Aisyah Wulan Sya’bannia1, Cyta Ayu Angraini2, Esfaranza Ratu Suwendah3, Manisha Khoilara4, Yoga Susanto5, Wulandari6.
1’2’3’4’5’6Pogram Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung
Jl. Kampus Terpadu, Balunijuk, Bangka
Hidup Single dikalangan Generasi Z
Di era masyarakat modern saat ini, hidup single dianggap sebagai bentuk self-empowerment yang artinya sebagai bentuk pilihan hidup seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan. Fenomena hidup single sifatnya bisa sementara, atau menjadi pilihan jangka panjang tergantung pada preferensi, kondisi hidup seseorang, dan nilai-nilai yang mereka pegang. Hal ini dipengaruhi oleh pengunaan media sosial di indonesia dilansir dari laman goodstats.id, menurut data dari We Are Social menjelaskan bahwa sebanyak 49,9% atau terdapat 139 juta masyarakat indonesia yang memiliki akun media sosial, pengunaan terbanyak pada whatsApp sebanyak 90,9% disusul oleh instagram, facebook, tiktok, telegram, hinggga X sebanyak 50%, namun penggunaan media sosial dengan rerata waktu tertinggi di indonesia jatuh pada aplikasi dengan angka 38 jam 26 menit (GoodStats, 2024). Berdasakan data tersebut, menandakan bahwa orang Indonesia khususnya generasi Z banyak menghabiskan waktu mereka dengan melihat apa yang ditampilkan di media sosial. Pengaruh dari media sosial saat ini juga semakin memperkuat fenomena tren hidup single dikalangan generasi muda khususnya generasi Z.
Sehingga di era digital saat ini, media sosial memainkan peran penting dalam membentuk preferensi dan gaya hidup generasi muda, termasuk dalam hal memilih jalan hidup single atau tidak menikah. Dilansir dari laman cnbcindonesia.com, dari 65,82 juta jiwa penduduk indonesia yang berkategori pemuda dengan rentan usia 16-30 tahun pada tahun 2022 dan didominasi oleh generasi Z, sebanyak 64,56% masih berstatus lajang atau belum menikah. Dari persentase tersebut perempuan memiliki peranan yang besar dalam fenomena ini sebanyak 10,15% dibandingkan laki-laki dengan persentase 7,42% dalam beberapa tahun terakhir (CNBC Indonesia,2023). Tingginya persentase perempuan yang memilih hidup single dibandingkkan dengan laki-laki tentunya dipengaruhi oleh media sosial saat ini yang tidak hanya sebagai media untuk berkomunikasi, namun juga menjadi wadah untuk mempengaruhi seseorang melalui konsumsi yang dipertontonkan. Media sosial memperkuat pola pikir ini dengan menyuguhkan beragam narasi yang mencerminkan kegagalan dalam kehidupan pernikahan. Munculnya berbagai kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), konflik dalam keluarga, perselingkuhan oleh pasangan, perceraian, kesulitan dalam mengasuh anak yang menyebabkan stres atau baby blues, perubahan bentuk tubuh, dan hilangnya kebebasan pribadi banyak dibagikan di berbagai platform digital. Paparan terhadap pengalaman-pengalaman negatif yang seseorang bagikan dalam bentuk konten video maupun melalui fitur komenan semakin membentuk persepsi di kalangan gen Z bahwa pernikahan tidak selalu membawa kebahagiaan atau stabilitas emosional seperti yang selama ini dibayangkan hal ini justru menanamkan rasa takut bahkan trauma untuk memulai suatu hubungan. hasilnya, banyak generasi muda menjadi lebih kritis dalam memaknai pernikahan dan memilih untuk menunda, bahkan tidak menikah sama sekali.
Hal ini menunjukkan adanya perubahan yang signifikan terkait preferensi menikah di era sekarang ini khususnya dikalangan generasi muda. Di kalangan Generasi Z, tren hidup single semakin terlihat nyata sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya fokus terhadap karier, pengembangan diri, serta pencarian makna kebahagiaan secara personal. Alih-alih menjadikan pernikahan sebagai tujuan utama dalam hidup, banyak anak muda saat ini melihat kebahagiaan pribadi dan pencapaian diri sebagai prioritas yang lebih penting. Mereka menyadari bahwa setelah menikah, ruang untuk fokus pada diri sendiri akan jauh lebih terbatas karena munculnya tanggung jawab terhadap pasangan, anak, dan kehidupan rumah tangga secara keseluruhan.
Pengaruh Kontruksi Media Sosial bagi Generasi Z
Perkembangan teknologi komunikasi, khususnya media sosial, telah membawa perubahan besar dalam konstruksi sosial masyarakat, termasuk dalam hal dinamika keluarga dan pilihan gaya hidup. Di masa lalu, norma sosial di Indonesia sangat menekankan pentingnya pernikahan sebagai salah satu tujuan hidup utama. Menikah dipandang sebagai bentuk kedewasaan, pencapaian, dan pemenuhan ekspektasi keluarga serta masyarakat. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya arus informasi melalui media sosial, terjadi pergeseran paradigma yang signifikan. Media sosial kini menjadi ruang sosial baru yang sangat berpengaruh dalam membentuk, mendekonstruksi, dan menyebarluaskan nilai-nilai serta norma kehidupan, termasuk mengenai pernikahan dan hidup single.
Media sosial seperti TikTok menyediakan platform bagi individu untuk mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, dan membangun komunitas yang memiliki pandangan serupa. Melalui media sosial, narasi tentang hidup single tidak lagi dianggap tabu atau sebagai kegagalan dalam menjalani kehidupan, melainkan sebagai pilihan yang rasional dan bahkan membanggakan. Banyak konten yang menampilkan kisah sukses individu yang memilih untuk hidup mandiri, fokus pada karier, pengembangan diri, dan pencapaian finansial tanpa harus terikat pada institusi pernikahan. Narasi ini secara tidak langsung membentuk konstruksi sosial baru bahwa hidup single adalah pilihan yang valid, bahkan seringkali dianggap lebih modern dan tepat. Selain itu, media sosial juga mempercepat proses internalisasi nilai-nilai individualisme dan kebebasan pribadi. Generasi muda, khususnya Generasi Z, sangat terpapar pada konten yang menekankan pentingnya self-love, self-care, dan pencarian makna hidup secara personal. Hal ini mendorong mereka untuk mempertimbangkan kembali keputusan-keputusan besar dalam hidup, termasuk pernikahan. Banyak dari mereka yang merasa bahwa menikah bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan, dan hidup single justru memberikan ruang lebih luas untuk mengejar impian dan minat pribadi (Irma Suryani et al., 2025).
Namun, konstruksi sosial melalui media sosial tidak hanya membentuk pilihan hidup single dari sisi positif. Media sosial juga kerap menjadi sumber tekanan sosial yang baru. Standar hidup ideal yang ditampilkan di media sosial seringkali tidak realistis dan dapat menimbulkan kecemasan, stres, bahkan trauma psikologis. Misalnya, ekspektasi untuk selalu tampil bahagia, sukses, dan mandiri dapat membuat individu merasa tertekan jika kenyataan hidup mereka tidak sesuai dengan gambaran di media sosial. Selain itu, pengalaman negatif atau trauma dalam hubungan, seperti kegagalan pernikahan orang tua, kekerasan dalam rumah tangga, atau perselingkuhan yang terekspos di media sosial, juga memperkuat keputusan untuk memilih hidup single sebagai bentuk perlindungan diri dari risiko emosional dan sosial (dalam Syahputra, 2024).
Sehingga hal seperti ini bisa menilbulkan konflik internal di dalam keluarga. Karena terdapat perbedaan pendapat terkait pilihan hidup single antara generasi tua dan generasi muda. Secara perlahan ini bisa menggeser paradigma tradisional tentang pernikahan, karena dengan maraknya konten yang memperkenalkan dan menyebarluaskan gaya hidup single tidak hanya dapat mempengaruhi komunikasi dan hubungan keluarga melalui perubahan norma, tekanan sosial, dan pergeseran nilai menuju individualisme. Trauma dan pengalaman negatif dalam hubungan sebelumnya turut memperkuat preferensi hidup single di kalangan generasi z saat ini. Perubahan ini menunjukkan bahwa media sosial berperan sebagai agen perubahan sosial yang sangat kuat, membentuk dinamika keluarga dan pilihan hidup masyarakat secara lebih terbuka dan beragam.
Dampak Negatif Media Sosial Terhadap Pilihan Hidup Single
1. Fenomena “Marriage is Scary” di media sosial
Salah satu tren yang berkembang di platform media sosial, terutama di X yang sebelumnya dikenal sebagai (Twitter), adalah munculnya pandangan mengenai narasi “Marriage is Scary” yang banyak diperbincangkan oleh pengguna dari Generasi Z. Pandangan ini tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan reaksi bersama terhadap berbagai pengalaman dan kekhawatiran yang dibahas secara terbuka di dunia maya. Banyak pengguna media sosial menceritakan pengalaman pribadi maupun pandangan mereka terkait ketakutan terhadap pernikahan dan menggambarkan pernikahan sebagai sesuatu yang penuh tekanan dan risiko dan memiliki beberapa faktor seperti ketidakstabilan dalam rumah tangga, tekanan sosial, tuntutan karir, dan kekhawatiran pada finansial Nurri Hadatul (2021, dalam Putri, 2025). Oleh karena itu, fenomena ini menunjukkan bahwa ketakutan terhadap pernikahan tidak hanya bersifat individu, melainkan telah berubah menjadi diskusi sosial yang terbentuk dan diperkuat melalui interaksi online. Dalam konteks ini, media sosial berfungsi sebagai penggerak yang mempercepat penyebaran diskusi tersebut, sekaligus menjadi tempat validasi di mana Generasi Z merasa bahwa mereka dimengerti dan didukung dalam keputusan untuk menunda atau bahkan menolak pernikahan.
2. Ketergantungan Media Sosial dan Fear of Missing Out (FOMO) Pada Generasi Z
Ketergantungan pada platform media sosial mengganggu kualitas interaksi personal di antara generasi Z. Menurut Alamsyah (2023, dalam Ahmad et al., 2024) , Menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens dapat menyebabkan rasa takut dan memicu Fear of Missing Out (FOMO), yang berdampak buruk pada kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan penurunan kepercayaan diri. Akibatnya, generasi Z cenderung merasa lebih nyaman untuk berinteraksi secara virtual, tetapi mengalami kesulitan dalam mengembangkan hubungan emosional yang stabil di kehidupan nyata. Para generasi Z ini pula terkadang mengalami FOMO dengan tren terbaru di media sosial salah satunya tren memilih untuk hidup singel yang di lihat melalui konten influenser yang membagikan untuk hidup singel karena beberapa masalah. Hal ini membuat sebagian dari mereka melihat hubungan romantis sebagai sebuah tanggung jawab yang berat, sehingga memilih untuk hidup singel demi menjaga kestabilan emosional.
3. Dampak Terhadap Kesehatan Mental
Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Psikiatri Anak dan Remaja di Universitas Indonesia pada tahun 2021 mengungkapkan suatu pembeberan yang mengkhawatirkan di mana 95,4% remaja berusia 16 hingga 24 tahun telah menunjukkan tanda-tanda kecemasan, sementara 88% di antaranya juga mengalami gejala depresi, Situasi ini bertambah buruk akibat interaksi negatif di platform media sosial, seperti komentar merendahkan dan praktik bullying online yang dapat memperburuk kesehatan mental mereka (MUM, 2024). Sehingga, dengan kondisi mental yang buruk ini dapat mempengaruhi kemampuan Generasi Z untuk membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal yang sehat, hal ini membuat mereka cenderung memilih untuk hidup single sebagai perlindungan diri.
4. Pengaruh Algoritma dan Echo Chamber
Media sosial tidak memperlihatkan konten secara acak, tetapi mengikuti algoritma yang disesuaikan dengan selera pengguna, sehingga ketika Generasi Z sering menunjukkan ketertarikan pada konten yang berhubungan dengan hidup single, algoritma akan terus menyajikan konten sejenis. Ini dikenal sebagai echo chamber, situasi di mana individu hanya menghadapi pandangan yang memperkuat kepercayaan mereka sendiri. Akibatnya, pilihan untuk menjalani kehidupan lajang semakin diperkuat, sedangkan perspektif lain seperti keuntungan dari hubungan romantis yang sehat menjadi terabaikan.
Dampak Positif Media Sosial terhadap Pilihan Hidup Single
1. Media Sosial sebagai Ruang Pembelajaran dan Pengembangan Diri
Media sosial saat ini bukan sekadar alat hiburan, melainkan juga menjadi ruang pendidikan yang mendorong pengembangan pribadi bagi Generasi Z. Penelitian oleh Juwita.dkk (2015, Pujiono, 2021), mengungkapkan bahwa media sosial memengaruhi gaya hidup siswa, termasuk dalam cara mereka belajar secara mandiri. Lewat platform seperti YouTube dan TikTok, Generasi Z memperoleh akses ke berbagai materi edukasi yang mendukung pencapaian pribadi mereka. Oleh karena itu, keputusan untuk hidup single sering kali dipicu oleh keinginan untuk memfokuskan diri mereka pada perkembangan diri sebelum menjalani hubungan romantis.
2. Normalisasi dan Validasi Terkait Pilihan Gaya Hidup
Merupakan menjadi salah satu peran penting platform media sosial bagi Generasi Z. Menurut (AJ Skiera, 2024), hampir separuh individu dewasa dari Generasi Z memandang media sosial sebagai pengaruh yang baik dalam kehidupan mereka (18% sangat baik, 34% cukup baik). Hasil ini menunjukkan bahwa platform media sosial tidak hanya berperan sebagai tempat untuk bertukar informasi, tetapi juga sebagai area untuk memperoleh dukungan sosial serta penguatan terhadap berbagai opsi pribadi. Dalam konteks memilih untuk hidup single, media sosial menciptakan suasana yang lebih inklusif, di mana Generasi Z dapat menemukan cerita yang sejalan dengan nilai-nilai mereka, serta merasakan penerimaan tanpa beban norma sosial tradisional seperti kewajiban untuk menikah pada usia muda.
3. Akses Informasi dan Edukasi
Media sosial menyediakan akses terhadap informasi mengenai pengembangan diri, karier, dan kesehatan mental. Generasi Z dapat belajar tentang pentingnya mengenal diri sendiri terlebih dahulu sebelum berkomitmen dalam hubungan. Konten edukatif tentang self-love, boundary setting, dan personal growth banyak tersebar di platform digital.
4. Meningkatkan Rasa Percaya Diri
Salah satu dampak positif media sosial untuk Generasi Z adalah kemampuannya dalam memperkuat rasa percaya diri melalui penilaian dan pengembangan diri yang bersifat mandiri. Berdasarkan hal tersebut, media sosial menyediakan kesempatan bagi individu untuk melakukan refleksi, menilai pencapaian, dan meningkatkan potensi diri melalui akses ke beragam informasi serta interaksi sosial yang positif (Kanda & Oktavian, 2024). Hal ini mendorong mereka untuk lebih aktif dalam mengembangkan keterampilan, mengejar tujuan diri, dan mengambil keputusan hidup secara mandiri, termasuk dalam memilih untuk fokus pada pengembangan diri sebelum menjalin hubungan romantis.
Analisis Dampak Media Sosial Terhadap preferensi tren hidup singel di kalangan generasi Z menggunakan teori: Konsumsi Simbolik, Jean Baudrillard
Fenomena trend hidup single di kalangan gen z dapat dilihat dari teori konsumsi simbolik jean baudrillard. Jean baudrillard menjelaskan bahwa konsumsi dapat menjadi hal yang penting bagi kehidupan manusia, hal ini dikarenakan manusia akan mengkonsumsi sesuatu berdasarkan proses untuk menentukan gaya hidup maupun nilai bukan karena keterkaitan kebutuhan (Taufiq Djalal dkk, 2022). Gaya hidup merupakan salah satu ciri dari masyarakat konsumsi, penglihatan yang didapatkan baik dari sekitar maupun melalui media sosial menjadi sesuatu yang pada akhirnya menjadi konsumsi masyarakat. Konsumsi yang terjadi pada masyarakat modern tidak lagi dikaitkan pada nilai kebutuhan melainkan pada salah satu bentuk gaya hidup, dalam hal ini masyarakat melakukan sesuatu bukan berdarkan kebutuhan maupun bernilai tidaknya nilai suatu hal melainkan karena adanya proses gaya hidup. Media sosial menjadi tempat untuk individu menemukan citra dirinya yang selama ini tidak didapatkan di sekitar, melalui media sosial individu akan tertarik untuk mengikuti trend yang saat ini berkembang media. Ruang di media sosial digunakan oleh sekelompok orang terkhususnya gen z sebagai tempat untuk mengekspresikan diri secara bebas dan juga bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Melalui konten di media sosial yang menampilkan bagaimana pemilihan untuk hidup single membaut generasi gen z pada akhirnya mengikuti apa yang telah ditampilkan oleh media. Media sosial menampilkan bagaimana hidup single diartikan sebagai bentuk keputusan yang ada di dalam hidup sehingga seseorang yang memilih untuk hidup single berarti memiliki keputusan dan juga bertanggung jawab dalam hidupnya. Tak hanya itu, beberapa postingan yang menampilkan tentang buruknya pernikahan membuat sebagian orang memilih untuk menjalankan hidup single, ketakutan terhadap konten yang ditampilkan melalui media sosial pada akhirnya menciptakan individu maupun kelompok memilih untuk hidup single dan hal ini lah yang kemudian menjadikan hidup single sebagai bentuk trend yang diikuti oleh generasi gen z. Pemberian makna gen z terhadap hidup single mengacu pada pemaknaan media bahwa hidup single merupakan bentuk kemandirian, modern karena tidak bergantung terhadap pasangan hal ini lah yang kemudia menjadi indentitas tersendiri di kalangan gen z. Jika dilihat lebih dalam lagi mereka yang memilih untuk hidup single terkhususnya di kalangan gen z bukan berdarsarkan pengalaman dan juga pemahaman pribadi melainkan karena terbentuknya dorongan yang didapat dari media sosial yang pada akhinrnya membuat individu memutuskan untuk hidup single karena adanya dorongan yang didapatkan melalui media.
Melalui perspektif yang dijelaskan oleh baudrillard menjelaskan bahwa pemilihan hidup single dikalangan gen z tidak lagi dikaitkan terhadap bentuk dari realitas sosial melainkan pada symbol yang terbentuk melalui konsumsi dari media tersebut. Media sosial tentunya memiliki pengaruh yang besar terhadap pemilihan hidup single dikalangan gen z, hidup single diartikan bentuk kehidupan modern dan gaya hidup yang realistis. Dengan hal itu pemilihan hidup single bukan diartikan sebagai bentuk emosional semata ataupun karena adanya pengalaman pribadi melainkan terbentuk karena adanya dorongan secara terus-menerus yang diciptakan oleh media yang kemudian membentuk diri individu untuk membuat keputusan. Pada akhirnya, keputusan hidup single dikalangan gen z bukan dibentuk karena pengalaman melainkan melalui proses yang dibentuk oleh media untuk mengikuti trend maupun untuk mendapat pemaknaa yang dibentuk oleh media. Oleh karena itu fenomena hidup single tidak hanya dikaitkan melalui pengalaman individu melainkan karena adanya symbol yang dibentuk oleh media.
Kesimpulan
Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk preferensi hidup single di kalangan Generasi Z Indonesia. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga membentuk konstruksi sosial baru yang mempengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pernikahan dan hidup single. Narasi negatif tentang pernikahan, seperti kasus KDRT, perceraian, dan konflik keluarga yang sering dibagikan di media sosial, memperkuat persepsi bahwa pernikahan penuh risiko dan tidak selalu membawa kebahagiaan. Selain itu, media sosial juga menampilkan kisah sukses individu yang memilih hidup single, sehingga pilihan ini menjadi lebih diterima dan bahkan dibanggakan. Namun, di sisi lain, media sosial juga membawa dampak negatif seperti tekanan sosial baru, kecemasan, depresi, fenomena FOMO, dan terbentuknya echo chamber yang memperkuat preferensi hidup single tanpa memberikan perspektif lain.
Solusi yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan literasi digital dan edukasi kesehatan mental agar Generasi Z mampu memilah informasi secara kritis dan tidak mudah terpengaruh narasi negatif. Selain itu, perlu ada diversifikasi konten di media sosial agar narasi tentang hidup single dan pernikahan lebih seimbang, serta mendorong dialog terbuka antara generasi muda dan orang tua untuk mengurangi konflik internal keluarga. Pemerintah dan platform media sosial juga diharapkan memperkuat regulasi serta menyediakan fitur yang membantu pengguna mengelola paparan konten. Dengan demikian, Generasi Z dapat membuat keputusan hidup yang lebih sadar, kritis, dan seimbang, serta menjaga kesehatan mental dan hubungan sosial yang sehat di era digital.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, R. K., Amir, S. L., & Hapipi, M. (2024). Pengaruh Media Sosial terhadap Pola Komunikasi dan Hubungan Sosial dalam Kalangan Generasi Z. Sanskara Ilmu Sosial Dan Humaniora, 1(2), 85–94.
AJ Skiera. (2024, September 10). What Gen Z thinks about its social media and smartphone usage. The Harris Poll. https://theharrispoll.com/briefs/gen-z-social-media-smart-phones/
Aminudin, A., Hasibuan, P., & Irham, M. I. (2025). PENGARUH MEDIA INFORMASI TERHADAP PRAKTIK PERKAWINAN DI INDONESIA. Jurnal Darma Agung, 33(2), 125-134.
Awalia, Y. S., & Sari, I. F. (2024). Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Keharmonisan Keluarga Di Desa Batu Tering Kecamatan Moyo Hulu. Hegemoni: Jurnal Ilmu Sosial, 2(2), 73-82.
cnbcindonesia.com. (2023). Jumlah Gen Z Jomblo Melonjak, Bonus Demografi RI Terancam! . Diakses pada 3 Juni 2025, dari https://www.cnbcindonesia.com/research/20230620191054-128-447758/jumlah-gen-z-jomblo-melonjak-bonus-demografi-ri-terancam
Djalal, T., Adam, A., & Kamaruddin, S. A. (2022). Masyarakat Konsumen dalam Perspektif Teori Kritis Jean Baudrillard. Indonesian Journal of Social and Educational Studies Vol, 3(2).
goodstats.id. (2024). Inilah Media Sosial yang Paling Sering Dipakai di Indonesia. Diakses pada 3 Juni 2025, dari https://goodstats.id/article/inilah-media-sosial-paling-sering-dipakai-di-indonesia-Pdyt0
Kanda, S. A. S., & Oktavian, A. (2024). DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP RASA PERCAYA DIRI TERKAIT CITRA TUBUH GENERASI Z DI KOTA CIMAHI. ARKANA Jurnal Komunikasi Dan Media, 3(2).
Maruf, M. (2023, June 21). Jumlah Gen Z Jomblo Melonjak, Bonus Demografi RI Terancam! CNBC Indonesia Research. https://www.cnbcindonesia.com/research/20230620191054-128-447758/jumlah-gen-z-jomblo-melonjak-bonus-demografi-ri-terancam
MUM, S. (2024). Pengaruh Sosial Media bagi Kesehatan Mental Gen Z di Indonesia. https://mum.id/news/pengaruh-sosial-media-bagi-kesehatan-mental-gen-z-di-indonesia
Pujiono, A. (2021). Media Sosial Sebagai Media PembelajaranBagi Generasi Z. Didaché: Journal of Christian Education, 2(1).
Putri, W. W. (2025). Dampak Media Sosial terhadap Pandangan Generasi Z terhadap Pernikahan: Fenomena “Marriage is Scary” dan Ketakutan akan Komitmen. 11.
Suryani, I., Fatiha, P. A., Salsa, N. H., Rizqiah, N., Rahmadani, S., Sari, V., & Hakiki, M. (2025). Dampak Teknologi Komunikasi Terhadap Komunikasi Keluarga. AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam Dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584), 5(2), 900-913.