• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

BIAS GENDER DI MEDIA TELEVISI

Editor Redaksi
8 Januari 2024
in News
Gambaran laki laki dan perempuan ditelevisi

JurnalPost.com – Televisi sebagai media komunikasi massa merupakan media yang strategis dalam mensosialisasikan nilai-nilai dan ide (gagasan). Televisipun mempunyai pengaruh dalam pembentukan karakter individu dan mampu mendorong individu untuk meyakini suatu standard kebenaran. “Kebenaran” yang disosialisasikan televisi dapat menjadi dasar referensi penonton. Masalah bias perempuan di publikpun akan semakin kuat, baik televisi menyadari atau tidak bahwa ia ikut mensosialisasikan ide dan nilai-nilai yang mengandung bias gender tersebut. Jika para pemilik dan jurnalis televisi tidak memiliki sensitifitas terhadap berbagai persoalan ketidakadilan gender, maka televisi mempunyai peran dalam menumbuhkembangkan praktek ketidakadilan gender di tengah- tengah masyarakat. Bias gender sentiasa hadir dalam sejumlah tayangan televisi.

Dalam tayangan senetron bersiri “Putri yang ditukar” kehidupan perempuan “digambarkan” hanya pada peranan-peranan domestik (rumah tangga) atau individu yang tidak lebih pintar dari laki-laki, yang posisinya hanya menjadi pelayan laki-laki, serta berbagai stereotaip yang mengarahkan bahwa perempuan adalah kodrat yang tidak qualified untuk masuk dalam ruangan awam.

Senetron-senetron yang ada jarang menampilkan perempuan sebagai sosok (profile) pengambil keputusan dalam berbagai kebijakan publik, perempuan masih dianggap sebagai peran pembantu dalam kehidupan awam. Misalnya, dalam sebuah sinetron seorang perempuan sering ditampilkan sebagai sekretaris dan jarang ditampilkan sebagai direktur/bos atau pemimpin sebuah lembaga awam.

Perempuan dan pekerjaan

Kebanyakan perempuan di televisi digambarkan sebagai makhluk yang tunduk pada beberapa peranan. Peranan laki-laki adalah jauh lebih besar dan lebih menarik. Perempuan dalam televisi digambarkan dalam bentuk tradisional seperti istri, penjaga rumah, staf dan perawat yang selalu melayani orang yang sakit. Laki-laki digambarkan sebagai suami, bapak dan juga sebagai ahli olahraga, orang ternama, wiraswasta. Status perkawinan selalu mengambarkan keadaan perempuan dibandingkan laki-laki. Laki-laki di televisi selalu dipaparkan dalam pekerjaan yang mempunyai status tinggi dan jarang di rumah. Perempuan digambarkan sebagai pelengkap dalam kehidupan mereka sendiri.

Perempuan sebagai bunga-bunga di tempat kerja sehingga ada kebiasaan perempuan harus sekian persen dari laki-laki untuk menjadi suana kerja lebih hidup. Seperti pada iklan super pel ditelevisi Pengambaran perempuan dan laki-laki yang demikian adalah tradisional dan stereotaip. Fenomena ini cukup sesuai untuk kelansungan peranan gender. Ini berlaku dengan ciri-ciri keperempuanan yang bergabung seperti emosi, cermat, kerjasama, perasaan dan patuh. Ciri-ciri kelaki-lakian cenderung bergabung dengan sifat-sifat seperti rasional, efisien, mandiri dan kuat.

Media televisi selalu menggambarkan perempuan ‘baik’ adalah perempuan yang patuh, sensitif, dan mengurus rumahtangga. Perempuan ‘jahat’ adalah bersifat memberontak, bebas dan mementingkan diri sendiri. Perempuan ‘idaman’ yang stereotaip ialah bersopan santun, pendiam, sensitif, patuh, tidak bersaing dan manis sesuai kodratnya. Laki-laki cenderung menjadi kuat secara fisik, ganas, pendesak, bebas, memiliki inisiatif dan bercita-cita tinggi. Dalam televisi dan film tergambarkan mewakili kebaikan, kuasa, yakin, pelindung, ahli dan berhasil. Mereka dibentuk seperti itu untuk berhasil dalam sistem ekonomi dan berdaya saing.

Media sangat berperan sebagai agen utama sosialisme. Selain keluarga dan teman sebaya, media banyak membantu dalam membentuk peranan gender. Belajar untuk menjadi perempuan dan laki-laki tetapi ini tidak dalam bentuk serta merta. Media juga berperan untuk membentuk watak-watak manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa televisi merupakan penarik imej gender yang kuat. Ini jelas dapat dilihat apabila sebagian remaja laki-laki menjadikan hero laki-laki sebagai ‘role model’ dan bukan ayah atau bapak mereka sendiri.
Perempuan dalam media selalu menjadi pemanis, pelembut, bahkan perempuan menjadi daya tarik tersendiri mengisi acara-acara atau siaran-siaran di media. Daya tarik yang dimaksud kadang-kadang melecehkan perempuan sendiri karena didalamnya mengambarkan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah yang harus dilindungi, disayangi, kecantikkanya untuk ditonton dan dinikmati oleh semua orang.

Laki-laki selalu digambarkan sebagai makhluk yang kuat, energik, pelindung, dan tidak terkuasai oleh perempuan. Pengambaran laki-laki dalam media menunjukkan bahwa laki-laki ridak terlalu membutuhkan perempuan untuk berpikir atau orang yang dapat dihandalkan, tetapi digambarkan bahwa laki-laki membutuhkan perempuan sebagai teman atau pemanis pada suatu even atau acara.

Oleh: Hermawan Setya Pamungkas, Jurusan Ilmu Komunikasi Univeristas 17 Agustus 1945 Surabaya, dosen pengampu Dr. Merry Fridha tripalupi., M.Si

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) PENGUSIR HAMA TIKUS ULTRASONIK TENAGA SURYA SEBAGAI SOLUSI PENGENDALIAN HAMA RAMAH LINGKUNGAN DI LAHAN PERTANIAN DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK

Editor Redaksi
15 Juli 2026
0

Dari Baris Kode ke Meja Koperasi: Catatan Divisi Teknologi Tepat Guna di KDMP Sidokumpul

Dari Baris Kode ke Meja Koperasi: Catatan Divisi Teknologi Tepat Guna di KDMP Sidokumpul

Editor Redaksi
14 Juli 2026
0

Foto pendampingan dan evaluasi mengenai website inventaris gudang digital kepada koperasi desa merah putih desa sidokumpul, kecamatan bungah, gresik Oleh:...

Kebakaran Kecil di Area PRJ, Petugas Bergerak Cepat Padamkan Api

Kebakaran Kecil di Area PRJ, Petugas Bergerak Cepat Padamkan Api

Editor Redaksi
3 Juli 2026
0

Penulis: Ardi putra Jakarta, JurnalPost.com - Kebakaran kecil terjadi di area Pekan Raya Jakarta (PRJ), Jumat (20/6/2026). Peristiwa itu sempat...

Langkah Awal Mahasiswa Ilmu Komunikasi Menuju Dunia Profesional : Catatan Magang Velicia Mahasiswa UNTAG di KAI DAOP 8 Surabaya

Langkah Awal Mahasiswa Ilmu Komunikasi Menuju Dunia Profesional : Catatan Magang Velicia Mahasiswa UNTAG di KAI DAOP 8 Surabaya

Editor Redaksi
21 Mei 2026
0

Oleh : Ananda Velicia L. C. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya JurnalPost.com - Perkenalkan nama saya Ananda Velicia Lusiane Cahyawati,...

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Menjalankan Program Magang Reguler di PT PLN UP3 Surabaya Barat

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Menjalankan Program Magang Reguler di PT PLN UP3 Surabaya Barat

Editor Redaksi
20 Mei 2026
0

Surabaya, JurnalPost.com – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap terjun ke dunia kerja...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.