JurnalPost.com – Indonesia Tanpa Gemini merupakan plesetan dari fenomena internet Indonesia Tanpa Pacaran yang pertama hadir di tahun 2015, dimulai oleh seorang penulis bernama La Ode Munafar. Ia memulai gerakan itu karena menerima banyak cerita remaja yang mengatakan bahwa masa depan mereka rusak karena pacaran. Hal ini memunculkan banyak pro-kontra, dan tentunya menjadi bahan obrolan panas di internet. Bahkan sampai hari inipun, gerakan tersebut masih sering muncul dalam sosial media.
Plesetan Indonesia Tanpa Gemini sudah ada sejak awal dipublikasinya Indonesia Tanpa Pacaran ke dalam media online, dan sampai saat ini masih sering kali digunakan. Dari sini, masyarakat mulai mengutarakan perasaan mereka terhadap zodiak gemini, terutama mengenai pengalaman buruk mereka. Orang-orang berzodiak gemini sering kali digambarkan sebagai seseorang yang bermuka dua dan terkadang flirty. Maka, apakah stereotip tersebut benar?
Tren Indonesia Tanpa Gemini di Mata Mereka yang Berzodiak Gemini
Seorang mahasiswa dengan zodiak Gemini, Angel, menganggap bahwa pada awalnya memang lelucon tersebut merupakan candaan biasa yang mengundang tawa darinya. “Awalnya tuh, ya, seru aja kan, kayak emang gemini banyak yang jago adaptasi gitu. Tapi lama-lama dibilang public enemy-lah, mulai agak sebel, karena kalo bahas zodiak gemini yang dibahas red flag mulu.” Ucapnya mengenai tren Indonesia Tanpa Gemini. Ia melanjutkan bahwa ia sering merasa sebal ketika segala hal dikaitkan dengan zodiaknya yang Gemini itu.
Walaupun hanya merupakan sebuah lelucon dan candaan dalam media sosial, tidak bisa dipungkiri fakta bahwa Indonesia Tanpa Gemini bisa jadi awal mula dari memburuknya stereotip terhadap zodiak tersebut. Tidak semua orang menggunakan media sosial untuk hal yang sama, dan kita juga tidak bisa menjamin usia, pekerjaan, ataupun watak penggunanya. Maka dari itu, lelucon tersebut bisa saja berdampak buruk terhadap mereka yang tidak paham mengenai hal tersebut.
Gemini dalam Astrologi
Dalam astrologi sendiri, gemini bukanlah zodiak yang bisa mendeskripsikan atau meramal keuangan seperti yang sering ditulis di internet. Ramalan zodiak yang biasa diunggah di majalah atau media sosial merupakan pop astrology, dimana mereka hanya mengambil sun sign–letak matahari ketika seseorang lahir-untuk memudahkan dalam pengelompokkan. Gemini sendiri merupakan salah satu musim dari 12 yang dilalui, yang diawali di akhir bulan Mei dan berakhir di akhir bulan Juni. Begitu kata Sabna Adam, seorang astrologer yang sudah mempelajari astrologi sejak tahun 2017.
“Alasan kenapa dia (gemini), dalam tanda kutip, dibenci mungkin karena lambangnya yang kembar, jadi orang mikirnya mereka two-face. Padahal gemini dalam astrologi itu air sign, dan air sign itu ngomongin soal komunikasi dan tahapan dalam bersosialisasi dan gemini itu tahapan pertama; membangun koneksi.” Katanya ketika ditanyakan tentang awal mula munculnya stereotip terhadap gemini.
Gemini memiliki motivasi yang berdasarkan oleh komunikasi dan interaksi awal dengan orang lain. Memulai koneksi itu cepat, maka dari itu gemini sering terlihat ramah terhadap orang baru. Sayangnya, keramahan tersebut sering disalahartikan menjadi bermuka dua. “Banyak orang yang mungkin terlalu baper buat nanggepin gemini. Mungkin mereka ngerasa tersakiti dengan gemini yang kayak gitu, padahal they’re just being friendly dan suka ngobrol dengan banyak orang.” Lanjut Sabna.
Tak hanya itu, Sabna menjelaskan mengenai pentingnya peran gemini dalam natal chart (bagan kelahiran) seseorang. Ia menjelaskan bahwa semua orang pasti memiliki gemini dalam bagannya, hanya saja letaknya berbeda-beda. Bahkan, jika seseorang tidak memiliki dalam bagan mereka, pasti akan tetap ada dalam houses mereka. Ini membuat tren Indonesia Tanpa Gemini sedikit ironis, karena rakyatnya tidak bisa eksis tanpa gemini dalam bagan kelahiran mereka.
Tidak seharusnya seseorang didefinisikan hanya dengan stereotip zodiak dari pop astrology, begitu halnya dengan tren Indonesia Tanpa Gemini. Mengutip dari Hermann Hesse dalam bukunya yang berjudul Demian, jika membenci seseorang, maka kamu membenci sesuatu yang ada dalam dirimu sendiri. Mau tidak mau, sadar tidak sadar, kita semua memerlukan gemini sebagai langkah awal untuk membangun koneksi.
Penulis: Shavanna Ambar Kirani, Mahasiswa Universitas Padjadjaran



