
Oleh: Figo Aditriya Pangestu, Ratna Maharani Aulia, Nita Puspitasari, Grace Natalia Marpaung, SE., M.Si.
Prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Semarang.
Majalengka, Jawa Barat, JurnalPost.com – Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) mengakui bahwa Bandara Kertajati, salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), telah gagal mencapai ekspektasi yang diharapkan. Keputusan ini didasarkan pada minimnya jumlah penumpang yang menggunakan bandara tersebut, yang kemudian disebabkan oleh berbagai aspek pendukung infrastruktur yang belum terselesaikan dengan baik, seperti Tol Cisumdawu.
Menurut Wahyu Utomo, Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian sekaligus ketua Tim KPPIP, kegagalan Bandara Kertajati dapat menjadi pelajaran berharga. Beliau menyatakan bahwa keberhasilan proyek infrastruktur, seperti MRT, dapat menjadi tolak ukur suksesnya suatu proyek, sementara Bandara Kertajati menjadi contoh kegagalan, terutama karena hubungan dengan proses pembangunan Tol Cisumdawu yang belum selesai.
Bandara Kertajati berupaya untuk menghidupkan kembali operasinya baru-baru ini dengan membuka rute penerbangan ke Kuala Lumpur, Malaysia, bekerja sama dengan AirAsia. Namun, PT Bandara Internasional masih menghadapi masalah untuk menjaga operasi bandara tetap berjalan lancar karena upaya ini masih terbatas dengan penerbangan hanya dua hari seminggu.
Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menunjukkan bahwa secara keseluruhan investasi pada PSN memberikan manfaat ekonomi yang signifikan, meskipun terdapat proyek-proyek PSN yang gagal seperti Bandara Kertajati. Sebanyak 132 PSN dengan nilai investasi mencapai Rp. 845,9 triliun telah diselesaikan, selama periode 2016 hingga Februari 2022. Hal ini memberikan dampak positif
terhadap perekonomian nasional, dan potensinya yang mungkin akan terus bertambah seiring dengan berlangsungnya proyek-proyek tersebut.
Meskipun demikian, kegagalan Bandara Kertajati menunjukkan bahwa tidak semua proyek berjalan sesuai rencana. Salah satu masalah utama adalah kurangnya aksesibilitas jalan menuju bandara, yang kemudian diatasi dengan percepatan pembangunan Tol Cisumdawu. Selain itu, kesalahan dalam pendekatan pembangunan juga turut berperan, karena pembangunan bandara dilakukan tanpa mempertimbangkan pembangunan ekosistem yang mendukung, seperti akomodasi untuk kru penerbangan (penginapan), fasilitas keamanan (DAMKAR), dan fasilitas kesehatan (RS).
Dalam menyikapi situasi tersebut, Sekretaris Perusahaan dan Vice President Umum PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Dian Nurrahman, menyatakan bahwa Bandara Kertajati masih menghadapi tantangan akibat operasi pesawat yang tidak terjadwal. Namun, pihaknya berencana untuk memperluas aktivitas di bandara ini hingga mencakup angkutan haji dan meningkatkan operasional penerbangan ke rute internasional seperti Malaysia.
Kemudian Muhammad Singgih, Direktur Bandara Kertajati dari PT BIJB, menyatakan bahwa fasilitas di Bandara Kertajati telah siap untuk penerbangan internasional. Runway sepanjang 3.000 Meter, area parkir pesawat berkapasitas 22 pesawat, area terminal penumpang, lahan parkir, musala, tempat penyimpanan barang berharga, AC, CCTV, dan depo bahan bakar pesawat merupakan beberapa fasilitas yang telah disiapkan. Pihaknya berencana untuk mengalihkan seluruh pesawat dari Bandara Husein Bandung ke Bandara Kertajati setelah Tol Cisumdawu selesai. Hal ini diharapkan akan meningkatkan aktivitas operasional bandara dan mendorong maskapai penerbangan untuk menggunakan fasilitas yang tersedia.
Selain itu, Singgih juga menegaskan bahwa konektivitas transportasi jalan raya di sekitar Bandara Kertajati sangatlah penting. Untuk meningkatkan aksesibilitas ke bandara tersebut, upaya telah dilakukan dengan menghubungi operator angkutan jalan raya. Dengan langkah-langkah perbaikan ini, Bandara Kertajati diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya dan menjadi aset yang berharga bagi konektivitas udara serta kontributor ekonomi yang signifikan bagi wilayah daerah khususnya Jawa Barat.
Kesimpulannya, kegagalan Bandara Kertajati sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) menunjukan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berfokus pada konstruksi fisik semata, tetapi juga memperhatikan aspek pendukung yang krusial seperti aksesibilitas, ekosistem pendukung, dan keberlanjutan operasional. Terlepas dari hal tersebut, langkah-langkah perbaikan yang diambil oleh pihak terkait, seperti mempercepat pembangunan akses jalan dan meningkatan fasilitas di bandara, menumbuhkan harapan bahwa Bandara Kertajati dapat memperbaiki kinerjanya dan berkontribusi secara signifikan bagi konektivitas udara serta membantu pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Barat. Hal ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah dan pihak terkait untuk lebih memperhatikan aspek pendukung dalam setiap proyek infrastruktur guna mencegah potensi kegagalan di masa depan.



