
JurnalPost.com – Gen Z lahir pada pertengahan tahun 1999-an hingga awal 2010, generasi ini tumbuh dan berkembang di dalam era teknologi, sehingga penggunaan teknologi tersebut bisa dibilang sebagai kebutuhan hidup sehari-hari. Hadirnya Gen Z dalam era digital ini telah mengubah gaya hidup secara signifkan karena adanya tren-tren viral yang dapat mereka ketahui dari sosial media. Dalam artikel ini akan membahas tentang betapa pengaruhnya tren viral terhadap masa depan Gen Z, serta bagaimana menghadapinya.
Seiring berjalannya waktu, teknologi semakin canggih. Semua bisa diakses melalui internet dengan mudah. Mulai dari berkomunikasi jarak jauh, pesan makanan lewat online, hingga berbelanja kebutuhan sehari-hari pun bisa online tanpa mengunjungi langsung ke tempatnya. Gen Z saat ini sangat bergantung terhadap media sosial, seolah-olah media sosial ini sebagai partner hidup. Gen Z rentan terhadap pengaruh tren viral yang dimana seseorang tersebut hanya dengan melihat konten yang lagi viral langsung merasa tergiur dan terdorong untuk melakukan hal tersebut yang sedang tren.
Pada tahun 2024, dilansir dari (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII), 2024) pengguna internet di Indonesia mencapai 221.563.479 jiwa, sedangkan total populasi pada tahun 2023 mencapai 278.696.200 jiwa penduduk. Dari hasil survei APJII tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 79,5% dibandingkan dengan periode sebelumnya ada peningkatan 1,4% . Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengguna internet di Indonesia naik secara signifkan dan mayoritas Gen Z sebanyak 34,40%, sementara generasi milenial sebanyak 30,62%.
Media yang marak dengan tren viral tahun 2024 ini adalah media Tiktok, Instragam, Facebook dan Twitter. Tren viral sangat bervariasi, mulai dari konten makanan, minuman, produk skincare hingga fashion dan masih banyak lagi. Dengan adanya sistem online ini seseorang akan menjadi malas untuk berinteraksi secara langsung dan akan menghabiskan waktunya dengan bersosial media. Tak heran jika media sosial itu menyebabkan candu di kalangan Gen Z, hilangnya kesopanan seperti halnya ketika anak sedang sibuk melihat sosial media lalu dipanggil orang tua bukannya malah disamperin tetapi malah dibentak orang tuanya. Segitunya media sosial merubah pola pikir manusia.
Menurut pandangan saya saat ini orang indonesia sangat bergantung kepada media sosial, mulai dari orang dewasa hingga anak dibawah umur. Terutama pada Gen Z seumuran 9-10 tahun yang masih menduduki bangku SD sekarang pada jago bikin konten tiktok. Adanya konten-konten yang lagi trend dan viral memberikan gambaran terhadap anak dibawah umur tesebut. Tanpa disadari secara tidak langsung mereka tanpa rasa malu memamerkan hal-hal yang tidak semsetinya diperlihatkan kepada publik. Karena terkadang pemikiran orang lain pro dan kontra, sehingga kalau dipandang dari segi umur belum waktunya anak dibawah umur tersebut melakukan hal seperti itu.
Kurangnya edukasi dan pengawasan orang tua, tanpa memperhatikan resiko dan konsekuensi yang terlibat. Dampak positif penggunaan platform tersebut bisa dijadikan ajang bisnis online dengan membuat konten promosi karena lebih luas jangkauannya, sedangkan dampak negativenya adalah pada kesehatan fisik dan mental, seperti selalu mengikuti tren yang lagi viral hingga menyebabkan stress dan gangguan mental.
Yang harus dilakukan
Dalam ruang lingkup sekolah maupun rumah, seharusnya diajarkan tentang kritis dalam berfikir guna meningkatkan pemahaman tentang implikasi jangka panjang dari tindakan mereka dan membangunn pola pikir yang lebih sehat dalam menghadapi tren yang muncul.
Berikut beberapa langkah dan solusi yang tepat dalam menanggulangi hal tersebut agar tidak kecanduan terhadap tren viral :
1. Menanamkan pendidikan agama
Diajarkannya cara bersosialisasi dengan baik, dan ditanamkan nilai-nilai sikap dan sifat yang agamis. Orang tua juga harus ikut serta dalam memberikan contoh hidup yang berlandaskan pada nilai-nilai agama agar mempunyai wawasan tentang batasan dalam etika bergamanya.
2. Meluangkan waktu untuk anak guna meningkatkan komunikasi di lingkungan keluarga
Kesibukan orang tua menimbulkan miss komunikasi antara orang tua dengan anak
3. Membatasi waktu bermain smartphone
Orang tua harus bisa membatasi penggunaan smartphone, agar bisa memanfaatkan waktu yang lebih bermanfaat seperti belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah daripada smartphone.
4. Edukasi terkait bahayanya jika berlebihan menggunakan media sosial
Sebaiknya anak diberikan pemahaman secara utuh terkait dampak negatif dan poistif penggunaan media sosial agar bisa membatasi dalam penggunaanya.
5. Beraktivitas dalam kegiatan yang lebih produktif
Memanfaatkan waktu dengan melakukan hal-hal yang lebih produktif seperti mengikuti les atau workshop
Oleh Anggraeni Ardhiana Bhakti – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya



