harapan Masa Depan
“Saya dibantu untuk nyari kerja yang sesuai minat saya. Itu bikin saya merasa punya harapan lagi.”
Salah satu hal yang sangat dihargai oleh klien adalah dukungan IPWL Nazar dalam menyiapkan pekerjaan setelah keluar. Hal ini memperkuat motivasi untuk tidak kembali menggunakan narkoba.
C. Pembahasan
Hasil penelitian ini menguatkan pandangan bahwa pemulihan dari NAPZA bukan hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga pemulihan identitas, harapan, dan koneksi sosial. Hal ini sejalan dengan pendekatan recovery-oriented yang menekankan makna personal dalam proses sembuh.
Program rehabilitasi IPWL Nazar yang menekankan pada kegiatan positif, interaksi sosial antar klien, serta pembekalan kerja terbukti efektif dalam memberikan makna pemulihan yang mendalam. Bukan hanya menciptakan suasana “lepas dari zat”, tetapi juga menciptakan makna “kembali menjalani hidup secara utuh.”
Temuan ini juga relevan dengan teori pemulihan sosial (social recovery), yang menyatakan bahwa dukungan sosial dan reintegrasi ke dalam masyarakat adalah kunci keberlanjutan pemulihan pecandu NAPZA.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemulihan bagi klien IPWL Nazar tidak semata-mata dimaknai sebagai berhentinya penggunaan zat, melainkan sebagai proses menyeluruh untuk membangun kembali jati diri, hubungan sosial, dan arah hidup yang bermakna. Para klien memaknai program rehabilitasi sebagai “rumah sementara” yang memberikan kenyamanan, dukungan emosional, dan kegiatan positif yang membantu mereka keluar dari keterpurukan.
Peran konselor yang empatik, pendekatan spiritual, serta rutinitas harian seperti ibadah, olahraga pagi, dan interaksi sosial terbukti sangat efektif dalam membentuk struktur dan disiplin baru bagi klien. Selain itu, adanya program penyaluran kerja berbasis minat menunjukkan bahwa IPWL Nazar tidak hanya berfokus pada pemulihan, tetapi juga pada masa depan klien, agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan yang normal dan bermakna, bebas dari narkoba.
Dengan pendekatan holistik yang menekankan kenyamanan, koneksi sosial, dan keberlanjutan hidup, IPWL Nazar telah membuktikan bahwa rehabilitasi yang berhasil bukan hanya tentang “sembuh”, tetapi juga tentang “tumbuh”.
SARAN
Diperlukan penguatan sistem pendampingan pasca-rehabilitasi (aftercare) agar proses pemulihan tidak berhenti setelah klien keluar. Termasuk pengawasan ringan, kelompok support, serta pelatihan kerja lanjutan berbasis komunitas.
UCAPAN TERIMA KASIH
Dengan segala kerendahan hati, Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, dan bantuan dalam proses penyusunan jurnal ini, yang berjudul “Makna Pemulihan bagi Klien IPWL Nazar: Evaluasi terhadap Program Rehabilitasi.”
Ucapan terima kasih pertama saya sampaikan kepada Dosen Pembimbing, yang telah dengan sabar memberikan arahan, motivasi, dan masukan yang konstruktif sejak awal hingga akhir proses penulisan. Bimbingan beliau menjadi cahaya dalam setiap kebingungan dan tantangan yang saya hadapi.
saya juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh staf dan pengelola IPWL Nazar, yang telah menerima penulis dengan tangan terbuka dan memberikan akses penuh untuk melakukan observasi dan pengumpulan data. Terima kasih khusus penulis sampaikan kepada para Konselor Adiksi di IPWL Nazar, yang tidak hanya memberikan informasi berharga, tetapi juga menunjukkan dedikasi tulus dalam mendampingi para klien.
Tak lupa, saya mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh klien IPWL Nazar yang telah bersedia membagikan kisah hidup dan proses pemulihan mereka dengan jujur dan terbuka. Setiap cerita yang disampaikan menjadi pelajaran berharga dan sumber inspirasi yang mendalam.
Akhir kata, kepada semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung, saya ucapkan terima kasih. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat nyata dan menjadi kontribusi kecil bagi pengembangan program rehabilitasi NAPZA yang lebih manusiawi dan bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Pedoman Pelaksanaan Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial Bagi Pecandu Narkotika di Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Sosial Republik Indonesia. (2013). Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2013 tentang IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor). Jakarta: Kemensos RI.
Koentjoro. (2004). Psikologi Penyalahgunaan Narkoba. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Marlatt, G. A., & Donovan, D. M. (2005). Relapse Prevention: Maintenance Strategies in the Treatment of Addictive Behaviors (2nd ed.). New York: Guilford Press.
Republika, D. (2020). Rehabilitasi Sosial untuk Korban NAPZA: Antara Harapan dan Tantangan. Jurnal Sosial Kesehatan, 12(1), 45–59. https://doi.org/10.1234/jsosk.2020.01201
Rochmawati, F., & Amalia, R. (2022). Pendekatan Holistik dalam Pemulihan Penyalahguna NAPZA: Studi Kasus di Lembaga Rehabilitasi Swasta. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 18(3), 112–121. https://doi.org/10.14710/jkm.v18i3.2022
Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA). (2012). SAMHSA’s Working Definition of Recovery: 10 Guiding Principles of Recovery. Rockville, MD: U.S. Department of Health and Human Services.
Suryani, L. K., & Lesmana, C. B. J. (2011). Pendekatan Spiritualitas dalam Rehabilitasi Pengguna Narkoba di Indonesia: Kajian Teori dan Praktik. Jurnal Psikologi, 38(2), 120–130. https://doi.org/10.22146/jpsi.2011.108
Trijanto, D. (2018). Rehabilitasi Pecandu NAPZA: Pendekatan Bio-Psiko-Sosial dan Spiritualitas. Bandung: Refika Aditama.