• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Berkemah di Kaki Gunung Salak, Bumi Perkemahan Sukamantri

Editor Redaksi
14 Maret 2024
in Wisata

Oleh : Zaidan Halifz Bainuri Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB

JurnalPost.com – Kala itu, kami baru saja menyelesaikan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dambaan kami. Sembari menunggu hasil UTBK, saya dan teman SMA saya berpikir untuk mengisi waktu luang kami dengan berkemah di Perkemahan Ssukamantri, Bogor. Bagi saya sendiri, ini merupakan pengalaman pertama saya dalam melakukan perjalanan mendaki bukit maupun gunung. Kami pun mempersiapkan berbagai keperluan untuk perjalanan kami, mulai dari membeli bahan makanan hingga menyewa alat-alat perkemahan.

Perjalanan kami pun dimulai dengan berkumpul di rumah teman saya, Ilham. Kami membawa perlengkapan berkemah kami menggunakan tas ransel. Ilham merupakan teman saya dengan postur yang tinggi besar. Oleh karena itu, dia yang membawa tas “master” yang sangat besar dan berisikan muatan yang lebih banyak daripada saya. Perjalanan kami bisa dibilang hampir sepenuhnya jalan kaki. Selama perjalanan banyak orang yang bertanya kepada kami “wih… mau kemah dimana dek?” karena melihat barang bawaan kami yang mungkin terlihat sudah sangat siap untuk mendaki gunung. Kami menempuh perjalanan menggunakan angkutan umum yang disambung dengan berjalanan kaki sebanyak dua kali hingga akhirnya kami sampai di kawasan Tamansari. Kami pun berhenti di pertigaan Kebonjati yang memang merupakan rute untuk mencapai Perkemahan Sukamantri yang kami tuju.

Saat berhenti di pertigaan tersebut, kami pun membeli air mineral di warung sekitar mengingat perjalanan kami cukup melelahkan dan masih jauh dari kata “hampir sampai”. Sebelum menempuh perjalanan kembali, saya pun berpikir untuk membeli beberapa bahan makanan tambahan, saya pun menuju supermarket terdekat untuk membeli beberapa camilan. Setelah merasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki. Pada awalnya kami bersenda gurau, membicarakan hal ini dan itu. Akan tetapi, tidak lama setelah itu kami pun mulai merasa kelelahan, mengingat medan yang kami tempuh adalah jalan yang menanjak ditambah barang bawaan kami yang sangat banyak dan luar biasa berat. Pada awalnya kami sadar bahwa masing-masing dari kami sudah mulai merasa kelelahan. Namun, karena hal semacam “gengsi” kami pun berusaha untuk tidak terlihat kelelahan sama sekali.

Situasi pun semakin hening, karena masing-masing dari kami menahan rasa lelah tersebut sembari mendaki jalanan yang curam, hingga pada akhirnya salah satu dari kami memecah keheningan. “Lu capek gak?” ucap Ilham. “Sedikit” jawab saya, sambil mengusap keringat yang bercucuran. Ilham pun menanyakan apakah kami ingin beristirahat sebentar, tetapi saya ingin terus melanjutkan perjalanan mengingat tujuan kami masih sangat jauh. Perjalanan kami pun berlanjut, rumah-rumah warga yang sebelumnya masih berdiri di kanan dan kiri kami lama-kelamaan mulai menghilang.

Perjalanan kami mulai memasuki suasana alam. Hal ini bisa dilihat dari makin jarangnya kami menjumpai bangunan, rumah, dan juga warga sekitar. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami pun menemukan sebuah bangunan di tengah alam. Kami memutuskan untuk beristirahat di bangunan tersebut. Di sana kami berjumpa dengan satpam yang bertugas menjaga bangunan tersebut. Kami pun sempat berbincang- bincang dengan satpam tersebut sambil menikmati camilan dan minuman yang kami bawa. Setelah cukup beristirahat, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Keringat membasahi sekujur tubuh kami, sampai-sampai rasanya kami ingin membuka baju kami. Namun perjalanan yang melelahkan ini kami nikmati sembari bersenda gurau dan berbincang banyak hal. Dalam perjalanan menuju tempat perkemahan, kami disuguhkan oleh alam yang indah dan sangat berbeda dari kawasan perkotaan. Kami melewati perkebunan, pohon-pohong rindang, hingga jalanan berbatu. Suasana pohon-pohon yang rindang dan tumbuh lebat pun membuat suasana menjadi adem. Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara mesin yang besar, dan ketika kami menoleh ke belakang ternyata ada rombongan truk TNI yang menuju ke arah yang sama dengan kami. Kami pun minggir untuk mempersilahkan truk-truk tersebut lewat. Satu per satu truk itu pun melewati kami, hinggasecara tiba-tiba truk keempat berhenti dan mempersilahkan kami untuk naik ke bak truk TNI tersebut. Kami pun tidak menolak dan merasa sangat senang bisa ikut menaiki truk TNI tersebut. Para bapak-bapak yang ada di truk tersebut pun membantu kami untuk menaiki truk tersebut, mereka membukakan pintu bak belakang truk tersebut dan memepersilahkan kami naik. Perjalanan kami pun menjadi semakin seru. Hingga pada akhirnya, kami pun sampai di tempat tujuan kami.

Sesampainya di sana kami pun turun dari truk tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak yang memberikan tumpangan kepada kami. Kami pun mengitari kawasan perkemahan untuk mencari tempat berkemah yang terbaik. Suasana di Bumi Perkemahan Sukamantri sangatlah alami. Bahkan, kami dapat menjumpai kawanan monyet yang ada di tempat tersebut. Mereka hidup dan tinggal di sekitaran kawasan Perkemahan Sukamantri ini. Akhirnya kami pun membangun sebuah tenda untuk berkemah. Namun, cuaca tiba-tiba mendung dan turunlah hujan yang cukup deras. Kami terpaksa masuk ke dalam tenda yang baru setengah jadi, akibatnya tenda kami pun kebanjiran air hujan. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk membangun tenda di tengah hujan.

Setelah selesai membangun tenda kami pun menyiapkan perlengkapan untuk memasak. Kami berencana memasak mie rebus untuk menghangatkan tubuh kami yang basah kuyup. Sembari menikmati mie instan. Kami pun memandangi pemandangan kota Bogor dari atas bukit yang kami jadikan tempat berkemah. Waktu sudah memasuki waktu senja, kami pun mengamati pengunjung yang berdatangan. Mereka datang dengan mengendarai sepeda motor dan mobil. Jujur, saya sempat berpikir kenapa kami tidak naik motor saja karena perjalanan dengan jalan kaki sangat melelahkan dan memakan waktu yang sangat lama. Para pengunjung itu pun membangun tenda di sebelah tenda kami. Alhasil, ada tiga tenda yang dibangun di kawasan perkemahan kami.

Matahari sudah terbenam, hari pun mulai malam. Kami mengisi waktu kami dengan memasak sate sembari bermain gitar dan bernyanyi. Lalu, tiba-tiba pengunjung dari tenda sebelah pun datang menghampiri dan mengobrol dengan kami. Kami juga saling berbagi makanan dengan mereka. Tidak hanya dengan pengunjung tersebut, tapi kami juga berinteraksi dengan pemilik warung di kawasan tersebut saat ingin membeli kopi. Kami pun mengobrol dengan ibu-ibu penjaga warung tersebut menggunakan bahasa sunda. Saking lamanya kami mengobrol denga ibu-ibu tersebut, kami pun sampai disuguhi gorengan secara gratis oleh ibu penjaga warung tersebut. Malam pun semakin larut, kami menikmati pemandangan Kota Bogor dari atas bukit di malam hari. Hingga pada akhirnya, kami memutuskan untuk beristirahat dan berencana untuk pulang esok siang. Sungguh pengalaman mendaki pertama yang menyenangkan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

Sumber Umbulan Malang sebagai Destinasi Wisata Alam yang Mendukung Pariwisata Berkelanjutan

Sumber Umbulan Malang sebagai Destinasi Wisata Alam yang Mendukung Pariwisata Berkelanjutan

Editor Redaksi
30 Juni 2026
0

Oleh: Alfarobi Ibnu Sifak Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. JurnalPost.com - Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki peran...

Taman Bunga Coban

Komunikasi Pariwisata di Era Disrupsi: Pengalaman Berkunjung ke Taman Bunga Coban Talun melalui Pengaruh Media Sosial

Editor Redaksi
24 Juni 2026
0

Oleh: Tria Dyah Lestari JurnalPost.com - Di era disrupsi saat ini, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi,...

Kebun Teh Jamus, Ngawi

Penerapan Komunikasi dalam Industri Pariwisata di Indonesia: Kebun Teh Jamus, Ngawi

Editor Redaksi
5 Mei 2026
0

JurnalPost.com - Industri pariwisata di Indonesia tidak hanya bergantung pada keindahan alam dan daya tarik destinasi, tetapi juga sangat dipengaruhi...

Air Terjun Lubuk Batang:  Pesona Tersembunyi dari Lima Puluh Kota

Air Terjun Lubuk Batang: Pesona Tersembunyi dari Lima Puluh Kota

Editor Redaksi
7 Desember 2025
0

Oleh: Eza Dwi Rahayu Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNP JurnalPost.com - Di tengah eksotisme Kabupaten Lima Puluh Kota,...

Taman Batang Agam Wisata Payakumbuh

Taman Batang Agam Wisata Payakumbuh

Editor Redaksi
4 Desember 2025
0

Oleh: Shofwatul Kasih Amanda JurnalPost.com - Taman Batang Agam berada di Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat, dan mulai beroperasi pada...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.