JurnalPost.com – Masa kini, industri fashion dilanda Fenomena Fast Fashion yang menentang konsep SGD-S, yaitu “Ensure sustainable consumption and production patterns.” Namun, realitas saat ini lebih condong kepada produksi massal dan konsumsi yang tidak berkelanjutan. Konsumen digital kini menjajaki tren media sosial, mendorong industri untuk berinovasi secara cepat. Era digital memudahkan konsumen mendapatkan inspirasi dan mengikuti tren dengan kecepatan yang signifikan. Kesadaran terhadap tren dan hasrat untuk tampil modis menjadi pendorong perubahan selera pasar.
Proses produksi fast fashion dengan penggunaan bahan kimia berbahaya seringkali mencemari perairan tanpa pengelolaan yang memadai, mengancam kehidupan di dalamnya. Para pejuang lingkungan mendukung peralihan ke produksi lambat, seperti slow fashion, yang menekankan kualitas tinggi dan pengaruh positif pada lingkungan dan masyarakat.
Slow fashion, diwujudkan dalam produksi batik tulis, melibatkan perubahan dalam cara kita memproduksi, membeli, dan memandang pakaian dengan fokus pada nilai-nilai yang mendukung lingkungan dan masyarakat. Prinsip slow fashion menempatkan kualitas tinggi di atas segalanya, merancang pakaian klasik yang tidak terpengaruh oleh tren musiman, mengurangi kebutuhan untuk pembelian berulang.
Proses manual dalam produksi batik tulis menonjolkan keindahan seni tradisional dan nilai-nilai slow fashion. Dengan fokus pada tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap warisan budaya, batik tulis memberikan kontribusi berkelanjutan pada industri fashion yang semakin menghargai nilai-nilai lingkungan dan kemanusiaan. Para seniman atau pengrajin menggunakan keterampilan mereka untuk menuliskan pola khas batik secara langsung pada kain dengan menggunakan lilin panas, menciptakan produk yang tidak hanya indah secara estetis tetapi juga ramah lingkungan dan mendukung kesejahteraan masyarakat.
Dalam dunia yang terus berubah, slow fashion, terutama melalui produksi batik tulis, menjadi tonggak penting dalam mengembangkan model konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, etis, dan menarik.
Oleh: Tefa Marwa



