Oleh: Zalwa Putri Aulia,Muh Hersa Falah
UIN Raden Fatah Palembang,Indonesia e-mail: [email protected]
e-mail: [email protected]
Abstract
This article discusses the advantages and disadvantages of the four main methods in the science of Al-Qur’an exegesis: al-ijmali, at-tahlili, al-muqāran, and al- maudhu’i. Each of these methods offers a unique approach to understanding the meaning and messages contained in the Koran, with their respective advantages and disadvantages. The al-ijmali method presents a concise interpretation, making it easier for readers to gain a basic understanding without being too detailed, but lacking in depth. The at-tahlili method explains each verse analytically and in detail, suitable for in-depth understanding, but requires more : time. Al-muqāran’s method of comparing various scholarly opinions provides rich insight, but can be confusing for novice readers.Meanwhile, the al-maudhu’i method highlights certain themes in the Al-Qur’an, helps comprehensive thematic understanding, but does not provide the context of the entire verse. This article aims to provide guidance for readers in choosing the exegetical method that best suits s dan their needs to achieve optimal understanding of the Qur’an
Keywords: Tafsir,Tafsir Methods, Analytical and Optimal
Abstrak
Artikel ini membahas kelebihan dan kekurangan empat metode utama dalam ilmu tafsir Al-Qur’an: al-ijmali, at-tahlili, al-muqaran, dan al-maudhu’i. Masing-masing metode ini menawarkan pendekatan unik dalam memahami makna dan pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Metode al-ijmali menyajikan tafsir yang ringkas, memudahkan pembaca memperoleh pemahaman dasar tanpa terlalu detail, tetapi kurang mendalam. Metode at-tahlili menguraikan setiap ayat secara analitis dan rinci, cocok untuk pemahaman mendalam, namun membutuhkan waktu yang lebih lama. Metode al- muqäran membandingkan berbagai pendapat ulama, memberikan wawasan yang kaya, tetapi bisa membingungkan bagi pembaca pemula. Sedangkan metode al- maudhu’i menyoroti tema tertentu dalam Al-Qur’an, membantu pemahaman tematik yang komprehensif, namun kurang memberikan konteks keseluruhan ayat. Artikel ini bertujuan memberikan panduan bagi pembaca dalam memilih metode tafsir yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka untuk mencapai pemahaman yang optimal terhadap Al-Qur’an.
Kata Kunci: Tafsir,Metode Tafsir, Analitis dan Optimal
PENDAHULUAN
Ilmu tafsir merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat penting dalam Islam karena berfungsi sebagai alat untuk memahami makna yang terkandung dalam Al- Qur’an. Al-Qur’an, sebagai wahyu Allah yang diturunkan dalam bahasa Arab, memiliki kedalaman makna yang luar biasa sehingga membutuhkan pengetahuan khusus untuk menjelaskan dan menginterpretasikannya. Dalam konteks ini, tafsir tidak hanya berperan untuk menjelaskan lafazh-lafazh Al-Qur’an tetapi juga untuk menjembatani pemahaman antara teks Al-Qur’an dengan realitas kehidupan manusia yang terus berkembang (Akhyar, Remiswal, et al., 2024).
Dalam dunia ilmu tafsir, terdapat empat metode utama yang sering digunakan, yaitu metode tafsir al-ijmali, at-tahlili, al-muqaran, dan al-maudhu’i. Setiap metode ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing serta menawarkan perspektif yang berbeda dalam memahami teks suci ini.Keempat metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang mempengaruhi hasil dan cara penyampaian makna ayat Al-Qur’an kepada umat. Setiap metode memberikan sudut pandang yang berbeda, namun tujuan utamanya tetaplah sama, yaitu mendekatkan umat pada pemahaman yang benar dan aplikatif terhadap ajaran- ajaran Al-Qur’an.
Dalam pendahuluan ini, kita akan mengulas secara ringkas kelebihan dan kekurangan dari keempat metode tafsir tersebut serta tujuan penggunaannya. Memahami kelebihan dan kekurangan setiap metode akan membantu kita melihat keterbatasan dan kekuatan pendekatan yang digunakan, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih kaya dan mendalam terhadap Al-Qur’an.
METODE
Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu penelitian yang berlandaskan pada kajian teoritis. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikategorikan dalam jenis penelitian library research (penelitian pustaka). Yaitu penelitian yang sumber datanya diambil dari bahan-bahan tertulis yang telah dipublikasikan, baik melalui media cetak maupun elektronik yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Sedangkan tujuan dari jenis penelitian ini adalah untuk memperoleh penjelasan secara maksimal tentang tema yang diangkat. Sedangkan dalam membahas data-data yang tersedia, peneliti menggunakan metode deskriptif-analisis, penggunaan metode ini dimaksudkan untuk menggambarkan secara teratur mengenai tujuan yang akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kelebihan dan Kelemahan Keempat Metode Tafsir
1. Tafsir Al-Ijmali
Metode ijmali ialah metode tafsir yang paling dasar, metode ini menafsirkan ayat- ayat alqur’an dengan cara menyajikan makna menyeluruh.(Abd al-Hay alFarmawi) Di dalam paparannya, penafsir menganalisis dengan terstruktur sesuai susunan mushaf, kemudian menyampaikan arti menyeluruh yang di maksud ayat tersebut. Penafsir yang menggunakan metode ini memilih bahasa yang sederhana dan lugas, penggunaan bahasa yang persis dengan Al-Quran membuat pembaca merasa seakan-akan Al-Quran sendiri yang berbicara(Sanaky Dkk, 2008). Dengan metode ini, kita bisa mendapatkan wawasan penuh yang diharapkan. Metode Ijmali berbeda dengan metode tafsir lainnya seperti Tafsir Tahlili (lebih luas dan rinci) dan Tafsir Maudhu’I (yang membahas secara khusus topik-topik tertentu).
Metode Ijmali ini memiliki beberapa kelebihan, seperti:
1) Praktis dan mudah dipahami. Tafsir yang memakai metode ijmali relatif lebih praktis dan mudah dipahami.
2) Bebas dari penafsiran israiliyat, dikarenakan pendeknya penafsiran yang dikemukakan, maka tafsir ijmali terasa murni dan terbebas dari pemikiran- pemikiran israiliyat.
3) Dekat dengan bahasa al-Qur’an: Tafsir ijmali ini memakai bahasa yang ringkas dan padat, sehingga pembaca tidak merasa bahwa ia telah membaca kitab tafsir. Hal ini disebabkan, karena tafsir dengan metode global menggunakan bahasa yang singkat dan akrab dengan bahasa arab tersebut
Sedangkan kelemahan dari metode ijmali adalah sebagai berikut:
1) Tidak terdapat tempat untuk memberikan analisis yang memadai: Tafsir yang memakai metode ijmali tidak menyediakan tempat untuk mengemukakan uraian dan pembahasan yang dapat memuaskan pemahaman terhadap suatu ayat.
2) Menjadikan petunjuk al-Qur’an bersifat parsial: al-Qur’an merupakan satu- kesatuan yang utuh, sehingga satu ayat dengan ayat yang lain membentuk satu pengertian yang utuh, tidak terpecahpecah dan berarti, hal-hal yang global atau samar-samar di dalam suatu ayat, maka pada ayat yang lain ada penjelasan yang lebih rinci.
2. Tafsir At- Tahlili
Secara harfiah tahlili berarti lepas atau terurai, kata tahlili berasal dari akar kata bahasa Arab “حل” yang berarti menguraikan, membuka, menyelesaikan, dan menganalisa. Sebagai contoh ” العقدة حل” yang berarti membuka ikatan menjadi terurai. 10 Sedangkan Kata “tahlili” )تحليلي( merupakan kata sifat yang dibentuk dari maşdar (kata dasar diakhiri dengan huruf ي, makna leksikalnya adalah analisis, maka dapat dipahami bahwa metode tahlili merupakan suatu metode penafsiran Al-
Qur’an yang berusaha menjelaskan dan menguraikan makna dan maksud apa yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara rinci dari segala aspeknya.
Metode Tahlili memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
1) Metode ini meneliti setiap bagian Al-Qur’an secara detail, tanpa meninggalkan sesuatupun. Sehingga metode ini memberi pengetahuan yang komprehensif mengenai ayat yang dibahas baik kata atau kalimat. Di mana metode ini menyajikan makna dan hukum yang terkandung dalam nash.
2) Ruang lingkupnya yang luas sehingga dapat menampung berbagai ide dan gagasan dalam upaya menafsirkan al-Qur’an. Disamping itu, metode yang digunakan oleh mufassir dapat dikembangkan lagi sesuai dengan keahlian para mufassir.
3) Memuat berbagai ide sehingga para mufassir mempunyai kebebasan dalam memajukan ide- ide dan gagasan-gagasan baru dalam penafsiran alQur’an. Barangkali kondisi inilah yang membuat tafsir tahlili lebih pesat perkembangannya.
Adapun kelemahan dari metode tahlili ini adalah:
1) Metode tahlili membuat petunjuk al-Qur’an bersifat parsial atau terpecah- pecah, sehingga seakan-akan terlihat bahwa Al-Qur’an memberikan pedoman secara tidak utuh, tidak mendalam dan tidak pula konsisten sebab penafsiran yang diberikan pada suatu ayat berbeda dari penafsiran yang diberikan pada ayat-ayat lain yang sama dengannya. Penyebab timbulnya perbedaan tersebut karena kurang perhatian terhadap ayat-ayat yang serupa
2) Menggunakan penafsiran. metode tahlili memberikan ruang kepada para mufassir untuk menuangkan gagasan dan pemikirannya. Seringkali para mufassir tidak menyadari melakukan penafsiran yang subjektifitas dengan tidak mengindahkan kaedah-kaedah yang berlaku. Seringkali para mufassir tidak menyadari melakukan penafsiran yang subjektifitas dengan tidak mengindahkan kaedah-kaedah yang berlaku.
3. Tafsir Al-Muqaran
Metode muqaran menurut Abd al- Hayy al Farmawi adalah penafsiran Al-Qur’an dengan cara menghimpun sejumlah ayat ayat Al-Qur’an, kemudian mengkaji,
meneliti dan membandingkan pendapat sejumlah penafsir mengenai ayat-ayat tersebut, baik penafsir dari generasi salaf maupun khalaf atau menggunakan tafsir bi al-ra’yi maupun al-ma’tsur, disamping itu tafsir muqaran digunakan juga untuk membandingkan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an tentang suatu masalah dan membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan Hadis Nabi Muhammad shaallahu ‘alaihi wasallam (Anhar Dkk, 2018).
Metode Al-Muqaran memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
1) Memberikan wawasan penafsiran yang relatif lebih luas kepada para pembaca kalau dibandingkan dengan metode-metode yang lain. Di dalam penafsiran itu, terlihat bahwa satu ayat Al Qur’an sanggup ditinjau dari aneka macam disiplin ilmu pengetahuan sesuai dengan keahlian mufassirnya. Dengan demikian, terasa bahwa Al Qur’an itu tidak sempit, melainkan amat luas dan sanggup menampung aneka macam wangsit dan pendapat.
2) Membuka pintu untuk bersikap toleran terhadap pendapat orang lain. Dengan demikian, hal tersebut sanggup mengurangi fanatisme yang berlebihan kepada suatu madzhab atau anutan tertentu. Pembaca tafsir muqaran akan terhindar dari perilaku fanatik yang sanggup merusak persatuan dan kesatuan umat.
3) Berguna bagi mereka yang ingin mengetahui aneka macam pendapat wacana suatu ayat. Sesuai untuk mereka yang ingin memperluas dan mendalami penafsiran Al Qur’an bukan bagi para pemula
Adapun kelemahan dari metode al-muqaran ini, sebagai berikut:
1) Tidak sanggup diberikan kepada para pemula. Hal itu disebabkan pembahasan yang dikemukakan di dalamnya terlalu luas.
2) Kurang sanggup mendapatkan amanah untuk menjawab permasalahan sosial yang tumbuh di tengah masyarakat. Hal tersebut disebabkan, metode ini lebih mengutamakan perbandingan dari pada pemecahan masalah.
3) Terkesan lebih banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh para ulama dibandingkan mengemukakan penafsiran- penafsiran baru.
4. Tafsir Al-Maudhu`
Metode muqaran menurut Abd al- Hayy al Farmawi adalah penafsiran AlQur’an dengan cara menghimpun sejumlah ayat ayat Al-Qur’an, kemudian mengkaji, meneliti dan membandingkan pendapat sejumlah penafsir mengenai ayat-ayat tersebut, baik penafsir dari generasi salaf maupun khalaf atau menggunakan tafsir bi al-ra’yi maupun al-ma’tsur, disamping itu tafsir muqaran digunakan juga untuk membandingkan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an tentang suatu masalah dan membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan Hadis Nabi Muhammad shaallahu ‘alaihi wasallam (Anhar Dkk, 2018).
Metode Al-Maudhu` memiliki kelebihan dan kelemahan, sebagai berikut:
1) Kelebihan metode tafsir maudui dapat menjawab tantangan zaman. Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Maka metode maudut sebagai upaya metode penafsiran untuk menjawab tantangan tersebut. Untuk kajian tematik ini diupayakan bisa menyelesaikan. permasalahan yang dihadapi masyarakat. Praktis dan sistematis. Tafsir dengan metode tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam usaha memecahkan permasalahan yang timbul. Dinamis. Metode tematik membuat tafsir al-Qur’an selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman sehingga menimbulkan image di dalam pikiran pembaca dan pendengarnya bahwa al-Qur’an senantiasa mengayomi dan membimbing kehidupan di muka bumi ini pada semua lapisan dan strata sosial. Membuat pemahaman menjadi utuh. Dengan ditetapkannya judul- judul yang akan dibahas, maka pemahaman ayat-ayat al-Qur’an dapat diserap secara utuh. Pemahaman semacam ini sulit ditemukan dalam metode tafsir yang dikemukakan di muka. Maka metode tematik ini dapat diandalkan untuk pemecahan suatu permasalahan secara lebih baik dan tuntas.
2) Kelemahan metode mauduī diantaranya Memenggal ayat al-Qur’an, yaitu suatu kasus yang terdapat di dalam suatu ayat atau lebih mengandung banyak permasalahan yang berbeda. Misalnya, petunjuk tentang shalat dan
zakat. Biasanya kedua ibadah itu diungkapkan bersama dalam satu ayat. Apabila ingin membahas kajian tentang zakat misalnya, maka mau tidak mau ayat tentang shalat harus di tinggalkan ketika menukilkannya dari mushaf agar tidak mengganggu pada waktu melakukan analisis. Membatasi pemahaman ayat yaitu dengan diterapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat menjadi terbatas pada permasalahan yang dibahas tersebut. Akibatnya mufassir terikat oleh judul itu. Padahal tidak mustahil satu ayat itu dapat ditinjau dari berbagai aspek, karena ayat al-Qur’an itu bagaikan permata yang setiap sudutnya memantulkan cahaya. Jadi, dengan diterapkannya judul pembahasan, berarti yang akan dikaji hanya satu sudut dari permata tersebut.
B. Cara Kerja Metode Tafsir
1. Tafsir Al-Ijmail
Tafsir Al-Ijmali atau metode global adalah metode tafsir Al-Qur’an yang menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an secara umum, tanpa mendalami setiap kata atau rincian tertentu. Mufassir yang menggunakan metode ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum atau intisari makna ayat sehingga mudah dipahami oleh khalayak, terutama bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang ilmu tafsir mendalam.Dalam metode ini, tafsir biasanya bersifat ringkas, lugas, dan cenderung langsung pada inti pesan ayat. Metode Al-ljmali sangat cocok untuk memberikan pemahaman awal kepada pembaca mengenai pesan-pesan Al-Qur’an tanpa mengharuskan mereka masuk ke dalam detail teknis atau aspek-aspek yang rumit. Cara Kerja Tafsir Al-Ijmali:
1) Membaca dan menangkap makna umum ayat secara keseluruhan
2) Menghindari penjelasan yang terlalu detail
3) Menafsirkan ayat dalm satu kesatuan tema
4) Mengutamakan pemahaman secara langsung daripada interprestasi yang mendalam
5) Mempertahankan sederhanaan dalam penyampaian tafsir
2. Tafsir Al-Tahlili
Tafsir Al-Tahlili atau metode analitis adalah metode penafsiran Al-Qur’an yang menjelaskan setiap kata, kalimat, atau ayat secara mendalam dan detail. Mufassir yang menggunakan metode ini membahas ayat demi ayat secara berurutan sesuai susunan ayat dalam mushaf, mengupas maknanya secara lengkap dengan menyoroti aspek-aspek kebahasaan, hukum, sejarah, dan hal-hal lain yang terkait.
Tujuan dari metode Al-Tahlili adalah untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang makna setiap ayat dengan mempertimbangkan konteks historis (asbabun nuzul), hubungan antar-ayat, serta berbagai disiplin ilmu yang dapat membantu dalam memahami makna Al-Qur’an. Cara Kerja Tafsir Al-Tahlili:
1) Menafsirkan ayat secara berurutan sesuai mushaf
2) Menganalisis aspek kebahasaan dan tata bahasa
3) Menjelaskan hubungan antar ayat
4) Menggunakan pendekatan multi-disiplin dalam penafsiran
5) Mengacu pada tafsir para ulama klasik dan modern
3. Tafsir Al-Muqaran
Tafsir Al-Muqarran atau metode komparatif adalah metode tafsir Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara membandingkan berbagai penafsiran yang dihasilkan oleh mufassir terdahulu maupun mufassir kontemporer mengenai suatu ayat. Metode ini bertujuan untuk menggali pandangan yang berbeda atau menemukan kesamaan di antara berbagai tafsir sehingga pembaca dapat memperoleh pemahaman yang lebih kaya dan komprehensif. Dalam metode ini, mufassir biasanya akan membandingkan beberapa tafsir dari aspek kebahasaan, konteks, maupun metode penafsiran yang digunakan.Metode Al-Muqarran dianggap penting untuk memahami perkembangan pemikiran dalam ilmu tafsir serta memahami bagaimana perbedaan konteks sejarah dan kebudayaan mempengaruhi cara suatu ayat dipahami oleh para mufassir dari berbagai masa dan latar belakang. Cara Kerja Tafsir Al-Muqarran:
1) Memilih ayat atau tema yang akan dibandingkan
2) Mengumpulkan tafsir dari berbagai sumber
3) Membandingkan pendekatam kebahasaan
4) Membandingkan konteks penafsiran
5) Menyimpulkan atau menyajikan analisis yang konprehensif
4. Tafsir Al-Maudhu`i
Tafsir Al-Maudhu’i, atau dikenal juga sebagai metode tematik, adalah metode penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang memiliki tema atau topik yang sama, lalu dianalisis secara mendalam untuk memahami pesan yang komprehensif mengenai tema tersebut. Berbeda dengan metode analitis atau global yang mengikuti urutan ayat sesuai mushaf, metode tematik berfokus pada satu tema tertentu dan menelusuri seluruh Al-Qur’an untuk mengumpulkan ayat-ayat terkait tema itu. Metode ini membantu dalam memahami Al-Qur’an secara menyeluruh tentang suatu masalah tertentu, seperti tema keadilan, ketakwaan, atau syariat Islam, karena metode ini menyusun pemahaman dari keseluruhan ayat yang relevan tentang satu topik. Cara Kerja Tafsir Al-Maudhu’i:
1) Menentukan tema atau topik
2) Mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan tema
3) Menganalisis asbabun nuzul
4) Memahami makna kebahasaan dan struktur ayat
5) Menyusun tema dengan bahasa yang relevan dan kontekstual
KESIMPULAN
Dalam memahami Al-Qur’an, empat metode tafsir utama al-ijmali, at-tahlili, al- muqaran, dan al-maudhu’i menyediakan pendekatan yang bervariasi sesuai dengantujuan dan kebutuhan pembaca. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Metode Al-Ijmali menawarkan kemudahan bagi pembaca awam dengan penjelasan yang ringkas, namun kurang mendalam dalam analisisnya. At-Tahlili, dengan pendekatan analitisnya, memberikan pemahaman mendalam melalui kajian terperinci, namun membutuhkan waktu yang lebih lama dan kesabaran dalam mempelajarinya. Al-Muqäran memperkaya pemahaman melalui perbandingan berbagai pandangan ulama, meskipun dapat membingungkan
pembaca yang belum berpengalaman dalam ilmu tafsir. Sementara itu, Al-Maudhu’i memberikan pandangan tematik yang terfokus dan menyeluruh terhadap isu tertentu, namun kurang memberikan konteks lengkap dari ayat-ayat secara keseluruhan. Pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing metode ini sangat penting bagi pembaca dan peneliti untuk memilih pendekatan yang paling sesuai. Setiap metode memiliki perannya dalam memperluas wawasan tentang Al-Qur’an, sehingga dapat dipilih dan diterapkan sesuai kebutuhan, apakah untuk pemahaman singkat, analisis mendalam, perbandingan pandangan, atau kajian tematik. Melalui pemilihan metode yang tepat, pemahaman yang optimal terhadap Al-Qur’an dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad al- Sirbashi. (1994) Sejarah Tafsir al-Quran. Pustaka Firdaus
Ahmad, Yazid. (2010). PENGANTAR STUDI AL-QUR’AN. Kuala Lumpur: Darul Falah.
Akhyar, M., Remiswal, R., & Khadijah, K. (2024). Pelaksanaan evaluasi P5 dalam meningkatkan kreativitas dan kemandirian siswa pada mata pelajaran PAI di SMPN 1 VII Koto Sungai Sariak. Instructional Development Journal, 7(2).
Al-Aziz, Muhammad. (2012). METODOLOGI TAFSIR AL-QUR’AN.
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Al-Munir, Muhammad. (2016). PENGANTAR STUDI TAFSIR. Jakarta: PT Raja Al-Qathani, Abdul Basit. (2007). METODOLOGI TAFSIR TEMATIK. Jakarta:
Gema Insani.
Amin, Faizal. (2017). Metode Tafsir Tahlili: Cara Menjelaskan Al-Qur’an dari Berbagai Segi Berdasarkan Susunan Ayat. Jurnal Kalam, 11(11), 245.
Anhar, Putri Maydi Arofatun. (2018). Tafsir Ilmi: Studi Metode Penafsiran Berbasis Ilmu Pengetahuan pada Tafsir Kemenag. Jurnal Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains, Vol. 1, 112
Ash – Shiddiey (1996). DASAR-DASAR ILMU TAFSIR AL-QUR’AN Jakarta: Bulan Bintang.
Azhari, Ali. (2015). METODOLOGI TAFSIR DALAM AL-QUR’AN. Surabaya:
Baidan, Nashruddin. 2005. Metodologi Penafsiran al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Dahlan, M. (2005). STUDI ILMU TAFSIR. Bandung: Pustaka Setia.
Departemen Agama RI. 2011. al-Quran dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan).
Jakarta:Widya Cahaya Grafindo Persada
Hasibuan, Ummi Kalsum. Risqo Faridatul Ulya, Jendri. 2020. Tipologi Metode Tafsir: Metode, Pendekatan dan Corak dalam mitra Penafsiran Al-Qur’an. Jurrnal Ishlah Vol. 02 No.01.Hlm. 227
Izzuddin, Ali. (2014) METODOLOGI TAFSIR DAN PENDEKATAN
PEMAHAMAN AL-QUR’AN. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Musthafa, Abdul Wahab. (2013). PENGANTAR ILMU TAFSIR. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Rasyid, Harun Nasution. (2006). TAFSIR AL-QUR’AN: METODE DAN SEJARAHNYA. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Shihab, M. Quraish. (2002). TAFSIR AL-MISHBAH: PESAN, KESAN DAN
KESERASIAN AL-QUR`AN. Jakarta: Lentera Hati