Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Pilar Kesehatan dalam Makna Kemerdekaan

Pilar Kesehatan dalam Makna Kemerdekaan

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
16 Agustus 2026, 13.21 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Makna Kemerdekaan
Oleh: dr. Tedy Hartono, S.H., MCS JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan sebagai momentum untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa. Kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang yang dibayar dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, dan air mata generasi terdahulu. Namun, setelah lebih dari delapan dekade Indonesia merdeka, ada satu pertanyaan yang tetap relevan untuk direnungkan: sejauh mana makna kemerdekaan benar-benar telah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia? Kemerdekaan tentu tidak cukup hanya dimaknai sebagai terbebasnya suatu bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus tercermin dalam kualitas kehidupan masyarakat. Setidaknya terdapat lima pilar penting yang dapat menjadi ukuran, yakni keamanan, pendidikan, kesehatan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berserikat. Di antara pilar tersebut, kesehatan menempati posisi yang sangat strategis karena menjadi salah satu fondasi utama kehidupan manusia. Sulit membangun pendidikan berkualitas ketika masyarakat tidak berada dalam kondisi sehat. Produktivitas ekonomi juga akan terganggu apabila kesehatan masyarakat rendah. Bahkan kebebasan berpendapat maupun berserikat kehilangan sebagian maknanya apabila seseorang tidak mampu memperoleh kehidupan yang sehat dan layak. Sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 1945, pembangunan kesehatan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia. Berbagai kemajuan telah dicapai, mulai dari pengendalian penyakit menular, perluasan program imunisasi, peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, hingga pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai daerah. Kehadiran puskesmas, rumah sakit daerah, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta berbagai program kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa sektor kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Meski demikian, pekerjaan rumah di bidang kesehatan masih sangat besar. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai persoalan pelayanan kesehatan semakin sering menjadi perhatian publik. Sengketa antara pasien dan fasilitas kesehatan, persoalan komunikasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat, keterbatasan fasilitas, kekurangan tenaga pendukung, beratnya beban administrasi, hingga risiko hukum yang dihadapi tenaga medis menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Tenaga medis dan tenaga kesehatan pada dasarnya memikul tanggung jawab yang sangat besar. Mereka bekerja bukan hanya berhadapan dengan penyakit, tetapi juga dengan berbagai keterbatasan sistem pelayanan kesehatan. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu contoh paling nyata. Ketika masyarakat menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian, dokter, perawat, bidan, tenaga laboratorium, tenaga farmasi, serta berbagai petugas kesehatan lainnya berdiri di garis terdepan. Mereka bekerja siang dan malam menghadapi penyakit yang pada awal kemunculannya bahkan belum sepenuhnya dipahami dunia medis. Tidak sedikit tenaga kesehatan yang kemudian kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas. Mereka layak dikenang sebagai bagian dari pahlawan kesehatan Indonesia. Setelah pandemi berlalu, pertanyaan penting kemudian muncul: apakah perlindungan, penghargaan, kesejahteraan, dan dukungan terhadap tenaga kesehatan telah sebanding dengan besarnya tanggung jawab yang mereka pikul?

Tantangan Pelayanan Kesehatan di Daerah

Di berbagai wilayah Indonesia, khususnya daerah terpencil, tenaga kesehatan masih menghadapi tantangan yang tidak mudah. Mereka harus melayani masyarakat dengan kondisi geografis yang sulit, keterbatasan alat kesehatan, fasilitas yang belum memadai, akses teknologi yang belum merata, hingga jumlah tenaga pendukung yang terbatas. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap kualitas pelayanan kesehatan terus meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan sektor kesehatan tidak cukup dilakukan melalui pembangunan fisik semata. Pemerintah juga perlu memperhatikan distribusi tenaga kesehatan, kualitas sumber daya manusia, perlindungan hukum, kesejahteraan tenaga medis, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan sistem rujukan. Kesehatan semestinya ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional. Berbagai negara telah menunjukkan bahwa investasi dalam bidang kesehatan memberikan dampak yang luas terhadap kualitas sumber daya manusia. Jepang, misalnya, dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat harapan hidup yang tinggi dan sistem pelayanan kesehatan yang luas. Singapura mengembangkan pelayanan kesehatan modern yang didukung teknologi serta sumber daya manusia berkualitas. Korea Selatan juga terus mengembangkan riset medis, teknologi kesehatan, dan industri kesehatan. Sementara sejumlah negara Skandinavia membangun sistem perlindungan sosial yang memberikan akses pelayanan kesehatan luas bagi masyarakatnya. Pengalaman berbagai negara tersebut memberikan pelajaran bahwa kesehatan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pengeluaran negara. Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Ketika masyarakat sehat, produktivitas meningkat. Ketika anak-anak tumbuh sehat, mereka memiliki kesempatan lebih besar memperoleh pendidikan berkualitas. Ketika tenaga kerja sehat, perekonomian pun dapat bergerak lebih produktif.

Indonesia Memiliki Potensi Besar

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar untuk memperkuat sistem kesehatannya. Negeri ini memiliki kekayaan sumber daya alam, wilayah laut yang luas, sumber daya manusia yang besar, serta berbagai komoditas strategis bernilai ekonomi tinggi. Potensi tersebut seharusnya dapat diterjemahkan menjadi pembangunan yang semakin berpihak kepada kepentingan masyarakat, termasuk melalui peningkatan investasi di bidang kesehatan. Rumah sakit dengan pelayanan berkualitas perlu semakin merata. Teknologi medis harus terus diperkuat. Penelitian dan inovasi kesehatan perlu mendapatkan dukungan lebih besar. Distribusi tenaga kesehatan harus diperbaiki, sementara kesejahteraan serta perlindungan tenaga medis dan tenaga kesehatan harus menjadi perhatian serius. Kemajuan sektor kesehatan tidak boleh hanya dirasakan masyarakat di kota-kota besar. Masyarakat yang tinggal di pulau terluar, wilayah perbatasan, pedalaman, pegunungan, maupun daerah dengan akses transportasi terbatas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Harapan ke depan sebenarnya sederhana, tetapi sangat fundamental: jangan sampai ada masyarakat yang menunda berobat hanya karena persoalan biaya. Jangan sampai ada tenaga kesehatan yang merasa berjuang sendirian ketika menjalankan tugas. Dan jangan sampai kualitas pelayanan kesehatan ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan atau tinggal. Jika berbagai negara mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memperhatikan kesejahteraan tenaga medisnya, Indonesia pun semestinya memiliki kemampuan untuk bergerak menuju arah yang sama.

Kesehatan sebagai Wujud Kemerdekaan

Peringatan Hari Kemerdekaan tidak seharusnya berhenti pada seremoni, upacara, perlombaan, atau simbolisme. Kemerdekaan harus hadir melalui kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk kemerdekaan yang paling nyata adalah ketika setiap warga negara memiliki kesempatan untuk hidup sehat, mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, memperoleh akses pengobatan yang layak, serta mendapatkan perlindungan negara secara adil. Pada saat yang sama, mereka yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga kesehatan masyarakat juga harus memperoleh perlindungan, penghargaan, dan kesejahteraan yang layak. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang merdeka secara politik, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga kesehatan, kehidupan, dan martabat seluruh rakyatnya. Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pilar-kesehatan-dalam-makna-kemerdekaan/97192/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.02 WITA

  • #Tedy Hartono

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Pilihan Editor

  1. 1 Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan
  2. 2

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  3. 3

    KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

  4. 4

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  5. 5

    Dari Laboratorium ke Genggaman: Menelusuri Evolusi dan Cara Kerja Water Quality Field Test Kit

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.