Oleh:
Ardianus Jenakur
Firmanto Meo Pau
Emilianus Rango
Abstrak
Liturgi merupakan pusat kehidupan rohani umat Katolik, tempat terjadinya dialog antara Allah dan manusia melalui karya keselamatan Kristus. Namun, partisipasi aktif umat dalam perayaan liturgi sering kali masih rendah. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab kurangnya partisipasi umat serta mengidentifikasi upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi umat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya pemahaman akan makna liturgi, pandangan negatif terhadap gembala umat, serta tekanan ekonomi dan pandangan duniawi yang keliru. Upaya peningkatan partisipasi dapat dilakukan melalui pendidikan liturgi yang berkelanjutan, pembaruan pola pikir umat terhadap peran gembala, serta penciptaan liturgi yang kreatif dan kontekstual tanpa menghilangkan makna teologisnya. Dengan demikian, diharapkan umat Katolik dapat berpartisipasi secara sadar, aktif, dan penuh makna dalam liturgi sebagai perwujudan iman yang hidup.
Kata kunci: liturgi, partisipasi umat, Gereja Katolik, pastoral, pendidikan iman
Pendahuluan
Liturgi menurut Konsili Vatikan II, khususnya dalam dokumen Sacrosanctum Concilium (SC) ayat 7, dipandang sebagai pelaksanaan tugas Yesus Kristus. Dalam liturgi, dilaksanakan ibadat umum yang utuh oleh Tubuh Mistik Kristus, yakni Kepala beserta anggota-Nya. Perayaan liturgis sebagai karya Kristus Sang Imam dan Tubuh-Nya, yaitu Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa karena di dalamnya terjadi dialog antara Allah dan manusia. Dalam SC ayat 10 ditegaskan bahwa liturgi adalah puncak dan sumber kehidupan Gereja.
Partisipasi umat dalam liturgi merupakan salah satu indikator penting dalam kehidupan menggereja. Setiap orang yang telah dibaptis secara resmi menjadi anggota Gereja (umat Katolik) dan dipanggil untuk mengambil bagian secara aktif, sadar, dan penuh makna dalam liturgi. Keaktifan umat tidak hanya tampak dalam keterlibatan lahiriah, seperti menjalankan tugas-tugas liturgi, tetapi juga dalam keterlibatan batiniah yang menunjukkan penghayatan akan misteri keselamatan.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa partisipasi aktif umat dalam liturgi masih sangat kurang. Hal ini berdampak pada kualitas dan makna perayaan liturgi itu sendiri. Oleh karena itu, tulisan ini berupaya menggali faktor-faktor penyebab rendahnya partisipasi aktif umat dalam liturgi serta merumuskan langkah-langkah konkret untuk meningkatkannya.
Pembahasan
A. Faktor Penyebab Kurangnya Partisipasi Aktif Umat dalam Berliturgi
Kurangnya partisipasi umat dalam liturgi disebabkan oleh berbagai faktor. Dalam 1 Korintus 12:27 tertulis, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” Ayat ini menegaskan bahwa setiap umat merupakan bagian dari Tubuh Kristus. Ketika satu bagian tidak berfungsi dengan baik, seluruh tubuh pun terpengaruh. Demikian pula dalam liturgi, apabila seorang umat tidak menghayati maknanya secara mendalam, maka penghayatan iman pun akan menurun. Liturgi kemudian hanya dipandang sebagai kewajiban, bukan sebagai perjumpaan dengan Allah.
Dokumen Sacrosanctum Concilium ayat 19 menegaskan bahwa para gembala harus dengan tekun dan sabar mengusahakan agar umat beriman berpartisipasi aktif, baik secara lahir maupun batin, sesuai dengan usia, situasi hidup, dan taraf perkembangan iman mereka. Akan tetapi, dalam kenyataan pastoral, sebagian umat memandang kegiatan liturgi sebagai hal yang tidak penting, terlebih jika kepercayaan terhadap gembala terganggu oleh pandangan negatif atau isu pribadi. Persepsi duniawi yang kuat ini menyebabkan semangat liturgi umat menurun.
Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi penyebab penting. Banyak umat memprioritaskan pekerjaan dan penghasilan dibandingkan kehadiran dalam misa, dengan alasan bahwa mencari nafkah lebih penting daripada mengikuti perayaan Ekaristi. Ada pula pandangan keliru yang menyatakan bahwa mengikuti misa tidak berguna bila setelahnya masih berbuat dosa. Pandangan semacam ini menunjukkan kurangnya pemahaman teologis dan spiritual mengenai makna liturgi sebagai sumber kekuatan untuk pembaruan hidup.
Dengan demikian, faktor utama yang menyebabkan rendahnya partisipasi umat adalah kurangnya pemahaman, persepsi negatif terhadap gembala, serta orientasi hidup yang terlalu duniawi. Umat belum sepenuhnya memahami liturgi sebagai bagian integral dari kehidupan iman Gereja Katolik.
B. Upaya untuk Meningkatkan Partisipasi Aktif Umat dalam Berliturgi
Untuk mengatasi kurangnya partisipasi aktif umat dalam liturgi, diperlukan berbagai upaya yang melibatkan baik gembala maupun umat sendiri. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Memberikan pemahaman tentang makna liturgi.
Gembala umat berperan penting dalam memberikan pendidikan dan pendalaman iman tentang liturgi. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui katekese, pendidikan liturgi, dan pembinaan pastoral yang berkelanjutan. Proses ini perlu disesuaikan dengan kelompok usia dan tingkat pemahaman umat. Sacrosanctum Concilium ayat 19 menegaskan bahwa gembala jiwa hendaknya tekun dan sabar dalam membina partisipasi liturgi umat beriman secara aktif, baik lahir maupun batin. - Mengubah perspektif umat terhadap gembala dan liturgi.
Umat perlu menyadari bahwa para gembala hanyalah perpanjangan tangan Tuhan yang diutus untuk menyalurkan rahmat-Nya. Fokus utama dalam liturgi bukanlah pada pribadi gembala, melainkan pada karya keselamatan Allah yang dihadirkan melalui liturgi. - Menciptakan liturgi yang kontekstual dan kreatif.
Liturgi perlu dihidupi sesuai konteks budaya dan sosial setempat tanpa mengurangi makna teologisnya. Liturgi yang hidup, partisipatif, dan relevan akan membantu umat menghayati iman dengan lebih mendalam dan penuh sukacita.
Kesimpulan
Liturgi merupakan pelaksanaan tugas Kristus dan merupakan puncak sekaligus sumber kehidupan Gereja. Dalam liturgi, terjadi perjumpaan antara Allah dan manusia yang memampukan umat untuk menghayati karya keselamatan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa partisipasi aktif umat dalam liturgi masih rendah, terutama karena kurangnya pemahaman, persepsi negatif terhadap gembala, serta pandangan hidup yang terlalu materialistis.
Untuk meningkatkan partisipasi aktif umat, diperlukan pendidikan liturgi yang berkesinambungan, pembaruan pandangan terhadap peran gembala, dan penciptaan bentuk liturgi yang kreatif serta kontekstual. Dengan demikian, umat Katolik dapat mengambil bagian secara sadar, aktif, dan penuh makna dalam perayaan liturgi, sebagai wujud iman dan kasih kepada Allah.
Daftar Pustaka
- Dokumen Konsili Vatikan II. Sacrosanctum Concilium. Penerj. R. Hardawirayana. Cetakan XII. Jakarta: Obor, 2013.
- Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta, 1974.
- Manu, Nanto, Mau. (2024). Upaya Meningkatkan Partisipasi Umat dalam Perayaan Ekaristi di Paroki Ave Maria Bintang Laut Uwa melalui Pendekatan Pastoral Konseling. Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, 4(1), hlm. 91. https://journal.ummat.ac.id/index.php/transformasi/article/view/22078/pdf