JurnalPost.com - Praktik cyber security modern dinilai semakin kehilangan fondasi intelligence methodology akibat dominasi tools, automation, dan budaya instan di era digital. Hal tersebut disampaikan Prof. Dean dari PT Mahakarya Indo Belati dalam pembahasan mengenai menurunnya kualitas operational thinking di industri keamanan siber modern.
Menurutnya, banyak praktisi saat ini salah memahami konsep Open Source Intelligence (OSINT). Data bocor, bot closed-source, hingga database ilegal sering dianggap sebagai bagian dari OSINT, padahal metode tersebut tidak sesuai dengan prinsip intelligence collection yang sah, terverifikasi, dan berbasis methodology.
“OSINT bukan sekadar mencari data. Intelligence adalah proses collection, verification, correlation, analysis, dan attribution. Tanpa methodology, cyber security hanya menjadi data jaring laba laba yang tidak berguna dan seringkali bias dan tidak sesuai fakta,” kata Prof. Dean, Jumat (15/5/2026).
Ia menilai fenomena tersebut muncul karena banyak individu menguasai tools tetapi tidak memahami operational ethics, legal boundaries, maupun strategic reasoning dalam cyber security. Akibatnya, industri keamanan siber perlahan berubah menjadi tool-centric culture yang terlalu fokus pada automation tetapi minim intelligence literacy.
Selain itu, Prof. Dean juga menyoroti kesalahpahaman mengenai pentesting yang selama ini dianggap hanya berfokus pada eksploitasi digital seperti scanning, payload delivery, dan vulnerability assessment.
“Banyak organisasi lupa bahwa physical attack surface juga bagian dari security. Social engineering, access control, human manipulation, hingga physical intrusion sering diabaikan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan intelligence methodology seperti ini akan menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ketergantungan industri terhadap AI dan automation tools.
Prof. Dean diketahui merupakan mentor di Cyber Cartel, komunitas yang beranggotakan penegak hukum, personel militer, praktisi intelligence, investigator, dan profesional cyber security expert untuk mempelajari cyber intelligence, operational security, hybrid investigation methodology, hingga modern intelligence workflow.
Ia juga menjabat sebagai Head Instructor di CyberSpy Academy yang mengembangkan pelatihan multidisiplin mulai dari OSINT, SOCMINT, SIGINT awareness, digital investigation, cyber espionage awareness, operational tradecraft, hingga physical security assessment untuk menghadapi ancaman hybrid di era AI dan automation.
Menurutnya, cyber security modern membutuhkan lebih dari sekadar dashboard compliance dan automation tools. Dibutuhkan operational discipline, ethical reasoning, dan intelligence literacy agar teknologi tidak menciptakan false confidence di tengah masyarakat digital.
“Saya berharap generasi cyber security berikutnya kembali memahami intelligence literacy, operational discipline, dan ethical reasoning, bukan hanya mengejar tools,” tuturnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda