
Oleh: Daniel Marcelino S. Purba, Nabil Ramadhan Batubara, Nadya Baby Noya, Puan Yasmine Majeddah Mantondang, Sabrina Zaskia Pratiwi, Sepriana Gurning, Yos Nathanael Mahanaim Kaban
Universitas Sumatera Utara
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena flexing di media sosial dan dampaknya terhadap perilaku konsumtif mahasiswa di Kota Medan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk memahami persepsi dan pengalaman mahasiswa terkait flexing di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa flexing dapat memicu perilaku konsumtif, terutama pada mahasiswa yang aktif di platform seperti Instagram dan TikTok. Fenomena ini memunculkan tekanan sosial, rasa iri, serta dorongan untuk meniru gaya hidup mewah yang tidak sesuai kemampuan ekonomi. Selain itu, flexing juga berdampak pada kesehatan mental, seperti kecemasan dan rasa tidak puas diri. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar bagi penguatan literasi digital dan finansial di kalangan mahasiswa.
Kata kunci: flexing, media sosial, perilaku konsumtif, mahasiswa Medan.
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara individu berinteraksi dan mengekspresikan diri di ruang digital. Media sosial kini menjadi ruang utama untuk menunjukkan pencapaian, gaya hidup, bahkan kekayaan. Fenomena ini dikenal sebagai flexing, yaitu perilaku memamerkan barang mewah, liburan, atau status sosial demi mendapatkan pengakuan dan validasi dari orang lain.
Kota Medan sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi di Indonesia memiliki populasi mahasiswa yang tinggi. Tingginya paparan media sosial di kalangan mahasiswa menjadikan mereka kelompok yang rentan terhadap pengaruh budaya flexing. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2022), sekitar 75% mahasiswa di kota besar menggunakan media sosial lebih dari dua jam per hari. Kondisi ini memperkuat potensi munculnya perilaku konsumtif, terutama ketika individu berusaha meniru gaya hidup yang ditampilkan oleh influencer atau teman sebaya.
Penelitian ini berfokus untuk memahami bagaimana flexing di media sosial berperan dalam membentuk perilaku konsumtif mahasiswa Medan serta bagaimana mahasiswa merespons fenomena tersebut dalam konteks sosial dan budaya lokal.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 30 mahasiswa dari berbagai program studi di Universitas Sumatera Utara dan beberapa universitas lain di Medan. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria:
1. mahasiswa aktif pada tahun akademik 2025,
2. aktif menggunakan media sosial, dan
3. pernah terpapar konten flexing.
Data dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pemahaman Mahasiswa tentang Flexing
Sebagian besar responden mendefinisikan flexing sebagai tindakan memamerkan sesuatu secara berlebihan, baik berupa barang, gaya hidup, maupun pencapaian pribadi. Mayoritas menilai flexing identik dengan perilaku pamer dan pencarian pengakuan sosial. Namun, sebagian kecil mahasiswa menilai flexing dapat bersifat positif apabila digunakan untuk memotivasi diri dan orang lain.
2. Dampak Flexing terhadap Mahasiswa
Sebanyak 93% responden menyatakan bahwa dampak flexing lebih banyak negatif. Dampak utama yang ditemukan antara lain:
• Tekanan sosial dan FOMO (Fear of Missing Out): mahasiswa merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren.
• Gaya hidup konsumtif: dorongan untuk membeli barang mahal agar dianggap setara.
• Masalah finansial dan mental: stres, rasa rendah diri, hingga hutang akibat keinginan tampil mewah.
• Menurunnya empati sosial: fokus pada pencitraan diri dibandingkan solidaritas terhadap sesama.
Meski demikian, sebagian kecil responden menganggap flexing dapat memberi semangat berprestasi apabila dilakukan dalam konteks positif, seperti menunjukkan keberhasilan akademik atau karya pribadi.
3. Upaya Mengatasi Pengaruh Flexing
Mahasiswa mengemukakan beberapa strategi untuk menghindari dampak negatif flexing, antara lain:
• Mengurangi waktu penggunaan media sosial.
• Unfollow akun-akun yang memicu perbandingan sosial.
• Meningkatkan kesadaran diri dan rasa syukur.
• Menggunakan media sosial untuk hal produktif seperti edukasi dan pengembangan diri.
4. Tinjauan Nilai Pancasila
Fenomena flexing bertentangan dengan nilai Pancasila, terutama sila ke-2 “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan sila ke-5 “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Sikap pamer berlebihan mencerminkan kurangnya empati serta menimbulkan kesenjangan sosial. Dengan demikian, literasi digital berbasis nilai Pancasila menjadi penting untuk membentuk perilaku mahasiswa yang lebih bijak dan beradab di dunia maya.
KESIMPULAN
Fenomena flexing di media sosial terbukti berpengaruh terhadap perilaku konsumtif mahasiswa di Kota Medan. Paparan gaya hidup mewah di media sosial mendorong mahasiswa untuk meniru perilaku konsumtif yang berlebihan dan berdampak pada kondisi mental serta sosial mereka.
Diperlukan kesadaran dari mahasiswa untuk lebih selektif dalam menggunakan media sosial, serta dukungan dari pihak kampus dan pemerintah melalui program literasi finansial dan digital agar mahasiswa mampu mengendalikan perilaku konsumtif dan menumbuhkan etika bermedia sosial yang sesuai dengan nilai Pancasila.