Penulis: Dimas Ferdiansyah
JurnalPost.com – Di stasiun besar, bandara, maupun pasar tradisional di Indonesia, hampir selalu ada sosok yang berjalan cepat sambil memanggul koper, kardus, atau karung berat milik orang lain. Mereka adalah porter, atau yang lebih akrab disebut kuli panggul, buruh angkut, hingga buruh gendong, tergantung tempat mereka mencari nafkah.
Selama puluhan tahun, jasa mereka nyaris tidak tergantikan. Kehadiran porter sangat membantu penumpang yang membawa banyak barang, orang lanjut usia, keluarga dengan anak kecil, maupun pedagang yang harus memindahkan muatan dalam jumlah besar.
Namun, satu demi satu penyangga keberadaan profesi ini mulai goyah. Digitalisasi layanan transportasi, keberadaan troli, perubahan pola belanja masyarakat, hingga minimnya regenerasi membuat porter kini berada di persimpangan antara bertahan dan perlahan tergerus perkembangan zaman.
Ketika Tiket dan Koper Tak Lagi Banyak Membutuhkan Bantuan
Perubahan paling terasa datang dari cara masyarakat bepergian. PT Kereta Api Indonesia kini mengandalkan berbagai layanan digital, mulai dari boarding pass elektronik melalui aplikasi, fasilitas check-in mandiri, hingga mesin pencetak tiket yang tersedia di sejumlah stasiun besar.
Penumpang semakin terbiasa mengurus perjalanan secara mandiri tanpa harus bergantung pada bantuan orang lain untuk urusan tiket maupun proses keberangkatan. Perubahan tersebut secara tidak langsung mengurangi kesempatan porter menawarkan jasa kepada penumpang.
Di bandara, situasinya tidak jauh berbeda. Kios check-in mandiri, layanan bagasi otomatis, serta ketersediaan troli gratis membuat semakin banyak penumpang memilih membawa barang sendiri.
Di Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, jasa porter berbayar pernah digantikan oleh layanan resmi berupa airport helper. Kebijakan tersebut memberikan kepastian pelayanan bagi penumpang sekaligus mencegah praktik penetapan tarif secara sepihak.
Namun, dari sisi pekerja, perubahan semacam itu juga mempersempit ruang bagi porter tradisional untuk menentukan penghasilan melalui kesepakatan langsung dengan pengguna jasa.
Modernisasi bahkan mulai menyentuh cara jasa porter dipasarkan. Ribuan porter yang bekerja di sejumlah stasiun besar kini dapat dipesan melalui layanan e-Porter dengan tarif yang telah ditentukan.
Bagi penumpang, sistem ini tentu lebih praktis dan transparan. Akan tetapi, bagi porter, sistem tarif tetap berarti penghasilan yang sebelumnya dapat dinegosiasikan kini menjadi lebih terukur dan terbatas.

Pada hari-hari biasa, pendapatan porter stasiun juga tidak selalu tinggi. Musim mudik Lebaran biasanya menjadi periode paling ramai karena jumlah penumpang dan barang bawaan meningkat tajam. Sayangnya, masa ramai tersebut hanya berlangsung dalam waktu terbatas setiap tahunnya.
Pasar Tradisional yang Kian Sepi dari Jasa Angkut
Ancaman serupa juga dihadapi buruh gendong, terutama perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari aktivitas pasar tradisional seperti Beringharjo, Giwangan, dan Kranggan di Yogyakarta.
Sebagian besar buruh gendong merupakan perempuan paruh baya yang sehari-hari mengangkut barang dengan berat puluhan kilogram. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan mengandalkan kekuatan tubuh, sering kali tanpa perlengkapan pengaman maupun alat bantu yang memadai.
Pendapatan yang mereka peroleh pun relatif terbatas. Dalam sejumlah kasus, penghasilan harian buruh gendong hanya berkisar puluhan ribu rupiah, tergantung jumlah pengguna jasa dan kondisi pasar.
Perubahan pola konsumsi masyarakat turut memberikan tekanan terhadap pekerjaan ini. Kehadiran pasar swalayan, layanan pengantaran, dan pertumbuhan belanja daring membuat sebagian aktivitas perdagangan tidak lagi membutuhkan jasa angkut manual dalam jumlah seperti sebelumnya.
Pandemi COVID-19 pernah memperlihatkan betapa rentannya kelompok pekerja informal tersebut. Ketika aktivitas pasar dibatasi, pendapatan buruh gendong ikut menurun drastis karena pekerjaan mereka sangat bergantung pada keramaian dan transaksi harian.
Situasi itu menjadi pengingat bahwa pekerja informal seperti buruh gendong memiliki daya tahan ekonomi yang sangat terbatas ketika menghadapi krisis kesehatan maupun perubahan kebiasaan masyarakat.
Regenerasi yang Mandek
Salah satu tanda sebuah profesi mulai terancam bukan hanya berkurangnya permintaan, tetapi juga hilangnya minat generasi berikutnya untuk meneruskan pekerjaan tersebut.
Di kalangan buruh gendong, misalnya, banyak pekerja justru berharap anak-anak mereka tidak menjalani pekerjaan yang sama.

Alasannya cukup mudah dipahami. Pekerjaan sebagai buruh angkut menuntut tenaga fisik besar, menghadirkan risiko kesehatan, tetapi belum selalu memberikan pendapatan yang sepadan.
Kajian ergonomi terhadap porter di sejumlah lokasi juga menunjukkan bahwa aktivitas mengangkat beban berat secara berulang dapat meningkatkan risiko gangguan pada otot dan tulang, terutama di bagian punggung, bahu, leher, hingga pergelangan tangan.
Tanpa alat bantu yang memadai, tubuh menjadi satu-satunya “mesin” yang digunakan untuk mencari nafkah.
Masalahnya, tubuh memiliki batas. Ketika usia bertambah sementara pekerjaan tetap menuntut kekuatan fisik tinggi, kemampuan porter untuk terus bekerja pun semakin berkurang.
Jika pada saat yang sama generasi muda enggan meneruskan profesi tersebut, regenerasi pekerja porter dapat semakin tersendat.
Bayang-Bayang Otomatisasi yang Kian Nyata
Di Indonesia, ancaman terhadap profesi porter sebagian besar masih datang dari digitalisasi layanan, perubahan pola perjalanan, serta pergeseran gaya hidup masyarakat.
Namun, di sejumlah negara maju, arah perubahan sudah bergerak menuju otomatisasi yang jauh lebih kompleks.
Jepang, misalnya, mulai mengembangkan dan menguji berbagai teknologi robotik untuk membantu pekerjaan ground handling di bandara, termasuk pemindahan bagasi penumpang.
Pengembangan teknologi tersebut muncul sebagai respons terhadap kebutuhan efisiensi sekaligus kekurangan tenaga kerja akibat perubahan demografi.
Penggunaan robot untuk pekerjaan semacam itu memang belum diterapkan secara luas di Indonesia. Meski demikian, tren global tersebut dapat menjadi gambaran mengenai arah perkembangan pekerjaan yang sangat bergantung pada tenaga fisik.
Ketika biaya teknologi otomatisasi semakin terjangkau, bukan tidak mungkin fasilitas transportasi di Indonesia mulai mengadopsi teknologi serupa.
Apalagi modernisasi stasiun, bandara, terminal, dan berbagai fasilitas publik terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menyesuaikan pelayanan dengan perkembangan teknologi.
Bertahan di Tengah Arus Perubahan
Meski menghadapi tekanan dari berbagai arah, porter di Indonesia belum sepenuhnya kehilangan ruang.
Di sejumlah stasiun, komunitas porter menerapkan sistem giliran kerja untuk membagi kesempatan mendapatkan penumpang secara lebih merata. Sistem tersebut menjadi penting, terutama ketika jumlah pengguna jasa tidak sebanyak masa lalu.
Musim mudik Lebaran masih menjadi periode yang paling dinantikan. Pada masa tersebut, lonjakan jumlah penumpang dan barang bawaan memberikan peluang bagi porter memperoleh pendapatan lebih besar dibandingkan hari-hari biasa.
Di pasar tradisional, berbagai organisasi masyarakat sipil juga terus berupaya memberikan pendampingan kepada buruh gendong, khususnya perempuan, agar memperoleh pengakuan dan perlindungan kerja yang lebih layak.
Namun, berbagai langkah tersebut pada dasarnya masih bersifat mempertahankan keberadaan mereka di tengah arus perubahan.
Selama porter, buruh panggul, dan buruh gendong masih berada dalam sektor informal tanpa jaminan sosial yang memadai, perlindungan kerja yang kuat, maupun jalur peningkatan keterampilan yang jelas, mereka akan tetap menjadi salah satu kelompok paling rentan ketika teknologi baru diperkenalkan atau kebiasaan masyarakat berubah.
Persoalannya kini bukan sekadar apakah profesi porter akan terus tergerus, tetapi bagaimana proses perubahan itu berlangsung secara manusiawi.
Modernisasi transportasi dan perdagangan merupakan bagian dari perkembangan zaman yang sulit dihindari. Teknologi memberikan kemudahan, meningkatkan efisiensi, sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan bagi masyarakat.
Namun, di balik mesin check-in mandiri, koper beroda, aplikasi pemesanan, dan berbagai fasilitas otomatis, masih ada ribuan orang yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup pada kekuatan tubuh mereka.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar kesempatan untuk tetap bekerja. Porter juga membutuhkan ruang untuk beradaptasi, memperoleh perlindungan, meningkatkan keterampilan, dan menemukan posisi baru di tengah perubahan.
Sebab, kemajuan seharusnya bukan hanya tentang seberapa cepat teknologi menggantikan pekerjaan lama, tetapi juga tentang seberapa jauh manusia yang terdampak tetap diberikan kesempatan untuk berjalan bersama perubahan zaman.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda