QRIS Ngebut, Data Kita Aman? Menjaga Kepercayaan Publik di Tengah Ledakan Pembayaran QR
Oleh: Muhammad Yusuf Bahtiar
Mahasiswa Program Doktoral Ekonomi Syariah
UIN Raden Intan Lampung
JurnalPost.com - Bayangkan pagi hari di kedai kopi langganan: cukup scan QRIS bayar beres. Serba cepat tanpa uang tunai tanpa kartu. Di balik kemudahan itu ekosistem data yang sangat kaya, lokasi, kebiasaan belanja, perangkat, sampai identitas financial bergerak setiap detik. Pertanyaan besarnya: saat pemanfaatan QRIS melesat, apakah perlindungan data pribadi dan keamanan siber kita ikut ngebut atau tertinggal? Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan dorongan kuat digitalisasi pembayaran melalui QRIS. Sampai Semester I/2025, pengguna QRIS menembus 57 juta, merchant 39,3 juta (93% UMKM), dan 6,05 miliar transaksi senilai 579 triliun angka yang menegaskan QRIS bukan lagi pelengkap, melainkan tulang punggung transaksi ritel harian di Indonesia. Di sisi lain, lanskap serangan siber dan penyalahgunaan QR kian canggih: dari stiker QR palsu yang ditempel diam-diam di tempat umum hingga modus social engineering. Peringatan resmi soal quishing phishing lewat QR muncul dari otoritas dan komunitas keamanan global, termasuk peringatan FBI atas paket tak dikenal berisi QR yang menjerat data pribadi. Opini ini menimbang trade-off antara percepatan adopsi QRIS dan tata kelola data / keamanan siber, lalu menawarkan agenda solusi yang operasional bukan sekadar slogan agar kecepatan tak mengorbankan kepercayaan.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda