JurnalPost.com – Isu mengenai imigran asing merupakan salah satu masalah yang selalu dialami oleh mayoritas negara di dunia, tidak terkecuali dengan Amerika Serikat. Faktor Amerika Serikat sebagai salah satu pusat ekonomi dunia tentunya menimbulkan harapan sekaligus peluang bagi para imigran dari penjuru dunia untuk mengadu nasib di negeri ’Paman Sam’ tersebut. Situasi ini tentunya dapat menimbulkan masalah bagi negara yang akan dituju, di mana tidak jarang masuknya imigran asing diiringi juga dengan masuknya imigran ilegal. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mendefinisikan imigran ilegal sebagai penduduk yang tidak sah yang bukan penduduk resmi suatu negara serta tidak memiliki beberapa syarat dokumen tertentu dalam memasuki suatu wilayah.
Dalam kasus Amerika Serikat, sebagian besar penduduk yang tidak sah tersebut masuk ke AS tanpa adanya pemeriksaan ataupun tetap tinggal di luar tanggal yang telah ditentukan oleh bagian imigrasi negara. Mayoritas imigran ilegal ini masuk ke Amerika Serikat melalui perbatasan sepanjang 3.200 km antara AS dan Meksiko. Faktor kondisi geografis yang berdampingan dan sangat panjang tersebut tentunya menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah AS, di mana hal tersebut memungkinkan masuknya para imigran yang tidak memiliki dokumen ke dalam negaranya. Dengan masuknya imigran tanpa dokumen ini (ilegal), pemerintah AS khawatir bahwa para imigran ilegal tersebut akan menimbulkan berbagai masalah seperti merebut kesempatan kerja bagi warga AS, menjadi pengedar narkotika, ataupun menjadi aktor dalam perdagangan manusia.
Hal inilah yang mendorong Presiden AS pada saat itu Donald J. Trump untuk segera meningkatkan keamanan di sepanjang perbatasan dengan cara memperketat kebijakan imigrasi yang dinilainya terburuk di dunia. Trump menilai bahwa negara tanpa perbatasan tidak layak disebut sebagai sebuah negara. Sebagai implementasi rencana tersebut, Trump memerintahkan pembangunan dinding di sepanjang perbatasan AS-Meksiko sejauh 3.200 km. Dengan upayanya tersebut Trump meyakini bahwa masuknya imigran ilegal ke Amerika Serikat melalui perbatasannya dengan Meksiko dapat ditekan. dia juga meyakini bahwa pembangunan dinding pembatas merupakan satu-satunya cara terbaik untuk mengendalikan imigran ilegal yang masuk ke negaranya.
Namun upaya Trump dengan membangun dinding di sepanjang perbatasan tersebut menimbulkan kontroversi di dalam negerinya. Banyak pihak menganggap bahwa anggaran negara sebesar $5,7 miliar yang diminta Trump untuk pembangunan dinding tersebut sebagai pemborosan. Anggota dari Partai Demokrat AS berpendapat bahwa anggaran yang diperlukan untuk pembangunan tembok bisa digunakan untuk keperluan yang lebih mendesak, seperti pendidikan, perawatan kesehatan, dan infrastruktur lainnya. di sisi lain pembangunan dinding ini juga mendapat kecaman dari beberapa organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International, Human Rights Watch, dan American Civil Liberties Union (ACLU). Mereka menganggap bahwa proyek ini sebagai tindakan yang merendahkan dan diskriminatif terhadap imigran, terutama imigran ilegal yang mencari perlindungan sebagai pengungsi dari negara asalnya.
Selain itu, pembangunan tembok juga memengaruhi hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Meksiko. Proyek ini memicu ketegangan dan ketidaksepakatan antara kedua negara, yang memengaruhi kerja sama regional, diplomasi, dan perdagangan. Terlebih lagi pada awalnya Trump meminta Meksiko untuk membayar penuh biaya pembangunan dinding tersebut. Hal ini tentunya langsung direspon keras oleh Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto yang mengatakan bahwa mereka tidak akan membayar sepeserpun untuk pembangunan dinding tersebut.
Munculnya kecaman dan penolakan tersebut tidak membuat Trump gentar, dia terus berupaya mencari dukungan dalam merealisasikan gagasannya tersebut. Dalam pidato serta cuitan di media sosialnya, Trump terus mempromosikan kebutuhan dan urgensi pembangunan dinding. dia secara terbuka mengkritik dan menyalahkan penentang-penentangnya, terutama Partai Demokrat dan lawan politiknya, atas penolakan mereka terhadap pembangunan dinding. Trump juga menggunakan kekuasaan eksekutifnya sebagai Presiden dengan mendeklarasikan keadaan darurat nasional di perbatasan AS-Meksiko untuk mendapatkan akses terhadap dana tambahan tanpa persetujuan Kongres.
Berbagai upaya yang telah dilakukang oleh Trump pada akhirnya belum mampu untuk merealisasikan gagasannya mengenai pembangunan dinding tersebut. Dinding yang pada awalnya direncakankan sepanjang 3.200 km pada akhirnya hanya terealisasi sepanjang 725 km saja selama masa pemerintahan Trump. Besaran biaya pembangunan dinding menjadi permasalahan utama tidak terealisasinya gagasan ini secara penuh. Anggaran yang diminta untuk proyek tersebut terbukti sulit untuk diperoleh. Meskipun pada akhirnya terdapat alokasi dana dari pemerintah federal, namun jumlah tersebut masih belum cukup untuk melaksanakan pembangunan dinding sepanjang perbatasan seperti yang diinginkan oleh Trump. Kontroversi dan perdebatan mengenai sumber dana yang akan digunakan untuk proyek juga menyulitkan tercapainya pembangunan dinding secara keseluruhan.
Pada akhirnya proyek pembangunan dinding ini tidak berhasil mencapai tujuan utamanya. Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden mengambil langkah-langkah untuk menghentikan pembangunan tembok tersebut. Setelah pelantikannya pada 21 Januari 2021, Biden langsung mengeluarkan keputusan dengan menghentikan pendanaan federal yang dialokasikan untuk pembangunan dinding perbatasan. Akibatnya, pembangunan dinding langsung berhenti dan tidak ada penambahan signifikan dari panjang dinding yang sudah ada sejak saat itu.
Penulis: Ifan Fauzi, mahasiswa hubungan internasional UIN Jakarta.