
Oleh: Hervina Afrianti Rahayu, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University
JurnalPost.com – Seiring dengan pesatnya perkembangan dan kemajuan teknologi di era digital saat ini, teknologi menjadi hal yang sangat penting. Perkembangan teknologi terlihat melalui penerapan mesin digital dan internet yang menyebabkan perubahan yang cepat dan pesat, sehingga dapat mempermudah manusia dalam melakukan berbagai pekerjaan. Dalam beberapa tahun terakhir ini kecerdasan buatan (Artificial Inteligence atau AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita.
Artificial Intelligence (AI) adalah suatu sistem yang memungkinkan seperangkat sistem komputer atau mesin lainnya untuk dapat berpikir dan bekerja melaksanakan tugasnya layaknya manusia. John McCarthy (1956) mendefinisikan kecerdasan buatan adalah sebagai upaya untuk memodelkan proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar mampu meniru perilaku manusia.
Hadirnya AI telah membawa dampak yang signifikan dalam berbagai aspek manusia. Termasuk dalam bidang komunikasi. Artificial Intelligence (AI) telah mengalami kemajuan yang pesat, karena AI telah mengubah bagaimana cara kita berinteraksi, bekerja, maupun berkomunikasi. Salah satu aspek yang paling terlihat dari penggunaan AI adalah dalam media sosial. Platform-media sosial menggunakan kecerdasan buatan untuk menyajikan konten yang lebih relevan dan menarik kepada pengguna. Algoritma AI menganalisis preferensi dan perilaku pengguna untuk memberikan rekomendasi konten yang sesuai, menciptakan pengalaman pengguna yang lebih pribadi dan memuaskan.
Lalu, apakah AI akan menggantikan peran manusia di masa depan? Meskipun beberapa ada yang mengatakan bahwa AI akan menggantikan manusia, perlu diingat bahwa tidak semua teknologi dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia. AI memang membantu, tapi tidak akan menggantikan manusia. Karena AI itu sama halnya dengan suatu alat atau mesin, hanya dapat berjalan sesuai arahan dari perilaku manusia. Meskipun kecerdasan buatan (AI) mampu melakukan tugasnya dengan cepat dan efisien, tapi masih banyak pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh manusia.
M.Anshar Syamsuddin (2023) menyatakan bahwa, kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi atau manfaat dalam berbagai bidang, yaitu; 1. Sebagai automatisasi tugas rutin dan berulang, agar menghemat waktu dan sumber daya manusia. 2. Peningkatan produktivitas dengan memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas. 3. Analisis data yang cepat dan akurat. AI dapat digunakan untuk menganalisis dan mengekstraksi pola dari jumlah data besar dengan cepat dan akurat daripada manusia. 4. Pengembangan solusi inovatif. AI memungkinkan penciptaan solusi yang dapat menangani masalah kompleks dan menawarkan pendekatan yang baru untuk pemecahan masalah. 5. Peningkatan pengalaman pengguna. Dalam sektor e-commerce, hiburan, dan layanan pelanggan, AI dapat meningkatkan pengalaman pengguna. Penggunaan sistem rekomendasi berbasis AI dapat menciptakan interaksi yang lebih responsif dan memuaskan.
Meski demikian, penerapan AI juga memunculkan beberapa tantangan, seperti kekhawatiran terkait etika, keamanan data, dan dampak pada lapangan kerja. Namun, dengan pemahaman dan pengelolaan manajemen yang baik, manfaat AI dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan banyak aspek kehidupan manusia dan bisnis.
Sebagian orang optimis terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) ini bisa membantu mereka untuk mencari informasi, bahkan bisa memudahkan dalam pekerjaan sehari-hari. Tetapi, ada juga sebagian orang yang memandang bahwa AI ini berisiko bahkan menimbulkan ancaman di masa depan. Lembaga survei IPSOS menyatakan bahwa, 78% orang Indonesia menganggap AI sangat positif, dan Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara yang menilai bahwa AI membawa lebih banyak manfaat dibandingkan kerugian. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara paling optimis akan teknologi AI tersebut.

Penerapan AI tidak hanya menjadi tren global, tetapi juga kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan cara kita berinteraksi dan bekerja. Salah satu contoh penerapan AI saat ini adalah ChatGPT. Sistem ini dikembangkan oleh AI dan menjadi viral dalam beberapa waktu terakhir. Penerapan AI dalam ChatGPT (Generative Pre-training Transformer) merupakan contoh penerapan sistem kecerdasan buatan yang telah di siapkan untuk berinteraksi dalam komunikasi berbasis teks. Keunikannya terletak di kemampuannya untuk menghasilkan respons yang mirip dengan manusia berdasarkan input atau pertanyaan yang diberikan. Penerapan ChatGPT sangat luas, dengan kemampuan adaptasinya yang tinggi, bisa membawa transformasi dalam cara kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan teknologi. Dengan terus berkembangnya teknologi AI, ChatGPT menjadi representasi nyata bagaimana kecerdasan buatan bisa membawa dampak positif dalam menyempurnakan cara kita berinteraksi di dunia digital.
Di era kecerdasan buatan, AI membawa kita ke dunia yang lebih terhubung dan efisien dalam berbagai tugas. Tetapi, perlu diingat bahwa peran manusia tetap tidak akan tergantikan. Meskipun perlu diwaspadai risiko dan tantangan yang mungkin akan timbul, tetapi optimisme Indonesia terhadap manfaat AI menunjukkan kesiapan untuk menghadapi masa depan yang terintegrasi dengan teknologi. Dengan demikian, perlu adanya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi AI untuk keuntungan manusia dan pemahaman terhadap dampak serta tantangannya. Dengan pemahaman yang bijak, kita dapat mengoptimalkan manfaat AI untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas dan mendorong kemajuan transformasi komunikasi di era digital.



