
Novi Andari, SS., M.Pd
Nama:
Davin Rafico Herera / 1152200320
Pacet, Mojokerto, JurnalPost.com — Limbah oli bekas yang selama ini kerap diabaikan ternyata dapat dimanfaatkan menjadi solusi alternatif yang bermanfaat bagi masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, sekelompok mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan kompor oli bekas sebagai alat steaming ecoprint di Desa Warugunung, Kecamatan Pacet. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 11 Januari 2026, dan mendapat respons positif dari masyarakat setempat.
Selama ini, oli bekas yang berasal dari bengkel kendaraan bermotor maupun aktivitas industri kecil sering dibuang tanpa pengelolaan yang memadai. Padahal, limbah tersebut termasuk bahan yang sulit terurai dan berpotensi mencemari tanah serta sumber air. Di sisi lain, ecoprint sebagai teknik pewarnaan kain berbasis bahan alami terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan. Namun, dalam praktiknya, ecoprint masih menghadapi kendala, khususnya pada proses steaming yang selama ini bergantung pada kompor gas atau listrik dengan biaya operasional relatif tinggi.
Melihat dua persoalan tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini menghadirkan inovasi teknologi tepat guna berupa kompor oli bekas sebagai alat steaming ecoprint. Kegiatan dilaksanakan di Desa Warugunung dengan melibatkan warga yang memiliki minat pada kerajinan ecoprint dan pengembangan usaha kreatif berbasis lingkungan. Kompor oli bekas dirancang menggunakan bahan sederhana yang mudah diperoleh, dengan memanfaatkan oli bekas sebagai sumber bahan bakar alternatif.
Proses steaming merupakan tahapan krusial dalam ecoprint karena berfungsi untuk membantu pigmen alami dari daun dan tanaman menempel secara optimal pada serat kain. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan, kompor oli bekas mampu menghasilkan panas yang stabil dan merata. Stabilitas panas ini berdampak langsung pada kualitas hasil ecoprint, di mana motif daun pada kain terlihat lebih jelas, tajam, dan merata, menandakan proses fiksasi pigmen alami berlangsung secara optimal.
Selain meningkatkan kualitas produk, penggunaan kompor oli bekas juga memberikan manfaat dari sisi ekonomi. Masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bahan bakar gas atau listrik, sehingga biaya produksi ecoprint dapat ditekan. Kondisi ini dinilai sangat membantu pelaku UMKM dan komunitas kreatif di desa yang memiliki keterbatasan modal produksi, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha ecoprint yang lebih berkelanjutan.
Tidak hanya berhenti pada aspek teknis, kegiatan pengabdian masyarakat ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pengelolaan limbah secara bijak. Pemanfaatan kompor oli bekas memperkenalkan cara pandang baru bahwa limbah tidak selalu menjadi masalah, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang bernilai guna. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang menekankan pemanfaatan kembali limbah untuk mendukung aktivitas produktif ramah lingkungan.
Lebih jauh, inovasi kompor oli bekas dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Desain alat yang sederhana dan bahan yang mudah diperoleh memungkinkan masyarakat untuk mengembangkan teknologi ini secara mandiri. Dengan dukungan pendampingan yang tepat, kompor oli bekas dapat menjadi solusi alternatif bagi berbagai komunitas kreatif dan pelaku usaha kecil dalam meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat juga mendapatkan pendampingan terkait penggunaan dan perawatan kompor oli bekas agar dapat dioperasikan secara mandiri. Dengan adanya pendampingan tersebut, inovasi ini diharapkan dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan kompor oli bekas sebagai alat steaming ecoprint di Desa Warugunung diharapkan menjadi contoh penerapan teknologi tepat guna yang mampu mendukung ekonomi kreatif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.