Ditulis oleh: Muhammad Iqbal Abdi Lubis* *Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas
Hidangan Pembuka Pembangunan sebuah negara tentu tidak akan bergeser dari pencapaian utama yang ditarget oleh suatu bangsa, yakni kesejahteraan dari bangsa itu sendiri. Kesejahteraan sebuah bangsa diukur atas pencapaian pada aspek kehidupan, meliputi taraf ekonomi, sosial, lingkungan, dan politik. Peningkatan ekonomi (red. pendapatan) di masyarakat akan memberikan impak pada peningkatan taraf sosial, lingkungan, dan politik. Langkah yang harus dilakukan untuk memahami dan mengukur kesejahteraan suatu bangsa, diperlukan parameter yang komprehensif dan terukur. Namun, pada uraian ini penulis akan membatasi pembahasan parameter kesejahteraan suatu bangsa dengan menitik-beratkan pada aspek pertanian.
Parameter Kesejahteraan suatu Bangsa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki beragam keunikan, mulai dari budaya, adat, Bahasa, sejarah, dan hal lainnya. Bangsa Indonesia adalah seluruh lapisan masyarakat dengan heterogenitas adat, budaya, bahasa, sejarah, dan aspek lainnya yang terhimpun dalam sebuah organisasi dengan kekuasaan tertinggi yang sah bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberlangsungan sebuah negara tidak dapat didikotomikan dari kesejahteraan bangsa. Dimana kesejahteraan suatu bangsa akan mendorong eksistensi dan elektabilitas suatu negara dalam tatanan yang lebih luas yakni dunia. Upaya pengukuran kesejahteraan bangsa perlu dilakukan secara kontinyu dan dijaga untuk ditingkatkan secara merata. Bangsa yang sejahtera dapat dilihat dari beberapa parameter, mulai dari politik; sosial; lingkungan; dan ekonomi.
Politik sebagai indikator kesejahteraan suatu bangsa ditandai dengan sistem politik yang telah tertata sedemikian apik dan memberikan ruang kebebasan berpendapat bagi masyarakat. Parameter kesejahteraan politik melibatkan indikator seperti tingkat partisipasi politik, kualitas tata kelola, kebebasan berpendapat, hak asasi manusia, dan tingkat korupsi. Selanjutnya, parameter sosial yang mencakup indikator-indikator seperti akses terhadap pendidikan (tingkat melek huruf, angka partisipasi sekolah, dan rata-rata lama sekolah), kesehatan (angka harapan hidup, tingkat kematian anak, dan akses terhadap fasilitas kesehatan), akses ke layanan sosial, dan tingkat kebahagiaan masyarakat.
Lingkungan sebagai salah satu parameter kesejahteraan sebuah bangsa pasalnya adalah bangsa yang sejahtera akan memerhatikan dengan bijaksana lingkungannya. Parameter ini mencakup indikator seperti tingkat emisi gas rumah kaca, kualitas air, keberlanjutan sumber daya alam, serta upaya perlindungan lingkungan dari degradasi dan polusi. Hal sederhana untuk memenuhi berbagai indikator tersebut di atas adalah dengan mengembalikan prosesi pertanian kembali ke alam (back to nature). Pengelolaan pertanian dengan konsep back to nature tidak semata untuk kesejahteraan bangsa Indonesia pada era ini, melainkan untuk keberlangsungan kehidupan bagi anak-cucu kedepannya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa konsep pertanian di Indonesia boleh dikatakan sudah lebih dari 50% menggunakan bahan non-alam, seperti penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Alhasil kelestarian lingkungan akan terabaikan yang tentu akan berdampak bagi kesehatan manusia sebagai puncak tertinggi dalam tatanan ekosistem. Kontinuitas lingkungan melalui pengelolaan pertanian dengan konsep back to nature akan memberikan dampak ekonomi pula. Bagaimana tidak, dengan penerapan konsep ini berapa banyak petani kita yang akan dapat menyelamatkan ladang yang dikelola dari pembengkakan biaya.
Pertanian sebagai salah satu Pilar Kesejahteraan Bangsa Indonesia sebagai negara agraris dengan luas bentang areal pertanian yang sangat luas, seharusnya mampu menjadikan Indonesia sebagai “Raja Eksportir Pertanian Dunia.” Namun, pada kenyataannya angan yang penulis sampaikan tidak demikian. Betapa banyak negara dengan luas bentang areal pertanian yang tidak seluas Indonesia, namun mampu menjadikan pusat kesejahteraan ekonomi negara bertumpu dari sektor pertaniannya, misal: Malysia, Thailand, Kamboja, Filipina, dan Jepang. Beberapa contoh nama negara yang penulis utarakan di atas mendapat perhatian penuh dari Pemerintah mereka pada sektor pertanian. Hal ini penulis duga, karena pemerintah negara-negara tersebut sadar bahwa seluruh makhluk di muka bumi ini tidak akan mampu berhenti makan dalam jangka waktu yang panjang, terutama manusia. Dimana sumber pangan utama bagi manusia sebagai predator tertinggi dalam tatanan ekosistem ini adalah dari sektor pertanian.
Hal ini agaknya terlambat disadari (red. nyaris terlupakan) di negara Indonesia sebagai bagian kesejahteraan suatu bangsa. Akan tetapi keterlambatan ini tidak menjadi dinding penghalang yang sulit untuk dirobohkan, mengingat karena negara Indonesia memiliki segudang potensi pada sektor ini. Upaya yang harus dilakukan adalah dengan cara merubah pusat perhatian pemerintah Indonesia agar lebih didominasi pada sektor pertanian. Beberapa diantaranya yaitu: a) mengatur regulasi tentang penetapan harga eceran tertinggi/terendah (HET/T) terhadap produk pertanian; b) menetapkan agen/penyalur utama penerima produk pertanian di tiap provinsi hingga daerah yang mengacu pada HET/T; c) mengedukasi petani melalui para penyuluh pertanian agar menerapkan konsep back to nature misal seperti penerapan teknologi BioSAKA (Bio = hayati/tumbuhan; SAKA = Selamatkan Alam dan Kembali ke Alam) yang belakangan ini viral dan menjadi perhatian Kementrian Pertanian; d) dukungan aspek teknologi-jaringan sebagai penerapan pertanian 4.0 di Indonesia, disertai dnegan pendampingan dari pakar hingga petani di Indonesia mahir; dan e) menetapkan aturan/sanksi yang tegas (red. tidak pandang buluh) apabila ditemukan oknum yang melanggar program Pemerintah terkait HET/T.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda