
JurnalPost.com – Televisi sebagai media komunikasi massa merupakan media yang strategis dalam mensosialisasikan nilai-nilai dan ide (gagasan). Televisipun mempunyai pengaruh dalam pembentukan karakter individu dan mampu mendorong individu untuk meyakini suatu standard kebenaran. “Kebenaran” yang disosialisasikan televisi dapat menjadi dasar referensi penonton. Masalah bias perempuan di publikpun akan semakin kuat, baik televisi menyadari atau tidak bahwa ia ikut mensosialisasikan ide dan nilai-nilai yang mengandung bias gender tersebut. Jika para pemilik dan jurnalis televisi tidak memiliki sensitifitas terhadap berbagai persoalan ketidakadilan gender, maka televisi mempunyai peran dalam menumbuhkembangkan praktek ketidakadilan gender di tengah- tengah masyarakat. Bias gender sentiasa hadir dalam sejumlah tayangan televisi.
Dalam tayangan senetron bersiri “Putri yang ditukar” kehidupan perempuan “digambarkan” hanya pada peranan-peranan domestik (rumah tangga) atau individu yang tidak lebih pintar dari laki-laki, yang posisinya hanya menjadi pelayan laki-laki, serta berbagai stereotaip yang mengarahkan bahwa perempuan adalah kodrat yang tidak qualified untuk masuk dalam ruangan awam.
Senetron-senetron yang ada jarang menampilkan perempuan sebagai sosok (profile) pengambil keputusan dalam berbagai kebijakan publik, perempuan masih dianggap sebagai peran pembantu dalam kehidupan awam. Misalnya, dalam sebuah sinetron seorang perempuan sering ditampilkan sebagai sekretaris dan jarang ditampilkan sebagai direktur/bos atau pemimpin sebuah lembaga awam.

Kebanyakan perempuan di televisi digambarkan sebagai makhluk yang tunduk pada beberapa peranan. Peranan laki-laki adalah jauh lebih besar dan lebih menarik. Perempuan dalam televisi digambarkan dalam bentuk tradisional seperti istri, penjaga rumah, staf dan perawat yang selalu melayani orang yang sakit. Laki-laki digambarkan sebagai suami, bapak dan juga sebagai ahli olahraga, orang ternama, wiraswasta. Status perkawinan selalu mengambarkan keadaan perempuan dibandingkan laki-laki. Laki-laki di televisi selalu dipaparkan dalam pekerjaan yang mempunyai status tinggi dan jarang di rumah. Perempuan digambarkan sebagai pelengkap dalam kehidupan mereka sendiri.
Perempuan sebagai bunga-bunga di tempat kerja sehingga ada kebiasaan perempuan harus sekian persen dari laki-laki untuk menjadi suana kerja lebih hidup. Seperti pada iklan super pel ditelevisi Pengambaran perempuan dan laki-laki yang demikian adalah tradisional dan stereotaip. Fenomena ini cukup sesuai untuk kelansungan peranan gender. Ini berlaku dengan ciri-ciri keperempuanan yang bergabung seperti emosi, cermat, kerjasama, perasaan dan patuh. Ciri-ciri kelaki-lakian cenderung bergabung dengan sifat-sifat seperti rasional, efisien, mandiri dan kuat.
Media televisi selalu menggambarkan perempuan ‘baik’ adalah perempuan yang patuh, sensitif, dan mengurus rumahtangga. Perempuan ‘jahat’ adalah bersifat memberontak, bebas dan mementingkan diri sendiri. Perempuan ‘idaman’ yang stereotaip ialah bersopan santun, pendiam, sensitif, patuh, tidak bersaing dan manis sesuai kodratnya. Laki-laki cenderung menjadi kuat secara fisik, ganas, pendesak, bebas, memiliki inisiatif dan bercita-cita tinggi. Dalam televisi dan film tergambarkan mewakili kebaikan, kuasa, yakin, pelindung, ahli dan berhasil. Mereka dibentuk seperti itu untuk berhasil dalam sistem ekonomi dan berdaya saing.
Media sangat berperan sebagai agen utama sosialisme. Selain keluarga dan teman sebaya, media banyak membantu dalam membentuk peranan gender. Belajar untuk menjadi perempuan dan laki-laki tetapi ini tidak dalam bentuk serta merta. Media juga berperan untuk membentuk watak-watak manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa televisi merupakan penarik imej gender yang kuat. Ini jelas dapat dilihat apabila sebagian remaja laki-laki menjadikan hero laki-laki sebagai ‘role model’ dan bukan ayah atau bapak mereka sendiri.
Perempuan dalam media selalu menjadi pemanis, pelembut, bahkan perempuan menjadi daya tarik tersendiri mengisi acara-acara atau siaran-siaran di media. Daya tarik yang dimaksud kadang-kadang melecehkan perempuan sendiri karena didalamnya mengambarkan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah yang harus dilindungi, disayangi, kecantikkanya untuk ditonton dan dinikmati oleh semua orang.
Laki-laki selalu digambarkan sebagai makhluk yang kuat, energik, pelindung, dan tidak terkuasai oleh perempuan. Pengambaran laki-laki dalam media menunjukkan bahwa laki-laki ridak terlalu membutuhkan perempuan untuk berpikir atau orang yang dapat dihandalkan, tetapi digambarkan bahwa laki-laki membutuhkan perempuan sebagai teman atau pemanis pada suatu even atau acara.
Oleh: Hermawan Setya Pamungkas, Jurusan Ilmu Komunikasi Univeristas 17 Agustus 1945 Surabaya, dosen pengampu Dr. Merry Fridha tripalupi., M.Si



