Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Perempuan Tidak Harus Telanjang

Perempuan Tidak Harus Telanjang

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
24 April 2021, 18.49 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Perempuan Tidak Harus Telanjang

“Makanya, tutup auratmu,” “Makanya, jangan pakai pakaian terlalu terbuka,” “Hijabnya mengundang,” “Pakai baju panjang sih, jadi orang penasaran dalamnya seperti apa,”

JURNALPOST - Kalimat-kalimat tersebut yang mungkin akan kita dengar sebagai respons ketika seorang perempuan melaporkan kasus kekerasan atau pelecehan seksual yang terjadi kepadanya. Selalu tentang aurat dan pakaian. Apakah benar pakaian seorang wanita merupakan faktor terjadinya pelecehan seksual? Apakah benar pakaian perempuan yang terbuka ‘mengundang’ terjadinya kasus pelecehan seksual?

IKLAN

Menjadi perempuan di Indonesia memang tidak mudah. Menurut studi dari perusahaan riset Singapura, Visual Champion, menemukan bahwa Indonesia sudah menempati tingkat kedua di Asia Pasifik sebagai negara paling berbahaya untuk perempuan. Memang sepertinya, tidak ada tempat yang aman bagi perempuan. Kita selalu dihantui perasaan takut dilecehkan karena tindakan tersebut dapat terjadi di mana saja, takut untuk berpakaian karena menggunakan pakaian tertutup pun tidak menjamin kita tidak dilecehkan.

Indonesian Social Media Comment Collage
Baca Juga

Victim Blaming terhadap Korban Pelecehan Seksual: Ketika Korban Justru Menjadi Sasaran Penghakiman

Sebuah video yang diunggah oleh akun @mintulgemintul2 di Instagram sedang viral. Video tersebut menampilkan seorang perempuan yang dilecehkan oleh seorang laki-laki ketika sedang sujud saat menjalankan ibadah salat tarawih dan laki-laki itu menganggap tindakan tersebut sebagai sebuah becandaan. Pelecehan tetap pelecehan. Aksi bejat seperti ini tidak bisa ditoleransi bagaimana pun bentuknya.

Ada rasa marah dan kecewa ketika saya melihat video tersebut. Menjadi perempuan di Indonesia memang tidak mudah. Indonesia sendiri sudah menempati tingkat kedua di Asia Pasifik sebagai negara paling berbahaya untuk perempuan. Sepertinya, tidak ada tempat yang aman. Kita selalu dihantui perasaan takut untuk dilecehkan karena pelecehan dapat terjadi di mana saja.

Seperti yang kita tahu bahwa ketika seorang perempuan menjalankan ibadah salat, salah satu syarat agar ibadahnya sah adalah mereka harus menggunakan

mukena untuk menutup auratnya kecuali bagian wajah dan telapak tangan. Ini merupakan bukti nyata bahwa pakaian yang dikenakan perempuan bukan merupakan

Deklarasi Perempuan Mengawasi
Baca Juga

Pengawasan Pemilu Berbasis Gender: Mengapa Harus Ada Perempuan dalam Struktur Pengawas Pemilu?

faktor terjadinya kasus pelecehan seksual. Saya jadi ingat tulisan di salah satu poster ketika Women’s March Jakarta tahun 2018 silam yang berisikan “Bukan salah tubuhku atau pakaianku, tetapi kamu melanggar otoritas tubuhku,”. Memang faktanya, mereka yang menjadi korban pelecehan seksual tidak menggunakan baju yang terbuka. Suatu pameran seni di Amerika yang dibuat oleh Dr. Mary Wyandt-Hiebert ini menunjukkan pakaian para korban pelecehan seksual dan mayoritas korban tidak menggunakan pakaian yang terbuka. Survei pun menunjukkan bahwa 18% korban pelecehan seksual menggunakan celana atau rok panjang, 17% menggunakan hijab, dan 16% menggunakan baju lengan panjang. Bukan berarti perempuan yang berpakaian minim yang rawan untuk dilecehkan dan sudah sepantasnya untuk tidak menjadikan pakaian perempuan sebuah acuan untuk menyalahkan korban pelecehan seksual. Memang mengumbar aurat itu dosa, melecehkan perempuan juga termasuk dosa ‘kan?

IKLAN

Dengan fakta-fakta yang ada, masih banyak orang yang menyalahkan korban pelecehan seksual karena pakaian yang dikenakannya. Padahal, yang menjadi penyebab pelecehan tersebut bukanlah pakaian yang dikenakan perempuan, tetapi pelaku yang tidak bisa mengontrol hawa nafsunya. Masih banyak orang yang tidak memandang perempuan sebagai manusia, tetapi sebagai objek seks. Biasanya dengan kalimat “Sengaja pakai pakaian seperti itu? Mau mancing nafsu orang,”.

Perempuan memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri. Mereka tidak akan bisa menghormati perempuan jika mereka tidak mengakui bahwa otoritas tubuh perempuan adalah milik perempuan. Oleh karena itu, mereka merasa bahwa mereka pantas melanggar otoritas tubuh perempuan. Ini merupakan sebuah contoh nyata bahwa pelecehan seksual memiliki kaitan yang erat dengan budaya patriarki yang menganggap bahwa laki-laki memiliki kuasa dan perempuan hanya dianggap sebagai objek seks. Kalau pemikiran seperti ini masih dipertahankan, mau perempuan memakai pakaian yang tertutup dari ujung rambut sampai ujung kaki pun tidak akan berpengaruh karena permasalahannya ada di pemikiran si pelaku.

Perempuan bukan ikan asin dan laki-laki bukan kucing. Analogi ikan asin dan kucing sering digunakan ketika ada kasus pelecehan seksual yang menjelaskan bahwa tindakan pelecehan seksual merupakan sesuatu yang lumrah. Selain analogi tersebut, ada juga analogi perempuan sebagai nasi padang seperti godaan saat bulan puasa yang terlalu menggiurkan untuk ditolak. Inti dari analogi-analogi tersebut adalah laki-laki memiliki hawa nafsu, tetapi mereka tidak bisa mengontrolnya sehingga perempuan yang harus mencegah terjadinya pelecehan dengan berpakaian tertutup. Bukan kami, perempuan yang harus menganti cara berpakaian kita, bukan kami yang harus mengurung diri di rumah. Namun, pikiran yang memandang perempuan sebagai objek yang harus dimusnahkan.

26 Tahun KIKST Semen Tonasa, Terus Bertumbuh, Berkarya, dan Memberi Manfaat
Baca Juga

26 Tahun KIKST Semen Tonasa, Terus Bertumbuh, Berkarya, dan Memberi Manfaat

Kita tidak bisa memilih gender. Sudah menjadi takdir kami untuk diciptakan sebagai perempuan. Namun, melecehkan perempuan merupakan sebuah pilihan dan kalian bisa memilih untuk tidak melecehkan perempuan. Saya perempuan, memiliki tubuh dan organ yang sama dengan perempuan lainnya. Perempuan bukan properti, bukan barang yang bisa seenaknya digunakan. Kami perempuan menggunakan pakaian sebagai sarana kami untuk berekspresi, bukan ingin dilecehkan.

Tidak ada korban yang ‘mengundang’ untuk dilecehkan. Kita harus menghapus budaya patriarki yang ada di Indonesia. Kita tidak boleh mewajarkan hal-hal yang sebenarnya adalah tindakan pelecehan. Perempuan tidak butuh dimuliakan, perempuan hanya butuh dimanusiakan.

Selamat hari Kartini perempuan Indonesia! Tetap semangat berjuang untuk memperjuangkan hak-hak dalam segala aspek-aspek kehidupan.

Panjang umur perlawanan! Hidup perempuan yang melawan! Aku, kamu lawan pelecehan seksual karena yang melahirkan peradaban, tidak pantas dilecehkan. Aku sudah menjaga diriku, bisakah kamu menjaga perilakumu?

Penulis: Jessica Adriana/Universitas Multimedia Nusantara

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/perempuan-tidak-harus-telanjang/19921/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.54 WITA

  • ##Pelecehan Seksual
  • ##PuanKawanMelawan
  • #Perempuan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

Pilihan Editor

  1. 1 Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan
  2. 2

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

  3. 3

    Inovasi Kemasan Aktif dan Cerdas Berbasis Biopolimer Umbi-Umbian untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Mengurangi Kerugian Pangan Pascapanen

  4. 4

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  5. 5

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.