Padang, JurnalPost.com – Dalam era digitalisasi saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi mahasiswa. Namun, selain memberikan dampak positif, media sosial juga memiliki potensi untuk menjadi medium terjadinya tindakan bullying. Hal ini tercermin dalam hasil survei terbaru yang dilakukan terhadap mahasiswa Universitas Andalas.
Survei yang melibatkan 24 responden ini mengungkapkan bahwa sebagian besar mahasiswa (79,2%) tidak pernah mengalami bullying di media sosial. Namun, 20,8% responden mengaku pernah menjadi saksi tindakan bullying di platform media sosial. Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa 4,2% responden pernah menjadi korban bullying, sementara 4,2% lainnya mengakui pernah menjadi pelaku.
Hasil ini menggambarkan bahwa meskipun mayoritas mahasiswa tidak secara langsung terlibat dalam insiden bullying di media sosial, keberadaan kasus tersebut tetap memerlukan perhatian. Sebagai saksi, mahasiswa yang melihat tindakan bullying memiliki potensi untuk memberikan intervensi positif, misalnya dengan melaporkan konten atau mendukung korban. Namun, ketidakpedulian terhadap kasus bullying juga dapat menjadi masalah tersendiri.
Pendapat juga diutarakan oleh Amanda Nuraini Tantri, salah satu mahasiswa Universitas Andalas. Menurutnya, fenomena bullying di media sosial tidak hanya memengaruhi korban secara psikologis tetapi juga menciptakan lingkungan daring yang tidak nyaman bagi semua orang. “Saya pernah menyaksikan teman saya menjadi korban bullying di media sosial. Komentar-komentar negatif yang diterimanya sangat memengaruhi semangat belajarnya. Saya rasa, kita semua perlu lebih peduli dan berani mengambil sikap untuk melawan tindakan tersebut,” ujarnya.
Sebagai bagian dari solusi, Universitas Andalas dapat mempertimbangkan pengadaan lokakarya, seminar, atau kampanye kesadaran mengenai bullying di media sosial. Pendekatan ini tidak hanya membantu mahasiswa memahami dampak psikologis dari bullying, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan media sosial yang lebih sehat.
Bullying di media sosial tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis korban, tetapi juga dapat memengaruhi reputasi universitas apabila tidak ditangani dengan serius. Oleh karena itu, penting bagi seluruh civitas akademika untuk bekerja sama dalam mencegah dan menangani tindakan bullying di media sosial.
Dengan menyadari dampaknya, mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan media sosial secara positif untuk berkolaborasi, belajar, dan mengembangkan potensi diri. Media sosial, jika digunakan dengan bijak, dapat menjadi alat yang memperkuat koneksi dan mendukung tujuan akademik, bukan sebagai sarana untuk merugikan orang lain.
Oleh: Hafiza Cahyani Fitri Mahasiswa Agroteknologi fakultas pertanian Universitas Andalas
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda