Tanjung Bumi, Madura, JurnalPost.com - Pilkada di Madura menjadi arena tidak hanya demokrasi tetapi juga peran perempuan untuk berperan aktif dalam mengelola berbagai sisinya. Di Tanjung Bumi, keterlibatan perempuan dalam proses Pilkada menjadi lebih terlihat, lebih khusus sebagai anggota KPPS dan Panwas. Investigasi ini melihat lebih jauh tentang kontribusi perempuan terhadap kedua peran dan tantangan yang mereka hadapi.
Investigasi menunjukkan bahwa perempuan di Tanjung Bumi semakin berperan dalam Pilkada. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) bertanggung jawab atas administrasi, logistik, dan pelayanan pemilih di TPS. Mereka bertanggung jawab atas urusan teknis selain menjamin pemilu yang jujur dan lancar. Sementara itu, perempuan yang tergabung dalam Panwas memiliki tanggung jawab penting untuk memantau kemungkinan pelanggaran dan memastikan proses Pilkada berlangsung dengan adil.
Perempuan berpartisipasi dalam Pilkada karena berbagai alasan, termasuk keinginan untuk mendapatkan pengalaman di lingkungan organisasi dan di tempat kerja.
Meskipun peran perempuan semakin diakui, ada sejumlah masalah yang menghalangi mereka untuk berpartisipasi secara penuh dalam Pilkada. Di antaranya adalah budaya patriarki yang masih ada di masyarakat, yang seringkali memandang perempuan tidak pantas untuk berpartisipasi dalam aktivitas publik, seperti Pilkada. Selain itu, perempuan yang telah berkeluarga sering kali harus membagi waktu antara tanggung jawab rumah tangga dan tugas sebagai anggota KPPS atau Panwas. Kadang-kadang sulit untuk memenuhi tugas yang memerlukan banyak waktu dan energi. Selain itu, banyak perempuan merasa tidak siap untuk tugas administratif dan teknis karena tidak menerima pelatihan teknis, yang sering kali membuat mereka tidak percaya diri dalam menjalankan peran mereka.
Keberhasilan perempuan dalam berpartisipasi dalam Pilkada bergantung pada dukungan dari keluarga dan masyarakat mereka. Perempuan akan kesulitan membagi waktu antara tugas di rumah dan tugas di Pilkada jika mereka tidak memiliki dukungan yang kuat dari orang-orang terdekat mereka. Selain itu, diharapkan bahwa lembaga terkait seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dapat memberikan pelatihan yang lebih khusus untuk mempersiapkan perempuan untuk tugas teknis yang mereka lakukan.
Keberhasilan perempuan dalam berpartisipasi dalam Pilkada bergantung pada dukungan dari keluarga dan masyarakat mereka. Perempuan akan kesulitan membagi waktu antara tugas di rumah dan tugas di Pilkada jika mereka tidak memiliki dukungan yang kuat dari orang-orang terdekat mereka. Selain itu, diharapkan bahwa lembaga terkait seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dapat memberikan pelatihan yang lebih khusus untuk mempersiapkan perempuan untuk tugas teknis yang mereka lakukan.
Tantangan budaya dan teknis masih perlu diatasi, tetapi keterlibatan perempuan dalam Pilkada di Tanjung Bumi menunjukkan kemajuan. Perlu ada peningkatan pelatihan dan dukungan masyarakat dan lembaga terkait agar perempuan dapat berpartisipasi lebih banyak. Kampanye kesetaraan gender dan penyesuaian tugas untuk perempuan yang memiliki tanggung jawab rumah tangga adalah langkah penting dalam mendorong mereka untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan masyarakat. Jika tantangan yang ada terus diatasi dengan kerja sama semua pihak, pilkada di Madura, khususnya di Tanjung Bumi, dapat menjadi contoh berhasil dalam meningkatkan inklusivitas perempuan dalam demokrasi.
Penulis : Netya Universitas Trunojoyo Madura
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda