Oleh: Dinda Kayla Khoirunnisa, Rizky Aprianto, Risyad Hermawan, Muhammad Firmansyah
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
ABSTRAK
Perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku konsumsi masyarakat, terutama pada Generasi Z yang aktif menggunakan e-commerce dan media sosial. Salah satu fenomena yang muncul dalam perilaku konsumen digital adalah midnight shopping syndrome, yaitu kecenderungan melakukan aktivitas belanja online pada malam hari atau setelah pukul 00.00. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan konsumsi, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis, seperti stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat stres terhadap perilaku impulsive buying pada masyarakat muda Generasi Z yang melakukan aktivitas belanja online pada malam hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain cross sectional survey. Partisipan penelitian berjumlah 51 responden yang terdiri atas siswa, mahasiswa, dan pekerja Generasi Z di wilayah Jabodetabek dengan rentang usia 14–29 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk mengukur tingkat stres dan Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) untuk mengukur kecenderungan pembelian impulsif. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, dan uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulsive buying dengan nilai p < 0,001 dan R² sebesar 0,748. Artinya, tingkat stres mampu menjelaskan 74,8% variasi perilaku impulsive buying. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres individu, semakin tinggi pula kecenderungan melakukan pembelian impulsif saat berbelanja online pada malam hari.
Kata kunci: stres, impulsive buying, perilaku konsumen, Generasi Z, midnight shopping syndrome, e-commerce
ABSTRACT
The development of digital technology has transformed consumer behavior, particularly among Generation Z, who actively use e-commerce platforms and social media. One emerging phenomenon in digital consumer behavior is midnight shopping syndrome, which refers to the tendency to shop online late at night or after midnight. This phenomenon is not only related to consumption needs but may also be influenced by psychological conditions such as stress. This study aims to examine the effect of stress levels on impulsive buying behavior among young Generation Z consumers who engage in online shopping at night. This research employed a non-experimental quantitative approach with a cross-sectional survey design. The participants consisted of 51 respondents, including students, university students, and workers from Generation Z in the Greater Jakarta area, aged 14–29 years. The instruments used were the Perceived Stress Scale (PSS-10) to measure stress levels and the Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) to measure impulsive buying tendencies. Data were analyzed using descriptive statistics, the Kolmogorov-Smirnov normality test, and simple linear regression. The results showed that stress had a positive and significant effect on impulsive buying, with p < 0.001 and R² = 0.748. This indicates that stress levels explain 74.8% of the variation in impulsive buying behavior. The findings suggest that higher stress levels are associated with a greater tendency to engage in impulsive buying during late-night online shopping.
Keywords: stress, impulsive buying, consumer behavior, Generation Z, midnight shopping syndrome, e-commerce
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir telah membawa perubahan besar terhadap pola konsumsi masyarakat. Aktivitas belanja yang sebelumnya banyak dilakukan secara langsung di pusat perbelanjaan kini semakin bergeser ke platform digital, seperti e-commerce, marketplace, dan media sosial. Perubahan ini didukung oleh meningkatnya penggunaan smartphone, kemudahan akses internet, serta berkembangnya strategi promosi berbasis algoritma yang mampu menyesuaikan penawaran dengan minat konsumen.
Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi digital menunjukkan perkembangan yang pesat. Laporan Google, Temasek, dan Bain & Company (2023) menunjukkan bahwa sektor e-commerce menjadi salah satu kontributor utama dalam pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kemudahan akses terhadap produk dan layanan digital membuat konsumen dapat melakukan transaksi kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan pola konsumsi baru yang tidak selalu didasarkan pada pertimbangan rasional.
Salah satu fenomena yang muncul dalam perilaku konsumen digital adalah midnight shopping syndrome. Fenomena ini merujuk pada aktivitas belanja online yang dilakukan pada malam hari, khususnya setelah pukul 00.00. Aktivitas tersebut sering kali dipengaruhi oleh promosi khusus, diskon, flash sale, voucher, dan strategi pemasaran digital yang sengaja dihadirkan pada jam-jam tertentu. Selain faktor promosi, midnight shopping syndrome juga dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis konsumen, seperti kelelahan mental, tekanan pekerjaan, stres akademik, dan kebutuhan untuk mencari kenyamanan emosional.
Dalam perspektif psikologi konsumen, perilaku pembelian impulsif atau impulsive buying merupakan tindakan membeli yang dilakukan secara spontan, tanpa perencanaan sebelumnya, dan lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan emosional daripada pertimbangan rasional. Rook dalam Afandi dan Hartati (2017) menjelaskan bahwa pembelian impulsif terjadi karena adanya dorongan yang kuat, mendadak, dan sulit dikendalikan untuk membeli suatu produk. Dengan demikian, pembelian impulsif tidak semata-mata muncul karena kebutuhan terhadap barang, tetapi juga karena keinginan sesaat yang dipengaruhi oleh emosi.
Stres menjadi salah satu faktor psikologis yang diduga berperan dalam mendorong perilaku impulsive buying. Individu yang mengalami stres cenderung mencari cara cepat untuk mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan. Salah satu bentuk coping yang sering muncul dalam konteks digital adalah berbelanja online. Aktivitas belanja dapat memberikan kesenangan sementara, rasa lega, atau distraksi dari tekanan yang dialami. Namun, apabila dilakukan tanpa kontrol, perilaku ini dapat berkembang menjadi pola konsumsi yang impulsif.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami pengaruh tingkat stres terhadap perilaku impulsive buying pada masyarakat muda Generasi Z dalam konteks midnight shopping syndrome. Generasi Z dipilih karena kelompok ini tumbuh dalam lingkungan digital, akrab dengan teknologi, dan aktif menggunakan platform belanja online. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian psikologi konsumen, khususnya terkait hubungan antara kondisi psikologis dan perilaku konsumsi digital.
TINJAUAN PUSTAKA
Stres
Stres merupakan kondisi yang muncul ketika individu menghadapi tuntutan, tekanan, atau situasi tertentu yang dianggap mengganggu keseimbangan dirinya. Lumban Gaol (2016) menjelaskan bahwa stres dapat dipahami melalui tiga model utama, yaitu stres sebagai stimulus, stres sebagai respons, dan stres sebagai proses interaksi. Dalam model stimulus, stres dipandang sebagai tekanan yang berasal dari lingkungan. Dalam model respons, stres dipahami sebagai reaksi tubuh atau psikologis terhadap tekanan. Sementara itu, dalam model interaksional, stres dipandang sebagai hasil hubungan antara individu dan lingkungan.
Lazarus dan Folkman menjelaskan bahwa stres terjadi ketika individu menilai suatu situasi sebagai tuntutan yang melebihi kemampuan atau sumber daya yang dimilikinya. Penilaian terhadap situasi tersebut dikenal dengan primary appraisal dan secondary appraisal. Primary appraisal terjadi ketika individu menilai apakah suatu keadaan merupakan ancaman, tantangan, atau hal yang tidak relevan. Secondary appraisal terjadi ketika individu menilai kemampuan dan sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi situasi tersebut.
Dalam konteks kehidupan Generasi Z, stres dapat muncul dari berbagai sumber, seperti tuntutan akademik, pekerjaan, tekanan sosial, penggunaan media sosial, serta ekspektasi terhadap pencapaian diri. Ketika stres tidak dikelola secara sehat, individu dapat mencari pelampiasan emosional melalui aktivitas yang memberikan kepuasan cepat, termasuk belanja online.
Impulsive Buying
Impulsive buying merupakan perilaku pembelian yang terjadi secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. Rook dan Fisher dalam Lahay et al. (2025) menyatakan bahwa pembelian impulsif ditandai oleh keputusan membeli yang mendadak, minim pertimbangan, dan berlangsung segera. Perilaku ini biasanya melibatkan respons emosional yang kuat, seperti rasa senang, ketegangan, keinginan memiliki barang, serta menurunnya kontrol kognitif.
Pembelian impulsif berbeda dari pembelian terencana. Pada pembelian terencana, konsumen mempertimbangkan kebutuhan, harga, kualitas, dan manfaat produk sebelum melakukan transaksi. Sebaliknya, pada pembelian impulsif, keputusan cenderung dipengaruhi oleh dorongan sesaat. Faktor-faktor seperti diskon, promosi, tampilan produk, flash sale, rekomendasi influencer, dan kemudahan pembayaran dapat memperkuat dorongan tersebut.
Dalam lingkungan digital, impulsive buying semakin mudah terjadi karena konsumen dapat mengakses produk kapan saja. Platform e-commerce menawarkan pengalaman belanja yang cepat, praktis, dan menarik secara visual. Wells et al. (2011) menjelaskan bahwa pembelian impulsif secara online dipengaruhi oleh kecenderungan impulsif konsumen dan kualitas situs web. Tampilan platform yang menarik, mudah digunakan, serta memberikan pengalaman belanja yang menyenangkan dapat meningkatkan keinginan konsumen untuk membeli secara impulsif.
Perilaku Konsumen Digital
Perilaku konsumen merupakan proses yang melibatkan aktivitas memilih, membeli, menggunakan, dan mengevaluasi produk atau jasa. Dalam konteks digital, perilaku konsumen menjadi semakin kompleks karena dipengaruhi oleh teknologi, media sosial, algoritma promosi, ulasan pengguna, serta kemudahan transaksi. Bilro et al. (2023) menjelaskan bahwa perilaku konsumen modern tidak hanya melibatkan aspek kognitif, tetapi juga aspek emosional dan sosial.
Xiong (2022) menyatakan bahwa perkembangan internet dan perdagangan elektronik telah mengubah cara konsumen memperoleh informasi, membandingkan produk, serta mengambil keputusan pembelian. Dalam belanja online, konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan pribadi, tetapi juga oleh desain platform, promosi, ulasan, rekomendasi, dan kecenderungan mengikuti keputusan orang lain atau herd behavior.
Fenomena midnight shopping syndrome dapat dipahami sebagai bagian dari perubahan perilaku konsumen digital. Pada malam hari, individu sering berada dalam kondisi lelah, memiliki kontrol diri yang menurun, dan lebih rentan terhadap dorongan emosional. Ketika situasi tersebut bertemu dengan promosi e-commerce, konsumen berpotensi melakukan pembelian secara impulsif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental. Pendekatan ini digunakan karena peneliti tidak melakukan manipulasi terhadap variabel, melainkan mengamati hubungan antara variabel tingkat stres dan impulsive buying. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional survey, yaitu pengumpulan data dilakukan pada satu waktu tertentu.
Partisipan dalam penelitian ini adalah masyarakat muda Generasi Z yang terdiri atas siswa, mahasiswa, dan pekerja di wilayah Jabodetabek. Rentang usia partisipan adalah 14–29 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Jumlah responden yang diperoleh dalam penelitian ini sebanyak 51 orang.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua skala. Variabel stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh Hakim et al. (2024). Sementara itu, variabel impulsive buying diukur menggunakan Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS). Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, dan uji regresi linear sederhana. Analisis dilakukan untuk mengetahui pengaruh tingkat stres terhadap impulsive buying pada aktivitas belanja online malam hari.
HASIL PENELITIAN
Hasil Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan terhadap 51 responden untuk mengetahui gambaran tingkat stres dan kecenderungan impulsive buying. Pada variabel tingkat stres, diperoleh nilai rata-rata sebesar 23,27 dengan standar deviasi sebesar 4,084. Skor minimum yang diperoleh responden adalah 13, sedangkan skor maksimum adalah 31. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat stres responden berada pada kategori sedang dengan variasi skor yang relatif rendah.
Pada variabel impulsive buying, diperoleh nilai rata-rata sebesar 99,24 dengan standar deviasi sebesar 14,89. Skor minimum yang diperoleh responden adalah 65, sedangkan skor maksimum adalah 124. Nilai standar deviasi yang lebih besar menunjukkan bahwa kecenderungan pembelian impulsif pada responden memiliki variasi yang lebih beragam dibandingkan tingkat stres.
Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
| Keterangan | Tingkat Stres | Impulsive Buying |
|---|---|---|
| Valid | 51 | 51 |
| Missing | 0 | 0 |
| Mean | 23,27 | 99,24 |
| Standar Deviasi | 4,084 | 14,89 |
| Minimum | 13,00 | 65,00 |
| Maximum | 31,00 | 124,00 |
Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan menggunakan Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui apakah data pada kedua variabel berdistribusi normal. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa variabel tingkat stres memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,120 dengan p-value sebesar 0,455. Sementara itu, variabel impulsive buying memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,110 dengan p-value sebesar 0,561.
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas
| Keterangan | Tingkat Stres | Impulsive Buying |
|---|---|---|
| N | 51 | 51 |
| Kolmogorov-Smirnov | 0,120 | 0,110 |
| p-value | 0,455 | 0,561 |
Berdasarkan hasil tersebut, kedua variabel dinyatakan berdistribusi normal karena memiliki nilai p-value lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, asumsi normalitas terpenuhi dan analisis regresi linear sederhana dapat dilanjutkan.
Hasil Uji Regresi Linear Sederhana
Uji regresi linear sederhana dilakukan untuk mengetahui pengaruh tingkat stres terhadap impulsive buying. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat stres berpengaruh signifikan terhadap impulsive buying dengan nilai p < 0,001. Selain itu, nilai koefisien determinasi atau R² sebesar 0,748.
Tabel 3. Hasil Uji Regresi Linear Sederhana
| Variabel | R² | p-value |
|---|---|---|
| Tingkat Stres → Impulsive Buying | 0,748 | < 0,001 |
Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis alternatif diterima, yaitu terdapat pengaruh tingkat stres terhadap impulsive buying pada masyarakat muda Generasi Z yang berbelanja online pada malam hari. Nilai R² sebesar 0,748 menunjukkan bahwa tingkat stres mampu menjelaskan 74,8% variasi perilaku impulsive buying, sedangkan 25,2% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tingkat stres dan impulsive buying pada masyarakat muda Generasi Z yang melakukan aktivitas belanja online pada malam hari. Artinya, semakin tinggi tingkat stres yang dialami individu, semakin tinggi pula kecenderungan individu untuk melakukan pembelian impulsif. Sebaliknya, semakin rendah tingkat stres, semakin rendah pula kecenderungan pembelian impulsif.
Temuan ini dapat dijelaskan melalui perspektif psikologi konsumen. Individu yang mengalami stres cenderung mencari cara untuk mengurangi tekanan emosional yang dirasakan. Dalam konteks digital, belanja online dapat menjadi salah satu bentuk pelampiasan emosi karena memberikan rasa senang dan kepuasan secara cepat. Namun, kepuasan tersebut bersifat sementara dan dapat mendorong perilaku konsumtif apabila tidak dikendalikan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan konsep impulsive buying yang dikemukakan oleh Rook dan Fisher, bahwa pembelian impulsif lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan emosional daripada pertimbangan rasional. Ketika individu berada dalam kondisi stres, kemampuan untuk mengontrol dorongan membeli dapat menurun. Kondisi ini membuat individu lebih mudah terpengaruh oleh promosi, diskon, dan tampilan produk yang menarik.
Fenomena midnight shopping syndrome memperkuat kondisi tersebut. Pada malam hari, individu umumnya berada dalam kondisi lelah secara fisik maupun mental. Kelelahan ini dapat memengaruhi kemampuan berpikir rasional dan pengendalian diri. Ketika individu mengakses e-commerce pada malam hari, terutama saat terdapat promo atau flash sale, keputusan pembelian dapat terjadi secara spontan. Dalam hal ini, platform digital tidak hanya menjadi sarana transaksi, tetapi juga menjadi stimulus yang memperkuat dorongan membeli.
Selain stres, perilaku impulsive buying juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti sales promotion, hedonic shopping motivation, shopping lifestyle, brand image, influencer, Fear of Missing Out (FOMO), dan penggunaan paylater. Felita dan Oktivera (2019) menjelaskan bahwa promosi penjualan seperti diskon, voucher, dan program loyalitas dapat mendorong pembelian impulsif. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa motivasi hedonis, gaya hidup berbelanja, citra merek, dan pengaruh influencer turut berperan dalam membentuk perilaku pembelian impulsif.
Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa perilaku konsumen digital tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi atau kebutuhan produk, tetapi juga oleh kondisi psikologis individu. Pada Generasi Z, yang sangat dekat dengan teknologi digital, hubungan antara stres dan impulsive buying menjadi penting untuk diperhatikan. Kemudahan akses belanja online dapat menjadi peluang sekaligus risiko, terutama apabila digunakan sebagai cara untuk melampiaskan tekanan emosional.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap 51 responden, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tingkat stres dan impulsive buying pada masyarakat muda Generasi Z yang berbelanja online pada malam hari. Hasil uji regresi menunjukkan nilai p < 0,001 dan R² sebesar 0,748. Hal ini berarti tingkat stres mampu menjelaskan 74,8% variasi perilaku impulsive buying.
Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres yang dialami individu, semakin tinggi pula kecenderungan individu untuk melakukan pembelian impulsif dalam aktivitas midnight shopping. Perilaku tersebut dapat dipahami sebagai bentuk regulasi emosi jangka pendek, ketika individu menggunakan aktivitas belanja online untuk mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan.
KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, jumlah responden relatif terbatas, yaitu 51 orang, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas pada seluruh populasi Generasi Z di Indonesia. Kedua, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sehingga peluang generalisasi hasil penelitian masih terbatas. Ketiga, data diperoleh melalui self-report questionnaire, sehingga terdapat kemungkinan bias subjektivitas dalam jawaban responden. Keempat, desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, sehingga belum dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat secara menyeluruh. Selain itu, penelitian ini hanya berfokus pada stres sebagai variabel prediktor, sementara perilaku impulsive buying juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti FOMO, materialisme, kontrol diri, pengaruh media sosial, paylater, dan strategi promosi e-commerce.
SARAN
Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar dan melibatkan responden dari berbagai wilayah di Indonesia agar hasil penelitian lebih representatif. Selain itu, peneliti berikutnya dapat menggunakan teknik sampling yang lebih kuat serta mempertimbangkan variabel tambahan seperti FOMO, kontrol diri, materialisme, motivasi hedonis, penggunaan paylater, dan intensitas penggunaan media sosial.
Bagi konsumen, khususnya Generasi Z, penting untuk meningkatkan kesadaran dalam mengelola stres secara sehat agar tidak menjadikan aktivitas belanja online sebagai pelampiasan emosi. Konsumen juga perlu lebih bijak dalam mengambil keputusan pembelian, terutama ketika berbelanja pada malam hari dan menghadapi berbagai promosi digital. Bagi platform e-commerce, hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam menyusun strategi pemasaran yang tetap memperhatikan aspek etika dan kesejahteraan psikologis konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Adil, A., Liana, Y., Mayasari, R., Lamonge, A. S., Ristiyana, R., Saputri, F. R., Jayatmi, I., Satria, E. B., Permana, A. A., & Rohman, M. M. (2023). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif: Teori dan praktik. Get Press Indonesia.
Afandi, A. R., & Hartati, S. (2017). Pembelian impulsif pada remaja akhir ditinjau dari kontrol diri. Gadjah Mada Journal of Psychology, 3(3), 123–130.
Agustianti, R., Nussifera, L., Angelianawati, L., Meliana, I., Sidik, E. A., Nurlaila, Q., Simarmata, N., Himawan, I. S., Pawan, E., & Ikhram, F. (2022). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Tohar Media.
Batubara, M., Putri, M., & Hrp, M. R. A. (2024). Pengaruh penggunaan paylater terhadap perilaku impulse buying pengguna e-commerce Shopee: Studi kasus pada mahasiswa FEBI UIN Sumatera Utara. Jurnal Masharif Al-Syariah: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah, 9(1).
Beatty, S. E., & Ferrell, M. E. (1998). Impulse buying: Modeling its precursors. Journal of Retailing, 74(2), 169–191.
Bilro, R. G., Loureiro, S. M. C., & Souto, P. (2023). A systematic review of customer behavior in business-to-business markets and agenda for future research. Journal of Business & Industrial Marketing, 38(13), 122–142.
Fazlollahtabar, H. (2022). Intelligent marketing decision model based on customer behavior using integrated possibility theory and K-means algorithm. Journal of Intelligent Management Decision, 1(2), 88–96.
Felita, P., & Oktivera, E. (2019). Pengaruh sales promotion Shopee Indonesia terhadap impulsive buying konsumen: Studi kasus impulsive buying pada mahasiswa STIKS Tarakanita. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis, 4(2), 159–185.
Google, Temasek, & Bain & Company. (2023). e-Conomy SEA 2023 report: Roaring to life—Growth of Southeast Asia’s digital economy. Temasek Holdings.
Hakim, A. R., Mora, L., Leometa, C. H., & Dimala, C. P. (2024). Psychometric properties of the perceived stress scale (PSS-10) in Indonesian version. JP3I: Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia, 13(2), 117–129.
Ilhami, A., Handrianto, C., & Nurbaiti, N. (2024). Profil pemahaman guru terhadap PISA: Cross sectional survey. LENSA: Lentera Sains, 14(1), 1–8.
Lahay, C., Muharsih, L., & Pratomo, Y. (2025). Pengaruh Fear of Missing Out (FOMO) dan intensitas penggunaan media sosial terhadap impulsive buying belanja online pada wanita menikah. EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies, 5(3), 1351–1362.
Lumban Gaol, N. T. (2016). Teori stres: Stimulus, respons, dan transaksional. Buletin Psikologi, 24(1), 1–11.
Obbarius, N., Fischer, F., Liegl, G., Obbarius, A., & Rose, M. (2021). A modified version of the transactional stress concept according to Lazarus and Folkman was confirmed in a psychosomatic inpatient sample. Frontiers in Psychology, 12, 584333.
Spătaru, B., Podină, I. R., Tulbure, B. T., & Maricuțoiu, L. P. (2024). A longitudinal examination of appraisal, coping, stress, and mental health in students: A cross-lagged panel network analysis. Stress and Health, 40, e3450.
Špiljak, B., Vilibić, M., Glavina, A., Crnković, M., Šešerko, A., & Lugović-Mihić, L. (2022). A review of psychological stress among students and its assessment using salivary biomarkers. Behavioral Sciences, 12(10), 400.
Surbakti, M., K., R., Wijayanto, G., & Pailis, E. A. (2022). Pengaruh influencer, lifestyle dan brand image terhadap impulse buying di e-commerce: Studi kasus pada generasi milenial Kota Pekanbaru. Jurnal Sosial Humaniora Terapan, 4(2).
Wahyuni, R. S., & Setyawati, H. A. (2020). Pengaruh sales promotion, hedonic shopping motivation dan shopping lifestyle terhadap impulse buying pada e-commerce Shopee. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 2(2), 144–154.
Wells, J. D., Parboteeah, V., & Valacich, J. S. (2011). Online impulse buying: Understanding the interplay between consumer impulsiveness and website quality. Journal of the Association for Information Systems, 12(1), 32–56.
Xiong, Y. (2022). The impact of artificial intelligence and digital economy consumer online shopping behavior on market changes. Discrete Dynamics in Nature and Society, 2022, 9772416.