
JurnalPost.com – Melalui keterlibatan langsung, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kesejahteraan peternak Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Perkembangan sektor peternakan di Indonesia, khususnya di tingkat pedesaan, menunjukkan dinamika yang semakin pesat. Berbagai komoditas ternak seperti kambing terus dikembangkan sebagai sumber penghidupan. Namun, pengelolaan limbah peternakan masih menjadi masalah yang belum terselesaikan.
Pengelolaan limbah kotoran kambing pada hakikatnya merupakan upaya menjamin keberlanjutan usaha peternakan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Sayangnya, dalam praktik sehari-hari masih ditemukan peternak yang mengolah kotoran kambing secara manual dengan waktu lama, tenaga besar, serta hasil kurang optimal. Kondisi ini berpotensi merugikan peternak, baik secara ekonomi maupun produktivitas.
Teknologi tepat guna sejatinya telah menjadi fokus berbagai program pengabdian masyarakat. Namun, implementasi di lapangan kerap menghadapi tantangan, terutama minimnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat teknologi sederhana. Banyak peternak masih bertahan dengan metode konvensional karena khawatir akan biaya perawatan atau kesulitan pengoperasian.
Di sisi lain, mahasiswa sebagai agen perubahan perlu mendapatkan wadah untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari. Program KKN bukanlah sekadar formalitas akademik, melainkan laboratorium sosial tempat mahasiswa memahami realitas masyarakat dan memberikan solusi konkret.
Peran perguruan tinggi dan generasi muda menjadi strategis dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian, pendampingan teknis, serta transfer pengetahuan, mahasiswa dapat membantu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya secara optimal.
Program KKN Sub Kelompok 2 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Desa Candiwatu menghadirkan inovasi berupa alat pengaduk kotoran kambing. Alat ini mampu meningkatkan efisiensi waktu pengolahan dari 30-45 menit menjadi 10-15 menit per batch. Produktivitas pembuatan pupuk kompos meningkat signifikan dari 2-3 karung per hari menjadi 6-8 karung per hari. Dengan harga jual Rp 15.000 per karung, peningkatan ini berdampak langsung pada pendapatan peternak.
Program ini juga memberikan pelatihan komprehensif kepada peternak mengenai cara pengoperasian, perawatan rutin, hingga troubleshooting sederhana. Pendekatan partisipatif yang melibatkan peternak sejak perencanaan hingga implementasi memastikan keberlanjutan program.
Bapak Ridwan, salah satu peternak kambing yang menjadi mitra program ini, menyampaikan apresiasinya. “Alat ini sangat membantu. Yang tadinya pegel-pegel setiap hari ngaduk kotoran, sekarang jadi lebih ringan. Hasilnya juga lebih bagus dan cepat,” ujarnya.
Pada akhirnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat bukan semata-mata persoalan akademik, melainkan cerminan tanggung jawab sosial dalam pembangunan. Ketika mahasiswa turun langsung memberikan solusi nyata dan masyarakat terbuka terhadap inovasi, maka ekosistem pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan dapat terwujud. Sudah saatnya program KKN menjadi jembatan strategis yang menghubungkan kampus dengan desa, ilmu dengan praktik, dan teori dengan transformasi nyata.
Penulis: Zaldi Al Faris
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Pembimbing: Muhammad Ridha Febriyani, S.H., M.Kn., M.H.



