
JurnalPost.com – Limbah pertanian selama ini masih dipandang sebagai sisa produksi yang tidak memiliki nilai guna. Di banyak daerah agraris, limbah seperti batang, kulit, dan bagian tanaman lainnya kerap dibiarkan menumpuk atau dibuang begitu saja. Salah satu contoh yang paling sering dijumpai adalah rambut jagung. Padahal, di balik tampilannya yang sederhana dan sering dianggap remeh, rambut jagung menyimpan potensi besar, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Sayangnya, minimnya pengetahuan dan inovasi membuat potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Rambut jagung diketahui mengandung berbagai senyawa alami yang bermanfaat bagi tubuh, seperti antioksidan dan zat diuretik alami yang baik untuk kesehatan ginjal dan saluran kemih. Jika diolah dengan tepat, rambut jagung dapat menjadi produk herbal bernilai jual. Namun, tanpa adanya pendampingan dan edukasi, masyarakat cenderung tetap memposisikannya sebagai limbah tak berguna. Kondisi inilah yang menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan pemanfaatan limbah rambut jagung menjadi teh herbal, yang dilaksanakan di Dusun Penanggungan, Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Pelatihan ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai bentuk intervensi nyata untuk mendorong kemandirian dan kreativitas masyarakat desa.
Menariknya, pelatihan ini tidak berhenti pada pemanfaatan rambut jagung semata. Produk teh herbal yang dikembangkan dikombinasikan dengan rempah-rempah alami seperti jahe, daun salam, dan serai, serta menggunakan stevia sebagai pemanis alami. Perpaduan ini tidak hanya meningkatkan cita rasa, tetapi juga memperkaya manfaat kesehatan dari produk yang dihasilkan. Dengan pendekatan ini, masyarakat diperkenalkan pada konsep pengolahan pangan fungsional yang sehat, alami, dan memiliki nilai jual.
Kegiatan pengabdian ini menjadi ruang pembelajaran dua arah. Di satu sisi, masyarakat memperoleh pengetahuan baru tentang cara mengolah limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah. Di sisi lain, civitas akademika UNTAG Surabaya dapat memahami secara langsung kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat desa. Interaksi ini penting untuk memastikan bahwa inovasi yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal, bukan sekadar konsep yang berhenti di atas kertas.

Lebih jauh, pelatihan pembuatan teh herbal dari rambut jagung ini memiliki implikasi ekonomi yang cukup menjanjikan. Jika dikelola secara berkelanjutan, produk ini dapat dikembangkan sebagai usaha mikro berbasis rumah tangga. Dengan pengemasan yang sederhana namun menarik, serta strategi pemasaran yang tepat, teh herbal rambut jagung berpotensi menjadi produk unggulan desa. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong penguatan ekonomi lokal dan pengembangan UMKM berbasis potensi daerah.
Selain aspek ekonomi, kegiatan ini juga membawa pesan penting terkait kesadaran lingkungan. Pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai guna merupakan langkah konkret dalam mendukung konsep ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Masyarakat diajak untuk melihat limbah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah dan dimanfaatkan. Perubahan pola pikir ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Melalui kegiatan ini, UNTAG Surabaya menegaskan perannya sebagai agen perubahan sosial. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan berkontribusi di tengah masyarakat. Inovasi sederhana seperti pemanfaatan rambut jagung menjadi teh herbal menunjukkan bahwa solusi atas berbagai persoalan sosial dan ekonomi sering kali dapat ditemukan dari potensi lokal yang selama ini terabaikan.
Pada akhirnya, kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya inovasi-inovasi serupa di berbagai daerah. Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat perlu terus diperkuat agar potensi lokal dapat dikembangkan secara optimal. Jika limbah pertanian mampu diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan kesehatan, maka desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif dan mandiri dalam menentukan masa depannya sendiri.



