Penulis: Moch. Angga Prastya, An Nisa Nur Rohma, Dinda Kusumawati, Alfina Amanda Rahmadini, Dinnar Putri Purwanti
JurnalPost.com – Pada hari ke-19 kegiatan Bina Desa, 6 mahasiswa prodi pariwisata UPN “Veteran” Jawa Timur berkunjung ke salah satu rumah warga yang biasa membuat cairan eco-enzyme dari sisa bahan dapur rumah tangga. Tepatnya pada hari Sabtu, 9 Maret 2024 kunjungan tersebut bertujuan untuk memanen hasil fermentasi berbahan dasar kulit buah-buahan dengan tambahan campuran molase yang telah disimpan selama lebih dari tiga bulan lamanya. Para mahasiswa memanen cairan eco-enzyme milik Bu Yulaikah dan Pak Alex yang kebetulan merupakan anggota PKK dan juga KPK di rw 01 di Kampung Ekologi Temas. Di kediaman bu Yulaikah, terdapat Pak Sugiarto, Pak Alex dan Bu Yulaikah (yang kerap disapa Bu Yul). Mereka dengan ramah mendampingi para mahasiswa sembari mengajarkan bagaimana step-step yang tepat dalam memanen cairan eco-enzyme.

Adapun proses panen eco-enzyme diantaranya ialah sebagai berikut :
1. Setelah bahan eco-enzyme difermentasi selama kurang lebih 3 bulan, siapkan 1 wadah besar untuk menampung cairan eco-enzyme, 1 wadah untuk ampas hasil fermentasi, kain halus untuk menyaring cairan fermentasi, karet/tali, dan gayung.
2. Bersihkan hingga steril alat-alat yang hendak dipakai dengan cairan eco-enzyme yang telah tersedia (untuk hasil yang lebih baik).
3. Ambil wadah untuk menampung cairan fermentasi eco-enzyme, beri kain di atasnya dan ikat dengan kuat menggunakan tali/karet.
4. Buka wadah cairan fermentasi lalu jika terdapat banyak jamur, bersihkan dan pisahkan jamur-jamur yang terlihat di permukaan cairan fermentasi sebelum melakukan penyaringan.
5. Tuang sedikit demi sedikit cairan eco-enzyme lalu peras dan pisahkan ampas yang telah diperas ke dalam wadah yg sudah disiapkan sebelumnya.
6. Ulangi hingga cairan eco-enzyme selesai di saring sepenuhnya, lalu setelah berhasil dipanen, simpan cairan eco-enzyme dengan wadah yang tertutup rapat di tempat yang teduh dan terhindar dari tempat yang berbau menyengat (seperti : dapur, selokan, toilet) agar cairan eco-enzyme terhindar dari kontaminasi bau tidak sedap.

Seluruh bagian dari proses pembuatan eco-enzyme memiliki manfaat tersendiri. Mulai dari ampas, jamur yang terbentuk, hingga cairan fermentasi eco-enzyme dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan. Ampas fermentasi eco-enzyme bisa dimanfaatkan untuk campuran pupuk kompos, penyubur tanah untuk tanaman, hingga untuk keperluan kesehatan. “Ampas EE (eco-enzyme) juga bisa buat bantalan untuk meredakan kepala pusing, perut tidak enak, rasa capek, dan bisa juga di buat terapi setelah kita seharian lihatin hp, kan mata juga ngerasa capek dan butuh istirahat di situ (ampas eco-enzyme) bisa kita taruh di atas mata yang terpejam dengan kondisi ampas tadi sudah di kemas dengan baik (menggunakan kain tebal) dan tidak bocor” ungkap Bu Yul. Jamur-jamur kecil yang tumbuh di dalam wadah penyimpanan fermentasi eco-enzyme juga memiliki banyak manfaat, “salah satunya bisa dimanfaatkan untuk masker wajah loh” tutur Bu Yul karena menurutnya hal tersebut cukup ampuh untuk diaplikasikan, karena beliau juga sering mencobanya ketika senggang di rumah.
Sedangkan cairan eco-enzyme bisa digunakan untuk campuran bahan sabun organik, cairan filter udara, campuran penjernih air, antiseptik, semprotan hama tanaman, semprotan pengusir nyamuk, obat berbagai macam luka, dan masih banyak lagi. “Bapak tiap hari juga semprotkan EE yang dicampur air, karena kemarin kaki bapak sempat melepuh kena knalpot panas, walaupun agak perih, tapi luka bakarnya jadi cepet kering karena EE” imbuh Pak Alex sambil menunjukkan lukanya yang disemprot dengan cairan eco-enzyme yang baru saja dipanen. Pak Sugiarto juga menambahkan “kan saya petani disini, kadang juga sering pakai cairan eco-enzyme buat semprotan hama di sawah, hasilnya bagus itu karena juga bikin tanaman bapak jadi subur”. Di kesempatan tersebut, para mahasiswa antusias menyimak dan aktif bertanya banyak hal terkait manfaat eco-enzyme yang telah diaplikasikan oleh para warga.
Betapa banyak manfaat cairan eco-enzyme yang ternyata tidak banyak diketahui oleh masyarakat sekitar. Untuk saat ini pun, pemanfaatan cairan eco-enzyme yang digadang-gadang merupakan cairan sejuta manfaat ini masih terbatas dimanfaatkan oleh sebagian kecil warga Kampung Ekologi Temas akibat kurangnya pengetahuan tentang besarnya potensi manfaat yang dimiliki oleh eco-enzyme dan juga kurang adanya inisiatif dari sebagian besar masyarakat untuk mengolah sampah organik hasil dapur rumah tangga menjadi hal yang lebih bermanfaat. Eco-enzyme hanya sebatas dimanfaatkan untuk campuran kompos dan semprotan pembasmi hama tanaman oleh para warga. Oleh karenanya, tujuan kunjungan para mahasiswa ini tak lain adalah sebagai gerbang awal mereka dalam menggambarkan bagaimana menentukan ide program kerja yang akan mereka lakukan kedepannya untuk membina Kampung Ekologi Temas. Berangkat dari permasalahan mengenai pemanfaatan eco-enzyme yang masih terbatas di lingkungan kampung, membuat para mahasiswa Bina Desa berinisiatif untuk membuat program kerja tentang pemberdayaan masyarakat terkait pemanfaatan eco-enzyme yang lebih luas yakni dengan membuat produk sabun cair organik dan semprotan disinfektan yang berbahan dasar dari eco-enzyme.
https://www.upnjatim.ac.id/
https://lppm.upnjatim.ac.id/
https://fisip.upnjatim.ac.id/
https://pariwisata.upnjatim.ac.id/




