Oleh : Fajar Azmi Alfauzun Mahasiswa Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang
JurnalPost.com - Dalam keseharian masyarakat di tengah zaman yang semakin modern ini, internet seakan-akan telah menjadi suatu sarana yang berubah dari yang dulunya sekedar hiburan menjadi kebutuhan utama. Terutama dalam pemberian informasi tentunya memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, penyebaran informasi dan perkembangan teknologi memang kian berkembang cepat karena hadirnya internet. Tetapi, tidak bisa pula kita elak, internet juga membawa beberapa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Hal tersebut bisa terjadi karena penyalahgunaan internet.
Mengutip dari cnnindonesia.com (15/01/2023) juga memaparkan data bahwa, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur termasuk dalam provinsi dengan pernikahan dini tertinggi sepanjang 2022 lalu. Data-data seperti ini tampaknya sudah cukup untuk memberitahu semua akan tingginya tingkat pernikahan dini di Indonesia dan perlunya perhatian yang tercurahkan dalam isu ini.
Fenomena ini juga berkaitan dengan perkembangan dan pergaulan generasi muda yang kian bebas, didukung dengan perkembangan media sosial, para remaja yang identik dengan rasa penasaran, bukannya dijadikan rasa penasaran itu sebagai ajang untuk belajar dan mengembangkan diri, justru dari penggunaan internet tersebut mereka menelusuri konten-konten yang vulgar, pornografi dll. Hal itu memicu mereka untuk menerapkannya di dunia nyata dan tidak tahu konsekuensi apa yang mereka buat.
Fenomena pernikahan dini sebagai buntut dari penyalahgunaan internet tentunya tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Hal ini dikarenakan, dampak dari pernikahan dini tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan psikologis tetapi juga fisik. Melansir dari laman kompas.com (27/10/2020), dampak dari pernikahan dini lebih banyak dirasakan oleh pengantin perempuan. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa, tubuh seorang perempuan remaja dianggap belum siap untuk mengandung, bahkan melahirkan.
Selain itu, dari segi psikisnya pula, remaja perempuan dianggap tidak siap untuk mengemban tanggung jawab besar sebagai seorang ibu. Maka dari itu, pernikahan yang dijalankan dan juga anak yang nantinya lahir berisiko tinggi untuk tidak berkembang dengan baik, karena kurangnya kasih sayang hingga ketidakmampuan kedua orang tuanya untuk menemani masa tumbuh kembangnya.
Berdasarkan segudang dampak buruk dari pernikahan dini sebagai buntut dari penyalahgunaan internet, maka tentunya diperlukan solusi yang tepat agar angka pernikahan dini di Indonesia dapat menurun.
Pembatasan Langkah utama yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi penggunaan internet oleh remaja. Hal ini dikarenakan, dengan membatasi waktu penggunaan internet oleh anak, maka orang tua sudah berperan aktif dalam mencegah terjadinya pergaulan bebas yang berujung pada pernikahan dini.
Peningkatan mutu dan peran sekolah Selain itu, solusi lain yang dapat ditawarkan adalah meningkatkan mutu pendidikan formal. Langkah ini dapat ditempuh agar remaja dan orang tua dapat lebih teredukasi mengenai bahaya pernikahan dini, baik secara psikis maupun biologis.
Sosialisasi Gerakan anti pernikahan dini Langkah lainnya seperti penanaman kesadaran akan bahayanya pernikahan dini di tengah masyarakat dan pemberdayaan masyarakat juga dapat ditempuh sebagai upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menekan angka pernikahan dini, semua pihak harus bekerjasama sebagai Upaya memperbaiki kualitas bangsa yang lebih maju.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda