• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Fenomena Parent Abuse by Childern: Pergeseran Otoritas dalam Keluarga Modern

Editor Nadia
10 Juni 2025
in Artikel

Oleh: Novi Agustini (5012211018), Irma Novitri (5012211014), Suchi Melinda (5012211063), Kuswatun khasanah (5012211096), Feby Sariandita (5012211091), dan Devan (5012211035)

ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji fenomena parent abuse atau kekerasan anak terhadap orang tua (Child-to-Parent Violence/CPV) yang semakin marak terjadi dalam dinamika keluarga modern. “Parent abuse” didefinisikan sebagai tindakan kekerasan fisik, psikologis, emosional, maupun finansial yang dilakukan anak atau remaja terhadap orang tuanya secara berulang, menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan keluarga.

Transformasi struktur keluarga dari sistem hierarkis-patriarkal tradisional menuju pola yang lebih demokratis telah mengakibatkan pergeseran otoritas yang signifikan. Perubahan ini diperkuat oleh pengaruh teknologi dan media sosial yang memberikan anak akses mudah terhadap informasi, sehingga mengurangi pengaruh orang tua sebagai sumber utama pendidikan moral. Faktor-faktor penyebab utama meliputi: perubahan pola asuh yang permisif, dominasi teknologi dan media sosial, disfungsi struktur keluarga, kesulitan ekonomi, dan tekanan dari lingkungan pergaulan.

Dampak fenomena ini terhadap keluarga mencakup kerusakan hubungan orang tua-anak, trauma pada korban, dan perpetuasi siklus kekerasan. Pada tingkat masyarakat, parent abuse berkontribusi pada ketidakstabilan sosial dan gangguan sosial jangka panjang. Analisis menggunakan Teori Anomie Emile Durkheim menunjukkan bahwa fenomena ini terjadi akibat melemahnya norma-norma sosial dan hilangnya kontrol sosial dalam keluarga selama masa perubahan sosial yang cepat.

Solusi yang direkomendasikan meliputi: (1) membangun komunikasi terbuka dan kepercayaan dalam keluarga, (2) memperbaiki pola asuh dengan pendekatan demokratis namun tetap tegas, (3) menyusun perencanaan target pendidikan yang tepat, (4) mengadakan support group dan family time, serta (5) menyediakan dukungan dan layanan rehabilitasi. Implementasi solusi ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan otoritas yang sehat antara orang tua dan anak serta mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.
Kata kunci: parent abuse, kekerasan anak terhadap orang tua, pergeseran otoritas, keluarga modern, teori anomie

Pengertian Parent Abuse
Definisi Parent abuse atau Child-to-Parent Violence (CPV), merupakan sebuah fenomena di mana seorang anak atau remaja melakukan tindakan kekerasan berupa kekerasan fisik, psikologis, emosional maupun finansial terhadap orang tuanya. Kekerasan dalam hal ini mencakup berbagai bentuk seperti, adanya perilaku agresif, kekerasan verbal berupa ancaman hingga serangan fisik yang mana dilakukan oleh anak terhadap orang tua mereka. Jika dibandingkan dengan konflik keluarga lainnya, kekerasan dalam parenta abuse dapat terjadi secara berulang-ulang sehingga menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan. Anak akan menjadi lebih mendominasi, dengan kata lain menjadikan kekuasaan yang dimilikinya semakin dominan. Oleh karena inilah, orang tua akan mengalami tekanan yang justru melemahkan sifat kekuasaannya.

Ditengah-tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, struktur keluarga modern telah mengalami perubahan yang signifikan dari cara tradisional yang bersifat hierarkis dan patriarkal menjadi lebih demokratis. Hal tersebut dikarenakan adanya pergeseran otoritas, di mana orang tua memberikan kebebasan serta kurang memberikan aturan yang ketat terhadap anak mereka. Pada kondisi ini, otoritas anak akan menguat dan dikukuhkan dengan pengaruh dari teknologi dan juga media akses yang mudah terhadap informasi melalui internet dan media sosial memberikan anak-anak berupa pengetahuan serta pandangan yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan orang tua. Maka hal ini dapat mengakibatkan seorang anak tidak patuh dan kurang menghormati orang tua serta lebih lebih mudah dalam melakukan intimidasi. Dampaknya, orang tua sebagai korban kekerasan sering kali mengalami depresi dan stress yang berlebihan. Selain itu, tingginya stigma sosial terkait kekerasan anak terhadap orang tua selalu dikaitkan dengan pola asuh yang buruk yang mana dapat membuat orang tua enggan mencari bantuan dan terus-menerus melakukan isolasi karena merasa malu untuk melaporkan permasalahan tersebut.

Adapun berbagai pendekatan yang dapat dilakukan guna mengatasi fenomena parent abuse yakni seperti, pendekatan psikologis, konseling keluarga, dan pendidikan pola asuh yang lebih tegas namun tetap penuh kasih sayang. Dengan demikian, diharapkan dapat terciptanya keseimbangan otoritas dalam hubungan antara orang tua dan anak serta menghindari kekerasan dalam rumah tangga.

Faktor-Faktor Penyebab Parent Abuse by Childern
Dalam dinamika keluarga modern terdapat pergeseran otoritas yang signifikan antara orang tua dan anak. Salah satu dampak nyata dari perubahan ini adalah munculnya fenomena “parent abuse” yaitu ketika seorang anak menunjukan perilaku agresif, baik secara fisik, emosional ataupun finansial terhadap orang tua mereka. fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Adapun penyebab utama terjadinya kekerasan ini adalah perubahan pola asuh yang cenderung primisif. Banyak orang tua di era modern yang mencoba menjauh dari gaya otoriter yang kaku dan memilih menjadi lebih demokratis dalam membesarkan anaknya. Akan tetapi, ketika letak batas antara kedekatan dengan kedisiplinan menjadi kabur, anak bisa kehilangan rasa hormat terhadap otoritas orang tua. Mereka tidak lagi melihat orang tua sebagai figur yang harus dihormati, namun sebagai rekan setara atau pihak yang bisa ditentang.

Perkembangan teknologi dan dominasi media sosial turut berperan dalam menggeser nilai-nilai keluarga. Di mana anak-anak sekarang lebih banyak menggunakan gadget dan internet sebagai bentuk informasi yang mereka dapatkan selain dari orang tua dan sekolah. Hal inilah yang dapat mengurangi pengaruh orang tua sebagai sumber utama pendidikan moral dan etika dalam keluarga. Akibatnya, anak merasa dirinya lebih pintar, lebih tahu, dan tidak lagi membutuhkan arahan dari orang tua mereka. Munculnya disfungsi dalam struktur keluarga juga menjadi pemicu dari fenomena ini. keluarga yang mengalami perceraian, kekerasan dalam rumah tangga maupun pasangan, serta ketidakhadiran salah satu figur orang tua, hal ini dapat menghadirkan celah dalam relasi antara orang tua dan anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini biasanya mengembangkan emosi yang tidak stabil dan dapat melampiaskan rasa amarah nya terhadap keluarga dan orang tua yang dianggap sebagai sumber masalah.

Kesulitan ekonomi menjadi faktor penting dalam pergeseran otoritas. Dalam beberapa kasus, anak yang telah bekerja dan menopang kebutuhan keluarga merasa memiliki kuasa lebih besar daripada orang tuanya. Dengan ketergantungan ekonomi orang tua kepada anaknya dapat menempatkan mereka dalam posisi rentan, yang kemudian dimanfaatkan oleh anak untuk menunjukkan dominasinya. Selain itu, adanya tekanan dari teman sebaya dan norma-norma dalam kelompok remaja juga dapat mempengaruhi perilaku mereka terhadap orang tuanya.

Dampak Terhadap Keluarga dan Masyarakat
A. Dampak terhadap keluarga
Adapun dampak kekerasan yang dilakukam anak terhadap keluarga nya terdiri dari tiga macam, yaitu antara lain:
1. Kerusakan hubungan antara orang tua dan anak
Kekerasan yang dilakukan oleh anak terhadap orang tua dapat menimbulkan ketegangan, rasa takut, saling tidak percaya, kesenjangan emosional, memperburuk komunikasi, dan ketidaksepakatan dalam keluarga.

2. Trauma pada korban
Korban kekerasan dalam keluarga sering merasa tidak aman, mengalami masalah kepribadian, agresvitas, penarikan diri, dan trauma berkepanjangan yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologisnya.

3. Prepetuasi siklus kekerasan
Anak yang melakukan kekerasan dalam keluarga beresiko melanjutkan perilaku agresif ini ke generasi berikutnya. Sehingga, siklus kekerasan dalam keluarga sulit diputus tanpa intervensi.
B. Dampak terhadap masyarakat
Adapun dampak kekerasan kepada masyarakatnya terdiri dari dua macam, yaitu antara lain:
1. Ketidakstabilan sosial
Kekerasan dalam keluarga berkonstribusi pada meingkatnya kriminalitas dan konflik sosial karena trauma dan perilaku negatif yang berlanjut dari korban dan pelaku kekerasan.

2. Gangguan sosial jangka panjang
Korban kekerasan beresiko mengalami gangguan kesehatan mental, kesulitan menjalin hubungan sosial yang sehat, dan perilaku seperti kriminalitas yang mana dapat memperburuk kondisi sosial masyarakat.

Analisis Kasus Kekerasan Anak Terhadap Orang Tua
Belakangan ini, terjadi beberapa kasus kriminal yang dilakukan oleh anak terhadap orang tua mereka. Kekerasan tersebut biasanya dilakukan karena pertengkaran antara orang tua dan anak maupun karena permasalahan sepele. Dalam hal ini, salah satu jenis kekerasan yang akhir-akhir ini sering terjadi adalah tindak penganiyaan, yakni penganiyaan yang dilakukan oleh anak terhadap orang tua kandungnya. Penganiyaan yang dilakukan oleh anak terhadap orang tuanya memberikan suatu perspektif sangat menyedihkan selain pada keluarga yang ditinggali juga bagi pihak-pihak yang mengetahui terjadinya penganiyaan tersebut.

Anak merupakan buah hati dari orang tuanya, maka dengan keadaan demikian terdapat harapan yang digantungkan orang tua kepada anaknya. Akan tetapi, pada kenyataannya bertentangan dengan hukum dimana seorang anak mampu melakukan penganiyaan terhadap orang tua kandungnya. Pada dasarnya bahwa hubungan antara anak sebagai individu dengan lingkungan sekitarnya sangat erat sekali. Dimana perkembangan pribadi anak semakin lama menjadi lebih stabil dan akan menjadi corak kelakuan, sikap dan kepribadian dimasa depan. Salah satu contoh tindak penganiyaan seorang anak terhadap ibunya, di Kampung Paya Tumpi Induk, Kabupaten Aceh Tengah pada Rabu (24/4), yaitu ER yang berusia 25 tahun, menganiaya ibunya sendiri karena keinginannya dibelikan sepeda motor. Demikian juga penganiayaan oleh anak di Sumatera Utara pada Senin (1/4) yang bernama Wem Pramat, usia 33 tahun, dimana tega menggorok leher ibunya lantaran kesal dimarahi sang ibu karena menghisap rokok mahal. Berdasarkan contoh kasus tersebut, beberapa faktor yang dapat mendorong seorang anak melakukan tindakan penganiayaan bahkan pembunuhan terhadap orang tua, seperti tinggal di tempat yang memiliki tingkat kekerasan yang tinggi, masalah keluarga, konflik yang terus-menerus, masalah kesehatan, trauma yang mendalam, ataupun masalah ekonomi juga tak jarang menjadi sumber pemicunya. Oleh karena itu, setiap kasus itu berbeda dan yang pastinya dipengaruhi oleh faktor individu, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Teori Anomie Emile Durkeim dalam Konteks Parent Abuse by Childern

A. Teori Anomie Emile Durkheim
Teori anomie dikemukakan oleh Emile Durkheim dalam karya klasiknya ”The Division of Labour in Society” (1893) dan dikembangkan lebih lanjut dalam Suicide (1897). Istilah anomie berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tanpa norma”. Anomie merujuk pada suatu kondisi dimana norma dan nilai dalam masyarakat mengalami pelemahan atau bahkan kehilangan kekuatannya dalam mengatur perilaku individu (Durkheim,1897/1951).

Durkheim menjelaskan bahwa dalam masa-masa perubahan sosial yang cepat seperti modernisasi, urbanisasi, atau krisis ekonomi masyarakat mengalami disorganisasi nilai. Dalam situasi tersebut, masyarakat gagal menyediakan pedoman perilaku yang jelas bagi anggotanya. Ketika individu tidak memiliki norma yang dapat dijadikan acuan dalam bertindak, mereka cenderung mengalami kebingungan moral dan bertindak menyimpang. Anomie juga terjadi ketika ketidakseimbangan antara tujuan yang ingin dicapai masyarakat dan sarana yang tersedia secara sah untuk mencapainya. Dalam kondisi ini, individu bisa memilih cara-cara yang menyimpang, termasuk kekerasan, untuk mencapai keinginannya.

B. Keterkaitan Teori Anomie dengan Fenomena Parent Abuse
Fenomena parent abuse dapat dijelaskan melalui teori anomie yang dikembangkan oleh Emile Durkheim. Teori ini menyatakan bahwa ketika norma-norma sosial melemah atau hilang, individu akan mengalami kebingungan moral dan rentan melakukan tindakan menyimpang. Dalam konteks keluarga, anomie muncul ketika nilai-nilai tradisional, seperti menghormati orang tua, mulai luntur akibat perubahan sosial yang cepat, seperti modernisasi dan globalisasi. Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi norma keluarga yang tidak stabil cenderung tidak memiliki pedoman perilaku yang jelas. Jika orang tua gagal menjadi teladan atau tidak mampu memberikan arahan moral yang kuat, anak akan mencari nilai-nilai dari lingkungan luar yang belum tentu positif. Dalam tekanan sosial, seperti konflik keluarga, tuntunan ekonomi, atau pengaruh media, anak bisa melampiaskan rasa frustasinya kepada orang tua. Dengan demikian, perilaku ini merupakan bentuk penyimpangan akibat hilangnya kontrol sosial yang seharusnya terbentuk dalam keluarga.

Solusi Untuk Mengatasi Parent Abuse by Childern
Berdasarkan analisis teori anomie dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap fenomena ini adalah antara lain:
1. Komunikasi Terbuka dan Membangun Kepercayaan
Orang tua perlu membangun keperrcayaan. Misalnya, jika seorang anak memiliki rahasia, maka orang tua tidak membocorkannya. Selain itu, jika anaknya mempunyai emosi tertentu, orang tua memvalidasinya tanpa mengabaikan dan menghakiminya.

2. Memperbaiki Pola Asuh
Sebaiknya pola asuh harus dibenahi agar terjadi hubungan yang sehat antara anak dan orang tua. Bukan anak yang menjadi super power, sedangkan orang tua mengalah. Akan tetapi, tetap ada suasana demokratis.

3. Memiliki perencanaan target atau approach yang tepat
Orang tua juga harus memiliki perencanaan target yang tepat guna bisa mendidik anak secara tepat dan bisa menghormati orang tuanya.
4. Support Group atau Family Time

5. Adanya Dukungan dan Layanan Rehabilitas

Daftar Pustaka
Durkheim, E. (1951). Suicide: A study in sociology (J. A. Spaulding & G. Simpson, Trans.). Glence, IL: The Free Press. (Original work published 1897).
Seputri, A. W. (2008). Kekerasan Anak Terhadap Orang Tua (Kateinaiboryoku) Di Masyarakat Kontemporer Jepang Dalam Hubungannya dengan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi (Kodo Keizai Seicho). 2-9.
Tarigan, P. (2010). Tindak Pidana Pengniayaan Yang Dilakukan Anak Terhadap Orang Tua Kandungnya Ditinjau Dari Sudut Kriminilogi (Studi Kasus Pengadilan Negeri Sisikalang). 2-41.
https://www.alinea.id/gaya-hidup/di-balik-kasus-kekerasan-anak-terhadap-orang-tua-b2k659PQs?_gl=1*cdf9jq*_ga*NW1NQ3IXdDNXc2stSUtrYzBnMIhwNTFrM1IYenZIR3d4c0g3dHFjd0YzeINVdDAzLWJmMTd4NXpFLW9HeW5jYg.

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.