
Mojokerto, JurnalPost.com – Di balik renyahnya kerupuk samiler dan aroma khas yang menggoda selera, tersimpan tantangan yang menuntut kesabaran ekstra dari para pelaku usaha kecil. Di sebuah dapur sederhana milik Ibu Cianah, pelaku UMKM di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, proses pencetakan kerupuk masih dilakukan dengan alat seadanya. Setiap adonan dicetak secara manual, berulang kali, dengan tenaga yang tidak sedikit. Dalam satu kali cetakan, jumlah kerupuk yang dihasilkan sangat terbatas, sementara permintaan pasar terus bergerak naik seiring meningkatnya minat konsumen.
Ketika permintaan meningkat, tantangan itu menjadi semakin nyata. Dapur kecil yang biasanya menjadi ruang produksi berubah menjadi tempat kerja yang menekan. Ibu Cianah harus mencetak adonan demi adonan tanpa banyak jeda, berpacu dengan waktu agar pesanan tetap terpenuhi. Sinar matahari yang masuk dari jendela dapur seolah menjadi saksi kerja keras yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Di satu sisi, meningkatnya permintaan adalah peluang bagi keberlanjutan usaha. Namun di sisi lain, keterbatasan alat pencetak membuat kapasitas produksi sulit berkembang dan berisiko menguras tenaga serta konsistensi kualitas.
Kondisi inilah yang kemudian menarik perhatian mahasiswa Pengabdian Masyarakat R-19 Sub Kelompok 2 Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya. Mereka hadir bukan membawa teknologi besar atau mesin rumit, melainkan dengan kepekaan untuk memahami kebutuhan nyata di lapangan. Melalui observasi langsung dan diskusi bersama pelaku usaha, mahasiswa menyadari bahwa permasalahan utama bukan terletak pada bahan baku maupun keterampilan produksi, melainkan pada keterbatasan alat bantu kerja yang digunakan sehari-hari.
Dari proses pemahaman tersebut lahirlah sebuah solusi sederhana berupa alat pencetak kerupuk berbasis teknologi tepat guna (TTG). Alat ini dirancang agar mudah dioperasikan, aman untuk pangan, serta sesuai dengan kondisi dapur UMKM yang terbatas. Keunggulan utama alat ini terletak pada kemampuannya mencetak lebih banyak kerupuk dalam satu kali proses. Selain itu, cetakan dirancang dengan sistem lepas pasang sehingga dapat diganti sesuai ukuran kebutuhan produksi, baik cetakan berukuran besar maupun kecil.
Uji coba alat menunjukkan hasil yang memuaskan. Setiap cetakan menjadi lebih optimal, adonan tercetak lebih rapi, dan proses produksi berlangsung lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Waktu yang biasanya tersita untuk mencetak satu per satu kini dapat dihemat secara signifikan. Bagi Ibu Cianah, perubahan ini terasa secara langsung dalam aktivitas sehari-hari. Pekerjaan yang sebelumnya melelahkan kini menjadi lebih ringan, dan tenaga yang ada dapat dialihkan ke tahapan produksi lain seperti penggilingan adonan dan penjemuran kerupuk.
Lebih dari sekadar peningkatan efisiensi, alat ini juga membantu menjaga konsistensi bentuk dan ukuran kerupuk, sehingga kualitas produk tetap terjaga. Kerupuk yang dihasilkan tetap renyah dan seragam, memberikan nilai tambah bagi daya saing usaha kecil di tengah pasar yang semakin kompetitif. Kehadiran mahasiswa UNTAG di dapur UMKM pun tidak sekadar membawa alat, tetapi menghadirkan semangat kolaborasi dan kepedulian nyata terhadap keberlangsungan usaha rakyat.
Apa yang terjadi di dapur kecil milik Ibu Cianah menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus megah atau mahal. Inovasi dapat lahir dari empati, pemahaman, dan kemauan untuk hadir di tengah permasalahan nyata. Dengan menghadirkan solusi yang tepat guna dan sesuai kebutuhan, perubahan kecil mampu memberikan dampak yang besar. Meski program pengabdian mahasiswa telah usai, alat pencetak yang ditinggalkan tetap bekerja setiap hari di dapur UMKM, menandai awal perubahan yang berlangsung perlahan namun pasti-perubahan yang tumbuh dari kepedulian, kolaborasi, dan harapan akan masa depan UMKM yang lebih berdaya.



