JurnalPost.com – Implementasi penggunaan bahasa Indonesia dikalangan anak muda sangat merosot. Hal ini dapat dilihat dari maraknya permunculan kosa kata baru yang dikenal sebagai bahasa gaul dikalangan anak muda saat ini. Bahasa gaul yang digunakan anak muda ini cenderung bersifat baru dan kekinian, sehingga anak muda saat ini lebih memilih menggunakan bahasa gaul yang dianggap dekat dengan diri mereka sebagai generasi muda. Munculnya ragam bahasa gaul ini secara eksplisit sangat bertentangan dengan kaidah kebahasaan dalam bahasa Indonesia. Kosa kata bahasa gaul yang terus bermunculan secara perlahan akan menghancurkan kaidah kebahasaan bahasa Indonesia. Selain kaidah kebahasaan, bahasa gaul akan menurunkan kesadaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar pada anak muda. Lalu apakah bahasa gaul merupakan salah satu wujud dari kekayaan berbahasa? Ditinjau dari respon beberapa kalangan, penggunaan bahasa gaul pada anak muda menuai pro dan kontra. Hal ini mengacu kepada sudut pandang pribadi dalam menyikapi penggunaan bahasa gaul tersebut.
Kosa kata bahasa gaul akan lebih dikenal oleh generasi muda. Berdasarkan fenomena yang dekat dengan masyarakat, bahasa gaul merajai komunikasi yang membuat kosa kata bahasa Indonesia yang baik dan benar bergeser. Bagi anak muda, bahasa gaul merupakan bahasa komunikasi yang tidak formal. Mereka dapat menuturkan bahasa gaul dalam interaksi sesama anak muda. Sedangkan bahasa Indonesia yang baik dan benar dianggap sebagai bahasa resmi dan formal. Bahasa Indonesia akan dipergunakan oleh anak muda dalam interaksi kepada orang-orang yang lebih tua dari usianya. Selain sebagai wujud kesopanan, penggunaan bahasa Indonesia dalam interaksi dengan orang yang lebih tua dapat mempermudah pemahaman komunikasi diantara keduanya. Karena menurut fenomena yang dapat dilihat dalam lingkungan kita saat ini, generasi tua sulit memahami bahasa gaul yang dituturkan oleh anak muda. Generasi tua cenderung akan menghambat komunikasi yang disampaikan oleh anak muda karena mereka sukar memahami bahasa yang anak muda gunakan. Dengan demikian, banyak diantara anak muda menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kegiatan komunikasi dengan generasi tua. Tujuannya adalah untuk mempermudah pemahaman akan informasi yang disampaikan.
Jika generasi muda saat ini cenderung menggunakan bahasa gaul dalam komunikasi di kehidupan sehari-hari, akankah bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat tetap terlestari? Pada 20 November 2023, UNESCO meresmikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi konferensi umum. Klaim ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dapat berkembang secara internasional tidak lagi secara nasional. Namun keberadaan bahasa gaul masih mendominasi komunikasi dalam masyarakat khususnya anak muda. Mengingat persentase penggunaan bahasa gaul lebih besar, membuat kesadaran anak muda untuk melestarikan bahasa Indonesia akan menurun. Hal ini akan berdampak pada generasi selanjutnya, mereka akan jauh lebih memahami bahasa gaul yang ada daripada bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seiring berkembangnya bahasa gaul, kita akan menyadari kemampuan berbahasa Indonesia akan terus menurun khususnya dikalangan anak muda. Jika diresapi kembali, hal ini akan menjadi tantangan terbesar bangsa Indonesia dalam pelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Meningkatkan kesadaran berbahasa anak muda saat ini menjadi tantangan bagi kita semua. Mengapa demikian? Dapat kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan penggunaan bahasa gaul manjadi tren yang diminati oleh anak muda. Munculnya kosa kata bahasa gaul terus meningkat dan akan terus meningkat. Resapan dari kata-kata bahasa daerah, bahasa Inggris dan bahasa yang lainnya menjadi salah satu faktor terbentuknya kosa kata baru bahasa gaul. Kosa kata baru dari bahasa gaul ini akan booming di kalangan anak muda kemudia mereka akan berlomba-lomba menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Siklus tersebut akan terus berputar seiring berkembangnya zaman.
Klaim bahwa bahasa Indonesia diresmikan sebagai bahasa resmi konferensi umum UNESCO, hal ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk membudayakan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sebagai anak muda, selain mengasah kreativitas dalam menciptakan bahasa gaul alangkah lebih baik jika kita semua juga berperan aktif dalam melestarikan bahasa Indonesia sesuai dengan ejaan yang baik dan benar. Sehingga kita dapat mempertahankan potensi bahasa Indonesia baik secara komunikatif maupun edukatif.
Anak muda merupakan generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan perjuangan-perjuangan yang belum tuntas. Seperti klaim yang baru saja turun mengenai peresmian bahasa Indonesia oleh UNESCO, anak muda masih harus melanjutkan serta melestarikan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perjuangan memperkenalkan bahasa Indonesia dikancah internasional masih panjang. Lalu bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Bagaimana sikap kita sebagai anak muda generasi penerus bangsa dalam pelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar? Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan dan kiat-kiat kreatif yang bersifat edukasi khususnya bagi para anak muda. Anak muda harus siap berkompetisi untuk memperkenalkan bahasa Indonesia secara internasional. Namun sebelum itu, menguatkan penggunaan bahasa Indonesia secara nasional juga tidak kalah penting. Dengan demikian, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan terus meningkat.
Penggunaan bahasa gaul harus diimbangi dengan menggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan ejaan. Kiat ini akan menjadi aplikasi yang baik untuk melestarikan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam komunikasi anak muda. Kesan ini bukan menggiring anak muda untuk terus menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan sosial menjadi seorang yang kaku dalam menggunakan bahasa, namun kesan ini lebih mengarahkan kepada anak muda untuk tetap menjaga bahasa Indonesia dimanapun dan kapapun. Sehingga kosa kata bahasa Indonesia yang baik dan benar akan mudah diaplikasikan dalam komunikasi yang diimbangi dengan bahasa gaul. Dengan demikian, generasi selanjutkan akan dapat terus mengenal bahasa Indonesia. Jika hal ini dapat diresapi dengan baik, maka penggunaan bahasa gaul yang akan menggerus penggunaan bahasa Indonesia akan menurun.
Kini bahasa Indonesia telah resmi menjadi bahasa konferensi UNESCO, ditambah data bahwa bahasa Indonesia saat ini dipelajari di 49 negara dunia. Merupakan suatu kebanggaan yang dapat kita rasakan sebagai bangsa Indonesia karena dapat mengembangkan bahasa nasional menjadi bahasa resmi konferensi UNESCO. Kiat-kiat melestarian bahasa Indonesia sangat penting dilaksanakan secara global khususnya untuk pada anak muda yang dianggap memiliki kesadaran berbahasa yang menurun.
Membahas menganai kiat-kiat peningkatan kesadaran berbahasa bagi anak muda, bisa dilakukan secara dini dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Peran orang tua dan guru sangat besar dalam pengembangan kesadaran berbahasa pada anak. Memperkenalkan bahasa-bahasa Indonesia yang mengacu kepada kesopanan akan meningkatkan pengetahuan berbahasa anak. Anak usia dini yang di didik menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar cendurung akan menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sosialnya.
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh guru akan menjadikan contoh yang baik bagi para siswa. Anak-anak akan berusaha memahami materi yang disampaikan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan formal secara lebih teliti. Anak-anak akan mengingat kosa kata bahasa Indonesia yang sekiranya sukar mereka gunakan, kemudian akan diaplikasikan dalam komunikasi mereka baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kiat-kiat ini sangat sederhana, namun masih ada pertimbangan bagi siswa untuk berusaha memahami karena kurangnya kesadaran berbahasa yang mereka miliki.
Referensi:
1. https://www.kompas .id/baca/humaniora/2023/11/21/bahasa-indonesia-jadi-bahasa-resmi-sidang-umum-unesco
2. https://www.unpad .ac.id/2012/10/tingkatkan-kesadaran-berbahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar/
3. Mansyur, U. (2018). Sikap bahasa dan pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi.
4. Suhariyanti, S. (2020). Pengembangan Kesadaran Masyarakat Di Perdesaan Dalam Menggunakan Bahasa Indonesia Sebagai Alat Komunikasi Efektif. Network Media, 3(2), 66-76.
Biodata:
Rizma Febrianti. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah.



