
JurnalPost.com – Genap 2 bulan sejak konflik antara Israel–Palestina dimulai, korban manusia masih berjatuhan hingga detik ini. Namun, meletusnya konflik ini tidak hanya terjadi di medan perang daratan. Memasuki dunia globalisasi di mana putaran informasi tidak lagi memiliki batas, media sosial turut menjadi medan perang. Tulisan ini akan membahas mengenai Hasbara, alat politik Israel yang digunakan sebagai aktor propaganda, serta menjadi ujung pedang Israel dalam menguasai opini publik.
Sejak deklarasi perang Israel, rasanya sulit bagi masyarakat awam untuk memosisikan dirinya dalam menghadapi isu ini. Informasi yang tersedia begitu banyak, menyulitkan pemahaman masyarakat untuk menentukan mana yang benar, mana yang fiktif. Salah satu alasannya adalah karena adanya pengaruh Harbara, suatu alat yang diupayakan untuk dapat mengendalikan, membentuk, bahkan membelokkan narasi-narasi negatif terhadap Israel.
Kata “Hasbara” sendiri merupakan bahasa Ibrani, yang memiliki arti “menjelaskan” jika ditranslasikan ke Bahasa Indonesia. Hasbara, menggunakan penyajian estetika visual dan pesan persuasif memainkan gerakan manipulasi yang kompleks dan licik. Berbagai strategi komunikasi persuasif digunakan, hanya demi satu tujuan, membentuk persepsi publik.
Dalam politik, persepsi adalah kenyataan. Sementara narasi, dapat merekayasa dan memutarbalikkan persepsi. Narasi yang dibangun dapat memberikan validitas atas suatu persepsi, serta memberikan invaliditas terhadap persepsi yang lain. Di sinilah peran Hasbara muncul, sebagai tombak utama yang membangun narasi. Narasi dapat digambar sesuai keinginan mereka untuk memberikan justifikasi atas kekejaman Israel.
Buktinya dapat kita amati secara langsung. Israel memiliki berbagai cara untuk menciptakan dan mempertahankan narasi yang menguntungkan mereka. Portal-portal berita dan informasi di media sosial dikendalikan oleh Israel agar dapat terus menyentuh masyarakat awam. Selain melalui kanal resmi telekomunikasi mereka, Israel menggunakan media sosial yang memiliki efektifitas kuat seperti X (Twitter), Instagram, Facebook, dan YouTube. Pengendalian informasi dilakukan dengan licik, membanjiri masyarakat mengenai berita yang telah difabrikasi, dan menahan berita yang merugikan pihak mereka.
Selama pertempuran Gaza, Israel dengan gencar memberikan narasi dengan menggambarkan negaranya sebagai korban tak bersalah dari serangan militan yang dipenuhi kebencian tidak rasional. Mereka memosisikan dirinya sebagai pihak yang tidak bersalah dan menjadikan “self-defence” sebagai justifikasi kekejaman mereka. Di media sosial, strategi ini cukup berhasil. Masyarakat awam tidak mendapatkan informasi mengenai aksi Israel yang telah memprakarsai eskalasi peperangan ini, menembakkan amunisi yang seribu kali lebih banyak dari Gaza, membunuh manusia-manusia tidak bersalah yang bahkan termasuk warga sipil, dan kerap melanggar aturan peperangan lainnya yang telah diatur oleh hukum internasional.
Dugaan dan tuntutan yang diberikan terhadap Israel selalu mereka tepis, dengan satu alasan, bahwa Israel berhak untuk melakukan hal tersebut karena mereka merupakan korban. Mirisnya, strategi ini sangat efektif. Hasbara menjadikan kejahatan perang sebagai suatu hal yang berhak dilakukan, dan memaksa masyarakat untuk menormalisasikan hal tersebut. Inilah yang selalu dijadikan alasan oleh Israel ketika mereka membombardir sekolah, rumah sakit, perumahan penduduk, dan bangunan sipil lainnya. Mereka bahkan membuat narasi bahwa pihak Hamas-lah yang memancing Israel untuk membunuh lebih banyak korban sipil, karena Hamas menggunakan warga sipil sebagai “perisai manusia”.
Konflik yang sedang terjadi ini bukanlah sebuah perang, konflik ini bukan konflik antara dua pihak yang memiliki kesamaan kekuatan politik dan militer. Melainkan sebuah penindasan, antara yang menindas dan yang ditindas. Sudah 75 tahun lamanya propaganda Israel telah mengizinkannya mendapatkan pengecualian dalam bentuk melanggar norma dan hukum internasional dengan rangkaian narasi yang dijadikan justifikasi.
Israel sadar dengan baik bahwa narasi yang mereka buat tidaklah benar dan dunia ini mudah dibohongi. Oleh karena itu, dalam upaya untuk membuat ketidakbenaran itu menjadi nyata, Israel melanjutkan perang ideologis yang berkelanjutan untuk menormalkan hal yang abnormal di Palestina.
Muhammad Arsy Azzumar
Mahasiswa Hubungan Internasional
Universitas Padjadjaran



