JurnalPost.com – Garis pantai di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Madura, Banda Aceh, dan pesisir barat Kabupaten Pandeglang, Banten, mengalami perubahan signifikan akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fenomena abrasi (pengikisan) dan akresi (pengendapan) menjadi ancaman serius bagi ekosistem pesisir dan keberlanjutan wilayah tersebut.
Sebuah studi yang menganalisis perubahan garis pantai di Pulau Madura antara tahun 2013 hingga 2019 menggunakan citra satelit Landsat 8 mengungkapkan dinamika pesisir yang mencemaskan. Kabupaten Bangkalan mencatat laju abrasi tertinggi dengan nilai rata-rata End Point Rate (EPR) sebesar -5,24 meter per tahun. Peneliti mengaitkan abrasi ini dengan gelombang tinggi serta diperparah oleh aktivitas penambangan pasir ilegal dan tambak udang. Sebaliknya, Kabupaten Sumenep menunjukkan laju akresi tertinggi, mencapai 5,57 meter per tahun. Akresi di Sumenep diduga kuat disebabkan oleh arus laut yang kuat membawa sedimen ke daratan, selain aktivitas reklamasi pantai ilegal. Temuan ini menegaskan bahwa seluruh bagian utara dan selatan Pulau Madura rentan terhadap perubahan garis pantai (Agustin & Syah, 2020).

Sebuah studi lain di Banda Aceh yang mengalami tsunami pada tahun 2004 masih terasa dampaknya hingga kini. Bencana dahsyat tersebut tidak hanya menyebabkan mundurnya garis pantai hingga ratusan meter akibat erosi, tetapi juga mengubah drastis fungsi lahan. Analisis citra satelit dari tahun 2004 (pra-tsunami), 2011, dan 2017 menunjukkan bahwa luasan tambak menurun signifikan dari 1.346 hektar menjadi 787 hektar. Sebaliknya, area laguna meningkat dari 241 hektar menjadi 423 hektar, menandakan konversi lahan produktif menjadi perairan permanen.Selain itu, wilayah pesisir Banda Aceh juga terus dihadapkan pada ancaman bencana hidrometeorologis seperti banjir rob, gelombang pasang, dan erosi pantai akibat badai musiman, serta penurunan tanah (land subsidence) yang terkait dengan aktivitas tektonik (Meilianda et al., 2019).

Penelitian di pesisir barat Kabupaten Pandeglang, Banten, menggunakan citra satelit Sentinel-2A dan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS), mengonfirmasi dominasi abrasi di wilayah tersebut. Abrasi terbesar teridentifikasi di Desa Sidamukti dengan laju mencapai 26,65 meter per tahun, sementara akresi terbesar terjadi di Desa Sukajadi sebesar 24,92 meter per tahun. Perubahan garis pantai di Pandeglang sangat dipengaruhi oleh parameter hidro-oseanografi seperti angin dominan dari utara dan timur, serta arus laut yang bergerak paralel dengan pantai, yang berperan dalam pergerakan sedimen. Topografi pantai yang berlereng landai dan substrat pasir juga membuat daerah ini sangat rentan terhadap erosi (Huda et al., 2024).
Studi-studi ini secara kolektif menyoroti pentingnya penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai alat vital dalam memantau perubahan garis pantai. Temuan ini juga menggarisbawahi urgensi upaya mitigasi dan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan. Pembangunan pemecah ombak, regulasi ketat terhadap penambangan pasir ilegal, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah krusial untuk menjaga kelestarian lingkungan pesisir dan meminimalkan dampak negatif abrasi dan akresi. Dengan data yang akurat, pemerintah daerah dan masyarakat dapat merencanakan pembangunan kawasan wisata, pelabuhan, dan budidaya perikanan secara lebih strategis dan berkelanjutan.

Sumber :
Agustin, N. S., & Syah, A. F. (2020). Analisis perubahan garis pantai di Pulau Madura menggunakan citra satelit Landsat 8. Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan, 1(3), 427-436
Huda, A., Panjaitan, J. P., & Agus, S. B. (2024). Analysis of coastline changes using Sentinel 2A imagery in the coastal area of West Pandeglang, Banten. In BIO Web of Conferences (Vol. 106, p. 04007). EDP Sciences.
Meilianda, E., Pradhan, B., Comfort, L. K., Alfian, D., Juanda, R., Syahreza, S., & Munadi, K. (2019). Assessment of post-tsunami disaster land use/land cover change and potential impact of future sea-level rise to low-lying coastal areas: A case study of Banda Aceh coast of Indonesia. International Journal of Disaster Risk Reduction, 41, 101292.
Penulis :
Adinda Nike Febiyanti 225080601111032
Aulia Intan Rahmanissa 225080601111021
Angeline Salsabila Aura Sakiono 225080601111029