
Trawas, Mojokerto, JurnalPost.com – 11 Januari 2026, Kelompok Tani Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto kini tersenyum lebar. Dimana kini mulai merasakan manfaat nyata dari inovasi teknologi tepat guna di sektor pertanian. Sebuah alat semprot pestisida otomatis atau sprayer pintar diperkenalkan dan digunakan oleh kelompok tani setempat sebagai solusi atas permasalahan klasik pertanian, yakni penyemprotan manual yang melelahkan, boros, dan berisiko bagi kesehatan petani. Selama bertahun-tahun, petani di Desa Tamiajeng masih mengandalkan alat semprot manual tipe ransel. Penggunaan alat ini mengharuskan petani memompa secara terus-menerus agar tekanan semprot tetap stabil. Kondisi tersebut tidak hanya menguras tenaga dan waktu, tetapi juga menghasilkan semprotan yang tidak merata. Akibatnya, penggunaan pestisida menjadi boros hingga 20–30 persen dan efektivitas pengendalian hama menurun.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menghadirkan inovasi alat semprot pestisida otomatis berbasis pompa dinamo DC bertenaga AKI. Alat ini dirancang dengan konsep teknologi tepat guna, mudah dioperasikan, terjangkau, serta sesuai dengan kebutuhan petani di wilayah pegunungan seperti Tamiajeng. Alat semprot otomatis ini memiliki kapasitas tangki 24 liter dengan tekanan semprot stabil hingga 90 psi. Berbeda dengan alat manual, sprayer pintar ini tidak memerlukan pemompaan tangan karena seluruh proses penyemprotan digerakkan oleh motor listrik. Hasilnya, distribusi cairan pestisida menjadi lebih merata dan konsisten, sehingga penyemprotan lebih efektif dan efisien.
Ketua Kelompok Tani Desa Tamiajeng menyambut positif kehadiran alat ini. Menurutnya, penggunaan sprayer otomatis sangat membantu petani, terutama petani lanjut usia dan perempuan yang sebelumnya kesulitan menggunakan alat manual. “Sekarang menyemprot jadi lebih ringan, tidak cepat capek, dan hasil semprotan lebih merata,” ujarnya saat uji coba alat di lahan pertanian.
Selain meningkatkan efisiensi kerja, inovasi ini juga berdampak signifikan pada aspek kesehatan dan keselamatan kerja petani. Penyemprotan manual sering kali membuat petani terpapar langsung kabut pestisida karena jarak semprot yang dekat dan tekanan yang tidak stabil. Dengan alat semprot otomatis, petani dapat menjaga jarak yang lebih aman dan mengurangi risiko paparan bahan kimia berbahaya yang dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan. Program ini tidak hanya berhenti pada penyerahan alat, tetapi juga dilengkapi dengan pelatihan intensif menggunakan metode learning by doing. Petani dilatih langsung mengenai cara pengoperasian alat, pengaturan tekanan semprot sesuai jenis tanaman, hingga perawatan dan perbaikan ringan seperti pembersihan nosel dan pengisian baterai. Pendampingan dilakukan selama hampir dua minggu untuk memastikan alat benar-benar dapat digunakan secara mandiri oleh petani. Tim pelaksana juga menyediakan buku panduan penggunaan dalam bahasa sederhana serta akses konsultasi teknis jarak jauh. Langkah ini diambil untuk memastikan keberlanjutan program dan petani dapat mengatasi kendala teknis secara mandiri.
Dari sisi ekonomi, penggunaan alat semprot otomatis ini diproyeksikan mampu menekan biaya produksi pertanian hingga 15–30 persen. Efisiensi tersebut berasal dari penghematan penggunaan pestisida, pengurangan waktu kerja, serta berkurangnya kebutuhan tenaga tambahan saat musim tanam serentak. Dengan biaya operasional yang lebih rendah, pendapatan bersih petani diharapkan meningkat. Lebih jauh, inovasi ini juga diharapkan dapat mendorong modernisasi pertanian desa dan menarik minat generasi muda untuk kembali terjun ke sektor pertanian. Pertanian yang identik dengan pekerjaan berat dan berisiko kini mulai berubah menjadi lebih modern, efisien, dan ramah kesehatan. Kehadiran alat semprot pintar di Desa Tamiajeng menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat mampu menghasilkan solusi konkret bagi permasalahan di lapangan. Teknologi sederhana namun tepat guna ini diharapkan dapat direplikasi ke desa-desa lain di Kabupaten Mojokerto, sehingga modernisasi pertanian dapat berjalan lebih merata dan berkelanjutan.
By Ratri Nur Fadila



